Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.
Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Kedatangan Tiba-tiba Ibunya Dimas
"Ya? Ada apa Nana?"
"Bisakah dokter jadi pacarku?"
Jordan refleks menahan bahu Nana agar tetap berbaring. “Nana, jangan bergerak dulu,” katanya cepat, lalu menarik napas dalam.
"Dok tolong, tolong aku sekali saja."
“Kamu sadar gak dengan apa yang kamu minta?”
Air mata Nana jatuh tanpa bisa ditahan. “Aku sadar, Dok.” Tangannya mencengkeram selimut. “Aku cuma pengen Dimas berhenti. Dia terlalu baik… terlalu sempurna untukku."
Jordan menggeleng pelan. “Ini bukan solusi.”
“Ini satu-satunya cara,” potong Nana lirih. “Kalau Dimas tahu aku sudah punya pria lain, dia pasti akan mundur."
Jordan menunduk, rahangnya mengeras. Entah sebagai dokter atau sebagai pria normal, permintaan itu seolah mengkhianati batas antara etika, logika, dan nurani. “Kamu mau menyelamatkan kekasihmu dengan cara melukai dirimu sendiri?” tanyanya pelan.
Nana tersenyum pahit. “Aku sudah terbiasa terluka.” Ia menoleh, menghindari tatapan Jordan. “Setelah mengingat ucapan ibu Dimas, aku sadar. Aku tidak pantas berada disampingnya."
“Jangan bicara seperti itu,” suara Jordan meninggi tanpa sadar, lalu ia segera merendahkannya. “Kondisimu tidak membuatmu lebih rendah dari siapa pun.”
“Tapi membuatku tidak sepadan untuk Dimas,” sahut Nana cepat. “Dia punya masa depan, keluarga, pekerjaan. Semua orang berharap Dimas menikah dengan wanita yang berdiri sejajar dengannya. Namun, wanita itu bukan aku."
Jordan mengepalkan tangan. “Kamu tidak berhak menentukan nilai dirimu berdasarkan rasa bersalah.”
Nana menoleh kembali, menatap Jordan lurus. “Justru karena itu aku minta tolong. Aku sudah kehabisan cara. Aku sudah bilang kepada Dimas untuk pergi, tapi dia tidak mau dengar. Kalau kamu ada di sisiku… dia akan percaya.”
Hening kembali jatuh. Monitor berdetak pelan, seolah menjadi pengingat bahwa ini masih ruang rawat, bukan tempat membuat kesepakatan emosional yang berbahaya.
“Nana,” Jordan akhirnya bersuara, nadanya berat. “Aku ini dokter. Memintaku berpura-pura menjadi pacarmu itu salah."
Wajah Nana runtuh. Bahunya bergetar hebat. “Jadi… aku harus bagaimana lagi?” suaranya nyaris tak terdengar.
Jordan melangkah lebih dekat, duduk di sisi ranjang. “Kamu tidak perlu mengorbankan dirimu demi masa depan orang lain,” katanya lembut namun tegas. “Dan Dimas berhak memilih jalannya sendiri, sama seperti kamu.”
“Tapi aku takut,” bisik Nana. “Takut kalau suatu hari dia menyesal karena memilihku.”
Jordan menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Penyesalan yang paling menyakitkan bukan karena memilih, tapi karena tidak jujur. Dan kamu sedang berusaha berbohong—pada Dimas, dan pada dirimu sendiri.”
Nana memejamkan mata. Tangisnya mereda, berganti isak pelan yang melelahkan. “Aku cuma pengen dia bahagia, Dok.”
Jordan berdiri, menghela napas panjang. “Aku juga ingin melihat pasienku bahagia dan sembuh lahir batin."
Ia menepuk selimut Nana dengan hati-hati. “Istirahatlah. Kita akan bicarakan lagi saat kondisimu sudah membaik."
Nana membuka mata perlahan. “Dok… tolong pertimbangkan permintaanku ini."
Jordan menatap Nana penuh arti. Ia tak mengatakan sepatah katapun.
Nana terdiam. Air matanya kembali jatuh, kali ini tanpa perlawanan.
____
Esok harinya...
Pagi datang tanpa benar-benar memberi rasa pagi.
Lampu di ruang dokter masih menyala ketika Jordan terbangun dengan leher pegal dan punggung kaku.
Ia tertidur setengah duduk di kursi kerjanya, jas putih masih melekat, map rekam medis berserakan di meja. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap kosong dinding di depannya, mencoba mengingat di mana ia berada—dan kenapa dadanya terasa berat sejak semalam.
Nana.
Permintaan itu kembali terngiang, jelas dan menyakitkan.
Jordan mengusap wajahnya, bangkit perlahan. Jam dinding menunjukkan hampir pukul enam. Ia belum sempat pulang. Bahkan belum sempat benar-benar tidur.
Baru saja ia hendak melangkah ke wastafel untuk membasuh muka, pintu ruangannya terbuka tergesa.
“Dokter Jordan!” suara suster Rani terdengar tegang. “Maaf… ada keributan di lantai tiga.”
Jordan menoleh cepat. “Keributan apa?”
“Ada seorang wanita. Marah-marah. Katanya mau cari pasien bernama Nana.” Suster itu menelan ludah. “Nada bicaranya… agresif, Dok.”
Jantung Jordan seolah berhenti sesaat.
“Apa dia keluarga pasien?” tanyanya cepat sambil meraih stetoskop yang tersisa di meja—kebiasaan refleks, bukan kebutuhan.
“Sepertinya bukan. Tapi dia memaksa masuk. Sekarang sudah di depan ruang rawat dimana Nana berada Dok.”
Jordan tak menunggu penjelasan lebih lanjut. Ia langsung melangkah cepat, hampir berlari menyusuri lorong rumah sakit yang mulai ramai oleh aktivitas pagi. Setiap langkahnya terasa berat, seperti firasat buruk yang berlari bersamanya.
Dari kejauhan, suara tinggi itu sudah terdengar.
“Kamu pikir kamu bisa merusak hidup anak saya lalu berbaring manis di sini?!”
Langkah Jordan terhenti sejenak.
Suara itu penuh amarah. Tajam. Menghujam.
Ketika ia sampai di pusat keributan, beberapa perawat dan satu dua dokter sudah berdiri di luar ruang rawat. Tidak ada yang berani masuk.
Pintu terbuka setengah, cukup untuk memperlihatkan bayangan seorang wanita berdiri di samping ranjang pasien.
Wanita itu berpakaian rapi, rambutnya disanggul ketat, wajahnya keras—bukan karena usia, tapi karena emosi yang tak disaring.
Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah Nana yang terbaring pucat di ranjang.
“Wanita gila!” makinya lantang. “Kamu sadar nggak siapa dirimu? Sakit, lemah, dan tetap berani mengikat anak saya!”
***
Bersambung...