Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sebelas
Aku mendongak dan mengedipkan mataku dua kali saat berbalik, sosok manusia memakai masker putih dengan setelan baju kemeja yang lengannya di gulung plus celana bahan, berdiri menjulang di belakangku.
“Siapa yang mengizinkanmu pergi?”
Glek!
Vibes-nya dengan setelan seperti malam ini terlihat sangat berbeda. Nyaliku sedikit menciut.
“Mau ke mana?” tanyanya datar.
“K-kepasar m-malam.” jawabku terbata.
“Pulang!” katanya singkat, tapi membuat jantungku ingin melompat dari tempatnya.
Aku langsung melihat Aira dan Bagas, keduanya melongo melihat interaksi kami.
“Din, hubungan kalian sudah sejauh itu?” tanya Aira, matanya pun tidak berkedip sedikitpun.
Apa yang harus Aku jawab? Yang bertanya adalah Aira! Jembatanku untuk bertemu suamiku, Kim Taehyung asli.
“Seperti yang lo lihat.” jawabku seadanya, kemudian tersenyum palsu.
“Masuk ke rumah, Dinda!” titah Mas Taehyung.
Aku tersentak, “I-iya Kakanda.” jawabku spontan, Aku langsung menutup mulut. Entah kenapa jika dia yang menyebut namaku, Aku akan menyahutnya dengan seperti itu.
Sekali lagi Aku melihat Aira dan Bagas, mereka mematung bahkan terlihat menahan napas.
“Ra, Gas, Maaf ya. Aku nggak jadi pergi, perutku tiba-tiba sakit.” Aku terpaksa berbohong untuk memberikan alasan. Lalu Aku mendekati Aira, dan berbisik padanya, “Ra, gue tunggu tiket konser VIP gue dan tetek bengeknya!”
“Din, sat set banget lo usahanya! Gue bahkan belum berangkat ke Korea.”
Aku memasukkan kedua tanganku di saku hoodie, “Siapa dulu dong! Kim Dinda.” jawabku jumawa dan tertawa jahat.
Aku terkejut saat merasakan sesuatu menarik hoodie-ku, manusia masker putih. Dia menarikku seperti menarik kucing. “Hei lepas!” pintaku.
Tapi dia tidak mengindahkan.
“Makanya jangan lama-lama, Aku tidak suka menunggu terlalu lama. Memangnya kamu mau terjadi lagi seperti yang malam kemarin?” katanya, Aku yakin Aira dan Bagas mendengar ucapannya.
‘Dasar manusia masker, manusia kulkas, manusia aneh, Kim Taehyung kw! Awas kau ya!’ teriakku dalam hati.
Dia menyeretku sampai masuk ke dalam pagar, sebelum masuk rumah dia menarikku menuju mobilnya untuk mengambil tas kerja dan jas putih.
Ternyata dia baru pulang kerja.
Dia baru melepaskanku saat masuk ke dalam rumah, lalu dia langsung meninggalkanku begitu saja?
Kurang asem!
Aku akan mengejarnya, namun pesan masuk dari ponselku mengurungkanku dan Aku memilih duduk di sofa terdekat.
Dari Aira.
Netraku seketika membulat ketika membuka pesan, Aku tidak mengedipkan mataku sedikitpun, rasa senang membuncah riuh di dadaku. Aira mengirimkan bukti transaksi pembelian tiket konser BTS VIP!
Tanpa sadar Aku melompat kegirangan, masih tidak menyangka akan menonton konser BTS secara live. Rasanya Aku ingin berteriak, Aku sangat senang, akhirnya...
“Kenapa lagi kamu?”
Aku terdiam, tapi senyum diwajahku tidak bisa Aku sembunyikan. Aku memeluk lelaki yang berdiri di depanku.
“Makasih ya Mas dokter.” ucapku, lalu Aku berjinjit untuk mencium pipinya. Dan memeluknya lagi yang hanya diam saja.
Aaaak... rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Aku meninggalkan manusia batu itu karena dia diam saja seperti patung. Aku berlari kecil sesekali berputar saat menaiki tangga dan bersenandung menyanyikan salah satu lagu Home-BTS.
‘*Your love, your love, your love, I miss that*!
Your love, your love, your love, I want that!
Your touch, your touch, your touch, I need that!
La-la-la-la-la-la-la-la, love it.’
‘BTS... I'm coming!’
\*
Pagi hari, di meja makan semua orang terlihat lebih pendiam. Ummi Lailatul yang biasanya mengajakku berbicara banyak, sepertinya pagi ini tidak ada yang ingin ia tanyakan padaku. Pun para ART yang memang ikut makan bersama di meja makan, terdiam. Seingatku kemarin mereka bersenda gurau layaknya keluarga.
Aku sesekali tersenyum jika teringat lagi akan pergi ke konser BTS.
“Dinda?”
“Ya, Ummi?”
“Aydan berangkat!” ucap Mas dokter Taehyung, dia tiba-tiba langsung berdiri tanpa menghabiskan sarapannya. Dia mendekati Ummi Lailatul dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. Dia juga berpamitan dengan semua ART. Kecuali...
Kim Dinda. Dia melewatiku.
Aku hanya mengendikkan bahu, toh tiket konser sudah di tangan.
Setelah sarapan, Aku juga pamit untuk pulang karena ingin memberikan para embek makan.
Tapi betapa terkejutnya Aku saat melihat pagar rumah sudah terbuka, dan lebih mengejutkannya lagi Aira sudah duduk manis di teras rumah! Tapi Aku lega, itu berarti bukan pencuri yang masuk ke rumahku.
“Lo nggak pulang?” tanyaku.
Dia berdecak, “Enak aja! Baju gue beda ya dari yang semalam!”
Aku terkekeh, “Nggak ada bedanya, baju lo warnanya pink semua, cuma beda jenis pink-nya aja.”
“Gue nggak bisa lama, sebentar lagi gue mau berangkat.” kata Aira memberitahu.
“Jangan lupa oleh-oleh gue, Ra!” Aku mengingatkan janjinya.
“Iya iya gue inget!” jawabnya sewot, “Din, lo beneran udah jadian dengan Kim Taehyung kw?”
Ha?
Kenapa Aira pake bertanya tentang itu segala sih?
“Y-ya seperti yang lo lihat, Ra.” jawabku sama seperti semalam, “Oh iya, dia itu posesif banget. Kayaknya nggak bakal bertahan lama deh hubunganku sama dia.” ujarku, agar tidak ketahuan Aira bahwa Aku hanya ngaku-ngaku.
Ya siapa sangka, seolah alam sangat berpihak kepadaku untuk nonton konser gratis.
“Lo nggak boleh putus sama dia sampai waktu tiba konser!” kata Aira kejam.
Apa?
Itu masih sangatlah lama. Tiga bulan lagi! Aku harus mendekati manusia masker itu sampai tiga bukan kedepan?
Aku menegakkan punggung, “Loh Ra, nggak ada ya perjanjiannya kayak gitu?”
“Ada! Sekarang gue buat!”sahutnya semena-mena. Mentang-mentang dia yang punya duit.
“Lo tega Ra, lo mau lihat gue diposesifin sama cowok itu kayak semalam?”
“Bagus dong kalo punya pacar posesif, itu tandanya dia sayang sama lo!” Ada aja jawabannya si Aira mah!
“Kalau dia yang mutusin gue?”
“Lo harus mempertahankan hubungan kalian bagaimana pun caranya!” jawabnya enteng.
Ini beneran Aira sahabatku ‘kan? Kok dia tega...
Aku menepuk bahunya, “Ra, lo bercanda ‘kan?”
Dia menggeleng cepat, “Pokoknya di sana gue tunggu setiap kebersamaan kalian, Oke cintaku?” rayunya, dia melihat arloji pink di pergelangan tangan kanannya, “Gue pulang sekarang ya, Din. Khawatir nanti Papi sama Mami gue nyariin.”
“Lo nggak bilang kalau mau kemari?”
“Nggak, gue lupa.” jawabnya ringan, “Dah ya, dua jam lagi gue mau berangkat. Do'ain gue selamat sampai tujuan, begitu juga pulangnya. Gue bawa oleh-oleh buat lo soalnya.”
Kami berpelukan dan tertawa bersama setelahnya, dasar Aira!
Aku mengantar sahabatku itu sampai dia menghilang bersama sepeda listrik pink-nya.
Aku menghembuskan napas pelan, ternyata perjuangan untuk menonton konser belum berakhir.
\*
Hari ini Aku akan ke kantor lurah. Sebab tante Milka baru saja mengabarkan bahwa kartu keluarga milik Ummi Lailatul sudah selesai, terpaksa Aku harus ke sana untuk mengambilnya.
Beruntung tidak terlalu lama menunggu, setelah mendapatkan kertas itu Aku akan langsung mengantarkannya ke rumah Ummi Lailatul.
Wangi masakan seketika menusuk hidungku. Pantas saja, sekarang sudah jam sebelas siang.
Yang pertama kali Aku lihat adalah wanita paruh baya itu sedang menata makanan di wadah bekal.
“Assalamu'alaikum.” ucapku dari pintu belakang. Aku lewat belakang karena dari pintu depan tidak ada yang mendengar, ternyata semua sedang sibuk di dapur.
“Wa'alaikummussalam... ” jawab mereka serentak.
Ummi Lailatul langsung menghampiriku, “Kenapa lewat sini? Ayo masuk, Din.”
Aku hanya menjawab dengan senyum tipis, “Dinda mau mengantarkan kartu keluarga, Ummi.”
“Oh... Sudah selesai ya. Terima kasih ya, Dinda.” katanya lembut.
Kami berjalan beriringan menuju meja makan. “Ada yang bisa Dinda bantu nggak, Ummi? Tapi jujur Dinda nggak jago masaknya.” kataku jujur.
“Nggak perlu, kamu nggak perlu jago masak. Sudah banyak mbak yang bantu di sini.” jawab Ummi Lailatul. “Dinda mau makan sekarang?” tawarnya.
Aku menggeleng dan memegang perutku, “Dinda masih kenyang Ummi. Tadi jajan siomay di kantor lurah.”
“Kalau Dinda mau makan tinggal bilang sama Bibi atau Mbak ya?” ujar wanita paruh baya itu.
Aku hanya mengangguk sekali.
“Bi, mang Supri belum pulang ya?” tanya Ummi Lailatul kepada salah satu ART.
“Kayaknya belum, bu.”
Ummi Lailatul melihat jam di dinding, “Coba hubungi lagi mang Suprinya, mbak.” kata Ummi Lailatul kepada ART yang lebih muda.
ART itu menurut, dan langsung menghubungi mang Supri. “Katanya masih lagi ganti ban, Ummi.” infonya.
Ummi Lailatul lagi-lagi melihat jam.
“Kenapa, Ummi?” tanyaku.
“Ummi lagi nungguin mang Supri, mau nganterin makan siangnya Aydan.” jawab wanita paruh baya itu.
“Dinda aja yang antarkan, Ummi.”
\*\*\*
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo
double up dong😍