sinopsis:
Nama Kania Abygail tiba tiba saja terdaftar sebagai peserta Olimpiade Sains Nasional.
Awalnya Kania mensyukuri itu karna Liam Sangkara, mentari paginya itu juga tergabung dalam Olimpiade itu. Setidaknya, kini Kania bisa menikmati senyuman Liam dari dekat.
Namun saat setiap kejanggalan Olimpiade ini mulai terkuak, Kania sadar, fisika bukan satu - satunya pelajaran yang ia dapatkan di ruang belajarnya. Akan kah Kania mampu melewati masa karantina pra - OSN fisikanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zuy Shimizu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30, Dua hati yang patah
"Tak ada yang abadi, begitu juga pedih. Akan tiba titik dimana kita menertawakan luka yang dulu, tunggu saja."
###
GALEN benci atmosfer di ruang tengah ini.
Benar, Galen itu tidak banyak bicara. Tapi tak selamanya juga ia menyukai ketenangan. Apalagi saat ia hapal dua orang di sebelahnya adalah tipikal orang yang tidak bisa diam.
3 pemuda itu duduk berjejer, dengan jarak cukup jauh. Mereka tengah duduk di sofa tengah untuk menunggu Albert Smith dan dua teman tim fisika yang lain.
Tapi untuk Evan dan Liam, ah sudahlah.
Jangankan bicara, keduanya pun bersikap seolah mereka punya dunia masing-masing. Sungguh, muak sekali rasanya jadi Galen.
"Kalian ada masalah?" tanya Galen jengah.
"Nggak kok," sahut Evan cepat, tanpa menoleh.
Sialan. Galen mengumpat dalam hati. Pemuda itu tahu benar jawaban yang sebenarnya adalah kebalikannya, tapi ia sungguh tak mengerti ada masalah apa. Toh, kemarin pemuda itu sedang di lantai bawah untuk bermain monopoli.
"Loh, Kania belum ada?"
3 pemuda itu terkejut. Mereka menoleh ke arah belakang, dimana Albert Smith telah muncul tepat di belakang sofa.
"Oh, tolong panggilin, dong." ujar Albert.
Galen pun menatap Liam. "Denger nggak? Sana, panggil Ka-"
"Gue aja." potong Evan cepat. Pemuda itu segera bangkit dan menuju ke kamar Kania.
Galen pun terdiam sejenak dengan dahi yang berkerut menatap Evan yang sudah pergi. Dalam hitungan detik, Galen segera menatap Liam. "Ada masalah apa lo? Lo tau sendiri Leona bakal kayak apa kalo tau Evan kesana."
Liam melirik Galen sejenak, lalu menghela nafasnya. "Dia tau apa yang dia lakuin, kok."
Liam terdiam cukup lama, sebelum ikut menghela nafasnya. Ya sudah lah, kalau memang Liam tidak ingin berbagi masalahnya. Toh, sebenarnya Galen juga tidak sepeduli itu.
Tak lama kemudian, Evan pun kembali dengan 2 gadis.
"Ini, Pak." ujar Evan dengan dibuntuti oleh Kania dan Renatta.
Albert Smith menoleh, mendapati Kania yang berbeda dengan anggota tim yang lain. Tentu karena keempat anggota lain menggunakan jas, sedangkan Kania tidak.
•
•
•
"Oh, jasmu beneran nggak ketemu, Kania?" tanya sang Dosen.
Kania mengangguk polos.
Albert pun langsung melepas jasnya. Pria itu segera memberikan jas miliknya pada anak didiknya itu. "Ini, kamu pake."
"Loh, terus Bapak gimana?" tanya Kania.
"Pake aja. Bapak kan cuma pengajar kalian. Sedangkan kamu kan anggota tim fisika, dari pada nggak pake jas. Terlalu mencolok."
Kania terenyum tipis dan berterima kasih pada pria itu. la pun memakai jasnya untuk memadakan diri dengan teman timnya yang lain.
Sedangkan Liam hanya bisa menatap gadis itu jadi kejauhan.
Senang rasanya saat mendengar suara Kania dan melihat senyuman gadis itu, namun sesak kembali menghantam Tanjirou saat ingat, Kanao sudah jadi milik orang lain.
Pedih sekali.
•
•
•
"Inget, mau pilihan ganda, uraian, atau pun rebutan pertanyaan nanti, jangan terburu-buru." Liam menarik nafasnya panjang. "Ayo berdoa dulu."
Tim fisika menundukkan kepalanya, berdoa dalam hati.
Saat ini, mereka sudah duduk di hadapan tim lainnya. Hanya tinggal menunggu sirene berbunyi, para siswa sudah harus mulai mengerjakan soal mereka masing-masing di tempat yang lebih cocok di sebut aulanya Stellar Highschool.
Sekolah elit ini memang sangat luas dan fasilitasnya bukan main-main. Jadi tak heran jika sekolah ini sering dijadikan tempat olimpiade dan berbagai lomba lain.
Usai berdoa, Kania kembali mendongakkan kepalanya. la menatap lurus, sudah banyak orang yang berkumpul. Gadis itu terus mengedarkan padangannya hingga ia terhenti di suatu titik.
Di salah satu sudut ruangan, Leona berada.
Dengan tatapan tajamnya, gadis itu berhasil membuat jantung Kania berpacu cepat. la melirik seseorang di sebelahnya. Sial, ia duduk di sebelah Evan. Ralat, mungkin lebih tepatnya Evan yang sengaja duduk di sebelah Kania.
"Leona, kan?" Evan menoleh, lalu mendekatkan wajahnya pada Kania. Pemuda itu mulai menggerakkan tangannya untuk menggapai jemari Kania.
Kania tersentak kecil. Reflek gadis itu segera berusaha untuk melepas genggaman Evan. Tapi semakin keras Kania berusaha, Evan justru semakin menggenggam tangannya erat.
"Evan, lepasin!" bentak Kania setengah berbisik.
"Kenapa? Kamu takut?" ujar Evan dengan tenangnya. "Nggak usah takut, ada aku disini."
"Apaan sih, Evan!? Lepasin!"
Di luar dugaan, Evan justru tersenyum tipis. "Kamu mau selamat selama-lamanya dari Leona?" pemuda itu kian mendekatkan wajahnya. "Jadi pacarku. Jadi milikku seutuhnya, aku bakal jaga kamu dari Leona."
"Apaan sih kamu!?"
"Kania," Evan kembali tersenyum tipis. "Leona gini ke kamu karena aku. Aku yang bisa bikin dia berhenti. Kamu mau, kan?"
Kania terdiam cukup lama.
la tidak pernah paham apa yang ada di otak Evan itu.
Sirene dibunyikan, lamunan Kania pun buyar. Namun Evan masih menggenggam tangan Kania.
"Kania," panggil El.
"Iya."
Evan tersentak kecil begitu Kania dengan mudahnya setuju. Namun pemuda itu pun segera menggantinya dengan senyuman tipis dan mulai melepas genggamannya.
"Pilihan yang bagus."
Telinga Kania memanas mendengar ucapan kemenangan dari Evan, tapi hatinya bergetar. Rasanya sakit memilih keputusan ini. Tapi bukankah Liam juga melakukannya?
✩₊̣̇. To Be Continue
tapi lucu jga nih Liam, gas terus jhilinnya
btw mampir juga di karyaku ayo saling suport