Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHARANI 25
"APA?!"
Li Ming berlari secepat kilat menuju gudang penyimpanan di sudut halamannya. Begitu ia menendang pintu gudang hingga terbuka, matanya terbelalak melihat kekacauan di dalamnya.
Malam semakin larut, namun cahaya obor di kediaman Li Ming menerangi wajah-wajah yang penuh ketakutan. Li Ming berdiri di tengah gudang persemaian, menatap pemandangan memilukan di depannya. Ratusan keranjang bibit kentang unggul yang dikirimkan Yuhan, bibit yang seharusnya menjadi jawaban atas kelaparan rakyat kini telah menjadi tumpukan sampah tak berguna.
Li Ming berlutut, jemarinya yang kasar memungut potongan-potongan kentang tersebut.
"Ini bukan sekadar dirusak..." desis Li Ming, suaranya terdengar seperti geraman harimau yang terluka. "Ini dilakukan dengan penuh ketelitian dan kebencian."
"Biadab..." desis Li Ming, suaranya parau karena menahan amarah yang membuncah.
Ratusan umbi kentang unggul yang dikirimkan Maharani kini tak lagi utuh. Seseorang telah menyelinap masuk dan menggunakan pisau tajam untuk memotong-motong setiap kentang menjadi bagian-bagian kecil. Mata tunas yang baru saja akan menyembul tampak diiris secara sistematis. Bagi Li Ming yang hanya tahu sedikit cara bertani dari kakeknya, pemandangan ini adalah tanda kehancuran total.
"Lapor Tuan Ming, jendela belakang tercongkel. Pelakunya sangat ahli, tidak meninggalkan jejak selain sisa potongan ini," ucap pengawal pribadinya dengan kepala tertunduk, siap menerima hukuman mati.
Li Ming mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka tidak hanya menghancurkan makanan, mereka menghancurkan harapan Maharani! Siapkan kuda! Aku harus melaporkan kegagalanku ini sebelum fajar."
Istana Chiangnang
Tanpa membuang waktu, Li Ming memacu kudanya menembus gerbang istana yang dijaga ketat. Ia tidak peduli jika harus melanggar aturan jam malam istana. Nyawa rakyat tergantung pada bibit-bibit itu.
Di Istana Chiangnang, Yuhan baru saja akan merebahkan tubuhnya ketika ia mendengar keributan di depan pintu.
"Yang Mulia! Tuan Li Ming memohon audiensi darurat!" teriak Kasim dari luar.
Yuhan segera bangkit, mengenakan jubah sutranya kembali. "Biarkan dia masuk!"
Li Ming masuk dengan pakaian yang masih berdebu, keringat bercucuran di pelipisnya. Ia segera berlutut dengan dahi menyentuh lantai. "Mohon ampun atas kelancangan hamba mengganggu istirahat Anda, Yang Mulia Maharani. Hamba membawa kabar buruk. Seluruh bibit kentang di kediaman hamba... telah dihancurkan oleh penyusup."
"Yang Mulia! Hamba pantas mati! Bibit-bibit yang Anda percayakan... semuanya telah hancur dipotong-potong oleh penyusup!" teriak Li Ming dengan nada penuh keputusasaan.
Pintu terbuka. Yuhan muncul dengan jubah tidur sutra ungunya, wajahnya tampak tenang meski baru saja terbangun. Ia menatap Li Ming yang gemetar hebat. "Bawa potongan-potongan itu ke sini, Li Ming. Aku ingin melihatnya."
Dengan tangan gemetar, Li Ming menyodorkan sebuah nampan berisi gundukan potongan kentang yang sudah mulai berubah warna karena teroksidasi udara. Li Ming bersujud, dahi menyentuh lantai dingin. "Hamba gagal menjaga amanah Anda. Mohon jatuhkan hukuman mati pada hamba, Yang Mulia."
Yuhan tidak menjawab. Ia justru melangkah mendekat dan mengambil satu potongan kecil kentang dari nampan tersebut. Ia mengamatinya dengan teliti di bawah cahaya lilin. Bukannya marah, sudut bibir Yuhan perlahan terangkat membentuk senyuman.
"Hahahaha!"
Yuhan tertawa renyah, sebuah tawa yang membuat Li Ming bingung dan ketakutan. Apakah Maharani sudah gila karena terlalu tertekan? batinnya.
"Bangunlah, Li Ming. Kenapa kau meminta hukuman untuk sebuah keberuntungan?" ucap Yuhan sambil memutar-mutar potongan kentang di tangannya.
"M-maksud Yang Mulia? Bibit ini sudah tidak utuh, mustahil bisa ditanam," sahut Li Ming ragu.
"Dasar bodoh," Yuhan menyentil dahi Li Ming dengan gemas. "Dengar, pengetahuan kakekmu mungkin benar untuk tanaman lain, tapi kentang berbeda. Si tikus yang menyelinap ke rumahmu itu justru telah membantukmu melakukan pekerjaan berat yang seharusnya dilakukan oleh para pekerja besok pagi."
Yuhan menunjukkan bagian kecil pada potongan itu. "Lihat ini. Setiap potongan ini masih memiliki setidaknya satu sampai dua mata tunas. Dengan memotongnya seperti ini, satu umbi kentang yang tadinya hanya menjadi satu tanaman, kini bisa menjadi empat atau lima tanaman baru. Si penyusup itu tidak merusak bibit kita, dia justru melipatgandakan jumlahnya!"
Li Ming terbelalak, matanya mengerjap tidak percaya. "Jadi... ini tidak rusak?"
"Sama sekali tidak. Justru ini yang aku butuhkan," jawab Yuhan dengan mata berkilat. "Instruksikan para pekerjamu besok pagi, jangan langsung tanam di ladang yang luas. Ambil pot-pot kecil, isi dengan tanah yang sudah dicampur abu pembakaran, lalu masukkan setiap potongan ini ke dalamnya. Simpan di tempat yang teduh. Tunggu sampai muncul daun yang sempurna, baru kita pindahkan ke lahan besar."
Li Ming merasa beban seberat gunung di pundaknya seketika terangkat. Ia menatap Maharani dengan pemujaan yang lebih dalam. "Yang Mulia... kebijaksanaan Anda benar-benar tak terukur oleh akal sehat hamba."
Keesokan paginya, matahari bersinar terik di atas lahan baru samping istana. Semua Menteri dan pejabat pemerintahan sudah diperintahkan untuk berkumpul di lahan samping istana.
"Mari kita lihat wajah Maharani saat menyadari lumbungnya kosong," bisik Shen Bo pada Han Tan.
Yuhan tiba dengan didampingi Mu Lian yang hari ini masih menggunakan kursi roda, serta Shen Lan yang tampak waspada. Begitu mereka sampai di depan kerumunan pejabat, Li Ming maju membawa nampan berisi potongan kentang yang semalam dianggap "rusak".
"Yang Mulia," ucap Li Ming dengan suara lantang, "Ini adalah hasil sabotase semalam. Seseorang tampaknya ingin membantu kita mempercepat proses pembibitan dengan memotong-motongnya secara sukarela."
Wajah Han Tan dan Menteri Pertanian berubah kaku. Mereka saling lirik dengan penuh tanda tanya. Kenapa Li Ming tidak panik? Kenapa Maharani justru tampak senang?
Yuhan mengambil sepotong kentang dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Aku berterima kasih kepada 'tikus' yang semalam bekerja keras di gudang Tuan Li Ming. Karena kebodohannya, kita kini memiliki bibit lima kali lebih banyak dari rencana awal! Tuan Menteri Pertanian, bukankah ini tanda bahwa langit sangat mendukungku? Bahkan musuhku pun secara tidak sadar membantuku menyejahterakan rakyat!"
Menteri Pertanian menelan ludah, wajahnya memucat. "I-itu... benar-benar keajaiban, Yang Mulia."
Yuhan melirik ke arah Zao Yun yang berdiri di kejauhan. Gundik itu tampak menggigit bibir bawahnya, tangannya gemetar di balik lengan baju. Yuhan tahu siapa yang mengirim "tikus" itu, tapi ia memilih menyimpannya sebagai kartu as.
"Li Ming, segera lakukan persemaian di tempat teduh sesuai perintahku semalam!" perintah Yuhan.
"Laksanakan, Yang Mulia!"