NovelToon NovelToon
MENIKAH KARENA HAMIL

MENIKAH KARENA HAMIL

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:393.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhen Dirga

Harus menikah namun tak aku cintai, lelaki itu adalah kesalahan yang pertama dan terakhir dalam hidupku, kami terbangun di saat sudah saling tak mengenakan pakaian. Kami terjebak di kamar hotel dalam keadaan mabuk dan berakhir dengan kehamilanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhen Dirga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meminta Kesempatan

Saat ini, Nesa sedang berjalan-jalan menengok putranya yang masih di rawat di NICU, ia ditemani oleh Ranti, sedangkan Kinan masih di kamar inap sedang bermain ponsel.

Nesa menatap bayinya lewat jendela kaca, ia menghela napas panjang karena tak bisa menggendong dan meminang putranya, ia hanya bisa melihat putranya seperti ini.

"Zain tampan ya, dia seperti papanya," kata Ranti, membuat Nesa mendongakkan wajahnya menatap sahabatnya.

"Zain?"

"Iya ... Zain."

"Nama putraku ... Zain?"

"Kamu nggak tahu nama putramu?" tanya Ranti menautkan alis.

"Siapa yang beri nama?"

"Ya suamimu donk, Nes, masa aku," kekeh Ranti.

"Zain?"

"Namanya bagus, 'kan? Arzain Ibnu Geovandra."

Nesa menitikkan air mata dan menoleh menatap putranya yang kini hidup di bantu oleh alat medis yang menempel di seluruh sudut tubuhnya yang kecil.

"Ingat nama putramu Arzain, seperti namamu, Arnesa." Ranti tersenyum.

"Iya. Aku juga nggak tahu kalau nama putraku adalah Zain."

"Suamimu memang hebat memberikan nama."

Nesa menganggukkan kepala.

"Oh iya, dia tadi kemari, dia datang menjengukmu juga Zain," kata Ranti. "Kamu sedang tidur jadi Kak Devan cepat pergi."

"Begitu ya?"

"Hem. Apa kamu nggak bisa maafin dia, Nes?"

"Aku udah maafin, Ran, hanya saja hatiku masih sulit menerima semua ini."

"Baiklah. Malam ini, Kak Devan yang akan menjagamu, aku dan Kinan akan menginap di rumah kalian."

Nesa mendongak. "Mas Devan mau jagain aku?"

"Iya."

"Siapa yang bilang?"

"Kak Devan," jawab Ranti.

"Dia yang ngomong sendiri?"

"Iya, Nesa Sayang, Kak Devan ngomong sendiri ke aku, kalau dia yang akan jagain kamu malam ini."

Nesa bersorak gembira dalam hati.

"Nesa," panggil Manda yang datang bersamaan dengan Ningrum.

Nesa dan Ranti menoleh.

"Kak Manda. Mama!" kata Nesa.

Ningrum menghampiri menantunya dan memeluknya penuh sayang.

"Kabarmu gimana, Nak?" tanya Ningrum, lalu melepaskan pelukannya.

"Saya baik-baik saja, Ma."

"Mama baru datang dari Depok dan langsung kemari," kata Ningrum.

"Mama sehat-sehat, 'kan?"

"Mama sehat, seperti yang kamu lihat."

"Tapi, kenapa Mama kelihatannya sangat pucat?"

"Nggak kok, Nak, Mama baik-baik aja."

"Mama kalau baru datang dari Depok, mending istirahat dulu," kata Nesa membuat Ningrum tersenyum mendengarkan anak menantunya itu khawatir. Apa pun keadaannya, Ningrum harus terus menyembunyikan penyakitnya.

"Mama nggak apa-apa, Nak, kalau Mama butuh istirahat, kan kamarmu luas."

Nesa tersenyum dan mengelus pergelangan tangan Ibu mertuanya. Ia bahagia sekali Ibu mertuanya ikut andil dalam merawatnya.

"Devan mana? Kok nggak di sini?" tanya Manda.

"Kerja, Kak, tadi dia hanya mampir," jawab Nesa.

"Dia masih setia jagain kamu, 'kan?"

Nesa mendongak menatap wajah Manda. Ia sedang duduk di kursi roda saat ini. Ia memang sudah bisa berdiri, namun kakinya belum kuat menumpuh badannya.

"Setia? Dia emang nggak pernah jagain aku."

"Nggak pernah? Siapa yang ngomong nggak pernah? Selama kamu koma kan yang jagain kamu setiap hari Devan, dia juga nggak pernah ke kantor," kata Manda memicingkan mata.

Nesa menautkan alis, sulit di percaya dengan apa yang di katakan Manda saat ini.

"Jadi, selama ini Mas Devan jagain aku?"

"Ya iya donk, Nes, kan Devan suamimu."

Nesa merasa sangat bersalah. Ia pikir Devan tak pernah menjaganya, namun ternyata ia salah menilai suaminya itu.

"Ayo ke kamarmu," kata Ningrum, mendorong kursi roda menantunya.

"Kata Dokter ... besok kamu udah boleh pulang."

"Iyakah? Alhamdulillah. Tapi bagaimana dengan Zain?" tanya Nesa.

"Zain harus tetap di sini, Nak, karena Zain membutuhkan pengobatan," jawab Ningrum, membuat Nesa menganggukkan kepala. "Kita doakan Zain baik-baik saja, ya."

***

"Ada apa lagi sih, Ndi? Ha?" tanya Lestari dengan helaan napas.

"Butuh uang gua," jawab Andi tanpa rasa bersalah.

"Butuh uang? Lo pikir gue ini emak lo minta duit mulu?"

"Kasih aja deh, gua hanya butuh 1jt kok. Lo kan sendiri yang bilang, bakal ngasih gua duit kalau lo gajian?"

"Ndi, lo harusnya nyadar sama sikap lo, lo itu malah buat gue stress. Lo bisa nggak pergi aja? Lo kan bisa nelpon, nggak usah nemuin gua," kata Lestari dengan helaan napas.

Andi tertawa begitu keras. "Lo pikir gua bisa percaya sama omongan lo? Yakin lo bakal ngirimin gua kalau gua minta?"

***

Nesa duduk diam di atas ranjangnya seraya bermain ponsel, sesekali tersenyum, ia saat ini sedang bertukar pesan dengan Juno. Hatinya senang dan sering melupakan suaminya yang kini berjuang.

Sesaat kemudian, Devan membuka pintu kamar dan melihat istrinya tengah tertawa, membuat rasa penasaran dihati suaminya itu menggila.

Nesa menoleh dan menaruh ponselnya, ia menatap wajah suaminya dan memalingkan wajah setelahnya.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Devan, menghampiri istrinya dan duduk di kursi yang ada didekat ranjang.

"Aku baik," jawab Nesa.

"Masih sakit?"

Nesa menggelengkan kepala.

"Syukurlah," kata Devan. "Nes, maafkan aku."

"Aku sudah bilang, Mas, kalau aku udah maafin kamu," jawab Nesa.

"Aku minta maaf karena harus menemuimu, aku selalu nggak tenang jika tidak melihatmu," kata Devan.

Nesa memalingkan wajah, menatap wajah suaminya, apa benar yang dikatakan Devan? Apa itu tulus? Nesa takut berharap dan memberikan luka lagi. Nesa belum siap menerima luka.

"Selamat ulang tahun," ucap Devan merogoh kantung jasnya dan mengambil kotak cincin.

Nesa mendongak, dan melihat kotak cincin yang kini digenggam oleh Devan, seakan ragu memberikannya.

"Aku nggak tahu mau ngasih hadiah apa di ulangtahunmu, jadi aku membeli ini," kata Devan, membuat Nesa tersenyum, ia tak menyukai pemberian Devan, namun ia suka dengan ketulusan suaminya.

Devan mendongakkan wajah dan dengan cepat Nesa memalingkan wajah agar tak terlihat tersenyum didepan suaminya.

"Ini maksudnya apa, Mas?" tanya Nesa. "Bukankah yang menerima cincin ini harusnya wanita yang kamu cintai? Apa artinya semua ini?"

"Aku—"

Nesa menoleh dan menatap wajah ragu suaminya.

"Aku ingin mendapatkan kesempatan kedua," lirih Devan.

"Kesempatan kedua? Untuk apa? Bukankah sebentar lagi kita akan bercerai? Perjanjian kita sudah selesai, aku sudah melahirkan jadi akhir perjanjian kita selesai."

"Nes, beri aku kesempatan untuk menyadari perasaan ini."

"Perasaan apa, Mas?"

"Perasaan ingin mempertahankan pernikahan kita dan kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan kamu lagi, aku tahu kamu pasti tak akan percaya."

"Tapi, Mas."

"Nes, aku bukan orang yang bermohon pada orang lain, tapi padamu aku bermohon, jadi berikan aku kesempatan."

Nesa menghela napas panjang, dan berkata, "Mas, aku bisa memberikanmu kesempatan, dan aku akan menunggu sampai hatimu menyiapkan ruang untuk seseorang, tapi—"

"Aku tahu kamu terluka, tapi bisakah kita melupakan itu?" tanya Devan dengan mata penuh permohonan.

Nesa takut terluka, namun ia memang harus memberikan kesempatan pada suaminya, ini pernikahan, tak boleh memutuskan apa pun hanya karena emosi.

.

.

Bersambung.

1
Shifa Burhan
thor jika ada wanita lain yang baik dan perhatian pada suami mu dan dia enteng nya mendekati suami dan mengatakan suka dan cinta pada suami, bagaimana tanggapan mu thor

pakai hatimu untuk merasakannya thor, jika jawabanmu itu bukan masalah, berarti kau bersikap adil

tapi jika jawaban mu, melaknat wanita itu, maka simple kau wanita egois karena kau membenarkan perbuatan juno

kalau aku simple wanita mana pun yang sok baik dan perhatian pada suamiku maka aku akan melaknat wanita itu dan harus adil aku juga melaknat siapapun lelaki yang sok baik dan perhatian padaku, itu baru namanya wanita dan istri sejati tidak egois
rya
karya imajinasi yg menghibur, jadi selalu nunggu up nya
rya
nunggu bucinya Devan sama nesa dan baby boy...
rya
semangat selalu Kaka, semoga lancar dan di beri kesehatan...
Irnawati wati
maaf thoor tdk usah di beri gambar visual, yang penting alur cerita nya masuk sesuai dengan judulnya. okee thorr semangat berkarya terima kasih
Christiani Natalia Yani
lanjut dong Thor jangan d gantung🙏
Dessy Flashin
ayo donk kk please lanjutin ceritanya jgn menggantung gini, ditungguin trus update nya ya kk 🙏🙏🙏 semangat kk 💪💪👍👌
Dessy Flashin
iiiissshhhhh Gedeg sm Devan, udah Thor klo emg besar hrs pisah sm Devan nnti klo udah pisah buat Nesa sm Juno ajalah, biar tau tuh si Devan sok kegantengan, dikira Nesa gk ada orang yg mau apa
Dessy Flashin
hadeeuuhhh ini kyk sinetron di ikan terbang nih, bikin keseeeeeeelllll....
rusidah siti
semangat buat nulisnya
kris tianti
lanjut dunk
Rosdiana Diana
lanjuttt
wili o
up
_kooky00
😭😭😭😭😭😭😭,,tau tk
...masa baca part ni aku sakit hati tau,, pstu bila dia menangis aku pun rasa mcm nk ikut menangis😤
Zhafirafira 225
fighting author
Ema Sofia
Keturunan turkey tapi mirip cina, canda turkey 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤔🤔🤔🤔🤭🤭🤔🤔
Suti Habdayani
ini di lanjutin gk ya ceritanya
샤샤
hai kak author, semangat selalu ya kak
semoga ide ceritanya mengalir terus, aku paham nyati ide cerita itu sulit, semoga kakak selalu lancar yaa
샤샤
hai author, semangat selalu buat novel nya
aku paham gimana lelahnya seorang author nyari ide untuk cerita yg ditulisnya, semangat selalu ya thor ☺️
Irhen Dirga: Wah terima kasih banyak❤
total 3 replies
샤샤
hai aurhor, semangat selalu yaa
aku pembaca baru nih ☺️✌🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!