Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga
Langit sore itu kelabu. Hujan baru saja berhenti, menyisakan bau tanah basah di udara. Di antara batu nisan yang berderet, berdiri seorang gadis berseragam sekolah. Bajunya kotor, Tangannya membawa bunga melati yang sudah layu. Ia jongkok pelan di depan sebuah nisan sederhana.
"Mah..." suaranya lirih bergetar. "Aku datang lagi... maaf, udah lama gak ke sini."
Ia jongkok pelan, menatap nama di batu nisan itu — nama ibunya. Air mata langsung jatuh tanpa bisa ditahan.
"Mah, aku capek..." katanya lagi, tersenyum pahit. "Setelah Mamah pergi, aku pikir Papah dan keluarganya bakal nerima aku. Tapi ternyata... aku salah."
Ia terisak.
"Setiap hari aku dimarahin, dipukul, disalahin atas semua hal. Istri baru Papah selalu bilang... kalau aku cuma pembawa sial. Kadang aku berharap Mamah masih ada, biar aku punya tempat pulang."
Hening sejenak. Angin sore berhembus pelan. Tangannya mengelus batu nisan,
"Sekarang... aku bingung, Mah. Aku bahkan gak tahu harus berbuat apa lagi. Papah udah usir aku dari rumah kita dulu mah, Tapi untung saja ada rumah Oma anetha yang masih bisa aku singgahi."
Ia menunduk lebih dalam, suaranya pecah.
"Tapi mah... setelah beberapa minggu ini Oma anetha juga ikut ninggalin aku. Aku sekarang sendiri tidak punya siapa-siapa lagi, sekarang aku sendirian Mah... aku nggak punya siapa-siapa lagi."
Ia menatap batu nisan itu dengan senyum getir.
"Doain aku, ya, Mah... biar kuat. Biar gak nyalahin takdir lagi. Aku tahu Mamah juga dulu berjuang sendirian buat aku."
"Aku kangen, Mah. Kangen pelukan Mamah, kangen cara Mamah bilang semuanya bakal baik-baik aja." Suaranya pecah. "Sekarang gak ada yang bilang gitu lagi..."
Angin berhembus pelan, membuat bunga di tangannya terlepas dan jatuh di atas tanah basah. Gadis itu tersenyum samar di antara air mata.
"Tapi aku masih kuat kok, Mah. Aku masih sekolah, masih berusaha dapetin nilai bagus. Aku pengin buktiin, kalau aku bisa jadi orang yang Mamah banggakan. Aku gak mau nyerah." Ia berdiri perlahan, menghapus air matanya dengan punggung tangan.
"Doain aku ya, Mah. Biar aku kuat terus. Aku cuma punya Mamah sekarang, meskipun Mamah udah di surga."
Langit kembali mendung. Sebelum pergi, ia menatap nisan itu sekali lagi dan berbisik lirih. Ia menunduk makin dalam, pundaknya bergetar menahan tangis. "Aku sayang Mamah. Selalu."
Tiba-tiba, di tengah hujan itu, ada bayangan seseorang mendekat dari kejauhan. Langkahnya pelan tapi pasti. Sampai akhirnya suara lembut terdengar di belakangnya.
"Berdiri."
Deggg…
Aera yang mendengar suara tersebut seketika langsung menoleh dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat seseorang yang sedang berada di belakang nya itu adalah Alfino kakak tirinya sendiri.
"Kamu udah di sini dari tadi?" Tanya Alfino yang berdiri di sana, sambil memegang payung hitam di tangannya.
Aera buru-buru menghapus air matanya, pura-pura tegar.
"Ngapain Kak Alfino di sini?"
"Nyari kamu. Udah magrib, Aera. Kamu bisa sakit kalau terus di sini."
"Biarin... di rumah juga nggak ada yang peduli."
Alfino diam sejenak. Ia lalu berjongkok di samping Aera, menaruh payung di atas kepala mereka berdua.
"Aku peduli," katanya pelan.
"Aku tahu kamu belum bisa nerima semuanya... tapi kamu nggak sendirian, Aera."
Air mata yang tadi sempat tertahan kini pecah lagi. Aera menunduk, menggigit bibirnya, lalu berbisik,
"Aku cuma pengen Ibu balik, Kak... cuman itu."
Alfino menarik napas panjang, lalu merangkul bahu Aera dengan lembut. "Aku juga pernah kehilangan, Aera. Tapi Ibu kamu nggak akan suka lihat kamu kayak gini. Dia pasti pengen kamu tetap kuat."
Aera terisak di bahunya. Pelukan itu terasa asing tapi hangat—seperti pelukan yang selama ini ia rindukan. Untuk kesekian kalinya, Aera tak menolak ketika Alfino mengusap kepalanya.
"Ayo pulang, ya? Aku beliin Nasi goreng kesukaan kamu."
Aera menatap makam ibunya sekali lagi. "Bu... Aera pulang dulu, ya. Aera nggak sendiri lagi kok sekarang."
Ia berdiri, menggenggam payung bersama Alfino. Hujan masih turun, tapi di hati Aera, perlahan—ada cahaya kecil yang mulai menyala lagi.
...----------------...
Malamnya, seluruh anggota inti ALAXTAR yang berjumlah Lima orang itu pergi ke area bawah jembatan di sebuah wilayah di kota Jakarta. Di sana, beberapa anak kecil duduk rapi di tanah yang dialasi tikar.
Di depan mereka semua, ada Zayyan—anggota ALAXTAR paling disiplin dengan otak encer—yang berdiri di sisi sebuah papan tulis kecil. Cowok itu terlihat lincah mengajar anak-anak kecil yang sangat antusias untuk belajar. Seharusnya mereka mendapat pendidikan yang layak seperti anak seusia pada umumnya. Namun, karena keadaan yang tidak memungkinkan, mereka terpaksa harus mengubur hidup-hidup mimpi besar yang mereka idam-idamkan.
"Kalau ada yang belum paham bisa tanya langsung ke abang, ya." Ucap Zayyan setelah selesai menerangkan.
"Abang, kapan kita belajar perkalian? Cia udah nggak sabar," seru salah satu anak yang paling pandai di antara teman-temannya.
"Minggu depan aja ya, Cia, teman-teman kamu ada yang baru paham pengurangan hari ini." Jawab Alex halus. Umur dari anak-anak itu memang tidak semuanya sepantaran. Bahkan ada yang sudah berusia sepuluh tahun.
"Bocil gue belum paham, Ciara. Lo mah pinter. Nih bocah otaknya minim kayak punya gue." Leo merangkul tubuh gempal milik yusuf. Bocah cowok yang memiliki wajah paling menggemaskan itu memang punya hubungan paling dekat dengan Leo.
"Ckkk, sakit bang!" Seru Yusuf saat pipinya di cubit Leo lumayan kencang.
"Pipi lo gede gaban sih. Kebanyakan makan lo cil," jawab Leo seraya terkekeh geli.
Yusuf menggembungkan pipinya kesal.
"Kalau lo berhasil ngerjain soal pengurangan sama penjumlahan tanpa ada yang salah dan nggak di bantuin sama yang lain, gue beli in lo kapal mainan gimana?" Leo menawarkan saat melihat Yusuf yang kesal padanya.
Mendengar itu, senyuman lebar terbit di bibir Yusuf. Dalam sekejap mata, ekspresi bocah itu berubah ceria. Kedua tangannya bertepuk heboh. "Abang singa harus janji, ya?"
Leo berdecak sebal. "Jangan manggil gue singa!"
Yusuf memang suka memanggilnya dengan sebutan itu karena nama Leo—rasi bintang zodiak yang berbentuk— Singa.
"Kalian tahu nggak?" Wain membuka bahan pergibahan. Semua pasang mata menatap penasaran ke arahnya, kecuali Davin yang duduk anteng di sebelahnya dengan kepala menunduk.
"Apa? Jangan bikin gue kepo lo?" Jawab Leo tidak sabaran.
"Sahabat kita, nih." Wain menunjuk ke arah Davin. "Dia ke makan omongan sendiri. Awalnya dia cuman mau jadiin Alexsa sebagai mainannya. Tapi makin kesini, kayaknya dia mulai suka sama Alexsa."
Alexsa Aldebaran adalah seorang gadis lugu sekaligus sepupu—Alex Lingga Mahesa itu berhasil menarik perhatian seorang Davin Praja Sadian. Keduanya juga sempat menjadi bahan omongan siswa-siswi dari sekolahnya dulu yaitu—SMA Marpati. Karena berita kedekatan mereka berdua cukup menggemparkan satu sekolah.
Sorakan heboh sontak meramaikan suasana malam itu. Zayyan mendorong tubuh Davin untuk menggoda sahabatnya itu. Dia baru berhenti melakukan itu saat melihat ekspresi Davin berubah keruh.
"Lo mau gue bunuh?!" Ancam Davin kepada Wain.
"Kalau lo bunuh gue nanti lo nggak punya sahabat, sejati kaya gue lagi dong. Vin," jawab Wain dengan nada jenaka.
Merasa kesal Wain pun berdiri dan beranjak pergi. Dia langsung saja berjalan ke tempat motornya berada, sementara yang lainnya setia mengikutinya dari belakang.