Widuri memilih kabur dari rumah, pergi jauh dari keluarga kakeknya yang tiba tiba menjodohkannya dengan sesosok pria yang bahkan tidak dia kenal.
Akibat perbuatannya itu sang kakek murka, tidak hanya menarik uang sakunya yang fantastis, sang kakek juga memblokir kartu kredit, mobil bahkan kartu kartu sakti penunjang hidup dan modal foya foya yang selama ini Widuri nikmati.
Akankah Widuri menyerah ataukah bersikeras pada pendiriannya yang justru membuatnya semakin terjerumus masalah??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaa_Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.32
Berbekal informasi dari Ferdy, Widuri memasuki kantor milik Marcel, berjalan mengikuti arahan yang Ferdy katakan untuk sampai di ruangan interview tanpa hambatan. Dan seperti biasa, selain sedikit memaksanya, dia juga memberikan sejumlah uang pada Ferdy dengan catatan agar saling menjaga rahasia.
Gadis yang menggerai rambut panjangnya berjalan melalui pintu khusus staf kantor, dia berjalan seolah olah ia bekerja sebagai pegawai disana tanpa menimbulkan sedikit kecurigaan dari siapapun. Lagi pula siapa yang peduli.
Widuri berhasil melewati pantry karyawan, disana juga terlihat beberapa orang yang tengah sibuk.
Matanya memicing tatkala melihat jejeran gelas dengan masing-masing nama milik staf yang sedang disiapkan. Namun tak satupun terlihat dengan nama Marcel.
"Hari ini akan sibuk sekali, Pak Marcel sendiri yang akan menginterview pelamar baru,"
"Wah... Aku rasa ini akan sengit, kau tahu sendiri kan bagaimana pak Marcel jika dia yang langsung turun ke lapangan?"
"Benar...! Hanya pelamar yang beruntung saja yang bisa lulus seleksi yang super ketat."
Dengar jelas Widuri mendengar celotehan beberapa pegawai didalam pantry, dia menatap beberapa berkas ditangannya dengan lesu.
Ya, Widuri hendak mendekati Marcel dengan cara lain. Setelah melihat Ferdy dan juga Martha kemarin pagi, ia tidak kehilangan akal. Justru semakin nekat untuk membuat pria itu bertekuk lutut didepannya, berbicara cinta dan mau menikahinya.
Bukankah itu setali tiga uang, atau sekali dayung tiga pulau terlampaui. Ya semacam itu, Widuri menganggukkan kepalanya penuh tekad, semangatnya kembali berkobar.
Langkahnya terhenti tepat di depan ruangan interview, kursi berjajar panjang namun kosong mengalihkan konsentrasinya. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Jangan-jangan salah tempat, tapi arahan Ferdy sudah benar sejak tadi.
Hanya dua orang yang kemudian duduk bersampingan didepannya, tampak serius namun terlihat resah dan gelisah.
"Apa hanya ada kita bertiga disini?" kata Widuri setengah berbisik.
Mereka mengangguk, satu diantaranya mengelap keringat dingin di dahinya.
"Mereka banyak yang gugur diseleksi pertama dan kedua," ucapnya.
Widuri menganggukkan kepala, dia beruntung memiliki Ferdy yang masih mau diajak kerja sama walau sekarang ini hanya memberikannya arahan saja. Hingga dirinya tidak mesti mengikuti seleksi awal.
Hingga tiba saatnya satu orang dipanggil masuk, berselang lama keluar lalu memanggil pelamar yang satunya lagi. Kali cukup lama, membuat Widuri resah menunggu giliran.
Pelamar kedua akhirnya keluar dengan keringat bercucuran didahinya, melewati Widuri tanpa kata apa-apa.
"Hey... Kapan giliranku?" gumam Widuri yang tak langsung dipersilahkan masuk.
Dia terus menoleh ke arah pintu ruangan berwarna coklat itu, tak ada satu pun staf yang memanggilnya. Tak lama nomor urutnya pun dipanggil.
Widuri memasuki ruangan dengan senyuman yang merekah, lalu duduk setelah staf menyuruhnya. Terlihat Marcel tengah sibuk dengan berkas dimeja.
"Sepertinya dia belum melihat berkasku," cicitnya pelan.
Hingga Marcel mendongak, betapa terkejutnya dia saat melihat Widuri duduk dikursi pelamar dan siap interview. tanpa bicara, Marcel bangkit dan akhirnya berjalan keluar dari sana.
Widuri langsung bangkit dari duduknya, dia menyusul dan menghentikannya. sengaja berdiri ditengah-tengah dan membuat langkah Marcel terhenti.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh melamar disini. Aku melamar dengan semua sertifikat yang aku miliki!"
Marcel menatap wajahnya yang cantik, gadis itu begitu cocok dengan setelan berwarna pastel.
"Aku tidak memperkerjakan orang dari hasil nepotisme!" kata Marcel tegas. "Kau harus melalui tiga seleksi jika ingin melamar ditempat ini!" jawab Marcel dengan kembali berjalan melewati Widuri.
Widuri menyusuli langkahnya dengan cepat.
"Oh ayolah, aku membutuhkan pekerjaan ini. Bukankah aku ini berpengalaman. Aku bahkan pergi menghadiri undangan menggantikanmu tempo hari,"
"Aku tidak mau memiliki karyawan seperti mu!" kata Marcel berjalan menuju ruangannya sendiri.
Sementara Widuri terus mengikuti disampingnya dengan langkah terburu-buru.
"Kenapa? Apa karena kau takut?" ujarnya sengaja memancing.
Marcel berdiri didepan pintu ruangan, lalu berbalik menghadap ke arah Widuri yang hampir menabraknya. "Kenapa aku harus takut padamu, apa kau hantu?"
Widuri berdecak kecil, "Ayolah, setidaknya beri aku kesempatan. Jangan pelit seperti ini!"
"Aku bukan dinas sosial!" ucap Marcel membuka pintu dan melangkah masuk.
Widuri segera menahan pintu agar tidak tertutup rapat menggunakan kakinya. Hingga ia pun sedikit meringis karena Marcel mendorong pintu dengan tenaga.
"Apa kau gila!" ujar Marcel terlihat panik sendiri saat melihat kaki Widuri yang hampir terjepit. "Tidak ada yang menyuruhmu ikut masuk!"
Menyadari Marcel sedikit lengah, Widuri berhasil masuk ke dalam dan menutup pintu ruangan.
"Kenapa memangnya? Salah sendiri kau tidak menginterview ku tadi. Harusnya kau tidak melakukan ini, diskriminasi namanya!" tukas Widuri yang langsung menyimpan data miliknya diatas meja.
"Duduklah, aku tidak akan memintamu menciumku lagi!"
Marcel berdecak, dia mendudukkan dirinya di kursi kekuasaan miliknya. Mengambil berkas milik Widuri tanpa ingin melihatnya sedikitpun.
"Kenapa kau ingin bekerja disini?"
"Karena aku yakin aku berkompeten dibidang perhotelan terlebih masak memasak. Ijinkan aku bekerja disini." jawabnya dengan mengerlingkan mata.
"Bukankah perusahaan kakekmu yang paling membutuhkan orang yang kompeten?"
Widuri menarik kursi dan membantingkan tubuhnya tepat dihadapan meja Marcel, namun dia justru tersandung kakinya sendiri hingga terjatuh.
Bruk!
Widuri terjatuh dilantai dengan posisi terduduk dengan kaki kiri yang tertindih tubuhnya.
"Sial!"
Marcel bangkit berdiri, namun ia diam dan tidak membantu sama sekali. Dia justru hanya melihat Widuri melakukan hal konyol didepannya.
"Kau ini kenapa?"
Widuri segera bangkit, dia langsung sibuk menepuk nepuk betis dan kakinya dari debu dan kotor seraya menutup kedua matanya karena malu.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedang---,"
"Lupakan itu!" Marcel menarik tangannya dan membawanya duduk di atas sofa. Dia segera mengambil kotak P3K yang berada di sudut ruangan. Dengan gesit ia membuka kotak, dia juga membuka sepatu yang dikenakan Widuri.
"Lihatlah. Kau ini bodoh atau ceroboh? Kau bukan lagi anak kecil yang setiap kali terjatuh saat duduk!"
Widuri hampir melotot, ia bahkan tidak merasakan apa-apa. Meskipun kini jari berdarah karena tersandung sepatu sendiri. Gadis itu bahkan tidak kesakitan, lukanya sangat kecil, mungkin hanya tergores sedikit kuku. Tapi begitu melihat Marcel yang panik ia langsung tertegun tak bisa bicara.
"Kita harus mengompresnya dengan air hangat," ujarnya bangkit dan langsung menyambar telepon diatas meja.
Widuri segera merebut telepon dan menutupnya sebelum Marcel bicara pada seseorang. Bisa-bisa hal kecil ini jadi viral dan dianggap lebai.
"Tidak... Tidak perlu, ini tidak separah yang kau bayangkan,"
"Kau ingin kakimu infeksi? Kenapa tidak diam dan patuhi aku sekali saja, Widuri?" Widuri menggeleng, dia angkat kaki kirinya dan dengan sengaja menendang-nendang udara dihadapan Marcel.
"Lihat. Kau lihat ini, kaki tidak apa-apa. Jadi jangan terlalu khawatir!"
Marcel menatapnya dingin, bagaimana ia tidak khawatir tadi melihat Widuri terluka walaupun sekecil itu.
Widuri perlahan menggenggam tangan Marcel, sementara pria itu hanya diam saja, "Oh ayolah Marcel, tenanglah aku tidak apa-apa. Tidak usah khawatir. Hm?"