NovelToon NovelToon
Gadis Cupu Pemikat Hati

Gadis Cupu Pemikat Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Pembantu / Diam-Diam Cinta / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miftah_005

"aku janji bakal menghilang dari kehidupan kamu untuk selama-lama nya" ucap Viona dengan nada bergetar

kehidupan Viona benar-benar sangat menyedihkan, selain miskin, gadis itu juga hanya mempunyai seorang ibu yang sudah sangat tua renta

tetapi ia mempunyai cita-cita yang sangat tinggi, hingga akhirnya Viona bertemu dengan laki-laki yang akan merubah seluruh hidup nya

bagaimana kelanjutan ceritanya???

mari kita simak........

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miftah_005, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26(suara aneh)

Perjalanan pun di mulai, kini dua rombongan itu berjalan pada jalan yang berbeda, bunyi suara hewan-hewan di dalam sana mulai terdengar nyaring

"Elo dimana Viona?" Batin Kayla

Ia melihat pepohonan tinggi dan juga rindang membuat nya sedikit merinding, apalagi jalan yang mereka lewati sedikit licin karena pagi tadi baru saja di gugur oleh hujan, membuat perjalanan mereka sedikit ekstrem

"Kok serem banget ya hutan nya, kayak gak pernah di masukin sama orang" Ucap Jihan

Johan yang berada di samping gadis itu dengan cepat menyenggol lengan nya

"Sstt, gak boleh ngomong sembarangan"

Laki-laki itu memerintah kan pada Jihan untuk diam, karena konon kata nya, jika ada yang berbicara sembarangan di hutan ini, maka perjalanan yang mereka lalui tidak akan pernah mulus

Mereka sudah berjalan selama 20 menit, tetapi tidak menemukan tanda-tanda ada manusia di dalam sana, Jihan dan Kayla sudah merasa sangat lelah dan juga letih, kedua gadis itu duduk di atas tanah dengan nafas yang mulai tersenggal-senggal

"Duh, kaki gue capek banget" Keluh Kayla

"Sama ih, kayak nya gue gak sanggup, kalau harus jalan lagi" Timpal Jihan yang sudah merebahkan tubuh nya di atas tanah

"Terus gimana? Ini kita belum sampai setengah perjalanan loh" Ucap Johan seraya melihat pada peta yang ia bawa

Laki-laki itu melihat ke arah dua gadis yang wajah nya sudah sangat pucat

Tangan nya terulur untuk memeriksa suhu tubuh Kayla

"Kalau di paksa in buat jalan, kayak nya mereka gak bakal kuat, mending kita istirahat dulu aja di sini"

Johan membersihkan area yang akan di gunakan untuk tempat peristirahatan mereka

Ia juga mengumpulkan beberapa ranting-ranting kecil untuk di bakar , agar tubuh mereka yang dingin bisa sedikit hangat

"Pada bawa mie gak nih? Gue bawa tapi cuma tiga"

Baskara mengeluarkan beberapa makanan instan dari dalam tas nya

"Gue bawa banyak, ambil aja di dalam tas" Titah johan yang masih sibuk dengan ranting-ranting pohon

Sedang kan rombongan yang di pimpin oleh Cakra, tengah sibuk mencari jalan keluar, karena menurut peta yang di bawa oleh Radit, mereka sudah memasuki hutan di bagian paling ujung dan di situ tempat para hewan buas berkumpul

"Coba pencet lagi itu alat nya! Gue gak mau jadi santapan hewan buas" Panik Aurel

Cakra sendiri sudah berusaha menekan tombol itu berulang kali, tetapi benda itu sama sekali tak merespon

"Udah gue pencet dari tadi, tapi kayak nya alat ini eror, dari tadi bunyi terus"

Titt.. Titt.. Titt..

"Coba di buka dulu, kalau ada batrei nya lepas aja, siapa tau nanti normal lagi" Usul Radit yang membuat Cakra langsung membuka benda itu

Dan yapss..

Akhirnya benda itu tidak lagi mengeluarkan suara, ia menyimpan nya ke dalam tas, berharap setelah ini bisa berfungsi seperti semula

"Coba liat denah yang elo bawa" Pinta Bella

Radit memberikan denah itu yang langsung di buka oleh Bella, gadis itu melihat banyak sekali tanda silang berwarna merah yang artinya tempat itu di larang untuk di singgahi

"Ini kita ada di mana?" Tanya nya dengan bingung

"Ya mana kita tau Bella! Kalau tau tempat nya mah, tinggal ngikutin aja jalan yang ada di denah itu" Gemas Cakra

"Terus? Fungsi nya bawa denah gini buat apaan coba?"

Ia membolak-balikan denah itu berharap ada penjelasan dari banyak nya tanda-tanda yang tergambar pada denah

"Ya fungsi nya buat jadi petunjuk jalan lah, aneh banget sih Lo"

Radit mengambil kembali denah itu dan membuka nya tepat di depan mata Bella

"Nih liat! Ini nama nya denah, petunjuk jalan!" Tekan nya

"Iya gue tau fungsi nya emang buat petunjuk jalan, tapi kenapa kita bisa kesasar sampai sini coba, padahal dari tadi elo fokus liat denah terus, atau jangan-jangan? Elo gak bisa baca denah?" Ejek Bella

Radit yang awal nya ingin membalas ucapan gadis itu tiba-tiba saja terdengar suara minta tolong dari arah selatan

"T-olong!! T-olong!!"

Seperti suara wanita yang sedang merintih kesakitan, semua orang terdiam dengan wajah mulai berubah cemas

Beberapa detik kemudian, suara teriakan itu tidak lagi terdengar, tiba-tiba hawa di sekeliling mereka menjadi tidak enak

"Kok gue tiba-tiba jadi merinding gini ya"

Bella memeluk tubuh nya yang terasa sangat dingin, ia meraih tangan Aurel untuk di genggam, ia menatap sekeliling dengan perasaan takut

"Sama, gue juga ngerasa gak enak banget, kayak ada yang lagi ngawasin kita" Timpal Aurel

Cakra dan Radit pun merasakan hal yang sama, tetapi mereka mencoba tenang agar membuat kedua gadis itu tidak merasa takut

"Udah, mungkin karena cuaca nya mendung aja jadi hawa nya agak berubah, mending sekarang kita ke selatan aja, tadi suara nya kan dari arah sana"

Cakra kembali memimpin barisan paling depan, ia memegang sebuah kayu besar yang di berikan oleh Baskara ketika masih berada di pintu gerbang

Kayu itu ia gunakan untuk membuka jalan, karena semakin lama mereka berjalan, semakin tinggi pula rumput yang akan mereka lewati

"Duh, kaki gue lecet-lecet nih, mana perih banget" Keluh Aurel seraya menunjuk kaki nya yang tergores rerumputan tajam

"Sama, gue juga perih"

Kaki milik Bella mengeluarkan darah begitu banyak, Radit yang melihat nya dengan sigap menyobek baju yang ia pakai dan mengikat kan nya pada kaki gadis itu

"Kayak nya kita gak bisa lanjut perjalanan deh, luka di kaki Bella dalem banget"

Setelah selesai membungkus luka itu, kini Radit mencari dedaunan yang menurut nya bisa di jadikan obat penghilang nyeri

Ia meremas daun-daun itu dan memberikan nya kepada Bella

"Nih makan" Titah nya

Karena rasa sakit yang tak bisa ia tahan lagi, gadis itu dengan cepat meraih dedaunan yang sudah di remas-remas oleh Radit dan memakan nya dengan lahap

"Gimana? Ada perubahan?"

Bella mengangguk pelan, wajah nya menggambarkan rasa tak percaya dengan obat alami yang baru saja di berikan oleh Radit sangat lah ampuh, ia tidak merasakan perih maupun nyeri pada kaki nya

"Gue juga minta dong, nih kaki gue juga sakit" Ucap Aurel dengan kesal

gadis itu tak suka jika Radit atau pun Cakra lebih perhatian kepada Bella ketimbang diri nya

"nih, makan yang banyak"

Radit memberikan daun bersama dengan batang-batang kecil yang membuat Cakra dan Bella tertawa terbahak-bahak

"ihhh, nyebelin banget sih!" seru Aurel seraya membuang daun dan batang itu sejauh mungkin

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!