Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang karena kamu
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, menyinari kamar yang terasa sangat tenang. Senja perlahan membuka matanya. Kepalanya masih terasa sedikit berat, namun rasa panas yang membakar semalam sudah jauh berkurang.
Saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya, ia merasakan sesuatu yang menahan tangannya.
Senja menoleh ke samping ranjang dan jantungnya seketika berdesir hangat. Di sana, Langit tertidur lelap dalam posisi duduk di lantai dengan kepala yang menyender ke pinggiran kasur.
Tangannya masih memegang erat jemari Senja, sementara kain kompres yang sudah mengering masih tergeletak di dekat bantal.
Senja memperhatikan wajah suaminya yang tampak sangat kelelahan.
Lingkaran hitam samar di bawah mata Langit menjadi bukti bahwa pria itu benar-benar tidak tidur semalaman demi menjaganya. Rambut Langit yang biasanya tertata rapi kini berantakan, namun di mata Senja, Langit terlihat berkali-kali lipat lebih tampan pagi ini.
Senja mengulurkan tangannya yang bebas, membelai lembut rambut Langit agar tidak menutupi matanya. Gerakan kecil itu rupanya membuat Langit tersentak bangun.
"Senja? Eh, kamu sudah bangun?" Langit mengucek matanya dengan bingung, suaranya serak khas orang bangun tidur.
Hal pertama yang ia lakukan bukan meregangkan ototnya yang kaku, melainkan langsung menempelkan telapak tangannya ke dahi Senja. "Alhamdulillah, sudah nggak panas. Masih pusing nggak?"
Senja tersenyum tulus, senyuman yang begitu manis hingga membuat Langit terdiam sejenak. "Udah mendingan kok. Kamu... tidur sambil duduk begitu semalaman?"
Langit baru menyadari posisi tubuhnya dan meringis kesakitan sambil memegangi pinggangnya yang terasa encok.
"Aduh, tulang saya kayak mau lepas. Tapi nggak apa-apa, yang penting kamu nggak kenapa-kenapa."
"Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi nggak tidur. Kamu juga belum makan dari sore kan?" tanya Senja penuh perhatian.
Langit tertawa kecil, mencoba menutupi rasa canggungnya. "Baru sadar kalau lapar pas kamu tanya. Ya udah, saya mau mandi dulu terus cari sarapan. Kamu jangan turun dari kasur dulu, istirahat aja."
Saat Langit hendak berdiri, Senja menarik ujung kaos Langit pelan. "Langit..."
"Ya?"
"Makasih ya... Suamiku."
Langit membeku di tempat. Wajahnya yang tadi pucat karena kurang tidur mendadak berubah merah padam. Ia berdehem keras, berusaha menjaga image kerennya yang hampir runtuh.
"I-iya, sama-sama. Udah kewajiban saya kan? Jangan bikin saya baper pagi-pagi begini, nanti saya malah nggak jadi mandi," gurau Langit sambil melangkah cepat ke kamar mandi dengan langkah yang terlihat sangat salah tingkah.
Langit melangkah turun ke dapur dengan langkah yang sedikit kaku karena pinggangnya masih terasa pegal. Sesampainya di dapur ndalem, ia mendapati suasana sudah sangat sibuk. Umi sedang memotong sayuran ditemani oleh dua santri putri yang bertugas membantu memasak pagi itu.
"Eh, Nak Langit sudah bangun?" sapa Umi sambil tersenyum hangat. "Bagaimana keadaan Senja?"
"Sudah mendingan, Umi. Demamnya sudah turun," jawab Langit sopan. Ia lalu mendekati rak gelas. "Umi, Langit mau buatkan teh manis hangat untuk Senja. Boleh?"
Umi menghentikan aktivitasnya, menatap menantunya dengan pandangan menggoda. "Tentu boleh, Sayang. Gula dan tehnya ada di sebelah sana. Masya Allah, telaten sekali ya suaminya Senja ini. Semalaman tidak tidur ya?"
Dua santri putri di sudut dapur mulai berbisik-bisik sambil menahan tawa, membuat wajah Langit seketika terasa panas.
"Ciee, Mbak Senja beruntung banget ya, dapet suami perhatian," bisik salah satu santri yang suaranya masih terdengar jelas di telinga Langit.
Langit mencoba tetap tenang meskipun tangannya sedikit gemetar saat memasukkan gula ke dalam gelas.
"Cuma buat teh aja, Umi. Biar badannya lebih enak," dalih Langit sambil mengaduk teh dengan suara dentingan sendok yang agak keras karena gugup.
"Iya, iya. Umi mengerti. Oh ya, ini ada bubur sumsum yang baru matang. Bawa sekalian ke atas ya untuk sarapan Senja," ujar Umi sambil menyiapkan mangkuk kecil.
Saat Langit hendak membawa nampan berisi teh dan bubur, salah satu santri putri memberanikan diri bertanya, "Gus Langit, kalau mau cari suami yang perhatiannya kayak Gus Langit, belinya di mana ya?"
Langit berhenti sejenak, melirik santri itu dengan gaya cool-nya yang mulai kembali.
"Nggak dijual bebas. Stok terakhir sudah diambil sama Senja," jawab Langit asal yang langsung disambut sorakan "Eaaa!" dari seisi dapur.
Langit buru-buru naik kembali ke atas dengan wajah yang merah padam. Sesampainya di depan pintu kamar, ia menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya sebelum masuk.
Di dalam, ia mendapati Senja sedang duduk bersandar, menunggunya.
"Lama banget pembuatannya, Langit? Kamu bikin teh atau metik daun tehnya dulu ke kebun?" canda Senja saat melihat wajah suaminya yang tampak kacau.
"Tadi... ada gangguan teknis di bawah. Fans-fans kamu di dapur berisik banget," gerutu Langit sambil meletakkan nampan di nakas.
"Nih, diminum selagi hangat. Terus makan bubur sumsumnya. Harus habis, biar saya nggak diledek Umi lagi kalau kamu nggak sembuh-sembuh."
Senja tertawa kecil melihat Langit yang terus mengomel untuk menutupi rasa malunya. Pagi itu, di kamar mereka yang tenang, rasa sayang yang tumbuh di antara keduanya terasa jauh lebih manis daripada gula di dalam teh buatan Langit.
Pagi itu, Langit berangkat ke sekolah dengan berat hati. Untuk pertama kalinya, jok belakang motor matic-nya terasa kosong dan dingin.
Biasanya ada Senja yang cerewet memintanya pelan-pelan atau mencubit pinggangnya jika ia mulai ugal-ugalan. Sekarang, hanya ada angin yang berembus di punggungnya.
Sesampainya di sekolah, suasana terasa hambar bagi Langit. Di dalam kelas, ia hanya menatap papan tulis dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang kembali ke kamar di ndalem.
“Senja sudah minum obat belum ya?”
“Kompresnya masih nempel nggak ya?”
“Jangan-jangan dia nekat turun kasur terus pingsan?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Saat jam istirahat, Langit yang biasanya nongkrong di kantin bersama teman-temannya malah memilih duduk di bawah pohon sendirian sambil menatap ponsel, menunggu kabar dari Senja yang tak kunjung membalas pesannya (mungkin karena istrinya itu sedang tidur pulas).
"Woy, Langit! Tumben sendirian. Mana 'pengawal' cantik lo?" goda salah satu temannya sambil menepuk bahu Langit.
Langit hanya melirik malas. "Sakit. Jangan berisik deh."
Memasuki jam pelajaran terakhir, yaitu Matematika, Langit benar-benar kehilangan kesabaran.
Baginya, angka-angka di papan tulis itu terlihat seperti benang kusut. Ia melirik jam tangan, masih ada satu setengah jam lagi sebelum bel pulang.
Tanpa pikir panjang, saat guru sedang menulis di papan tulis, Langit mengendap-endap keluar melalui pintu belakang dan nekat melompati pagar sekolah.
Ia memacu motornya secepat mungkin kembali ke pesantren. Sesampainya di ndalem, ia masuk lewat pintu samping agar tidak ketahuan Umi. Dengan napas terengah-engah, ia membuka pintu kamar pelan-pelan.
Dilihatnya Senja sedang duduk bersandar di kepala ranjang, mencoba membaca sebuah kitab kecil dengan wajah yang masih agak pucat. Senja tersentak kaget melihat suaminya muncul dengan seragam yang berantakan dan keringat bercucuran.
"Langit? Kok udah pulang? Ini kan belum jamnya?" tanya Senja bingung.
Langit tidak menjawab. Ia langsung mendekat, meletakkan tasnya sembarang tempat, dan kembali menempelkan tangannya ke dahi Senja. "Masih agak anget. Kenapa baca-baca? Kan disuruh istirahat."
"Aku bosen, Langit. Tapi kamu... kamu bolos ya?" selidik Senja dengan mata menyipit.
Langit membuang muka, duduk di tepi ranjang sambil melepas sepatunya. "Gurunya nggak asik. Lagian saya nggak tenang di sana. Rasanya kayak ada yang kurang kalau nggak ada yang nyubit pinggang saya di motor."
Senja tertegun, lalu senyum kecil terukir di bibirnya. Ia tahu suaminya ini hanya mencari alasan. "Bilang aja kangen, apa susahnya sih?"
"Dih, GR banget," elak Langit, namun ia kemudian merebahkan kepalanya di ujung kasur, tepat di samping kaki Senja. "Capek banget hari ini. Boleh tidur di sini sebentar?"
Senja terdiam sejenak, lalu tangannya bergerak perlahan mengusap rambut Langit yang basah karena keringat.
"Tidur aja. Makasih ya udah pulang cepet."
Langit memejamkan matanya, menikmati belaian tangan Senja. Di kamar yang tenang itu, Langit menyadari bahwa sekolah seheboh apa pun tidak akan pernah senyaman berada di dekat istrinya.