Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Hampir Ketahuan
Ucapan Bastian benar, Diana benar-benar menemuinya. Wanita yang sudah lama tidak dia lihat itu, kini sudah duduk berhadapan dengannya di sebuah kafe dekat tempatnya bekerja.
Kemunculannya yang begitu mendadak, dan ucapannya yang mendesak, tidak memberikannya pilihan lain selain mengikuti permintaan wanita ini untuk berbicara berdua.
"Setelah mengusir anak kamu dari rumah, sekarang kamu membiarkan dia menjalin hubungan sama mantan suami aku?" Diana sepertinya tidak sabar untuk mengungkapkan semua yang ingin dia katakan.
"Bastian usianya sama seperti kamu, Gunawan. Segitu bencinya kamu sama anak pertama kamu itu sampai melakukan hal seperti ini? Kamu tidak malu?"
Gunawan menatap aneh wanita itu, "Kamu cuma orang asing, Diana. Atas dasar apa bicara seperti itu? Urus saja urusanmu sendiri"
Diana tertawa geli, "Sudah aku duga, pasti kamu tidak akan percaya"
"Sudah selesai kan?" Gunawan segera berdiri, enggan menanggapi tingkah Diana yang tidak sesuai dengan usianya.
Kekanak-kanakan
"Kamu akan menyesal Gunawan"
"Bukannya kamu yang sedang merasakan itu?" ujar Gunawan membalikkan ucapan Diana. "Menyesal setelah berpisah dengan Bastian, kan?"
Melihat Bastian bersama putrinya saja, reaksi Diana sudah seperti ini. Bagaimana jika dengan pasangan sungguhannya?
"Sudahlah Diana, move on. Toh ini semua hasil dari kelakuan kamu sendiri kan?" tanpa menunggu respon wanita tersebut, Gunawan langsung meninggalkan kafe.
Saat dia mengatakan tidak terlalu mengetahui apa yang menjadi alasan perceraian Bastian dan mantan istrinya pada Keisya, itu tidak sepenuhnya benar. Bahkan gosip yang dia jadikan alibi adalah kebohongan.
Dia tahu apa yang terjadi, namun tidak berniat mengatakan kepada siapapun.
Bastian sama sekali tidak meminta hal itu, hanya kesadaran dari dirinya sendiri untuk merahasiakannya.
\=\=\=\=\=
Pertemuan pertama setelah Keisya menyadari perasaannya, sangat terasa canggung. Mungkin ini yang di rasakan orang yang sedang jatuh cinta. saat bertemu dengan crushnya.
Dia sadar akan perasaannya, namun masih tidak mengerti kenapa harus Bastian. Banyak pria di sekitarnya, dengan usia yang sebaya dengannya, bahkan dia beberapa kali menerima pernyataan cinta dari pria yang satu kampus dengannya.
Tapi, kenapa hatinya sama sekali tidak tergerak?
"Sedang memikirkan apa?" suara Bastian membuyarkan lamunan panjang Keisya.
Dia menoleh, lalu menggelengkan kepala. "Soal malam itu, aku minta maaf"
Bastian sedikit menyerit, "Apa yang harus di maafkan?"
"Apa aku menyinggung mantan istri Om?"
Decihan kesal Bastian keluarkan. Moodnya terjun bebas mendengar Keisya menyebutkan wanita itu. "Jangan membahas dia"
Padahal dia sangat senang begitu gadisnya langsung setuju saat dia mengajaknya untuk bertemu dalam satu kali percobaan. Tapi setelah bertemu, yang dibahas justru mantan istrinya.
Siapa yang tidak kesal coba?
"Om masih cinta sama dia?" Keisya tidak berniat berhenti membahas sebelum keingintahuannya terjawab.
Bastian menghembuskan napasnya panjang. Lagi-lagi dia merubah kebiasaannya yang gampang meledak, hanya untuk gadisnya. "Tidak. Perasaan saya hanya untuk kamu."
Terdengar seperti gombalan. namun ekspresi Bastian menunjukan sebaliknya.
"Papa kamu sudah pernah cerita bagaimana saya bisa menikah dengan dia?" tanya Bastian lagi.
Keisya mengangguk, "Perjodohan?"
"Iya. Sejak awal saya memang tidak pernah menginginkan pernikahan itu terjadi. Ditambah ada beberapa kejadian yang membuat saya memutuskan untuk bercerai."
"Tapi Om," Keisya bergeser, menghadap Bastian sepenuhnya. "Kenapa Haikal sama David tinggalnya justru sama Om, bukan sama Ibunya?"
"Pengadilan yang memutuskan" Bastian tetap menjawab. namun tidak berniat menjelaskan. Jika dia melakukan itu, sama saja dengan memperpanjang pembahasan tentang masalalunya.
"Apa lagi yang ingin kamu tahu tentang saya?"
Sebenarnya banyak, tapi Keisya sungkan. Pertanyaan Bastian barusan sedikit menyadarkannya atas kelancangannya yang terlalu banyak bertanya.
Apalagi ini menyangkut masalalu Bastian.
Keisya sampai lupa jika dia pun memiliki masalalu yang enggan untuk kembali di ungkit oleh siapapun. Sekalipun oleh Papanya sendiri.
Bastian heran dengan ekspresi gadisnya yang tiba-tiba tampak murung itu. "Saya ada salah bicara?"
"Engga, Om ga salah. Justru aku yang salah gara-gara banyak tanya"
Tangan Bastian terangkat, mengusap rambut gadisnya yang terikat ekor kuda, "Kamu tidak salah. Tanyakan apapun yang membuat kamu penasaran. Saya akan menjawab sebisa mungkin"
Mungkin ini salah satu hal yang membuat Keisya bisa memiliki perasaan lebih pada pria matang ini. Karena kelembutannya, dan bagaimana caranya memperlakukannya sejak awal. Terlihat dingin dari luar, namun hatinya menghangat.
Keisya sungguh tidak bisa mendefinisikan apa yang terjadi pada dirinya sendiri sampai bisa sejauh ini.
"Kalung itu sangat cocok untuk kamu" Bastian mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Keisya menunduk, menyentuh kalung berliontin berlian tersebut. Ukurannya tidak terlalu besar, berkilauan dan sangat cantik.
"Makasih hadiahnya"
Benar, ini hadiah dari Bastian hari itu. Baru kali ini dia memakainya. Keisya hanya ingin menunjukan pada Bastian jika dia menghargai pemberiannya.
"Tapi sepertinya ini terlalu mahal"
"Tidak sama sekali" Situasi mereka sudah mulai mencair, dan Bastian kembali menambahkan, "Mau makan, saya traktir"
Seperti yang di harapkan, gadisnya langsung setuju. Bastian pun melajukan mobilnya yang sejak tadi terparkir di tepi jalan menuju restoran terdekat.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka tiba. Bastian turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk gadisnya. Memasuki area restoran, Keisya berjalan terlebih dahulu setelah Bastian kembali membukakannya pintu.
Pelayan menyapa mereka, namun sebelum dia memberikan tanggapan, Keisya lebih dulu menyadari kehadiran seseorang.
Matanya terbuka lebar, dan langsung berbalik dengan cepat. Dia menatap Bastian yang tampaknya heran dengan apa yang terjadi, lalu menariknya tangannya sebelum pria itu membuka suaranya.
Mereka kembali keluar restoran, beberapa saat sebelum Gunawan menoleh ke arah pintu masuk. Dia merasakan kehadiran orang yang dia kenal, namun tidak ada siapapun disana.
Entah siapa.
"Pak Gunawan?"
Gunawan kembali fokus pada pria di depannya.
"Jadi bagaimana?"
"Oh iya, maaf"
Pembicaraan pun kembali di lanjutkan, dan dia dalam sekejap melupakan kejadian barusan.
Sedangkan di luar, Keisya yang terengah sudah kembali berada di parkiran. Selain karena di terburu buru, kepanikannya pun membuat dia lelah. Belum lagi dia menarik Bastian agar tidak terlihat oleh Papanya.
"Kenapa?" Bastian sama sekali belum tahu apa yang membuat gadisnya beraksi seperti itu. Namun dia tidak menolak saat di seret kembali keluar.
"Ada Papa Om di dalam"
Keisya begitu panik, namun Bastian hanya merespon santai. "Oh"
"Oh? Barusan ada Papa loh Om di dalam" Keisya sampai mengulangi kalimatnya, mengira Bastian tidak mendengar ucapannya. Reaksinya itu terlalu biasa saja menurutnya.
"Lalu kenapa? Biarkan saja Papa kamu melihat. Kita hanya makan, bukan mau tidur bersama"
Keisya melotot. Tangannya yang masih memegang pergelangan tangan Bastian dia lepaskan, lalu memukul lengan atasnya dengan keras.
"Sembarangan"
Respon Bastian, tentu saja tertawa. Wajah galak gadisnya ini begitu menggemaskan. Apalagi saat dia melotot ke arahnya.
"Kalau Papa tanya kenapa kita bisa bareng gimana?" kesalnya.
"Bilang saja kita pacaran" lagi-lagi jawaban Bastian memicu kekesalan Keisya.
"Nyebelin" Keisya mendengus "Udah lah, aku mau pulang aja"
"Tidak jadi makan? Kita bisa pindah ke tempat lain"
"Engga" Dia jadi parno sendiri berada di tempat umum bersama Bastian. Takut saja kejadian barusan kembali terjadi. Padahal mungkin orang tidak akan langsung berasumsi yang aneh-aneh tentang kebersamaan mereka, hanya pikirannya saja yang sibuk sendiri.
Mungkin karena dia belum siap jika ada yang mengetahui tentang hubungannya saat ini?
"Saya ada apartemen. Kita makan di sana saja. Bagaimana?" terdengar normal saat Bastian menawarkan hal itu. Sama sekali tidak terlihat jika dia sedang modus dan mencari kesempatan untuk berduaan di tempat sepi dengan gadisnya.
hehe besok kamu ga akan bisa ngelak lg kei kalo liat bukti dr Sisi 🤣🤣