Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPM10
“Aku tahu,” jawab Johan.
“Dan aku minta maaf kalau bikin kamu kepikiran.”
Mia tidak membalas. Ia hanya menghabiskan sarapannya perlahan. Di satu sisi, ia ingin percaya. Di sisi lain, ada perasaan bahwa jarak itu mulai tumbuh bukan karena pekerjaan, tapi karena hal lain yang belum ia pahami.
Sarapan pagi itu tetap selesai seperti biasa. Tidak ada pertengkaran, tidak juga kejelasan. Hanya dua orang yang sama-sama memilih diam, dengan alasan yang berbeda.
Siang itu suasana kantor mulai lengang selepas jam makan siang. Mia baru saja kembali ke mejanya ketika ponselnya bergetar. Nama Kak Linda kakak Johan muncul di layar.
“Halo, Kak,” sapa Mia pelan.
“Mia,” suara di seberang terdengar ceria,
“Kamu bisa datang ke ulang tahun Ashley, kan? Sabtu ini.”
Mia sedikit tertegun.
“Oh… Ashley ulang tahun ya, Kak?”
“Iya. Kami tunggu, ya. Jangan lupa ajak Johan.”
“Insyaallah, Kak,” jawab Mia sambil tersenyum kecil. Telepon ditutup. Mia meletakkan ponselnya perlahan di atas meja.
Undangan itu terdengar sederhana, tapi pikirannya langsung melayang pada satu hal yang tak bisa ia hindari berkumpul dengan keluarga besar Johan berarti ibu Mertuanya juga akan ada di sana.
Ia menatap layar komputernya tanpa benar-benar membaca apa pun. Ada jeda singkat sebelum akhirnya Mia menarik napas panjang dan kembali bekerja, seolah mencoba menahan pikiran agar tidak berlarut terlalu jauh.
Namun rasa gelisah itu tetap tinggal, diam-diam mengendap di dadanya.
Sore harinya, saat Johan menjemput dan mobil mulai melaju meninggalkan area kantor, Mia menyampaikan kabar itu.
“Kak Linda nelepon tadi,Ashley ulang tahun hari Sabtu.”
Johan mengangguk.
“Oh iya. Pasti Mama juga datang.”
“Iya,” sahut Mia singkat. Johan melirik sekilas ke arahnya.
“Kamu nggak apa-apa?”
Mia tersenyum tipis.
“Nggak apa-apa. Kan acara keluarga.”
Johan kembali fokus ke jalan. Sementara itu, Mia memalingkan wajah ke jendela. Di dalam hatinya, ia tahu jawabannya tidak sesederhana itu tapi untuk sekarang, ia memilih menyimpannya sendiri.
Sabtu siang, rumah kakak Johan dipenuhi keluarga besar. Tawa anak-anak bercampur dengan obrolan orang dewasa. Balon warna-warni menghiasi sudut ruangan, sementara Ashley berlari ke sana kemari dengan wajah penuh kegembiraan. Mia dan Johan duduk berdampingan, tampak larut dalam suasana.
Mia sempat tersenyum melihat anak-anak bermain. Ada rasa hangat yang muncul, meski ia berusaha tidak memikirkannya terlalu jauh. Beberapa kerabat menyapa, menanyakan kabar pekerjaan, menyinggung hal-hal ringan. Untuk sesaat, Mia merasa baik-baik saja.
Hingga suara itu terdengar.
“Lucu ya, Mi,” ujar ibunya Johan sambil menatap ke arah Ashley yang sedang tertawa.
“Itulah nikmatnya punya anak bisa menjadi hiburan jadi gak jenuh. ”
Ucapannya terdengar ringan, hampir seperti pujian. Tapi Mia tahu, kalimat itu tidak ditujukan pada anak kecil di hadapannya.
Mia menegakkan punggungnya. Ia tersenyum tipis.
“Iya, Ma. Anak-anak memang membawa keceriaan.”
Ibunya Johan tersenyum samar.
“Makanya, kalian juga harus cepat punya biar kamu betah di rumah. ”
Johan yang duduk di samping Mia menghela napas pelan.
“Ma,” tegurnya singkat.
Ibunya menoleh.
“Mama cuma bicara fakta, Jo.”
Percakapan itu berhenti ketika kakak iparnya datang membawa kue. Lagu ulang tahun dinyanyikan, lilin ditiup, tepuk tangan memenuhi ruangan. Suasana kembali riuh, seolah tidak pernah ada apa-apa.
Namun bagi Mia, satu kalimat tadi sudah cukup untuk mengusik ketenangannya.
Ia tetap duduk di sana, ikut tersenyum, ikut bertepuk tangan.
Tidak ada air mata, tidak ada bantahan. Hanya perasaan sesak yang kembali datang perasaan sedang berada di tengah keluarga, tapi tidak sepenuhnya diterima.
Saat Johan menggenggam tangannya di atas pahanya Mia membalas genggaman itu. Bukan untuk mencari perlindungan, tapi untuk memastikan dirinya masih sanggup bertahan.
Dan di tengah riuh tawa anak-anak, Mia menyadari satu hal,tekanan itu memang tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu momen untuk muncul kembali.
Acara berlanjut hingga sore. Makanan tersaji di meja panjang, keluarga besar duduk berkelompok. Anak-anak kembali bermain setelah kenyang, sementara obrolan orang dewasa mulai melebar ke mana-mana.
Mia membantu di dapur sebentar, lalu kembali ke ruang tengah. Saat ia hendak duduk, ibunya Johan sudah lebih dulu menarik kursi di sebelahnya.
“Kamu sekarang kerja lagi ya, Mi?” tanyanya sambil menuang minuman ke gelasnya sendiri.
“Iya, Ma,” jawab Mia singkat.
Ibunya Johan mengangguk pelan.
“Sibuk dong. Kerja, pulang capek.” Ia tersenyum tipis.
“Makanya Mama bilang, sama Johan agar istrinya tidak usah kerja, tapi sekarang kamu kerja ya tidak tahulah. ”
Beberapa anggota keluarga menoleh. Suasana yang tadinya santai berubah sedikit kaku.
“Kakakku dulu juga wanita karir” sambungnya lagi, suaranya tetap tenang.
“Tapi begitu menikah langsung resign, karena kodratnya istri ya dirumah melayani suami mengurus anak.”
Mia menarik napas perlahan. Tangannya mengepal di bawah meja., ia berusaha menahan diri.
Johan menggeser kursinya sedikit.
“Ma, ini ulang tahun Ashley,bisa tidak jangan merusak suasana?." ucapnya datar.
Ibunya tersenyum, kali ini lebih lebar.
“Lho Mama cuma cerita biar Mia termotivasi.”
Kata termotivasi itu jatuh seperti beban tambahan di dada Mia.
“Setiap orang punya jalannya masing-masing, Ma,” ujar Mia akhirnya. Suaranya halus, tapi jelas. “Kami juga sedang berusaha.”
Ibunya Johan menatapnya sejenak.
“Usaha itu kelihatan dari hasilnya, Mi.”
Suasana mendadak hening. Beberapa orang pura-pura sibuk dengan ponsel, yang lain meneguk minuman tanpa suara.
Johan berdiri.
“Kami pamit dulu,” katanya tegas. Ia menarik tangan Mia pelan.
“Makasih untuk undangannya.”
Tanpa menunggu jawaban, Johan membawa Mia keluar dari rumah itu. Di halaman, Mia baru menyadari napasnya terasa lebih ringan, meski dadanya masih sesak.
Di dalam mobil, mereka tidak langsung bicara. Johan menyalakan mesin, lalu memandang lurus ke depan.
“Aku minta maaf,” ucapnya akhirnya.
“Seharusnya kita tidak perlu datang.”
Mia menoleh.
“Aku nggak marah, Jo.” Ia tersenyum kecil, lelah. “Aku cuma tidak tahu sampai dimana aku bisa bertahan.”
Johan menggenggam setir lebih erat.
“Aku janji, ini yang terakhir.”
Mia tidak menjawab. Bukan karena tidak percaya, tapi karena ia tahu janji itu tidak selalu cukup untuk menghentikan orang yang merasa paling benar.
Mobil melaju meninggalkan rumah itu, membawa pulang dua orang yang sama-sama diam, dengan beban yang semakin nyata.
Sejak acara itu, Mia menjadi lebih banyak diam. Ia tetap berangkat kerja, tetap menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik, tapi ada bagian dirinya yang tertinggal. Senyumnya muncul seperlunya. Jika dulu ia masih bercerita tentang hal-hal kecil di kantor, kini obrolannya lebih singkat.
Di rumah, Mia tidak berubah menjadi dingin. Ia masih menyiapkan makan malam, masih menanyakan hari Johan, masih menemaninya menonton televisi. Hanya saja, ia lebih sering tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Johan menyadari perubahan itu. Ia melihatnya dari cara Mia duduk lama di tepi ranjang sebelum tidur, dari tatapannya yang sering kosong, dari jawaban-jawaban pendek yang biasanya diikuti senyum kecil.
Malam itu, setelah Mia terlelap, Johan keluar ke balkon. Udara malam terasa berat. Ia meraih ponselnya dan menekan nama yang sudah lama ia simpan dengan rasa ragu.
“Ma,” ucapnya begitu panggilan tersambung.
“Kenapa malam-malam nelepon?” suara ibunya terdengar datar.
“Ma,” Johan menarik napas,
“Sampai kapan Mama akan terus begini?”
“Apa maksud kamu?”
“Sampai kapan Mama akan terus memojokkan Mia?” suara Johan terdengar lebih tegas dari biasanya.
“Mama sadar nggak sih, ucapan Mama itu melukai istri aku.”
Di seberang sana terdengar helaan napas.