NOVEL SEDANG DIREVISI
Karena keterpaksaan mertua, Siska harus menjalani tekanan batin yang luar biasa,
namanya Fransiska Damayanti usia 33 tahun sementara suaminya bernama Arya Praptama berusia 35 tahun.
Selama 10 tahun Siska menjalani rumah tangganya bersama suaminya, namun belum dikaruniai anak, hingga akhirnya Siska memutuskan untuk menikahkan suaminya bersama gadis belia berusia 17 tahun yang bernama Dinda Kinara. Dinda adalah gadis yatim piatu yang tinggal disebuah desa terpencil, keterbatasan ekonomi mengharuskan Dinda menjadi tulang punggung keluarga, hingga akhirnya ia mendapatkan tawaran dari Siska untuk menjadi istri kontrak selama satu tahun sampai ia memiliki anak.
Yang penasaran bisa ikuti cerita ini langsung dibawah ini yah, sebelum membaca saya berharap kepada teman readers agar bersabar dan berlapang dada dalam membaca ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isna Putri Tarimakase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan terakhir Siska
Semenjak Arya pulang dari luar kota, selepas pulang kantor ia lebih suka bersama Ardika dan sering membawa Ardika ke kamar Dinda walau hanya sekedar bermain-main sambil mengingat kenangannya bersama Dinda.
"Maafkan papa Ardika, papa belum bisa membawa mamamu pulang, soalnya mamamu itu orangnya keras kepala, hehehe" kata Arya terkekeh sendiri sambil menatap wajah Ardika yang lucu itu.
Sementara Siska hanya bisa mengintip dari balik pintu kamar Dinda, melihat Arya dan Ardika bersama menantikan orang yang mereka sayangi , Siskapun semakin tak tega menyakiti batin suaminya bersama Ardika yang harus terpisah jauh dari orang terpenting dalam hidup mereka yaitu Dinda.
"Maafin aku mas, gara-gara kontrak itu kamu dan Ardika harus tersiksa jauh dari Dinda" batin Siska merasa sedih.
***
Malam hari saat Siska sedang duduk memeluk Ardika, ia merasakan tubuhnya mulai lemah, ia tak mampu lagi menggendong Ardika lebih lama, setiap malam ia selalu bermimpi kedatangan orang-orang yang tidak ia kenal, mengajaknya untuk pergi, entah itu filling yang mungkin waktunya semakin dekat membuat Siska semakin memasrahkan dirinya kepada sang pencipta , bila akhirnya ia harus pergi meninggalkan orang-orang yang ia sayangi, setiap malam setelah Ardika dan Arya sudah tertidur lelap, Diam-diam Siska selalu melakukan shalat malam untuk menenangkan hatinya, dan selesai shalat malam ia duduk di kursi kerjanya mencurahkan segala isi hatinya didalam notebook miliknya sambil menangis, dan sesekali melirik kearah Arya dan Ardika.
***
Suatu ketika saat Siska dan Arya sedang duduk bersama bersandar diatas ranjang, Siska mulai berbicara mengutarakan segala keinginan terakhirnya kepada Arya.
"Mas" panggil Siska dengan nada lembut.
"Iya sayang" sahut Arya sambil menatap langit-langit kamar mereka.
"Tidak terasa kita sudah 12 tahun bersama mas, dan Alhamdulillah kini engkau telah mempunyai anak mas, meskipun itu bukan dari rahimku,"
"Iya sayang, Alhamdulillah semenjak ada Ardika, hidupku lebih berubah, aku lebih bahagia sekarang, karena kita bisa punya anak juga,"
"Iya Alhamdulillah mas,"
Sejenak Siska terdiam kemudian melanjutkan bicaranya.
"Mas bolehkah aku meminta sesuatu padamu, untuk terakhir kalinya"
"Apa itu sayang?"
"Selama tujuh hari ini aku ingin mengenang masa-masa pernikahan kita dulu mas,"
"Iya terus,"
"Bisakah kamu mengingatkan aku hal-hal yang pernah kita lewati selama 7 malam pertama itu mas"
Sejenak Arya terdiam lalu mengingat semuanya
🌺🌺🌺
FLASH BACK cerita 7 malam pertama Arya dan Siska
Saat tiga malam pertama, waktu itu adalah hari yang paling bahagia antara Arya dan Siska, Arya selalu menaburi bunga-bunga diatas tempat tidur, ia tidak mau melewatkan moment malam pertamanya bersama Siska. Arya selalu memberikan keromantisan kepada Siska, agar Siska selalu merasakan bahagia.
Saat tiga malam berikutnya, Arya selalu menyiapkan Dinner didalam kamar bersama Siska, ia selalu menyuapkan dessert untuk Siska, apalagi saat Siska hamil ia paling senang dengan yang rasa manis-manis.
Saat malam terakhir Arya memberikan bunga kepasa Siska, sebagai penutupan tujuh malam pertamanya. Dan sebelum tidur kebiasaan Arya adalah mencium dan mengecup kening Siska.
🌺🌺🌺
"Kenapa kamu ingin mengenang tujuh malam pertama kita Siska?" tanya Arya sambil menoleh kearah Siska yang berada disampingnya itu.
"Aku hanya rindu saja mas, aku ingin merasakan saat-saat itu," jawab Siska sambil tersenyum lembut menatap Arya.
Sejenak Arya menarik napasnya lalu memiringkan tubuhnya menghadap Siska.
"Baiklah, kalau itu maumu, besok akan aku lakukan untukmu Siska,"
"Yang benar mas?" tanya Siska tidak percaya
"Iya sayang," sahut Arya meraih tangan Siska lalu menggenggamnya dengan erat.
"Alhamdulillah terima kasih yah mas" ucap Siska merasa bahagia. iapun langsung memeluk Arya dengan erat, sementara Arya hanya bisa memeluk istri yang sangat ia cintai itu.
***
Selama enam hari berturut-turut Arya mulai melakukannya sama seperti saat tujuh hari malam pertamanya bersama Siska, Aryapun merasa bahagia jika mengenang saat-saat itu, ia selalu tersenyum dan tertawa bersama Siska, keharmonisan rumah tangga mereka semakin kuat setelah melewati masa-masa yang indah itu, namun tidak dengan Siska yang mulai merasakan sedih dihatinya saat-saat terakhir bersama suami yang ia cintai itu, ia tak mampu lagi membayangkan bagaimana jika suatu saat ia pergi meninggalkan Arya bersama Ardika, meninggalkan suami yang selalu setia mendampinginya selama 12 tahun itu.
----
Pada hari ke tujuh Siska nekad untuk melakukan rencananya yaitu dengan menjemput Dinda ke kampung, ia sudah yakin pada dirinya, karena ia juga merasa lemah pada tubuhnya semakin membuat Siska takut kalau ia takkan sempat menyatukan Dinda bersama Arya.
Pagi-pagi sekali Siska sudah bersiap pergi untuk menjemput Dinda, ia tak memberitahu Arya kalau ia akan pergi kerumah Dinda hari ini, perlahan Siska menatap wajah Arya yang masih tertidur pulas diatas tempat tidur,
"Maafkan aku mas, aku harus pergi menjemput Dinda, ini semua aku lakukan demi kamu juga," batin Siska, merasa sedih karena tak sanggup menghadapi semuanya. Ia berusaha menegarkan hatinya agar selalu mengikhlaskan semuanya.
Siskapun pergi ke box Ardika untuk memeluk sekaligus mencium Ardika sebelum ia berangkat. Setelah Siska mencium dan memeluk Ardika, Siska menitip Ardika kepada babysitter yang sudah sejak lama mengurus Ardika. Perlahan Siska berjalan keluar dari rumahnya lalu menaiki mobil dan menyuruh pak joko untuk mengantarkannya ke kampung halaman Dinda.
Bersambung..