Erina, gadis pekerja keras yang selalu mengedepankan gaya. Dia dijodohkan dengan seorang pengusaha sukses. Namun, apa jadinya jika sang pengusaha mempunyai pujaan hati lainnya?
Mampu kah, Erina menjalin rumah tangga dengan tantangan meluluhkan hati suaminya, agar hanya melihat dirinya seorang?
Yuk ikuti kisahnya!
Terimakasih ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ima dan Clara
Akhirnya Clara tiba ke kediaman Uzair. Dia disambut hangat oleh Nova.
Hubungan yang biasannya dingin, kini sedikit mencair. Karena bagi Nova, Clara merupakan sebuah aset untuk dia menaiki level selanjutnya.
Ya, Nova berencana akan menjodohkan Clara dengan Uzair. Dan dengan begitu, dia juga bisa menopang hidup mewah pada anaknya itu.
"Jadilah, anak yang berbakti untuk kali ini. Kamu harus, menutup aurat mu. Dengan begitu, dia akan berpikir jika kamu wanita baik-baik. Karena lelaki yang punya rumah ini, adalah seorang ustad." papar Nova menyerahkan baju yang sebelumnya di kasih oleh Ima untuknya.
"Cih,,, kenapa harus begitu sih bu. Lebih baik, aku begini saja. Toh ustad juga manusia. Dan dia jelas akan mudah tergoda dengan penampilan ku seperti ini." tolak Clara.
"Kamu ini kenapa sih? Kamu harus mendengarkan aku. Jika mau, rencana kita berhasil." ujar Nova menjitak kepala Clara.
Tanpa membantah kedua kalinya. Clara pun mengambil gamis dan jilbab instan dari tangan ibunya. Lalu masuk ke kamar mandi belakang. Karena di kamar Nova, tidak memiliki kamar mandi, di dalam.
Setelah menggunakan baju, Clara pun memakan makanan yang telah di siapkan oleh ibunya.
Kembali ke rumah sakit. Uzair mengangguk pada Suci, karena dia paham. Lamaran yang di maksud oleh Ima pasti darinya.
Apalagi, selain wajah Suci yang memerah, kegugupan juga terlihat jelas di sana.
"Berikan aku waktu untuk memikirkannya. Dan aku akan segera memberikan kabar, lewat Ima nanti." ungkap Uzair menunjuk Ima sebagai perantara diantaranya dan Suci.
Suci langsung tersenyum dengan manis. Setidaknya, Uzair memberinya kesempatan.
Uzair dan Ima dalam perjalanan pulang. Karena tadi, Uzair memilih untuk tidak masuk ke dalam. Sebab, dia takut mengganggu kenyamanan pasien.
"Sepertinya dia cock untukmu bang." ungkap Ima membuka obrolan.
"Aku lebih penasaran tentang, siapa sosok lelaki yang di acara tadi." ujar Uzair mengalihkan pembicaraan.
Ima langsung mencibir. "Dia hanya, orang yang pernah membantuku. Tidak lebih." terang Ima menjelaskan.
Uzair manggut-manggut, tidak memperpanjang lagi. Karena Alex pun, menjelaskan hal yang sama.
"Jadi, bagaimana dengan Kak Suci? Menurut mu?" tanya Ima lagi.
Alih-alih menjawab, Uzair memilih untuk diam. Karena jujur, dia sendiri belum lah, mengenal Suci. Tapi, Uzair memilih untuk salat istikharah lebih dulu. Karena ada sesuatu dalam diri Suci, yang membuat sesuatu bergetar.
Namun, karena belum yakin akan hatinya. Makanya, Uzair memilih untuk istikharah lebih dulu.
Sampai rumah, baik Uzair dan Ima memilih untuk langsung masuk ke kamar. Karena sebelumnya pun, mereka sudah makan malam diluar. Dan juga, telah mengabarkan pada Nova tentunya.
...🍁🍁🍁...
Suci pulang dengan perasaan yang berbunga-bunga. Dia memang terpesona sejak pertama kali berjumpa Uzair. Namun, dia tidak menyangka jika Uzair akan memberinya kesempatan.
"Setidaknya, dia tidak langsung menolak ku." gumam Suci dengan wajah berseri-seri.
Malam ini, dilewati Suci dengan senyum merekah. Dia bahkan susah tidur, kala membayangkan wajah serius Uzair dalam ceramahnya. Bahkan, senyum Uzair tidak luput dari ingatan Uzair.
Padahal, dulu Suci sangat tergila-gila dengan Jonathan. Namun, pesona Uzair mengalahkan semuanya. Dan Suci yakin, pertemuannya dengan Uzair adalah sebuah takdir, atau mungkin itulah jalan jodohnya.
"Tapi, aku kan tidak. berhijab. Apa, dia akan menyukaiku ya?" gumam Suci kala mengingat penampilannya.
Suci memang belum berhijab, namun dia selalu memakai baju yang sopan dan tertutup. Baginya, hijab adalah kesiapan dari hati dan juga keyakinan.
Keesokan harinya, Ima yang bangun untuk berolahraga di halaman belakang terkejut saat melihat adanya Clara disana.
Clara, sedang ngopi santai di temani oleh pisang goreng sebagai cemilannya.
Begitu juga dengan Clara. Dia tak kalah terkejut saat melihat adanya Ima disana.
"Kenapa kamu disini hah?" teriak Clara menunjuk ke arah Ima.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu berada di rumah ku? Hah?" balas Ima membuat Clara tercekat.
"Hah? Rumah mu? Gak mungkin. Ini rumah ustad ..." Namun Clara tidak melanjutkan perkataannya, karena teringat perkataan Ibuny, jika Uzair juga memiliki seorang adik perempuan.
"Jadi, dia calon iparku?" monolog Clara menilai Ima dari rambut sampai kakinya.
Ima memang memilih tidak berhijab jika di rumah. Apalagi, disana tidak ada lelaki lain selain abangnya saja.
"Tapi, ada bagusnya juga ... Setidaknya, aku tidak berjauhan dengan Alex." batin Clara.
"Ma-maaf mbak Ima ... Ini anak ibu, namanya Clara." ujar Nova yang baru datang karena mendengar keributan.
"Anak? Kenapa bu Nova tidak memberitahu aku atau abang jika memasukan orang asing kesini?" tanya Ima ketus.
"Hei ... Bicara sama ibuku yang sopan ya." peringat Clara tidak terima.
"Maaf mbak, semalam ibu ketiduran. Lagipula, ibu juga sudah sangat rindu sama Clara. Jadinya, ibu lupa mengabari kalian." ujar Nova memberi alasan.
Tidak ingin memperpanjang masalah. Ima pun memilih untuk kembali masuk ke kamarnya. Membatalkan niatnya untuk berolahraga ringan.
Keadaan Erina semakin pulih. Dia juga sudah pulang untuk istirahat di rumah.
Namun, atas permintaan Belinda. Erina dilarang untuk pulang ke apartemennya. Karena Belinda khawatir jika Erina berada disana.
Belinda berdalih, jika ia akan menemani Erina. Makanya, memaksa Ervin untuk membawa Erina ke rumahnya.
"Mulai sekarang kamar kalian di bawah aja ya ... Biar kamu jalan tidak terlalu jauh." ujar Belinda mengantar Erina untuk beristirahat di kamar.
Sebelumnya, kamar Ervin memang berada di lantai atas, dan tentu saja mereka menggunakan lift. Namun, Belinda tidak mau jika Erina kecapean, makanya dia meminta art-nya untuk membersihkan salah satu kamar tamu yang berada di lantai bawah. Beruntung, kamar itu pun cukup luas.
"Kamu istirahat yang tenang, kalau ada apa-apa jangan pendam sendiri. Mama ini juga mamamu. Jadi, jangan segan untuk berbagi masalah." papar Belinda mengelus tangan Erina.
"Kamu bahagia kan? Atau, Ervin membuatmu tertekan?" tanya Belinda dengan lembut.
Erina menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena sekarang pun, perasaannya mulai tumbuh pada Ervin, dan akan terus tumbuh akibat perlakuan manis Ervin semenjak ia hamil.
Sedangkan di ruang kerja Herman. Ervin meminta bantuan dari Noah untuk mencari tahu tentang Celine, tunangan dari Irfan.
Karena menurut Ervin, tidak etis jika Irfan mendapatkan hukuman atas sesuatu hal yang tidak di lakukannya. Apalagi mereka baru saja tunangan, bukan suami istri. Yang, dimana seorang suami harus menjaga istrinya.
Dan Ervin, ingin Celine langsung yang merasakan akibat dari menganggu istri tercintanya, dia berjanji akan membuat Celine menyesal.