Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Luar Kota Yang Menyenangkan
Setyo nampak begitu uring-uringan sejak semalam. Ia tidak bisa tidur memikirkan Tasya yang tidak memberi kabar sama sekali padanya. Melihat keadaan Setyo, Siska mencoba untuk mendekatinya. "Mas, kenapa?"
"Tasya sejak semalam tidak memberi kabar dan tidak mau mengangkat teleponku, Sis. Aku tahu dia marah padaku tapi aku ini masih suaminya. Dia harus memberitahu bagaimana keadaannya di sana. Kalau seperti ini, aku jadi curiga padanya," kata Setyo dengan raut kesal.
"Mungkin Mbak Tasya sangat sibuk, Mas," kata Sisca mencoba menenangkan Setyo.
"Sibuk apa? Aku meneleponnya puluhan kali sejak kemarin malam tapi tak satupun ada yang dia angkat!" Setyo semakin emosi saja. "Sesibuk apa sih sampai tak sempat mengangkat teleponku?"
"Puluhan kali? Jangan bilang kalau Mas Setyo tidak tidur semalaman hanya demi menelepon Mbak Tasya?"
"Ya... begitulah. Mana bisa aku tidur saat Tasya pergi dalam keadaan seperti itu!"
"Ya ampun, Mas. Mas Setyo itu masih dalam masa pemulihan. Mas butuh banyak istirahat. Jangan memikirkan hal yang tidak penting. Ayo, aku bantu Mas ke kasur!" Siska mendorong kursi roda Setyo sampai ke tepi kasur lalu mengangkat tubuhnya.
Tubuh Setyo yang berat tak kuat diangkat oleh tubuh mungil Siska. Keduanya lalu terjatuh di atas kasur dengan posisi Siska berada di bawah tubuh Setyo. "Ma-maaf, Sis."
Setyo merasa tak enak hati pada Sisca yang berniat baik padanya. Setyo terdiam, posisi mereka saat ini begitu canggung. Sisca dengan Setyo hanya berjarak beberapa senti saja, Setyo bahkan bisa mencium harum parfum Sisca, vanila yang manis.
"Ma-maaf, Sis. Aku tidak bisa menjaga keseimbangan, mungkin karena aku begadang. Aku tidak bermaksud...." Setyo berusaha bangkit namun tubuhnya terasa lebih berat dan tenaganya tak ada karena sejak kemarin siang ia tak selera makan.
Setyo nampak kesulitan. Bukannya mendorong tubuh Setyo, Sisca malah tersenyum seraya perlahan tangannya melingkar di leher Setyo, menahan Setyo agar tetap berada di posisinya saat ini. "Tak apa, Mas. Aku tahu Mas tidak sengaja melakukannya."
"Si...s, kayaknya tubuhku terlalu berat. Aku akan coba lagi ya-"
"Tak apa, Mas," potong Sisca. "Tak masalah bagiku. Pelan-pelan saja."
Setyo menangkap nada yang berbeda dalam ucapan Sisca. Ia dan Sisca saling bertatapan. Jantung Setyo berdegup kencang. Sisca nampak cantik sekali malam ini. Bibirnya yang memakai lipstik pink glossy nampak menggoda imannya, begitu penuh dan sensual. Setyo merasakan sesuatu yang berbeda dari tatapan Sisca, seakan dirinya begitu diharapkan. Hal yang sudah lama tidak Setyo lihat dari Tasya.
Tangan Sisca lalu membelai wajah Setyo. "Lingkaran di bawah mata Mas Setyo agak hitam. Mas pasti semalaman memikirkan Mbak Tasya ya? Kasihan."
Teringat Tasya yang tidak mengabarinya semalaman membuat Setyo kembali kesal. "Dia sungguh tak menganggapku suaminya, Sis. Dia tak peduli kalau aku mengkhawatirkannya."
"Yang sabar ya, Mas." Sisca kembali membelai wajah Setyo. "Mbak Tasya sungguh tidak bisa melihat mana yang benar menyayanginya. Aku iri melihat Mas Setyo amat menyayangi Mbak Tasya. Andai aku memiliki keberuntungan seperti itu...."
Setyo kembali menangkap sesuatu yang berbeda dalam ucapan dan tatapan Sisca. Wanita yang kini berada di bawah tubuhnya seolah begitu memuja dan menginginkannya. Setyo menyadari, ada sesuatu yang terbangun di bagian bawah dirinya, sesuatu yang sejak kecelakaan selalu lemas dan seolah tertidur lelap.
Sisca juga menyadari hal tersebut. Ia berhasil memancing hasrat lelaki Setyo. Posisi mereka saat ini memang sangat dekat. Sisca ingin memanfaatkan momen ini. Ia bersiap hendak mencium Setyo ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar.
"Ups, kayaknya Ibu tidak tepat ya datangnya?" Ibu Welas terkejut mendapati Setyo sedang berada di atas tubuh Sisca, posisi yang ambigu. Bukannya marah, ia malah senang melihat hubungan Setyo dan Sisca semakin dekat. "Maaf ya kalau Ibu ganggu."
"Tidak, Bu. Ibu salah paham!" Setyo menahan langkah Ibu Welas yang ingin keluar kamar dan memberikan waktu Setyo berduaan dengan Sisca.
"Iya, Tante. Ini salah paham." Sisca mengikuti Setyo. Ia tak mau terlalu terburu-buru dalam bertindak.
"Tadi Sisca membantuku ke kasur tapi kakiku lemas lalu aku jatuh seperti ini." Setyo sekuat tenaga menjauhkan tubuhnya dari Sisca. "Maaf ya, Sis, kamu pasti berat menahan tubuhku."
Sisca segera duduk, wajahnya memerah menahan malu. Ia menyesal tadi tidak mengunci pintu. "Tak apa, Mas. Mas Setyo juga tidak sengaja."
"Baik sekali sih kamu ini, Sis. Kamu merawat Setyo dengan tulus di saat istrinya yang tidak bertanggung jawab itu pergi." Ibu Welas melirik sarapan yang Sisca bawa. "Dia bahkan membuatkan kamu bubur loh, Yo. Kurang apa Sisca ini? Cantik, pintar dan perhatian. Cocok sekali jadi menantu di keluarga ini."
"Tante, jangan begitu ah. Masih ada Mbak Tasya, istri Mas Setyo. Tak enak kalau ada yang mendengarnya, nanti dipikirnya aku ini perusak rumah tangga orang," kata Sisca malu-malu, padahal dalam hatinya bersorak gembira karena Ibu Welas semakin mendukung hubungannya dengan Setyo.
Setyo tak berkomentar apa-apa. Ia melirik semangkuk bubur ayam buatan Sisca, nampak lezat dan masih hangat. "Sis, bisa tolong suapi aku buburnya?"
.
.
.
Tasya dan Radit bertemu di depan kamar mereka masing-masing. Radit kembali sebentar ke kamarnya untuk bersiap-siap meeting hari ini. Ia mengenakan setelan jas mahal dan nampak sangat tampan.
"Sudah siap?" Radit tersenyum lebar.
"Tentu." Tasya balas tersenyum. Ia mengenakan blazer dan celana panjang, nampak formal dan cantik. Mereka lalu pergi ke tempat klien.
Di dalam lift yang berisi beberapa orang, Radit dan Tasya berdiri di bagian paling belakang. Secara tak terduga, Radit melingkarkan tangannya di pinggang Tasya. Tasya terkejut, ia langsung menatap Radit dan bicara tanpa suara. "Nanti ada yang lihat!"
Radit tersenyum mengejek. "Biarkan saja," balas Radit, tanpa suara juga.
"Nakal!" balas Tasya.
"Kamu cantik banget sih. Aku tak tahan," balas Radit. Keduanya lalu tersipu malu.
Keluar dari lift, Radit dan Tasya kembali bersikap profesional. Meeting diadakan di ruang meeting, sudah ada beberapa perwakilan perusahaan yang datang. Tasya duduk di seberang Radit, bersiap untuk presentasi.
Tasya nampak begitu lugas dan lancar menyampaikan presentasi di depan semua orang. Tasya menguasai materi dan mampu menjawab pertanyaan yang diajukan dan memberikan jawaban yang memuaskan padahal mereka baru mempelajari materinya sebentar.
Radit menatap Tasya dengan tatapan kagum. Ia memberi kode yang hanya dirinya dan Tasya yang tahu, bahasa hati namanya. Tasya sempat tersenyum kecil membalas Radit tanpa ada yang menyadarinya.
Meeting yang biasanya selalu membosankan, kini tidak lagi bagi Radit. Ia begitu bersemangat menjalani tugas luar kota-nya berkat Tasya. Di saat Radit dan anggota meeting lain sedang berdiskusi, Tasya pamit keluar ruang meeting. Ponselnya terus bergetar sejak semalam, terpaksa harus ia angkat.
"Mas Setyo Calling."
Tasya menghela nafas dalam. Dengan terpaksa, ia menggulir tombol hijau dan menjawab panggilan yang masuk.
"Ada apa, Mas?"
****
huhhh emaknya setyo pngen tak jitak
dari dulu keluarga Kusumadewa anggota keluarganya pada sengklek 🤣 tapi aku suka, keliatan nya jadi hangat ..antara anak dan ortu gak ada jaim nya 🤣