"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sesaat kemudian, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar sambil melepas masker medisnya. Pak Sanjaya yang sejak tadi tidak tenang langsung menghampiri dokter tersebut dengan wajah penuh kecemasan.
"Dokter! Bagaimana keadaan putri saya?" tanya Pak Sanjaya dengan suara yang bergetar.
"Bapak tenang dulu, ya. Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar. Keadaan Ibu Karin sekarang sudah stabil dan baik-baik saja."
Mendengar hal itu, Pak Sanjaya menghembuskan napas lega yang luar biasa. Bik Siti yang berada di belakangnya pun tampak langsung bersyukur sambil menyeka sisa air matanya.
"Syukurlah... terima kasih, Dokter," ucap Pak Sanjaya tulus.
"Sama-sama, Pak. Sekarang Ibu Karin sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan untuk masa pemulihan. Setelah pengaruh biusnya hilang, Bapak dan keluarga baru bisa menjenguk beliau," pungkas sang dokter.
"Ah, iya. Baik, Dok."
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak," pamit Dokter tersebut seraya mengangguk sopan sebelum berlalu pergi.
"Silakan, Dok...".
Setelah Dokter pergi Pak Sanjaya menarik napas panjang dan berbalik menatap Bik Siti serta Pak Joni yang masih berdiri dengan sisa-sisa ketegangan.
"Bik Siti dan Pak Joni, kalian tunggu di sini saja dulu ya. Saya akan menyelesaikan semua urusan administrasinya agar Karin bisa segera dipindahkan ke kamar perawatan," ujar Pak Sanjaya
"Baik, Tuan," jawab mereka serentak sambil sedikit membungkukkan badan.
Pak Sanjaya kemudian melangkah menuju bagian administrasi, meninggalkan Bik Siti dan Pak Joni yang masih berdiri di ruang tunggu yang mulai sepi itu.
Bik Siti akhirnya bisa terduduk di kursi tunggu dengan lemas.
"Alhamdulillah, ya Allah... Non Karin selamat. Saya benar-benar takut tadi, Pak Joni."
Pak Joni hanya bisa mengangguk pelan sambil menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit.
"Iya, Bik. Untung kita sampai tepat waktu. Tapi saya masih kepikiran soal kopi itu. Siapa sebenarnya orang itu dan kenapa dia mengincar Non Karin?"
"Kita harus waspada, Pak. Jangan sampai orang jahat itu datang lagi ke sini," bisik Bik Siti sambil memperhatikan sekitar dengan cemas.
*
*
*
Hendra menyandarkan punggungnya ditempat tidur, menyalakan sebatang rokok, dan mengembuskan asapnya dengan puas ke udara. Senyum licik tersungging di bibirnya. Ia segera merogoh saku, mengambil ponsel, dan menghubungi Laura.
"Halo, Laura. Aku sudah berhasil membuat Karin celaka. Sekarang dia sedang sekarat dan koma di rumah sakit," ucap Hendra dengan nada bangga sekaligus puas.
"Apa?! Kamu beneran berhasil, Ndra? Bagus dong!" sahut Laura di seberang telepon, suaranya terdengar sangat senang mendengar penderitaan Karin.
"Tentu saja berhasil. Jadi, sesuai kesepakatan kita... kamu nggak lupa, kan? Kamu bakal tidur denganku sepuasnya," tagih Hendra dengan suara mesum.
Laura terkekeh manja, tidak merasa keberatan sedikit pun dengan syarat kotor itu.
"Tenang saja, Ndra. Aku bukan orang yang suka ingkar janji. Tapi ya jangan sekarang, Mas Dirga masih ada di rumah. Aku nggak mau dia curiga kalau aku keluar malam-malam begini."
Hendra mendengus pelan, sedikit kecewa namun tetap merasa tenang.
"Baiklah kalau begitu. Besok saja kita ketemunya. Kamu langsung datang saja ke apartemenku," ucap Hendra memberi instruksi.
"Oke, siap, Ndra!" jawab Laura singkat sebelum mengakhiri panggilan.
Pintu kamar terbuka pelan, membuat Laura yang sedang asyik dengan ponselnya tersentak. Dirga berdiri di ambang pintu, menatap istrinya dengan dahi berkerut heran.
"Ra... kamu kenapa sih? Dari tadi aku perhatikan senyum-senyum terus. Apa ada yang lucu?" tanya Dirga curiga.
Laura terlonjak, refleks menyembunyikan ponselnya di balik bantal. "Astaghfirullah, Mas! Kamu itu kalau masuk ketuk pintu dulu, kek. Bikin jantungan saja!"
"Ya habisnya kamu aneh. Dari pintu tadi aku perhatikan kamu senyum-senyum sendiri, sudah kayak orang gila tahu nggak," sahut Dirga sambil berjalan mendekat ke arah tempat tidur.
Wajah Laura langsung memerah, Ia merasa kesal.
"Apa kamu bilang, Mas? Kamu ngatain aku orang gila? Berani ya kamu sekarang ngomong begitu ke istri sendiri!"
Dirga menghela napas, mencoba tidak terpancing emosi. "Ya kalau nggak mau dibilang gila, coba jelasin. Kenapa kamu kelihatan senang banget malam-malam begini?"
Laura memutar otak, mencari alasan yang paling masuk akal agar suaminya tidak curiga.
"Ini lho, Mas... aku tadi lagi nonton video kucing lucu di TikTok. Receh banget, makanya aku tertawa terus. Gitu aja dicurigai," kilahnya sambil memasang wajah cemberut agar terlihat meyakinkan.
Dirga terdiam sejenak, matanya menatap tajam ke arah bantal tempat Laura menyembunyikan ponsel tadi. "Masa sih, Ra? Senyummu itu beda, kayak habis dapat durian runtuh."
"Ya ampun, Mas! Iya, beneran video kucing. Kenapa sih, sekarang kamu jadi nggak percaya banget sama aku?" tanya Laura balik dengan nada tersinggung, mencoba memutarbalikkan keadaan agar Dirga merasa bersalah.
Di tengah suasana tegang di kamar, tiba-tiba ponsel Dirga yang tergeletak di nakas bergetar hebat. Nama "Bik Siti" muncul di layar ponselnya.
Dirga mengerutkan dahinya. Ia merasa heran kenapa Bik Siti menelpon selarut ini?
"Siapa, Mas?" tanya Laura, mencoba mengintip layar ponsel Dirga dengan jantung berdebar.
"Bik Siti," jawab Dirga singkat sambil menggeser tombol hijau. "Halo, Bik? Ada apa?"
"Halo... Den Dirga..." suara Bik Siti terdengar pecah karena tangis. " Den... Non Karin... Non Karin ditusuk orang jahat."
Dirga seketika berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya pucat pasi. "Apa?! Bik, jangan bercanda! Gimana kondisi Karin sekarang?!"
"Sekarang di rumah sakit, Den. Baru selesai operasi. Tolong ke sini, Sekarang Den. Tuan Sanjaya memang ada di sini, tapi beliau sangat terpukul," isak Bik Siti dari seberang telepon.
Dirga mengepalkan tangannya, keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Bik, kirimkan lokasinya sekarang. Saya segera ke sana."
Setelah menutup telepon, Dirga langsung menyambar jaketnya. Laura yang sejak tadi memperhatikan reaksi suaminya, pura-pura kaget dan ikut berdiri.
"Ada apa, Mas? Siapa yang ditusuk?" tanya Laura dengan akting yang sangat natural, wajahnya dibuat seolah-olah ketakutan.
"Karin, Ra. Karin ditusuk orang," sahut Dirga sambil terburu-buru menuju pintu.
Laura mengejar suaminya. "Ya Allah, kok bisa? Terus sekarang gimana? Aku... aku ikut ya, Mas? Aku khawatir sama Karin."
Sebenarnya, Laura ingin ikut bukan karena peduli, tapi karena ingin memastikan dengan matanya sendiri apakah laporan Hendra benar bahwa Karin sedang sekarat.
Dirga mengangguk cepat sambil menyambar kunci mobilnya. "Ya sudah, ayo cepat! Tapi kamu harus janji, jangan memancing keributan. Pak Sanjaya pasti sedang sangat emosional sekarang."
"Iya, Mas. Aku ngerti, kok," jawab Laura mantap, meski dalam hatinya ia tersenyum puas karena rencananya berjalan mulus.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, suasana di dalam mobil terasa sangat hening. Dirga fokus menyalip kendaraan di depannya dengan napas yang memburu, sementara Laura sibuk berpura-pura cemas sambil sesekali mengusap air mata palsunya.
Begitu sampai di depan ruang perawatan, Dirga melihat Pak Sanjaya sedang duduk di bangku tunggu dengan wajah yang sangat kuyu.
Bik Siti yang melihat kedatangan mereka langsung berdiri, namun wajahnya berubah pucat saat melihat siapa yang datang bersama Dirga.
"Pak Sanjaya." panggil Dirga lirih.
Pak Sanjaya mendongak. Begitu matanya menangkap sosok Dirga, kemarahan yang tadinya padam seketika berkobar kembali. Namun, kemarahan itu berlipat ganda saat ia melihat Laura berdiri di belakang Dirga.
"Mau apa kalian ke sini?!" bentak Pak Sanjaya sambil berdiri dengan kasar
"Pak, saya dengar kabar tentang Karin dari bik Siti saya hanya ingin melihat keadaan Karin".
"Tidak perlu!" potong Pak Sanjaya tajam, matanya menatap tajam ke arah Laura.
"Berani-beraninya kamu membawa perempuan ini ke hadapan saya, saat putri saya sedang kritis? Apa kalian ke sini hanya untuk merayakan penderitaan Karin?!"
"Astaghfirullah, Pak... saya dan Mas Dirga ke sini karena peduli," ucap Laura dengan nada bicara yang dibuat selembut mungkin, meskipun itu justru membuat Pak Sanjaya semakin muak.
"Perduli? Jangan bermimpi kamu!" Pak Sanjaya melangkah maju, menunjuk tepat ke wajah Dirga.
"Pergi kalian dari sini sebelum saya panggil Satpam! Kamu, Dirga... kamu sudah menghancurkan hati anak saya sekali, jangan tunjukkan wajahmu atau istrimu ini di depan matanya, ingat itu baik baik".
Dirga menghela napas panjang, menyadari bahwa kehadirannya hanya akan memperburuk keadaan dan mengganggu ketenangan rumah sakit. Ia melirik pintu ruang ICU sekali lagi dengan tatapan pedih, lalu menatap Pak Sanjaya yang masih berdiri tegak dengan napas memburu.
"Baik, Pak. Saya pergi. Saya minta maaf kalau kedatangan kami malah membuat Bapak emosi," ucap Dirga rendah. Ia lalu menyentuh pundak Laura pelan.
"Ayo, Ra. Kita pulang."
Laura, yang sebenarnya masih ingin mengintip keadaan di dalam, hanya bisa mengangguk pasrah. "Iya, Mas."
Begitu masuk ke dalam mobil, Dirga tidak langsung menyalakan mesin. Ia menyandarkan kepalanya di setir, terdiam cukup lama.
"Mas... kamu nggak apa-apa?" tanya Laura, pura-pura prihatin sambil mengusap lengan Dirga. "Pak Sanjaya memang keterlaluan ya, padahal kita niatnya baik."
"Sudahlah, Ra. Wajar kalau dia marah. Karin itu segalanya buat dia, dan sekarang kondisi Karin seperti itu," sahut Dirga tanpa menoleh.
"Aku cuma nggak habis pikir, siapa yang tega berbuat seperti itu ke Karin? Dia selama ini nggak punya musuh."
Laura mendengus pelan, mencoba memprovokasi. "Ya namanya juga orang jahat, Mas. Mungkin perampok atau orang yang iri sama dia. Mending sekarang kita pulang, kamu butuh istirahat."
Dirga akhirnya menyalakan mesin dan mulai melajukan mobilnya. Di sampingnya, Laura diam-diam merogoh ponsel di dalam tas. Ia mengirim pesan singkat kepada Hendra dengan gerakan sangat cepat agar tidak terlihat oleh Dirga.
Pesan Laura ke Hendra:
Dia selamat Ndra . Karin Nggak jadi mati.
Operasinya berjalan lancar.Tapi tenang saja,
suasananya masih kacau.kabari aku kalau ada perkembangan di apartemen besok.
Setelah menekan tombol kirim, Laura segera menghapus pesan tersebut agar tidak ketahuan oleh Dirga dan kembali memasang wajah manis.
Bersambung.........
Jangan lupa like nya kak😁🙏
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪