Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Li Chen mengerutkan kening, langkahnya mengikuti Yuxin menyusuri lorong. "Ujian apa yang mereka berikan?"
"Jamuan teh keluarga kerajaan, satu minggu lagi," jawab Yuxin, suaranya tetap tenang meski beban di balik kalimat itu jelas terasa. "Aku harus menjadi tuan rumah, menyiapkan semuanya sendiri, pemilihan teh, hidangan, sampai hiburan untuk seluruh keluarga istana."
Langkah Li Chen terhenti sejenak. "Itu bukan tugas sembarangan. Bahkan beberapa selir senior masih sering melakukan kesalahan protokol saat menjadi tuan rumah jamuan semacam itu."
"Aku tahu," Yuxin mengangguk pelan. "Tapi aku sudah menyanggupinya."
"Kenapa kau tidak menolak?" tanya Li Chen, nada suaranya menyiratkan sedikit kekhawatiran yang jarang dia tunjukkan secara terbuka. "Kau baru saja tiba di istana, Yuxin. Tidak ada yang akan menyalahkanmu kalau kau meminta waktu lebih lama."
"Kalau aku menolak," Yuxin menjawab, menatap lurus ke depan, "itu sama saja membuktikan apa yang sudah mereka curigai sejak awal, bahwa aku memang tidak pantas. Permaisuri Xuan dan Putri Yurong sedang menunggu aku gentar. Aku tidak akan memberi mereka kepuasan itu."
Li Chen menatapnya lama, ada sesuatu di matanya yang berubah, campuran antara kekhawatiran dan kekaguman yang semakin dalam setiap kali Yuxin menunjukkan sisi yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
"Kalau begitu," ucapnya akhirnya, "biar aku bantu."
Yuxin menoleh, sedikit terkejut. "Yang Mulia tidak perlu..."
"Aku bukan menawarkan karena kasihan," potong Li Chen cepat, suaranya tegas. "Aku menawarkan karena aku juga punya kepentingan di sini. Kalau ujian ini gagal, bukan hanya reputasimu yang dipertaruhkan, tapi juga keputusan yang sudah diambil Ayahanda. Aku tidak ingin melihat keduanya dipermainkan oleh akal-akalan Ibu Suri dan Yurong."
Yuxin mempertimbangkan kata-kata itu sejenak. Bantuan dari Putra Mahkota sendiri tentu akan sangat berharga, tapi dia juga tahu, menerima bantuan terlalu terbuka bisa menimbulkan kecurigaan baru, terutama dari pihak yang sudah mencari-cari kelemahan sejak awal.
"Baiklah," Yuxin akhirnya mengangguk. "Tapi tidak secara terang-terangan. Kalau Permaisuri Xuan tahu Yang Mulia turun tangan langsung, mereka akan bilang aku hanya menang karena belas kasihan, bukan karena kemampuanku sendiri."
Li Chen tersenyum tipis, tampak senang dengan jawaban itu. "Kau benar. Baiklah, aku akan mengirimkan seseorang yang bisa membantu secara diam-diam. Dia pernah mengurus jamuan istana selama bertahun-tahun, tapi sudah pensiun dari tugasnya. Dia akan datang ke paviliunmu malam ini, berpura-pura sebagai pelayan biasa."
"Terima kasih, Yang Mulia," Yuxin membungkuk sedikit, tulus kali ini, bukan sekadar formalitas.
"Jangan terlalu formal," Li Chen menggeleng pelan, nada suaranya melembut. "Kita akan menikah, Yuxin. Mungkin sudah waktunya kau memanggilku dengan cara yang lebih... santai, setidaknya saat tidak ada orang lain."
Yuxin menatapnya sejenak, mempertimbangkan kalimat itu. "Baiklah... Li Chen."
Senyum di wajah Li Chen melebar, lebih tulus dari senyum tipisnya yang biasa.
"Li Chen," Yuxin melanjutkan, nadanya berubah lebih serius, "sebelum itu, aku mohon izin untuk kembali dulu ke kediaman Lin hari ini."
Alis Li Chen terangkat. "Ada apa?"
"Insiden di jalan tadi pagi," jawab Yuxin, "pria yang menyusup ke dalam keretaku sudah dibawa ke kantor pengadilan kota untuk diinterogasi. Aku ingin memastikan sendiri hasil pemeriksaannya, dan menyelesaikan urusan ini sebelum mulai fokus mempersiapkan jamuan teh."
Li Chen terdiam sejenak, mengingat kembali laporan singkat yang sudah sampai ke telinganya soal kekacauan di jalan pagi tadi. "Kau yakin ingin mengurusnya sendiri? Aku bisa mengirim pengawal istana untuk membantu proses interogasi itu."
"Justru karena itu aku ingin pulang sendiri," Yuxin menjelaskan, suaranya tenang namun tegas. "Aku curiga, penyusup itu tidak bertindak sendirian. Aku ingin mendengar langsung apa yang dia katakan, sebelum ada pihak lain yang sempat mengatur ulang ceritanya."
Li Chen menatapnya lama, memahami kedalaman kehati-hatian di balik permintaan itu. "Baiklah. Aku akan mengizinkanmu kembali hari ini, dengan pengawalan dari istana untuk memastikan keamananmu di jalan."
"Terima kasih," Yuxin membungkuk sedikit.
"Tapi," Li Chen menambahkan, nada suaranya melembut sedikit, "pastikan kau kembali ke istana sebelum malam. Jamuan teh itu butuh waktu persiapan yang tidak sedikit, dan aku sudah menyiapkan seseorang untuk membantumu malam ini."
Yuxin mengangguk. "Aku akan kembali tepat waktu."
Dengan izin itu, Yuxin segera mengatur keberangkatannya kembali ke kediaman Lin, pikirannya sudah menyusun pertanyaan-pertanyaan yang ingin dia ajukan pada Chen Muyang, berharap bisa mendapatkan pengakuan penuh sebelum Ruoxi sempat mencari cara untuk menutupi jejaknya lebih jauh.