Sepuluh tahun mengejar cinta suaminya, Lara Margaret Buchanan, tidak kunjung dapat meluluhkan hati lelaki yang sejak masa kuliah itu ia sukai.
Hingga usianya menginjak tiga puluh dua tahun, akhirnya ia pun menyerah untuk mengejar cinta David Lorenzo.
Hingga tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda, yang memiliki usia sepuluh tahun dibawah usianya.
Siapa sangka, pesona Lara Margaret Buchanan sebagai wanita dewasa, membuat pria muda itu tidak ingin melepaskan Lara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33.
"Kalau kamu merasa lelaki yang bersama Lara itu atasan David, kamu perlu sesekali datang ke kantor David untuk memastikannya, apakah benar lelaki tadi Asisten pribadi atasan David!" kata Anna memberi saran pada Cindy.
Cindy tersenyum mendengar apa yang dikatakan Ibunya.
Itu ide yang sangat bagus, karena ia sudah hampir satu bulan tidak pernah datang lagi ke kantor David.
"Ayo sana kejar David! kamu harus perlihatkan sikap lemah lembut mu padanya, agar dia tidak lagi marah padamu!"
Anna mendorong Cindy untuk bergegas melangkah mengejar David, yang sudah semakin jauh.
Sementara itu, di dalam toko.
Dua pegawai toko mendorong satu rak gantungan baju berukuran panjang, berisi penuh dengan pakaian edisi terbaru ke hadapan Stefan dan Lara.
Mata Stefan memperhatikan pakaian yang tergantung pada rak gantungan tersebut, dan mengamati setiap warna pakaian.
"Keluarkan pakaian berwarna putih!!" perintahnya kepada pegawai toko.
Dengan cepat dua pegawai itu mendengarkan perintah Stefan.
Mereka mengambil pakaian berwarna putih dari antara pakaian-pakaian tersebut.
Lara tidak menyangka Stefan juga mengetahui warna, yang tidak ia ingin pakai lagi setelah bercerai dari David.
"Kak Lara, ini semua pakaian edisi terbatas, pakailah satu persatu untuk mencobanya, apakah sesuai dengan ukuran tubuhmu!" kata Stefan.
"Silahkan, Nyonya!" kata salah satu pegawai mengambil satu pakaian tersebut, dan memberikannya kepada Lara.
"Baiklah!" jawab Lara.
Ia menerima pakaian yang di ulurkan pegawai padanya, lalu masuk ke dalam ruang pas.
Pakaian pesta yang sangat mewah sangat pas dengan ukuran tubuhnya.
Saat ia keluar memperlihatkannya kepada Stefan, senyuman Stefan tampak tersungging dibibirnya merasa puas dengan penampilan Lara.
"Sangat cantik! kak Lara, kamu terlihat begitu menawan! gaun itu sangat cocok kamu kenakan!!" kata Stefan dengan nada senang.
Setelah Lara mencoba hampir sebagian pakaian pada rak gantungan itu, Stefan memerintahkan pegawai toko untuk membungkus pakaian-pakaian tersebut.
"Hah?! banyak sekali!!" kata Lara tidak setuju dengan apa yang dikatakan Stefan.
"Bungkus semua!!" kata Stefan mengabaikan penolakan Lara.
Setelah selesai di bungkus dengan rapi pada paper bag, Stefan memberikan alamat Mansion Juorell kepada pegawai toko.
Ia ingin pihak toko yang mengantar pakaian-pakaian itu ke Mansion Juorell.
Lara hanya bisa diam saja, karena Stefan ingin mengajaknya untuk berbelanja ke toko lainnya.
Hampir menjelang malam, mereka barulah kembali ke Mansion, setelah berbelanja di beberapa toko.
Lara tidak percaya melihat belanjaannya yang begitu banyak di ruang utama Mansion, dari paper bag pakaian, sepatu, tas, dan perhiasan.
"Tolong bawa ke kamar pakaian istriku!"
"Baik, Tuan!" jawab tiga pengasuh Juorell, yang sedari tadi menunggu Stefan dan Lara, untuk membawa belanjaan Lara ke kamar pakaian Lara.
Kamar utama yang cukup luas, telah diubah Stefan sebelum Lara masuk ke kediaman Juorell, menjadi kamarnya dan Lara memiliki dua kamar pakaian.
Kamar pakaian dengan pintu dorong ke samping, masing-masing kamar pakaian di tata seperti sebuah toko branded mini.
Lara tidak menyangka cara kerja tiga pengasuh itu sangat profesional.
Mereka dengan cepat serta rapi dalam bekerja.
Mereka juga menggunakan sarung tangan putih, saat menyusun dan menata belanjaannya ke tempatnya menurut jenisnya.
Pakaian di gantung di lemari pakaian tanpa pintu, sepatu di lemari sepatu yang juga tanpa pintu.
Tas di lemari tas tanpa pintu, dan perhiasan pada lemari perhiasan.
Kamar pakaian yang sangat bersih dan rapi, lengkap dengan mesin pembersih udara, untuk membuat kamar pakaian tetap bersih, dan bebas dari debu serta bau.
Lara tidak menyangka, ia dimanjakan suami berondongnya, yang tidak pernah ia dapatkan dari David.
Setelah pengasuh Juorell selesai mengerjakan pekerjaan mereka, Lara merasa penasaran melihat penampilan kamar pakaian Stefan.
Dengan pelan Lara mendorong pintu ke samping, dan ia pun melihat penampakan kamar pakaian Stefan.
Kamar pakaian yang hampir sama dengan kamar pakaiannya.
Terlihat begitu mewah dengan pakaian yang disusun, dan di tata menurut jenisnya.
"Kak, kamu sedang apa di kamar pakaian ku?"
Lara nyaris melompat di tempatnya mendengar suara Stefan, yang tiba-tiba sudah berada tepat di belakangnya.
"A.. aku.. aku hanya melihat-lihat saja!" jawab Lara gugup, dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Stefan, "Akh!!"
Lara tidak tahu posisi berdiri Stefan ternyata begitu dekat di belakangnya, sehingga ia pun menabrak tubuh Stefan.
Tangan Stefan dengan cepat meraih pinggang Lara, dan tubuh Lara yang nyaris terhuyung ke belakang masuk ke dalam pelukan Stefan.
Lara seketika menjadi salah tingkah dengan posisi mereka.
Lara yang tadinya memiliki perasaan yang biasa saja pada Stefan, tiba-tiba merasa ada perasaan berbeda saat Stefan memeluk dirinya.
"Sayang, pipimu memerah" bisik Stefan tersenyum menyentuh pipi Lara.
"Hah? i.. itu karena di dalam ruangan ini terasa panas, lepaskan aku, lebih baik kita keluar dari sini!" jawab Lara mencoba melepaskan pelukan Stefan.
"Akh!!" kembali Lara terkejut.
Sekali angkat, tubuhnya sudah berada dalam bopongan Stefan.
Stefan membawanya keluar dari dalam kamar pakaian, dan melangkah menuju tempat tidur.
Stefan meletakkan tubuh Lara duduk di tepi tempat tidur, lalu mengungkungnya dengan dua lengannya.
Stefan meletakkan ke dua tangannya bertumpu di atas tempat tidur, dengan tubuh setengah membungkuk menatap Lara.
Lara dengan cepat memundurkan tubuhnya ke belakang, sehingga ia nyaris berbaring ke atas tempat tidur.
Dan menjauhkan wajahnya dari wajah Stefan yang dekat ke wajahnya.
"Kak, kamu harus membiasakan diri mulai sekarang memanggil aku dengan panggilan sayang" kata Stefan pelan nyaris seperti berbisik.
"Hah? a.. apakah memang harus?" tanya Lara mencoba memandang wajah Stefan dengan berani.
"Iya, karena aku ini sudah menjadi kesayangan kak Lara, cinta masa kecil yang menjadi kenyataan"
Lara ingin tertawa mendengar apa yang dikatakan Stefan.
Cinta masa kecil yang menjadi kenyataan?
Bukan cinta masa kecilnya, melainkan cinta masa kecil Stefan kepadanya.
Stefan yang telah menyukainya sejak dari kecil, dan mengagumi dirinya tanpa ia sadari sama sekali.
Perlahan bibir Lara menyunggingkan senyuman, "Sepertinya cinta masa kecil kamu, bukan aku, kan?"
Mata Stefan terpaku melihat senyuman Lara.
Senyuman yang sangat manis, sehingga Stefan tanpa sadar semakin menundukkan wajahnya mendekati wajah Lara.
"Oh, iya! sepertinya begitu"
Lara yang menyadari wajah Stefan semakin dekat, membuatnya semakin menjauhkan wajahnya, dan akhirnya ia terbaring di atas tempat tidur.
"Kak, kamu sangat cantik" bisik Stefan yang sudah sangat dekat dengan wajah Lara.
"Ste.. Stefan, kamu mau apa?"
"Mau mencium kak Lara"
"Tunggu!"
Lara mendorong Stefan ke samping, dan ia tidak menduga, begitu mudah membuat Stefan jatuh terbaring ke atas tempat tidur.
Sekarang posisi mereka telah berganti.
Lara berada di atas tubuh Stefan, dengan posisi nyaris berbaring di atas tubuh Stefan.
Bersambung........