NovelToon NovelToon
Gadis Di Rumah Itu

Gadis Di Rumah Itu

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Thriller / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Misteri / Tamat
Popularitas:255.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dela Tan

Sulit mencari pekerjaan, dengan terpaksa Dara bekerja kepada kenalan ibunya, seorang eksportir belut. Bosnya baik, bahkan ingin mengangkatnya sebagai anak.

Namun, istri muda bosnya tidak sepakat. Telah menatapnya dengan sinis sejak ia tiba. Para pekerja yang lain juga tidak menerimanya. Ada Siti yang terang-terangan memusuhinya karena merasa pekerjaannya direbut. Ada Pak WIra yang terus berusaha mengusirnya.

Apalagi, ternyata yang diekspor bukan hanya belut, melainkan juga ular.
Dara hampir pingsan ketika melihat ular-ular itu dibantai. Ia merasa ada di dalam film horor. Pekerjaan macam apa ini? Penuh permusuhan, lendir dan darah. Ia tidak betah, ia ingin pulang.

Lalu ia melihat lelaki itu, lelaki misterius yang membuatnya tergila-gila, dan ia tak lagi ingin pulang.

Suatu pagi, ia berakhir terbaring tanpa nyawa di bak penuh belut.
Siapa yang menghabisi nyawanya?
Dan siapa lelaki misterius yang dilihat Dara, dan membuatnya memutuskan untuk bertahan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dela Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Luka

"Nyonya... berhenti bicara!" Wiratama berdiri di antara Qing Qing dan Miranti.

"Kenapa harus berhenti? Dia harus tahu. Ngelunjak ni anak! Gak tahu terima kasih!" Miranti merotasi matanya, jarinya yang diberi kutex merah menunjuk Qing Qing.

"Kamu itu cuma anak pungut! Makanya, tahu dirilah sedikit! Pake nulis benci mama segala. Benci tuh mama lo yang buang lo di panti asuhan!" Miranti mencibir. "Dasar anak gak tahu diuntung. Udah dikasih makan, digedein, disekolahin, malah genit-genitan, manja-manja sama suami gua! Kalau bukan karena..."

"MIRANTI! CUKUP!" Tidak tahan lagi, Wiratama berteriak tanpa peduli harus memanggilnya nyonya. Hampir saja tangannya melayang, ingin menggampar mulut berbisa wanita laknat ini.

Miranti yang seolah kesurupan setan cemburu, seketika bungkam karena bentakan suara Wiratama yang menggelegar.

Namun, terlambat, Qing Qing sudah mendengar semuanya. Air mata yang sejak tadi mengalir, kini berderai tanpa henti bagai untaian mutiara lepas.

Ia berdiri mematung, seolah telah ditenung menjadi patung batu. Mulutnya ternganga, matanya melebar tak percaya.

Perlahan, ia mengalihkan pandang pada Wiratama.

"Pak Wira... benarkah... benarkah itu? Aku... cuma... anak pungut? Benarkah... aku... dibuang di... panti asuhan?" Qing Qing terbata-bata, suaranya basah.

Dan yang membuat jantung Wiratama bagai disayat-sayat, ada sorot luka di mata itu. Luka yang menular, membuat hati Wiratama sangat nyeri.

Lidah Wiratama kelu, tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Itu semua benar, tapi apakah ia harus membuat luka itu makin parah?

Saat ini, hati Qing Qing ibarat telah dihunjam pisau, pisau itu masih menancap. Haruskah ia memutar pisau itu makin dalam, sebelum mencabutnya? Kedua pilihan itu, memutarnya atau mencabutnya, sama-sama akan menggelontorkan darah lebih deras.

Namun, melihatnya bergeming, Qing Qing telah menyimpulkan sendiri, bahwa semua yang diucapkan wanita di hadapannya, wanita yang selama ini ia panggil mama, adalah sebuah kebenaran.

Tanpa mengucapkan apa pun lagi, Qing Qing berlari, menyeka air matanya dengan kasar, ia masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.

'Pantas saja ketika aku bertanya mengapa Mama tidak menggugurkan aku saja ketika masih dalam kandungan, Pak Wira tidak menjawab. Ternyata, itu karena Mama tidak pernah hamil aku!'

Tubuh Qing Qing merosot di balik pintu. Ia terisak-isak hingga tubuhnya gemetar. Ibu kandungnya membuangnya, ibu adopsinya membencinya. Mengapa Tuhan membuatnya lahir ke dunia, ia sungguh tidak mengerti.

Wiratama menatap nyalang wajah Miranti, yang melengos tanpa rasa berdosa.

"Lo bener-bener KETERLALUAN!" Wiratama menunjuk hidungnya. "Lo yang mandul, rahim lo yang bermasalah, kenapa anak itu yang jadi sasaran kebencian lo?" Ia benar-benar geram.

"Seharusnya dulu lo periksa ke dokter kandungan yang bener, daripada percaya mitos yang bilang kehamilan bisa dipancing dengan mungut anak. Tega lo ya. Qing Qing punya dosa apa sama lo? Dia anak yang pintar, patuh, manis, kenapa lo gak bisa sedikit aja sayang sama dia?"

Wiratama terus memarahi Miranti. Tidak peduli dia adalah nyonya bos. Sementara wanita itu diam seribu bahasa.

"Lo nuduh-nuduh dia genit, manja-manja sama Tuan. Ya wajarlah, dia mengira Tuan itu ayahnya. Tuan juga bukan pedofil. Dulu waktu lo ngerayu dia, umur lo udah lebih dari dua puluh lima. Bisa-bisanya lo punya pikiran sehina itu. Kalau sampai Tuan tahu..."

Saat ini, barulah Miranti menoleh. Matanya menyiratkan ketakutan. "Jangan bilang-bilang, Wir. Jangan sampai Tuan tahu..."

"Bisa takut juga lo?!" Wiratama mendengkus.

"Wir, please..." Miranti memohon, tapi Wiratama telah pergi meninggalkan wanita yang telah kehilangan hati nurani karena dibutakan cemburu tanpa alasan itu.

Untunglah ia tidak pernah tertarik padanya. Jika tidak, mungkin hidupnya telah menjadi neraka. Wiratama bergidik.

Ia berdiri di depan pintu kamar Qing Qing yang tertutup. Anak itu pasti sangat terpukul. Ia bimbang dan bingung bagaimana menghiburnya.

Qing Qing telah sangat terluka. Mungkin butuh waktu sendirian untuk meredakan emosi. Dua tiga hari lagi, baru ia akan bicara hati ke hati dengannya.

Berpikir seperti itu, Wiratama melangkahkan kaki, menjauhi kamar Qing Qing.

Di dalam kamar, setelah tergolek seharian membiarkan air mata terus menetes membasahi lantai, Qing Qing bangkit. Ia berjalan gontai menuju cermin, lalu duduk, menatap bayangan wajahnya di sana.

Ia mengamati wajahnya. Matanya memang sipit, tidak besar seperti milik Mama, tetapi ia mengira itu mengikuti Papa. Setelah dilihat dengan cermat sekarang, walau sama-sama sipit, bentuk mata mereka berbeda. Karena Mama pendek dan sintal, tubuhnya yang tinggi semampai ia kira karena mengikuti gen Papa yang tinggi,

Qing Qing terus menatap wajahnya di cermin dengan saksama. Baru sekarang ia menyadari, ia memang tidak ada mirip-miripnya dengan 'kedua orang tuanya'. Ia menghela napas.

Kebenaran ini, jika disampaikan dengan perlahan, mungkin tetap akan membuatnya kaget dan syok, tetapi lambat laun ia akan berusaha menerima kenyataan, meskipun pahit. Sialnya, fakta ini justru dilemparkan padanya dengan cara brutal dan tiba-tiba.

Wanita macam apa Miranti yang selama ini ia panggil Mama itu, sampai bisa menjerat Papa untuk menikahinya? Papa yang lembut, yang baik hati, yang menyayanginya, dicurigai sebagai pemangsa anak di bawah umur. Qing Qing benar-benar tidak rela!

Lalu, siapa orang tua kandungnya? Ia ingin bertanya pada mereka, mengapa begitu tega membuangnya setelah membiarkannya tumbuh dan terbentuk menjadi manusia. Hati Qing Qing seolah digodam dengan palu raksasa hingga remuk. Serpihannya tidak akan bisa direkatkan kembali menjadi utuh. Guratan-guratan luka itu akan tetap ada di sana, sampai kapan pun.

Namun, ke mana ia harus mencari mereka? Pada siapa ia harus bertanya? Qing Qing yakin Pak Wira tahu segalanya, tetapi orang yang ia percayai pun, telah membohonginya, menutupi kenyataan ini. Apakah sekarang, setelah semuanya terbuka, dia akan bersedia menjawab semua pertanyaannya?

Hari-hari setelah itu, Qing Qing menjalani hidup yang terasa tidak nyata. Ia tetap pergi ke sekolah, meskipun ia tidak yakin masih ingin pergi ke Cina. Satu-satunya yang berputar-putar di kepalanya adalah pertanyaan mengapa orang tua kandungnya membuangnya.

Keceriaan telah terhapus dari hari-harinya. Ia sering termenung dan melamun, menatap kosong di tepi kolam belut. Belut-belut yang menggeliat, yang pernah ia anggap lucu, sudah tidak menarik lagi baginya. Ia memang sudah tidak pernah lagi meneteskan air mata, seolah seluruh persediaan air matanya telah ditumpahkan habis di hari itu.

Ia belum kembali saling bertukar sapa dengan Miranti. Keduanya sama-sama keras, Qing Qing merasa tidak bersalah sehingga tidak ingin menyapa lebih dulu. Miranti apalagi, meskipun tahu kesalahannya, ia menolak untuk mengaku, apalagi meminta maaf.

Karena itu, suatu siang, setelah hampir satu minggu berlalu dan Wiratama berpikir bahwa emosi gadis itu telah mereda, ia menghampiri Qing Qing dan duduk di sampingnya.

"Apa kabar, Qing Qing? Masih sedih?" Wiratama bertanya hati-hati.

Qing Qing tidak menoleh, hanya mengembuskan napas.

"Pak Wira mengerti, hati Qing Qing pasti terluka. Tapi... cepat atau lambat, kebenaran ini akan terbuka. Hanya saja, Pak Wira akui, Mama kamu itu keterlaluan. Tapi Pak Wira bisa jamin, Papa kamu orang baik. Dia bukan lelaki bejat yang akan makan anak di bawah umur. Beliau betul-betul sayang sama Qing Qing, karena seperti yang Qing Qing sendiri tahu, dari dua istrinya, dia gak punya anak perempuan."

Wiratama menjeda, melihat Qing Qing tidak bereaksi, lalu melanjutkan, "Itulah sebabnya Papa menikahi Mama, dengan harapan Mama bisa memberinya anak perempuan." Wiratama tidak membuka rahasia tentang Miranti yang menjebak Bernard dengan kehamilan palsu, sebab ia telah berjanji akan mengunci mulutnya tentang itu.

"Sayangnya... Mama tidak kunjung hamil. Dia mendengar bahwa mengadopsi anak bisa memancing kehamilan. Karena itu, mereka mencari ke panti-panti asuhan, dan menemukan kamu."

Kini, Qing Qing menunjukkan reaksi. Dia tersenyum pahit, "Jadi, selain dibuang di panti asuhan, aku diadopsi hanya sebagai alat pancingan."

"Pak Wira berusaha menyampaikan cerita apa adanya. Semua sudah terbuka dengan cara yang menyakitkan, semoga Qing Qing bisa menerima semua ini dengan lapang dada. Tabiat Mama seperti itu, kita memang tidak bisa memaksanya untuk berubah."

Tiba-tiba Qing Qing menoleh, "Pak Wira tahu panti asuhan tempat mereka menemukan aku?"

Wiratama menggeleng, "Pastinya Pak Wira gak tahu, tapi itu di Bandung. Kenapa?"

"Pak Wira bisa tolong tanya ke Mama? Aku mau mencari tahu tentang orang tua kandung aku."

1
adi_nata
novel yang luar biasa dan sarat makna. bagaimana kita bisa terjerumus jika tidak bisa memandang cinta secara bijaksana.

terima kasih banyak untuk karyanya 👍
adi_nata
lalu asal usul Damar ?
adi_nata
seharusnya usia Surya dua tahun lebih muda dari Arwina. Arwina kan adik dari Arnita, Arwina tiga tahun lebih muda dari Arnita, sedangkan Surya lima tahun lebih muda dari Arnita.
adi_nata
kelihatannya Arnita memang melakukan hal itu dengan Bisma.
adi_nata
mamanya kejam sekali ngejedotin kepala anaknya sampai begitu.
adi_nata
dari siapa Arnita mewarisi rambut bergelombang ? mengingat kedua orang tuanya berdarah Cina murni ?
adi_nata: ooo begitu ternyata 😁
total 2 replies
adi_nata
jangan jangan .. Qing Qing adalah anak Arnita ? jadi masuk akal kalau Dara sangat mirip dengan Qing Qing. karena mereka masih ada pertalian darah walau sudah saudara jauh.
adi_nata
bukankah letak rumah itu jauh terpencil dari pemukiman lain ?
adi_nata
kalau sudah meninggal baru terpikirkan untuk mengembalikan ke keluarganya.
adi_nata
lah malah menyalahkan Tuhan, padahal dianya yang goblok 😂
adi_nata
aku ga ngerti kenapa Damar ga ngekos aja dekat tempat kerjanya. kalau aku harus ninggal istri yang lagi hamil sendirian tanpa tetangga, udah ga akan fokus kerja sama sekali.
adi_nata
rangka alumunium ? atau baja ringan ?
adi_nata
Ya Allah .. ninggalin bumil tanpa ada tetangga. 😥
adi_nata
bukan istri muda, tapi istri remaja
adi_nata
sebenarnya Damar adalah cowok yang bertanggung jawab, tapi karena masih di usia belasan, jadi sering berpikiran pendek. mengambil keputusan berdasarkan ego.
adi_nata
gimana kalau nantii hamiiil ? kamu nyeret anakmu ke dalam kesengsaraan. Dasar bocah. hahaha.
adi_nata
tapi kamu enak enakan sama Damar pakai duit tabungan dari Papa Bernard lho, Qin .. ga malu ? 😂
adi_nata
terlihat sekali bahwa Damar bukan pertama kalinya menyentuh perempuan.
adi_nata
Damar sudah pro. berarti Qin Qin bukan perempuan pertama di hidup Damar.
adi_nata
kalau tau begini harusnya dipulangkan ke Papanya. sampai kapan bisa nahan hasrat ? ini malah menawarkan jalan jalan sebulan penuh lalu tinggal bersama di gubug Damar. 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!