Pada awalnya, kehidupan Keana Larson sebagai gadis remaja terbilang biasa-biasa saja. Namun, semuanya berubah ketika ia mulai mengenal cowok baru di sekolahnya yang bernama Gabriel Axton White.
Keana sadar, mungkin saja berdekatan dengan Gabriel bisa membuat kehidupannya jauh dari kata normal. Cowok itu punya rahasia besar yang tak boleh diketahui siapapun. Mengetahuinya sama saja mati. Tetapi, sudah terlambat bagi Keana untuk menghindar. Gadis itu justru jatuh cinta padanya.
Iblis dan malaikat. Keana tak menyangka harus terjebak di antara keduanya. Rentetan-rentetan kejadian buruk seolah takkan berhenti sampai gadis itu benar-benar mati.
Lantas, tahukah Keana kalau apa yang terjadi dengannya bukanlah suatu kebetulan semata? Dan bisakah ia mengubah takdir buruk yang telah digariskan untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poetry Alexandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-31- Reason
"Jadi?" Dad mendesak tak sabar karena aku masih mematung tanpa berkata apa-apa. Lidahku kelu. Aku tidak tahu harus bicara apa padanya sementara otakku berputar mencari alasan yang masuk akal.
"Uhmm ... aku ... aku tidak kemana-mana, Dad. Hanya seputaran sini saja," jawabku lirih.
"Apa kau berduaan dengan temanmu yang bernama Calvin itu semalaman? Dia juga menghilang dan Mr. Morris mencarinya." Dad kembali berkata. Matanya menatapku sangat tajam.
Aku menggigit bibir sambil memilin-milin ujung pakaianku. Bagaimana harus menjelaskannya pada mereka?
"Ya, aku bersamanya. Tapi, dia hanya menemaniku untuk pulang ke rumah."
"Ke rumah?" Kedua alis Dad berkerut bingung. "Maksudmu kau pulang ke rumah?"
"Ya. Aku pulang ke rumah dan Calvin mengantarku," jelasku jujur, melirik Mom yang menatapku terkejut.
"Kenapa kau pulang ke rumah?" tanya Mom bingung.
"Aku mengambil tasku. Sudah kubilang, kan ada benda penting di dalamnya. Jadi, aku harus pulang untuk mengambilnya," kataku sambil duduk di atas brankar, mengusap wajahku. Tubuhku lelah sekali. Aku ingin beristirahat dan tertidur lelap mengingat perjalanan panjang nan melelahkan yang kualami semalam untuk mengambil tasku.
"Benda apa itu jika kami boleh tahu?" Dad menegakkan tubuhnya, kedua matanya semakin menyipit.
Tentu saja ia ingin tahu. Itu adalah sifat alamiahnya. Aku benar-benar tak habis pikir kenapa Dad menjadi seorang bankir bukannya seorang wartawan mengingat ia punya rasa keingintahuan yang luar biasa besar.
"Apa aku harus menjawabnya?" Aku memutar bola mata. Sungguh, aku benar-benar tidak ingin bertengkar dengannya. Aku tidak punya tenaga.
"Nah, lihatlah sikapmu sekarang. Kau memutar matamu padaku?" Dad mendelik.
"Dad, please ..." pintaku jengah. "Aku tidak melakukan apa-apa yang akan membuatmu marah. Aku bukan gadis pembuat masalah. Bisakah kau percaya padaku?"
Dad mendengus, tapi ekspresinya sedikit melunak. "Baiklah, aku tidak akan bertanya apa-apa lagi," katanya. "Tapi, kuharap kau tidak memutar matamu seperti tadi. Itu sangat tidak sopan."
"Ya, aku minta maaf. Hanya saja aku lelah. Bolehkah aku beristirahat sekarang?" sahutku sambil merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Rasa kantuk seketika menyerang dan membuatku menguap lebar.
Mom bangkit dari sofa menghampiriku sementara Keandra masih sibuk menghabiskan biskuit cokelat kesukaannya. Ia menarik selimut untuk menutupi separuh tubuhku. Aku tersenyum padanya---merasa sangat berterima kasih dengan sikap pengertiannya.
"Terima kasih, Mom ..." ucapku dan kembali menguap. Mom hanya tersenyum walau kulihat ekspresinya sedikit cemas. Mungkin ia merasa khawatir atas pelarian diriku beberapa jam yang lalu. Mom pandai menyembunyikan rasa penasarannya, tidak seperti Dad.
"Kau tidak menyimpan sesuatu yang berbahaya di dalam tasmu, kan?" Tiba-tiba suara Dad kembali terdengar waktu mataku hampir menutup.
"Dad ..." desahku. "Kau melanggar janjimu untuk tidak kembali bertanya."
"Aku hanya takut kalau-kalau ..." ia mengangkat bahu, "well, sikapmu aneh belakangan ini, Keana. Kau bahkan sampai melarikan diri semalam hanya untuk mengambil tasmu. Benda penting, kan? Kuharap kau tidak menyimpan benda penting semacam narkoba atau obat-obatan terlarang." Matanya lagi-lagi menatapku tajam.
Aku menghela napas. Dalam keadaan lain mungkin aku akan tertawa mendengar kecurigaan ayahku yang berlebihan. Narkoba? Yang benar saja.
"Tentu saja tidak, Dad. Aku tidak mungkin melakukan hal-hal semacam itu. Aku masih Keana Larson putrimu yang manis, lugu, dan menggemaskan."
Mom nyaris tersenyum mendengar perkataanku sementara Dad terlihat mendesah lega. Ia tidak bicara apa-apa lagi setelah itu dan aku langsung jatuh tertidur karena kelelahan dan mengantuk.
Aku terbangun ketika hampir pukul tiga sore. Mom bilang aku tidur seperti orang mati karena tak bergerak sama sekali. Untung saja aku masih bernapas, kalau tidak ia akan memanggil dokter untuk memeriksa kesehatanku.
Aku bergegas mandi dan mengganti pakaian yang dibawa Mom dari rumah. Kami bersiap untuk pulang karena kondisiku sudah baik-baik saja. Selesai mengecek kesehatanku, dokter yang memeriksaku kemarin malam mengatakan padaku untuk berhati-hati dalam berkendara. Ia mengingatkan jangan sampai kepalaku terbentur lagi atau aku bisa mengalami gegar otak yang sebenarnya.
Wow! Aku benar-benar harus berhati-hati sekarang atau aku akan menjadi gila sungguhan.
Di lobi, kami bertemu dengan Calvin dan seorang wanita berwajah sangat cantik, berambut cokelat keemasan---mungkin ibunya---juga Karen yang nyaris bergelayut di bahu Calvin. Dan aku tidak terkejut mendengar Karen rela membolos sekolah demi menjaga Calvin di rumah sakit. Mereka juga bersiap untuk pulang. Wanita itu menyapa ramah pada Mom dan aku. Sedangkan, Dad tidak ada karena sudah pergi ke kantor pagi tadi.
"Keana, ini Jean. Ibuku." Calvin memberitahu sambil berusaha melepaskan diri dari Karen.
Mom dan aku menjabat tangan wanita itu.
"Hai, Jean Rosenberg! Aku ibu Calvin." Ia memperkenalkan diri pada kami, tersenyum ramah.
Jean tampil sangat elegan dengan cardigan putih dan celana terusan hitam. Tubuhnya ramping dan tinggi. Mungkin sekitar 175 cm jika tanpa mengenakan sepatu heels nya sekarang. Matanya berwarna hijau terang dengan lipstik merah menyala yang menghiasi bibirnya. Hidungnya mancung dan lancip seperti Calvin. Rambut cokelatnya dipotong pendek bergaya bob dengan poni samping yang membuat tampilannya makin sempurna.
"Aku Lili Larson. Ini putriku Keana dan Keandra yang kecil." Mom menunjukku dan Keandra pada Jean.
Jean mengangguk. "Senang bertemu dengan kalian." Ekspresinya sangat bersahabat, berbanding terbalik dengan wajah masam Karen padaku. Tangannya semakin erat mengamit lengan Calvin waktu aku melirik mereka.
"Apa kalian juga ingin pulang?" Jean bertanya. "Kudengar kau yang kecelakaan bersama Calvin kemarin?"
"Ya, benar dan aku sudah baik-baik saja, Mrs. Rosenberg," jawabku sambil tersenyum sopan.
"Ah, panggil Jean saja. Tidak apa-apa." Ia menatapku.
Pikiranku bertanya-tanya kemana ayah Calvin, apakah ia sedang bekerja? Juga bagaimana kabar Nick yang mobil pamannya hancur semalam. Masih banyak masalah yang harus kami bereskan. Untungnya Jean tidak bertanya soal kejadian melarikan diri kami saat acara beramah-tamah itu.
Mom pun tidak mengatakan apa-apa selama perjalanan pulang. Ia fokus mengemudi. Aku duduk di depan sementara Keandra di belakang. Jari-jariku sibuk membalas pesan dari Liz dan Becca yang menanyakan keadaanku dan juga kemana aku pergi semalam karena Dad ternyata menghubungi mereka tengah malam tadi untuk mencari keberadaanku. Kuharap ia tidak menghubungi semua teman sekolahku atau aku dan Calvin akan mendapatkan gosip tak sedap. Well, melarikan diri bersama cowok di tengah malam---walau kenyataannya ada Nick di sana---itu bukanlah hal yang bagus.
Kubuka kembali pesan yang lain yang ternyata dari Jake Ramsey.
-Jake-
Keana, kuharap kau tidak mematahkan tanganmu, kakimu atau pun lehermu. Minggu depan kita sudah pentas. Aku tidak bisa mencari pengganti jika terjadi apa-apa padamu. Bahkan, jika kau mati kau tetap harus bangkit dari kuburmu!
Jake kadang-kadang memang cukup kejam. Cepat-cepat kubalas pesannya dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Besok aku mungkin sudah kembali ke sekolah.
Tak berapa lama, kami sampai di rumah. Perutku tiba-tiba bergejolak ketika kulihat di trotoar depan rumah, berdiri Gabe di sebelah mobilnya dengan tampilan yang nyaris sempurna.
"Keana, itu temanmu yang bernama Gabe, kan?" Mom menatap Gabe dari kaca jendela mobil seraya tersenyum. "Jadi, sebenarnya kau berkencan dengan siapa? Dia atau Calvin?"
"Tidak keduanya, Mom. Kami hanya berteman," sahutku.
Mom berbelok masuk dan memarkir mobilnya di halaman depan rumah. Ia membuka sabuk pengamannya, kemudian bertanya jail, "Lalu, siapa yang kau sukai di antara mereka?"
"Mooommm ..." rengekku. Cepat-cepat melesat turun dari dalam mobil. Kudengar Mom hanya terkikik karena berhasil menggodaku.
Aku segera menghampiri Gabe yang masih berdiri di trotoar. Bisa kurasakan jantungku memompa penuh semangat melihat wajah tampannya di bawah langit sore yang kelabu. Cuaca belakangan ini terus mendung dan gelap. Udara terasa sangat dingin ketika angin berembus menyapu kulitku.
"Hai, Gabe!" sapaku nyaring. Aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku melihat kehadirannya.
Ia tersenyum sangat menawan dan membalas, "Hai! Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah sangat membaik," sahutku agak gugup. "Apa kau kemari ingin menjengukku?"
"Ya, aku sangat mengkhawatirkanmu," katanya dengan ekspresi serius.
Untuk beberapa saat, aku merasa tersanjung. Gabe mengkhawatirkanku? Apa ada yang lebih menyenangkan dari ini?
"Keana, kenapa kalian hanya mengobrol di luar? Ajak temanmu masuk ke dalam. Cuaca dingin sekali," suara Mom terdengar di halaman.
Aku menoleh dan melihat Mom sedang menuntun Keandra berjalan ke pintu depan. Ia sempat menggerling jail padaku sebelum masuk ke dalam rumah.
"Kurasa sebaiknya kita masuk ke dalam, Gabe," kataku, tapi cowok itu menggeleng.
"Aku tidak lama, Keana. Aku hanya mampir ke sini untuk melihat keadaanmu."
"Apa kau mau pergi?" Aku tidak bisa menyembunyikan kekecewaanku. Tidak bisakah ia tinggal lebih lama? Aku masih ingin melihatnya.
"Ya. Ada banyak hal yang harus kulakukan belakangan ini," ia berkata. Wajahnya berkerut, sedikit muram.
"Oh, baiklah. Aku mengerti," gumamku. "Apa ini menyangkut Lucifer dan juga sekutunya?"
Ia tidak segera menjawab, hanya menghela napas. Matanya menerawang ke langit sore yang semakin gelap.
"Kurasa aku harus segera kembali." Ia akhirnya berkata seraya menunduk menatapku.
Aku mengangguk pelan. "Ya, terima kasih sudah mampir kemari."
"Sampai ketemu di sekolah, Keana." Ia tersenyum, mengulurkan tangan dan mengusap kepalaku dengan lembut. Lalu, masuk ke dalam mobilnya.
Aku tertegun menatap kepergian Gabe tanpa bergerak. Ketika mobilnya menghilang di tikungan, aku mendesah---mengelus kepalaku yang diusap Gabe tadi seraya tersenyum. Rasanya aku akan semakin gila karena menyukainya.
Saat aku berbalik untuk masuk ke dalam rumah, kulihat dari sudut mataku, Sharon dan Dalton tengah terlibat adu mulut di dekat trotoar depan rumah gadis itu. Sharon nampak menangis dan mendorong Dalton dengan kasar waktu cowok itu berusaha menarik tangannya.
"Sharon ..." kudengar suara Dalton mencoba untuk menenangkannya, tapi Sharon malah menampar cowok itu dengan keras hingga aku memekik kaget dan membuat kedua orang itu menoleh padaku.
"Pergilah, Dalton! Kita tidak punya urusan lagi mulai sekarang!" kata gadis itu dingin.
Dalton menggigit rahangnya. Kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya, lalu cowok itu berjalan masuk ke mobil tanpa berkata apa-apa.
Aku tertegun beberapa saat menatap kepergian Dalton hingga tersadar bahwa Sharon sedang memanggil namaku.
"Keana, kau dengar aku?" Ia melambaikan tangan padaku yang masih terdiam.
"Y-ya, Sharon. Ada apa?" Aku mengerjap bingung.
Gadis itu menghapus air mata yang mengalir di pipinya dengan sebelah tangan. Matanya sembab kemerahan. Ia berjalan menyusuri trotoar menuju tempatku berdiri di depan pagar rumah bagaikan berjalan di atas catwalk.
"Bagaimana kabarmu? Kudengar kau kecelakaan bersama Calvin?" Ia bertanya. Nada suaranya terdengar ramah, namun cukup membuatku merasa aneh.
"Ya. Aku baik-baik saja. Hanya mengalami benturan ringan di kepalaku," jawabku canggung. Aku tidak terbiasa berbasa-basi dengan gadis ini walau kami bertetangga.
"Oh, syukurlah kalau begitu." Ia menyibakkan rambut pirang cokelatnya yang panjang dan lebat dengan gaya sok dramatis, membuatku merasa jengah.
"Jadi, ada apa?" desakku tak sabar. Ia tidak mungkin hanya mengkhawatirkanku, kan?
Sharon tersenyum segaris. Matanya menatap lurus ke arahku. "Kulihat Gabe tadi di sini. Apa kalian berdua punya hubungan, maksudku apa kalian diam-diam berkencan?"
Aku mengerutkan alis, lantas menggeleng. "Tidak. Kami cuma berteman."
"Hanya itu?" tanyanya lagi memastikan.
"Ya."
"Baguslah," katanya seraya tersenyum lebar. "Kurasa aku akan berkencan dengannya."
Aku tersedak ludahku sendiri dan mendelik kaget. Hell?!
Gadis itu melambaikan tangan. "Baiklah, kalau begitu sampai nanti, Keana!" Lalu, ia segera berbalik menuju rumahnya meninggalkanku yang masih shock atas pernyataannya.
Aku salah dengar tidak, sih?
🍁🍁🍁