Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Mentari pagi sudah mulai bersinar, cahayanya masuk melalui celah jendela di dapur baru itu, saat ini tangan mungil Melati mencoba untuk membuat sesuatu di dalam dapurnya, setelah ia bertanya dengan asisten rumah ini tentang makanan kesukaan dua bocil itu serta kesukaan suaminya.
Melati menahan nafas sejenak, ia tahu jika suaminya masih belum sepenuhnya menerima pernikahan ini, namun sebagai seorang istri ia akan berusaha untuk melayani, meskipun ia tidak tahu dengan reaksi suaminya nanti.
Gerakan tangan Melati begitu cepat, mengiris bawang, dan juga meracik bumbu-bumbu lainnya, bahkan asisten rumah tangga yang ada di rumah ini sempat kagum dengan kecepatan tangan Melati.
"Sepertinya Nyonya sudah terlatih?" tanya Bi Sumi.
Melati hanya tersenyum, sambil memasukkan bumbu diatas kuali. "Aku sejak remaja memang suka masak," sahut Melati singkat. Lalu tangannya tatapannya kembali menatap ke arah kuali memastikan masakannya matang dengan sempurna.
Waktu berjalan tanpa terasa, di meja makan sudah terhidang berbagai menu makanan, ada ayam asam manis juga sup ayam kesukaan dua bocil itu, dan tidak lama kemudian terdengar langka dari arah kamar
Tidak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah koridor. Melati refleks menoleh. Jantungnya berdegup lebih cepat saat sosok Cokro muncul dengan kemeja rumah berwarna gelap, rambutnya masih sedikit basah, wajahnya datar tanpa ekspresi.
“Selamat pagi,” sapa Melati lembut, berusaha terdengar biasa saja meski telapak tangannya mulai dingin.
Cokro hanya mengangguk singkat. Tatapannya meluncur ke meja makan yang penuh hidangan, lalu beralih ke wajah Melati—sekilas saja, lalu berpaling lagi seakan tak ada yang menarik untuk diperhatikan.
Dua bocah itu datang berlarian tak lama kemudian.
“Waaah, harum!” seru si bungsu, matanya berbinar melihat ayam asam manis di meja.
“Ini buat kita?” tanya bocah satunya sambil sudah menarik kursi.
Melati tersenyum lega. “Iya, ayo duduk. Makan bareng.”
Bi Sumi membantu menyendokkan nasi. Suasana yang sempat kaku sedikit mencair ketika satu bocah itu mulai menyuap makanan dengan lahap.
“Enak!” ucap si kecil dengan mulut penuh, membuat Melati refleks tertawa kecil.
Melati menahan napas bahagia. Ada rasa hangat menjalar di dadanya, setidaknya ia tidak sepenuhnya ditolak di rumah ini.
Namun kehangatan itu berhenti tepat ketika kursi di ujung meja ditarik.
Anak pertama Cokro duduk dengan wajah datar, matanya menatap piring di depannya seolah itu benda asing. Ia menyendok sedikit ayam, mencium aromanya sebentar, lalu meletakkan sendok kembali.
“Aku nggak lapar,” katanya singkat.
Melati terdiam. Senyumnya menegang.
“Cuma sedikit saja,” ucap Melati pelan, berusaha tetap lembut. “Ini nggak pedas.”
Anak itu mendengus kecil. “Aku nggak suka.”
Cokro yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. Nada suaranya tenang, terlalu tenang.
“Kalau nggak mau, jangan dipaksa.”
Kalimat itu seperti pisau tipis yang menyayat perlahan. Bukan keras, tapi cukup untuk membuat Melati merasa bersalah, padahal ia tak merasa melakukan kesalahan apa pun namun entah kenapa hatinya merasa sakit mendengar kalimat itu dari suaminya.
“Iya,” sahut Melati lirih.
Anak itu mendorong kursinya ke belakang, berdiri tanpa pamit, lalu pergi begitu saja. Piringnya masih nyaris utuh.
Namun satu anak lagi, ragu untuk melanjutkan makan karena melihat gelagat sang kakak. Melati buru-buru tersenyum lagi, meski dadanya terasa sesak.
“Nggak apa-apa, lanjut makan,” katanya.
Mahesa kembali menyuap dengan lahap meski tak seantusias tadi.
Sementara Cokro menyendok makanannya sendiri. Ia makan dengan rapi, pelan, tanpa komentar. Ayam asam manis itu disentuhnya sekadar formalitas, dua sendok, lalu berhenti.
“Masakannya nggak perlu sebanyak ini,” ucapnya datar tanpa menatap Melati. “Rumah ini biasanya sederhana.”
Melati menunduk. “Aku cuma ingin ....” kata Melati menggantung di udara.
“Biasakan diri,” potong Cokro. “Di sini, semua ada aturannya.”
Kalimat itu menutup percakapan. Tidak ada ruang untuk penjelasan, apalagi perasaan. Melati menggenggam ujung celemeknya di bawah meja. Ia mengangguk pelan, ada sesak yang tak berbunyi di dalam hati, padahal niatnya baik, tapi tak cukup diterima.
“Iya.”
Dalam hati, Melati sadar, ini baru pagi pertama, masih ada pagi berikutnya. Dan ujian pertamanya datang bukan dari satu orang, melainkan dua:
seorang suami yang dingin, dan seorang anak yang jelas-jelas menolak kehadirannya.
Ia menelan ludah, menahan perih yang menggumpal di dada. Jika ini harga dari sebuah pernikahan tanpa cinta, Melati berjanji pada dirinya sendiri, ia akan bertahan. Meski harus sendirian.
☘️☘️☘️☘️☘️
Dapur kembali lengang setelah suara kursi digeser dan langkah kaki menjauh. Piring-piring kotor masih tersisa di meja, aroma masakan yang tadi begitu membanggakan kini terasa hambar di hidung Melati.
Ia berdiri mematung beberapa detik, lalu melangkah perlahan ke wastafel.
Air kran dibuka. Suaranya mengalir deras cukup keras untuk menenggelamkan isak yang sejak tadi ia tahan. Begitu piring pertama disentuh, air mata Melati jatuh tanpa permisi.
Ia menunduk, bahunya bergetar halus. Tangannya tetap bekerja, menyabuni piring, membilasnya satu per satu, seolah rutinitas itu mampu menenangkan dadanya yang sesak.
“Kenapa rasanya… sakit sekali,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
Bukan karena masakannya ditolak. Bukan pula karena ucapan Cokro yang dingin. Melainkan karena usahanya yang tulus seakan tak berarti apa pun.
Satu tetes air mata jatuh ke piring, bercampur dengan busa sabun. Melati buru-buru mengusap pipinya dengan punggung tangan, takut jika Bi Sumi kembali dan melihatnya dalam keadaan seperti ini.
Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri. 'Ini rumahmu sekarang, Melati,' ucapnya dalam hati. Kamu harus kuat.
Namun air mata itu kembali turun, lebih deras.
Ia menggigit bibirnya, menahan suara. Tidak ingin ada yang tahu bahwa pagi pertama sebagai istri justru dihabiskan dengan menangis diam-diam di dapur tempat yang seharusnya menjadi awal kehangatan.
Di luar, suara tawa dua bocah itu masih terdengar samar. Kontras dengan hatinya yang terasa hampa. Melati menutup mata sejenak, menyandarkan keningnya pada kabinet dapur.
“Sedikit saja… beri aku waktu,” bisiknya entah pada siapa.
Ia mengusap wajahnya sekali lagi, mematikan kran, lalu berdiri tegak. Air mata boleh jatuh, tapi ia tidak akan mundur, dan setelah semuanya beres Melati berjalan ke kamarnya.
Saat pintu dibuka, tanpa sengaja melati melihat Cokro sedang sibuk mengeluarkan bajunya di dalam lemari.
"Mas, kenapa harus dikeluarkan, bukannya itu lemari mu?" tanya Melati pelan cukup hati-hati.
Cokro segera menggerakkan tangannya sebagai isyarat agar Melati stop berbicara. "Ini urusanku, lagian baju, bajuku jadi terserah aku," ucapnya jelas.
Melati membeku di tempat, ia tahu tentang batasannya sebagai seorang istri yang jelas tidak diharapkan, namun bagi wanita itu pernikahan ini bukan permainan semata.
"Aku tahu Mas, tapi gak seharusnya baju-baju itu dipindahkan, bukannya pernikahan untuk menyatukan dua insan, jika ada masalah yang kurang berkenan coba dibicarakan baik-baik," ucap Melati.
Cokro tersenyum pahit, pernikahan kata-kata itu bagaikan ujung pisau yang menusuk di hati, terlalu menyakitkan jika untuk diingat.
"Itu bagimu, tapi bagiku, pernikahan tidak sesimpel itu," katanya sambil mendekat ke arah Melati. "Dan urus saja urusanmu sendiri, begitupun dengan diriku," imbuhnya kembali, kali ini kata-kata itu terdengar lebih menyakitkan dari kesakitan manapun.
Bersambung ...