NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35_ALASAN YANG TAK MASUK AKAL

Azka melangkah turun dari ring dengan langkah mantap, meski napasnya masih terasa berat. Keringat membasahi pelipis dan lehernya, jaketnya sudah entah ke mana sejak tadi, menyisakan kaos hitam yang menempel di tubuhnya.

Di belakang, ring masih riuh. Teriakan bercampur decak kagum dan bisik-bisik yang belum juga mereda setelah tubuh Arvin tergeletak tak sadarkan diri.

BUGH terakhir itu seolah masih menggema di telinga banyak orang.

Azka tidak menoleh lagi. Baginya, semuanya sudah selesai. Ia berjalan ke sudut ruangan, ke arah tiga orang yang sejak tadi menatapnya dengan ekspresi campur aduk, kaget, kagum, dan jelas… khawatir.

Raka yang pertama bereaksi. Cowok itu berdiri tegak, matanya menyapu Azka dari atas ke bawah. “Lo… gila,” ucapnya lirih, setengah tak percaya. “Beneran gila.”

Dion langsung menyusul, refleks menepuk bahu Azka cukup keras. “Sumpah, Ka. Tadi itu—” Ia terdiam, lalu menggeleng pelan. “Gue kira lo bakal berhenti pas dia udah goyah.”

Azka cuma mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan. Ada darah kering di sana, tapi wajahnya tetap datar. “Dia yang maksa,” jawabnya singkat.

Devan berdiri sedikit lebih belakang. Tatapannya berbeda. Tidak sekadar melihat luka fisik, tapi menelusup lebih dalam. “Ini bukan soal ring doang, kan?” tanyanya pelan, tapi tepat sasaran.

Azka melirik Devan sekilas, lalu menghela napas pendek. “Udah selesai,” katanya, seolah menutup pembahasan. Ia meraih botol air dari tangan seseorang, entah siapa, lalu meneguknya beberapa kali.

Raka mendecak. “Selesai apanya—?”

“Udah. Ayo cabut,” potong Azka. Ia meraih jaketnya dari tangan Raka dan hendak melangkah pergi.

Namun langkahnya terhenti saat suara Devan terdengar lagi.

“Terus… dia gimana?”

Azka menoleh, mengikuti arah pandang Devan ke arah ring. Arvin terlihat mulai diurus beberapa orang, dipapah dengan tubuh yang masih limbung. “Bukan urusan gue,” jawab Azka dingin. “Udah ada yang ngurus.”

Devan terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. Ia menyusul Azka keluar, diikuti Raka dan Dion.

***

Di luar gedung, udara malam terasa lebih lega. Mereka berhenti di area parkiran, lampu-lampu mobil memantul di aspal yang sedikit lembap.

“Tadi lo keren banget, Ka. Sumpah, demi nenek buyut gue!” seru Raka.

Azka berdecak malas.

“Tadi itu… kayak bukan lo,” sambung Dion. “Beda banget pas di atas ring.”

“Beda gimana?” Azka menyipitkan mata.

“Kayak orang yang lagi kebakar api emosi,” jawab Dion polos.

Raka terkekeh kecil. Sementara Devan masih diam, menatap Azka dengan ekspresi penuh tanda tanya, seolah ada potongan puzzle yang belum cocok di kepalanya.

“Eh, tapi serius,” Raka kembali bersuara. “Kenapa lo nerima tantangan Arvin? Emang… taruhannya apa?”

Azka terdiam.

“Dan lo nggak mungkin nerima gitu aja tanpa alasan,” timpal Dion.

Beberapa detik berlalu dalam hening. Azka menatap kosong ke depan, lalu berkata singkat, “Nggak ada alasan. Nggak penting juga.”

Raka dan Dion melongo.

Tapi Devan tidak. “Apa ini ada kaitannya dengan Nayla?”

Pertanyaan Devan jatuh begitu saja di udara malam. Tenang, tapi menghantam tepat sasaran.

Langkah Azka yang semula hendak membuka pintu mobil langsung terhenti. Tangannya masih menggenggam gagang pintu, jemarinya menegang. Lampu parkiran memantulkan sorot matanya yang mendadak menggelap.

Raka dan Dion refleks saling pandang.

“Hah?” Dion mengernyit.

“Nayla?” ulang Raka, nadanya naik setengah oktaf.

Beberapa detik berlalu. Sunyi.

Azka tidak langsung menoleh. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan sesaat sebelum akhirnya ia menjawab, “Nggak.”

Singkat. Dingin. Terlalu cepat.

Namun Devan tidak tampak puas. Ia melangkah satu langkah mendekat, suaranya tetap rendah. “Jangan bohong, Ka. Gue kenal lo. Lo nggak pernah turun ke ring cuma buat harga diri kosong.”

Raka menelan ludah. “Tunggu… jadi beneran nih?” Matanya membesar. “Ini soal Nayla?”

Azka menutup pintu mobilnya perlahan.

Klik.

Suara kecil itu terdengar jelas, seperti penanda bahwa percakapan ini seharusnya berhenti. Ia berbalik, menatap mereka satu per satu. Tatapannya datar, tapi ada sesuatu yang bergejolak di baliknya, sesuatu yang jelas tidak ingin ia bagi.

“Udah,” katanya akhirnya. “Gue nggak mau bahas itu.”

“Tapi—” Dion mencoba menyela.

“Gue capek,” potong Azka. Nadanya rendah, tidak keras, tapi cukup untuk membuat Dion langsung bungkam.

Hening kembali menyelimuti parkiran itu.

Angin malam berembus pelan, membawa bau aspal dan mesin mobil yang masih hangat. Devan menatap Azka lama, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi akhirnya mengurungkan niatnya.

Azka menarik napas dalam. “Gue balik dulu.”

Tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke dalam mobilnya. Mesin menyala, lampu depan menyorot lurus ke depan. Beberapa detik kemudian, mobil itu melaju pergi, meninggalkan Raka, Dion, dan Devan berdiri di tempat dengan wajah penuh tanda tanya.

Raka mengusap tengkuknya. “Fix… ini nggak beres.”

Dion mengangguk pelan. “Kalau bukan soal Nayla, gue makan helm.”

Devan tidak ikut bercanda. Tatapannya masih mengarah ke jalan tempat mobil Azka menghilang, rahangnya sedikit mengeras. Ada firasat tak enak yang mengendap di dadanya.

***

Di perjalanan pulang, kota tampak berkilau oleh lampu-lampu jalan. Azka menyetir dengan satu tangan, fokus ke jalan, tapi pikirannya kacau. Dentuman di ring tadi masih terasa di buku-buku jarinya, sementara wajah Nayla entah kenapa terus muncul di benaknya.

Ia baru tersadar ketika ponselnya bergetar pelan di saku jaket. Azka merogoh ponselnya, menyalakan layar.

Alisnya sedikit terangkat saat melihat nama itu.

Nayla. 2 jam yang lalu.

Dan beberapa notifikasi lainnya yang tidak penting.

Dadanya mengencang.

Ia tidak membuka pesannya. Layar ponsel kembali mati ketika Azka menguncinya, lalu memasukkannya lagi ke saku jaket. Tangannya mencengkeram setir lebih erat, rahangnya mengeras.

“Ck…” desisnya pelan.

Tanpa sadar, kaki Azka menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil melaju lebih cepat, membelah jalan kota yang sepi, lampu-lampu jalan melintas cepat di sisi kaca.

Entah kenapa, satu pikiran terus berputar di kepalanya.

Bagaimana kalau Nayla menunggunya?

***

Diwaktu yang sama.

Di kamarnya, Nayla menekuk tangan kiri di atas meja belajar, menjadikannya bantalan kepala. Matanya terpejam sesaat, napasnya berat.

“Aduhh… capek banget,” keluhnya pelan.

Deretan catatan masih terbuka di hadapannya. Punggungnya pegal, pergelangan tangannya terasa kaku setelah bergelut cukup lama dengan tulisan-tulisan yang tak ada habisnya.

Kruyukk~

Nayla refleks membuka mata. Ia mengusap perutnya yang tiba-tiba berbunyi tanpa aba-aba, seolah menuntut haknya dengan paksa.

“Laper banget…” gumamnya lirih.

Ia menoleh ke arah jam. Sudah cukup malam. Rasa malas langsung menyeruak membayangkan harus turun ke lantai bawah, apalagi mengutak-atik dapur sendirian di jam seperti ini. Tapi perutnya jelas tak mau kompromi.

Dengan napas pasrah, Nayla akhirnya berdiri. Ia melangkah keluar kamar dan menuruni tangga perlahan. Dari tangga, ia bisa melihat ruang tengah sudah gelap. Lampu-lampu di sana padam. Hanya cahaya dari dapur yang masih menyala, menerangi sudut rumah dengan warna kuning temaram.

Nayla mengernyit heran.

Saat masuk ke dapur, langkahnya terhenti. Matanya membulat sedikit saat melihat sosok yang masih sibuk di sana.

“Bibi?” panggilnya spontan. “Bibi belum tidur?”

Bi Ratih yang sedang membereskan sesuatu di meja dapur langsung menoleh. Wajahnya tampak terkejut sesaat sebelum tersenyum ramah.

“Eh… Non Nayla,” sahutnya lembut. “Belum, Non.”

Nayla melangkah mendekat.

“Ada yang perlu Bibi bantu, Non?” tanya Bi Ratih sopan.

Nayla menggeleng pelan. “Nggak kok, Bi. Bibi istirahat aja. Pasti capek banget setelah kerja seharian.” Ia tersenyum kecil. “Nayla cuma mau rebus mie. Gampang.”

Bi Ratih tampak ragu. “Baik, Non… Bibi tinggal nggak apa-apa?”

“Aman, Bi,” jawab Nayla ringan. “Cuma masak mie doang. Gampang itu mah.” Ia terkekeh kecil, mencoba meyakinkan.

Bi Ratih akhirnya mengangguk. Namun sebelum benar-benar pergi, Nayla tiba-tiba teringat sesuatu.

“Oiya, Bi,” ujarnya, nadanya sedikit menurun. “Bibi tau Azka pergi ke mana?”

Bi Ratih menghela napas pelan. “Itu… Bibi juga nggak tau, Non. Tapi tadi Bibi sempat lihat Tuan Muda Azka keluar kayak buru-buru gitu. Dia nggak bilang apa-apa.”

Nayla terdiam beberapa detik.

“Oh… gitu ya,” katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Ia memalingkan wajah, berpura-pura fokus mengambil panci, tapi pikirannya melayang. Ada rasa aneh yang menggelitik dadanya, bukan cemas berlebihan, tapi cukup untuk membuatnya tak nyaman.

"Buru-buru ke mana, Ka?"

Nayla menepis pikiran itu, lalu tersenyum tipis ke arah Bi Ratih. “Makasih ya, Bi.”

“Iya, Non.” Bi Ratih tersenyum lagi sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan dapur.

Kini dapur itu kembali sunyi. Hanya suara air mengalir dan denting peralatan yang menemani Nayla, sementara pikirannya… entah kenapa tak bisa lepas dari satu nama.

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!