Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Gemuruh di Aula Penilaian
Aula Besar Naga Biru adalah jantung dari pendaftaran Akademi Kekaisaran Langit. Ruangannya begitu luas hingga sanggup menampung ribuan orang, dengan langit-langit setinggi tiga puluh meter yang dihiasi lukisan rasi bintang yang bergerak. Di tengah aula, berdiri tiga pilar raksasa bernama Pilar Gema Sukma, alat penguji yang akan menentukan apakah seseorang layak menjadi murid atau hanya sekadar sampah yang membuang waktu.
Udara di dalam aula terasa berat. Ribuan aura dari berbagai tingkatan kultivasi bercampur aduk, menciptakan tekanan atmosfer yang membuat para Pendekar lemah merasa sesak napas.
"Menyingkir, Rakyat Jelata!"
Sebuah teriakan kasar memecah kebisingan. Di barisan depan, seorang pemuda berpakaian sutra merah dengan sulaman emas—simbol dari Klan api Phoenix—mendorong kasar gadis berpakaian abu-abu yang tadi tidak sengaja menabrak Chen Kai.
"T-tapi, Tuan... saya sudah mengantre sejak subuh." cicit gadis itu, Lin Xia, sambil mencoba mempertahankan posisinya.
"Mengantre?" Pemuda itu, Lu Feng, tertawa sinis. "Di tempat ini, kekuatan adalah antreanmu. Sampah dari desa terpencil sepertimu hanya akan mengotori pilar ujian dengan tangan kotormu. Pergi sebelum aku membakar wajahmu!"
Lin Xia tertunduk, matanya berkaca-kaca. Orang-orang di sekitar hanya menonton, sebagian besar mencibir, sebagian lagi tidak peduli. Di dunia ini, membela yang lemah tanpa memiliki kekuatan adalah tindakan bunuh diri.
Chen Kai berdiri tak jauh dari sana, bersedekah tangan dengan punggung bersandar pada pilar penyangga. Matanya tertutup, seolah sedang tertidur di tengah keributan. Namun, indranya yang tajam merekam segalanya.
"Selanjutnya! Lu Feng dari Klan Phoenix!" teriak seorang Penatua penguji dengan suara bariton yang menggetarkan kaca jendela.
Lu Feng berjalan dengan dagu terangkat. Ia meletakkan tangannya pada Pilar Gema Sukma. Sedetik kemudian, pilar itu bersinar merah membara. Enam tanda cahaya muncul satu per satu.
"Lu Feng. Usia delapan belas tahun. Ranah Manifestasi Roh Tahap 2! Bakat: Unggul!" teriak Penatua itu.
Gumam kagum terdengar dari kerumunan. Mencapai Manifestasi Roh di usia delapan belas tahun adalah prestasi yang sangat membanggakan bagi banyak orang. Lu Feng berbalik, memberikan tatapan menghina ke arah Lin Xia, lalu melirik sekilas ke arah Chen Kai yang masih memejamkan mata.
"Hei, kau yang membawa pedang di punggung!" panggil Lu Feng, suaranya penuh provokasi. "Aku merasakannya sejak tadi. Kau berpura-pura tenang, tapi aura Qi-mu bahkan tidak terasa. Apa kau pengecut yang menyembunyikan kelemahan di balik jubah hitam itu?"
Chen Kai tidak bergerak. Keheningan itu justru membuat Lu Feng merasa terhina.
"Tuli, ya? Penatua, biarkan si bisu ini maju sekarang. Aku ingin melihat pilar itu tetap gelap saat disentuh olehnya!"
Penatua penguji menatap Chen Kai dengan bosan. "Kau yang di sana, maju. Jangan membuang waktu kami."
Chen Kai membuka matanya perlahan. Pupil matanya yang berwarna biru jernih seperti kristal menatap dingin ke arah Lu Feng, sebuah tatapan yang membuat tawa pemuda sombong itu mendadak tercekat di tenggorokan. Ada sesuatu yang salah dengan tatapan itu—dingin, kosong, dan mematikan.
Chen Kai berjalan perlahan. Setiap langkahnya tidak menimbulkan suara, namun bagi mereka yang memiliki indra sensitif, setiap langkah Chen Kai seolah-olah menginjak jantung mereka.
Ia berdiri di depan Pilar Gema Sukma. Tanpa ragu, ia meletakkan telapak tangannya yang masih terbalut bekas luka—sisa-sisa kegilaannya tujuh tahun lalu—pada permukaan pilar dingin itu.
Sunyi.
Satu detik... dua detik... pilar itu tetap gelap.
"Hahaha! Sudah kuduga! Dia hanya sampah yang—"
BOOM!
Belum sempat Lu Feng menyelesaikan kalimatnya, pilar itu bergetar hebat. Alih-alih cahaya merah atau kuning biasa, pilar itu memancarkan cahaya biru keputihan yang sangat tajam hingga membutakan mata siapa pun di aula. Retakan-retakan kecil mulai muncul di permukaan pilar yang diklaim tak bisa dihancurkan itu.
Lampu gantung di langit-langit bergoyang. Tekanan Qi yang sangat besar meledak dari tubuh Chen Kai, menyapu seluruh aula seperti badai salju yang membekukan darah.
Penatua penguji berdiri dari kursinya, matanya melotot hampir keluar. "Ini... ini tidak mungkin..."
Satu per satu, tanda cahaya muncul dengan kecepatan kilat. Satu... tiga... lima... tujuh... hingga mencapai puncaknya.
"Chen Kai... Usia tujuh belas tahun..." Suara Penatua itu bergetar hebat, "Ranah Jiwa Sejati Tahap 5... Bakat: Mengerikan!"
Aula yang tadinya bising mendadak sunyi senyap, seolah-olah waktu baru saja berhenti. Jiwa Sejati? Di usia tujuh belas tahun? Itu adalah tingkatan yang biasanya dihuni oleh para guru atau penatua di sekte-sekte besar, bukan seorang pemuda yang baru masuk akademi.
Chen Kai menarik tangannya. Cahaya itu padam, menyisakan pilar yang kini dipenuhi retakan es kristal yang halus. Ia berbalik dan berjalan melewati Lu Feng yang kini gemetar dengan wajah sepucat kertas.
"Tadi kau bilang kekuatan adalah antreanku?" Chen Kai berhenti tepat di samping telinga Lu Feng. Suaranya rendah, sedingin es dari kutub utara. "Jika aku mau, aku bisa menghapus klanmu dari peta kekaisaran sebelum matahari terbenam hari ini. Jadi, simpan gonggonganmu untuk orang lain."
Lu Feng terjatuh ke lantai, kakinya lemas. Ia bahkan tidak berani bernapas sampai Chen Kai menjauh.
Chen Kai terus berjalan, melewati kerumunan yang kini membelah jalan untuknya dengan rasa takut yang mendalam. Di sudut aula, ia melihat Lin Xia menatapnya dengan kekaguman yang bercampur rasa ngeri. Chen Kai tidak peduli. Baginya, ini hanyalah langkah kecil.
"Jiwa Sejati Tahap 5 hanya permulaan, Chen Xo," batinnya, tangannya mencengkeram erat gagang Pedang Kristal Abadi di balik jubahnya. "Aku akan memastikan akademi ini menjadi batu loncatanku untuk menggapai lehermu."