NovelToon NovelToon
MELAWAN IBLIS

MELAWAN IBLIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Timur / Iblis / Ahli Bela Diri Kuno / Hantu / Roh Supernatural
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cut Tisa Channel

MELAWAN IBLIS menceritakan tentang seorang gadis keturunan pendekar sakti yang hijrah dari Tiongkok ke Nusantara untuk mendapatkan kehidupan yang tenang.
Namun dibalik ketenangan yang hanya sebentar di rasakan, ada sebuah hal yang terjadi akibat kutukan leluhurnya di masa lalu.
ingin tahu bagaimana serial yang menggabungkan antara beladiri dan misteri ini?
mampukah wanita cantik itu lepas dari kutukan iblis?
simak selengkapnya dalam Serial Melawan Iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Tisa Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Murid Baru Berbakat

"Oya, siapa dia? Wajah nya terlihat seperti orang asli Nusantara". Tanya Tun Ai ketika melihat Arya yang baru selesai makan.

"Dia Arya ayah. Dia memang berasal dari ujung Sumatara (Sumatra sekarang) dekat pelabuhan bebas rumahnya". Jawab Silya.

"berapa usia mu nak? Kau tampak sudah sangat dewasa". Tanya Tun Ai kali ini langsung kepada Arya.

"Usia ku jalan 17 tahun guru. Aku kesini ingin menjadi murid guru".

Mendengar hal itu, Tun Ai mengerutkan keningnya.

"Ayah, akulah yang mengajak nya menjadi murid ayah. Nanti akan ku ceritakan sepak terjangnya dan pengalaman kami membasmi dukun sesat disana". Silya menjelaskan.

"Nanti malam saja kita duduk saling bertukar cerita. Kalian pasti lelah sekali. Istirahat lah dulu. Kamar tamu sudah dibereskan?" Tanya Tun Ai pada pelayan yang mengangkat sisa makanan mereka.

"Belum Tun Ai, bik sumi tak masuk hari ini, dia sakit. sebentar lagi saya bereskan".

"Tak apa ayah. Biar mereka berdua istirahat di kamar ku saja. Lagian jika benar Arya akan menjadi murid ayah, biar dia tinggal dikamar ku. Dari pada usang tak di tempati". Jawab Sina.

"Ya sudah. Atur saja bagaimana baik menurut mu nak". Sahut Tun Ai yang kemudian meninggalkan tempat itu bersama ke empat istrinya setelah mengelus kepala Loki si orang utan yang dari tadi diam saja menikmati makanan di pangkuan Silya.

***~###~***

"Tuan bertanya, apa kalian sudah menemukan jejak pembunuh Ki kempot?" seorang pria tua berbadan tegap bertanya pada Indrayana.

"Kami sedang mencari, belum ada yang melihat kapal mana yang mereka naiki". Jawab Indrayan yang berada di situ bersama puluhan anak buahnya.

"Tuan sudah memutuskan kontrak dengan yang lain. Hanya kau dan anggota mu saja yang sekarang di andalkan nya".

"Baiklah. Sampaikan kepada Tuan kalau aku akan menambah anggota dan jangkauan untuk mencari para pembunuh tersebut".

"Baik lah. Aku permisi". Seru pria kekar itu yang di balas anggukan Indrayana saja.

Setelah kepergian pria tersebut, Indrayana berkata kepada bawahan kepercayaan nya,

"Kumpulkan semua orang, nanti malam ada rapat penting yang mendesak. Semua harus hadir tanpa terkecuali".

"Baik ketua". Jawab pria itu sambil keluar dengan bergegas.

Malam pun tiba ketika sekelompok orang sudah bersiap dalam ruangan mengelilingi meja panjang besar dimana tampak sang ketua duduk di ujung meja panjang itu.

"Bagaimana perkembangan kalian mencari barang pusaka itu?" Tanya Indrayana.

"Lapor ketua. Ketika kami menyelidiki ke daerah lembah tebing batu menuju ke kediaman Ki Kempot, kami menemukan kotak ini telah terbuka". Seru seorang diantara bawahan kepercayaan nya sambil menyodorkan sebuah kotak indah.

"Siapa kiranya yang mampu membuka kotak ini tanpa kunci. Kurang ajar". Geram Indrayan.

"Tak ada jejak apa apa ketua. Anggota kita pun tak berhasil menuruni tebing itu, bahkan brewok dan ceking tewas saat mencobanya". Kembali seorang lainnya berkata.

Dalam duduk nya Indrayana mengeplak meja hingga ujung meja tersebut sompel lalu dia berkata,

"Sudah lah, sekarang semua kepala pimpin seluruh anggota untuk menemukan pembunuh Ki Kempot. Jangan lewatkan petunjuk sekecil apapun. Bagi siapa saja yang mampu menemukan siapa pelakunya, ada hadiah besar yang menanti. Sampaikan kepada semua anggota. Rapat selesai".

Mereka semua pun keluar dari ruangan itu meninggalkan Indrayana bersama pembantu setianya dan kepala regu anggota perkumpulan tersebut.

Ada anggota yang mencari hiburan, ada pula anggota yang memberitahukan hasil rapat kepada anggota lainnya yang sedang piket jaga selain banyak juga yang kembali ke tempat mereka untuk istirahat.

***~###~***

Pagi itu, terlihat seorang pemuda yang menuju ke bagian belakang rumah Tun Ai dengan pedang di tangan dan wajah tampak sedikit panik.

Setibanya di situ dia melihat ayah bersama ibunya sedang duduk melihat Arya berlatih bersama adik adik nya di tempat itu.

"Eh, Sina, baru seminggu kau pergi sudah kembali lagi. Apa kau tak jadi berkelana nak?" Tanya Tun Ai sambil memberi isyarat kepada anak anaknya dan Arya untuk berhenti sejenak.

"Aku sudah sampai ke perbatasan ayah. Namun ada hal penting yang harus ku sampaikan".

"Apa itu Nak?" Sahut sang ibu.

"Para perkumpulan antek penjajah sedang melakukan pencarian kepada pembunuh Ki Kempot yang tewas di tangan adik dan Saloka. Dan kapal yang di tumpangi Sila dan Asok meledak menewaskan ratusan jiwa. Ada empat boat yang selamat namun hingga kini belum ada kabar siapa mereka".

Laporan pemuda itu membuat ayah nya terduduk di balai kecil itu. Matanya menatap jauh dengan pandangan seperti kosong. Begitu juga keadaan istri istri Tun Ai terutama nyonya Mei yang tak lain adalah ibu kandung Sila.

"Tak perlu khawatir guru. Aku yakin putri guru selamat tanpa celaka sedikitpun. Menurutku tak perlu menyesali dan menyedihkan yang belum tentu terjadi. Maaf jika aku lancang guru". Arya memberanikan dirinya berkata melihat keadaan guru dan keluarga gurunya seperti terpukul batin.

"Benar ayah. Tepat seperti yang Arya katakan. Untuk memastikannya, biar aku mencari kak Sila ke Bhutan bersama Saloka. Lagi pun aku tak mau melibatkan seluruh keluarga tentang masalah mendiang ki Kempot". Silya ikut berkata.

"Kalau begitu aku akan kembali melanjutkan perjalananku. Ayah ibu, semuanya, aku pergi". Sina melesat cepat dengan pedang dan buntalan pakaian di punggungnya.

Setelah bayangan pemuda itu tak tampak lagi, Tun Ai berkata,

"Benar yang di katakan mereka. Tak perlu kita bersedih tanpa kabar yang pasti tentang Sila dan suaminya. Baiklah Silya, kalian boleh pergi minggu depan setelah pernikahan kalian di lakukan di rumah ini".

Mendengar kata kata ayahnya, gadis yang biasa nya pemberani itu seketika merah wajahnya dan berlari masuk ke dalam melalui pintu dapur.

Sementara Saloka yang tinggal di situ pun merasa salah tingkah dengan ucapan Tun Ai yang masih termasuk paman nya itu.

Akhirnya dia pun permisi ke taman samping seorang diri duduk di ayunan sambil tersenyum bahagia menatap indahnya langit siang hari.

Setelah melanjutkan latihan sebentar, akhirnya Tun Ai menyerahkan urusan latihan kepada istri istrinya sementara dia masuk ke rumah kemudian pergi dengan kuda putih nya ke arah rumah guru kebatinan anak anak nya.

Kita tinggalkan dulu Tun Ai, dan keluarganya. Kini mari kita lihat keadaan yang sedang bergolak ketika itu.

***~###~***

Di beberapa negeri yang terletak di asia ketika itu terdapat sebuah kerjasama global antara Tiongkok yang baru saja berubah dari sistem kerajaan menjadi republik bersama beberapa negara seperti Nusantara, Thailand, India dan Burma.

Kerjasama itu lebih seperti hubungan beberapa tokoh lihai rahasia untuk membangun pusat ekonomi berada di Tiongkok.

Banyak perekrutan orang orang yang ahli dalam ilmu beladiri untuk kepentingan tersebut meskipun sangat banyak di antara anggota kongres rahasia itu yang berasal dari penjahat dan bandit bandit kelas kakap.

Di dalam suasana seperti itulah Sina yang kini sedikit merubah penampilan dan warna pakaian nya berhasil masuk menjadi anggota kongres rahasia yang dulunya bernama Hekmopang (Perkumpulan Iblis Hitam).

Karena nama itu sudah terlalu buruk di telinga rakyat Tiongkok, maka kumpulan besutan Hek Mo Pang itu kini berganti nama menjadi PANDA (Perkumpulan Antar Negara Daerah Asia) yang di ketuai oleh seorang yang di panggil Pangcu yang dulunya berjuluk Hekmo (Iblis Hitam).

Wakil perkumpulan Panda itu tak lain adalah Indrayana yang merupakan seorang keturunan india dan lama telah menetap di Nusantara.

Begitulah sekelumit kisah bagaimana Sina dalam tempo waktu dua bulan saja sudah berhasil menjadi anggota Panda dan menduduki tingkat anggota ke lima.

BERSAMBUNG. . .

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!