Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pagi itu terlihat biasa.
Terlalu biasa.
Pangeran Dao datang ke istana dengan pakaian sederhana, senyum hangat, dan langkah santai seperti biasanya. Ia menyapa pelayan, bercanda dengan pengawal, dan langsung menuju aula pertemuan kecil tempat Kaisar Shen sedang membaca laporan.
“Gege,” katanya ringan. “Kau terlihat lelah.”
Kaisar Shen menoleh dan tersenyum tipis. “Kau datang pagi.”
“Tidak bisa tidur,” jawab Pangeran Dao. “Aku khawatir tentang keadaan istana.”
Kalimat itu tulus.
Atau setidaknya terdengar begitu.
Song An berdiri di sudut ruangan, mencatat sesuatu di dalam pikirannya.
"Ia tidak melihat kebohongan." batin Song An, tapi justru itu yang membuatnya harus waspada.
“Bagaimana penyelidikanmu?” tanya Pangeran Dao sambil duduk santai.
“Kami menemukan pergerakan jaringan lama,” jawab Kaisar Shen. “Tapi belum dalangnya.”
Pangeran Dao mengangguk pelan. “Musuh seperti itu sabar. Mereka tidak terburu-buru.”
Song An meliriknya.
Nada suaranya… terlalu tepat.
“Selir Song,” kata Pangeran Dao tiba-tiba menoleh padanya. “Kau terlihat sehat.”
“Terima kasih,” jawab Song An singkat.
“Aku sering mendengar namamu akhir-akhir ini,” lanjut Pangeran Dao. “Kau membantu gege dengan baik.”
“Aku hanya membantu sebisaku,” jawab Song An.
Pangeran Dao tersenyum. “Kerendahan hati itu jarang di istana.”
Song An membalas senyum tipis. "Dan kau terlalu nyaman mengatakannya" batinnya.
—
Setelah Pangeran Dao pergi, Selir Zhang langsung berbisik.
“Aku tidak suka caranya melihatmu.”
“Dia selalu seperti itu,” jawab Selir Li pelan.
“Justru itu,” kata Song An.
Dua selir itu menoleh.
“Kalau seseorang selalu sama,” lanjut Song An, “di saat semua orang berubah… itu patut dicurigai.”
—
Kecurigaan itu berubah menjadi kepastian malam itu.
Song An sedang memeriksa ulang laporan lama di ruang arsip kecil yang hampir dilupakan semua orang. Ia tidak seharusnya berada di sana, tapi tidak ada yang menghentikannya.
Ia menemukan satu nama.
Satu tanda tangan.
Muncul berulang kali.
Di dokumen jalur logistik.
Di izin perdagangan lama.
Di catatan penghapusan arsip.
Dao.
Bukan nama lengkap.
Hanya satu huruf kecil di sudut halaman.
Song An duduk.
Menarik napas.
Ia tidak panik.
Ia hanya… dingin.
—
“Kita harus bicara dengan Kaisar,” katanya begitu kembali ke paviliun.
Selir Li langsung pucat. “Ada apa?”
“Dalangnya bukan orang luar,” jawab Song An. “Dia ada di istana.”
“Siapa?” tanya Selir Zhang cepat.
Song An terdiam sesaat.
“Adik beliau,” katanya pelan. “Pangeran Dao.”
Ruangan sunyi.
Selir Li berdiri tiba-tiba. “Tidak mungkin.”
“Dia selalu membela Kaisar,” tambah Selir Zhang. “Dia.....”
“Justru itu,” potong Song An. “Tidak ada satu pun operasi besar yang luput dari perhatiannya.”
“Dan semua jalur bermuara ke satu nama,” lanjut Song An.
Selir Li menutup mulutnya. “Ini… ini pengkhianatan.”
“Ini keluarga,” jawab Song An. “Dan itu yang paling sulit.”
—
Kaisar Shen mendengarkan laporan itu tanpa memotong.
Wajahnya tidak berubah.
Tangannya tidak bergetar.
Namun Song An melihat satu hal.
Matanya sedikit memerah.
“Sejak kapan kau curiga?” tanya Kaisar Shen pelan.
“Sejak ia terlalu tenang,” jawab Song An. “Dan sejak simbol jaringan lama muncul di tempat-tempat yang hanya ia punya akses.”
Kaisar Shen tertawa kecil.
Bukan tawa senang.
“Dao selalu ada di sisiku,” katanya. “Sejak kecil.”
“Aku tahu,” jawab Song An.
“Dia yang menutup telingaku saat Ayah dimarahi menteri.”
“Dia yang berdiri di depanku saat kudeta kecil dulu.”
Song An menunduk. “Justru karena itu dia tahu segalanya.”
Kaisar Shen terdiam lama.
“Kalau ini benar,” katanya akhirnya, “maka aku bukan hanya gagal sebagai kaisar.”
Ia menutup mata.
“Aku gagal sebagai kakak.”
—
Pangeran Dao bergerak malam itu.
Ia tahu.
Ia selalu tahu.
Pengawalnya diam-diam meninggalkan istana.
Pesan-pesan dikirim.
Namun ia tidak kabur.
Ia menunggu.
—
Tempat mereka dulu belajar memanah.
“Gege,” kata Pangeran Dao santai saat Kaisar Shen datang. “Kau memanggilku larut malam. Ini jarang.”
“Aku ingin bertanya satu hal,” jawab Kaisar Shen.
“Tentu.” ujar pangeran Dao
“Apakah kau mengkhianatiku?” tanya Kaisar Shen
Pangeran Dao terdiam lalu tersenyum. “Pengkhianatan?” katanya ringan. “Aku hanya melakukan apa yang tidak berani kau lakukan.”
Kaisar Shen mengepalkan tangan. “Semua ini… kau?”
“Sebagian besar,” jawab Dao jujur. “Sisanya terjadi karena kelemahan istana.”
“Kau menggunakan jaringan lama,” kata Song An yang berdiri di samping.
Dao menoleh padanya.
“Oh,” katanya pelan. “Akhirnya kita bicara langsung.”
“Kau tahu jalanku?” tanya Song An.
“Tentu,” jawab Dao. “Selir bayangan yang terlalu tenang.”
Ia tersenyum. “Aku suka orang sepertimu. Sayang kau di pihak yang salah.”
Song An mengangkat bahu. “Aku di pihak orang yang jujur.”
Dao tertawa kecil. “Kejujuran tidak memerintah dunia.”
—
“Apa yang kau inginkan?” tanya Kaisar Shen lelah.
Dao menatap kakaknya.
“Aku ingin istana yang tidak munafik,” katanya. “Dan aku tahu kau tidak akan pernah merobohkannya.”
“Jadi kau memilih membakarnya?” tanya Kaisar Shen.
“Membersihkannya,” koreksi Dao.
Keheningan panjang.
“Kau sudah terlalu jauh,” kata Kaisar Shen akhirnya.
“Aku tahu,” jawab Dao. “Dan aku tidak menyesal.”
—
Malam itu, Pangeran Dao ditahan.
Tanpa teriakan.
Tanpa perlawanan.
Hanya tatapan panjang antara dua saudara.
—
Di paviliun, Selir Li menangis pelan.
“Ini terlalu berat,” katanya.
Selir Zhang menggenggam tangannya.
Song An duduk di dekat jendela.
Ia tidak menangis.
Ia hanya lelah.
Kaisar Shen datang tanpa pengumuman.
“Aku minta maaf,” katanya pelan.
“Untuk apa?” tanya Song An.
“Karena menyeret kalian ke dalam urusan keluarga.”
Song An menoleh. “Kami memilih tinggal.”
Kaisar Shen mengangguk.
“Malam ini,” katanya, “aku kehilangan adik.”
Song An menatapnya lama.
“Dan kau menyelamatkan kekaisaran,” jawabnya pelan.
“Itu tidak terasa seperti kemenangan,” kata Kaisar Shen.
“Memang bukan,” jawab Song An. “Tapi ini akhir dari kebohongan.”
Di luar, angin bertiup pelan.
Untuk pertama kalinya sejak lama, Istana terasa sunyi.
Bukan karena bahaya.
Tapi karena kebenaran akhirnya muncul ke permukaan.
Bersambung