Aisyah Huriyya Atmaja, gadis cantik keturunan ningrat dari Jogjakarta yang memutuskan untuk kuliah di Jakarta. Memiliki kisah cinta masa kecil dengan seorang putra kyai pemilik pondok pesantren yang terus terbawa hingga ia dewasa. Mempunyai impian untuk bisa mengunjungi Tajmahal di India.
Hamzah Alghazali, seorang pemuda gagah penuh kharisma, yang baru saja lulus dari Al-Ahzar, Mesir. Dia adalah putra sulung seorang Kyai pemilik sebuah pondok pesantren yang terkemuka di Jogjakarta.
Dengan demikian, dia lah penerus ayahanda nya kelak.
William Stevan Ballard, pria Indo-Jerman yang baru saja menyelesaikan sekolah bisnis nya di Canada, dan kembali ke Indonesia untuk menjadi Presdir muda di sebuah perusahaan executive di Jakarta milik Ayahnya.
mempunyai motto hidup :
One Life - One Wife.
Kisah antara Aisyah dan Hamzah nyaris sempurna.
Tapi kehadiran William ternyata mengubah segalanya.
Bagimanakah kisah mereka bertiga??
Siapakah yang akhirnya menjadi takdir cinta Aisyah??
Ayat Cinta Aisyah, kisah cinta yang menggugah jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohana Kadirman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seindah Mawar Merah
William membukakan pintu mobilnya untukku. Pintu depan di sisi kemudi. Aku melangkah dengan sedikit ragu.
"Jika kau duduk di belakang, maka kau menempatkanku seperti seorang sopir taksi." Ucap William yang melihatku sedikit ragu. "Naiklah."
Aku masuk ke dalam mobil, William kembali menutup pintu, lalu berjalan memutar dan masuk ke mobil.
Setelah duduk di kursinya, William menoleh ke arahku. Memperhatikanku. Tiba-tiba saja ia sedikit membungkuk ke arahku dan mengulurkan tangannya ke arah pinggangku.
Aku terkejut dan serta merta beringsut ke samping, ke sisi pintu mobil.
"Apa yang akan kau lakukan padaku?!!" Aku membentaknya dengan nada sedikit kasar.
William mengurungkan niatnya. Ia kembali duduk tegak di kursinya, dan menatap lurus ke depan.
"Pakai sabuk pengamanmu." Ucapnya dingin. Kemudian ia menyalakan mesin mobil.
"Oh...!!" Aku tersentak. Sekarang aku tahu, apa yang tadi akan di lakukan William saat membungkuk ke arahku. Dia mau meraih sabuk pengamanku, dan memakaikannya untukku.
Aku buru-buru meraih sabuk pengaman dan mengenakannya.
William mulai menjalankan mobilnya.
Perlahan, mobil bergerak meninggalkan halaman rumah megah milik keluarga Mr. Ballard.
"Uhuk... Uhuk..." Tiba-tiba saja aku terbatuk. Udara di dalam mobil William terlalu dingin. Mungkin karena William menyetel AC mobilnya terlalu rendah.
"Kau kedinginan?" William menoleh ke arahku sebentar. Lalu tangan kirinya menekan tombol AC mobil, menaikkan suhunya agar tidak terlalu dingin.
Aku tidak menjawab pertanyaan William. Aku memilih diam dan membuang muka ke arah sisi jendela di sebelahku.
Lalu lintas jalanan kota Jakarta padat merayap, membuat mobil terasa jalan begitu lambat.
"Hai Aisyah, sepertinya kau sangat suka menatap melalui jendela." William berusaha membuka percakapan denganku. Karena di dalam mobil memang sepi, kami berdua hanya saling berdiam diri.
Entah mengapa aku tiba-tiba dengan teringat dengan mimpi burukku beberapa waktu lalu. Mimpi buruk tentang William, yang pada saat itu kami berdua sama sekali belum saling mengenal. Sebenarnya, saat ini pun aku dan William belum saling kenal. Kami berdua hanya saling mengenal nama. Aku tahu nama William dari Julia, dan sebaliknya, William pun tahu namaku dari Julia. Kami berdua, tak pernah saling berkenalan secara langsung.
Bagiku, William adalah orang asing. Lalu sekarang, aku harus berada di dalam mobil orang asing ini. Berdua saja dengannya.
"Hei, apa kau takut padaku?" Tanya William.
"Apa, takut? tentu saja tidak. Wajahmu tidak menyeramkan. Ha ha ha." Aku berusaha mencairkan suasana beku yang begitu terasa di dalam mobil ini. Aku memaksa diri untuk pura-pura tertawa.
"Ha ha ha. Ku pikir kau melihat wajahku seperti hantu, karena kau terus membuang muka." William ikut tertawa.
Benar saja, atmosfir di dalam mobil ini terasa sedikit mencair.
Dan ngomong-ngomong soal wajah William. Tentu saja dia sama sekali tak terlihat seperti hantu. Justru sebaliknya. William dengan wajah blasterannya, mata coklat, kulit putih, postur tubuh tinggi. Hmm... Bisa jadi bagi sebagian kaum hawa yang mengenalnya, William akan menjadi hantu yang menghantuinya. Bukan karena seram, tapi karena di hantui ketampanannya.
Ups! Tentu saja itu bukan diriku.
"Julia bilang, kau berasal dari Jogja." William kembali memancing percakapan di antara kami.
"Ya, aku dari Jogja." Sahutku datar.
"Jogja kota yang sangat indah. Sejuk dan eksotic." Ucap William.
"Kau pernah kesana?" Tanyaku.
"Ya, beberapa waktu lalu aku dari Jogja. Melancong dengan teman-temanku."
"Oh..."
"Hei Will, ku harap kau tak lupa, di depan itu lorong menuju Asrama Nadira." Aku mengingatkan William, karena lorong menuju Asrama Nadira memang sudah terlihat di depan.
"Tenang saja, aku bahkan lebih mengingatnya di bandingkan dirimu. Aku sudah sering kesini sejak kecil. Itu adalah rumah bibiku, yang dulunya tentu saja adalah rumah engkong ku."
Benar, sepertinya aku lupa, Ibu Nadira adalah bibi William. Tentu saja dia lebih tahu jalanan ini di bandingkan denganku.
William membelokkan mobilnya memasuk lorong, dan beberapa saat kemudian, kami sudah sampai di halaman Asrama Nadira. Kali ini William memasukkan mobilnya ke halaman, tidak seperti saat pertama kali dulu ia mengantarku pulang, ia hanya berhenti di luar gerbang.
William turun dari mobil, aku juga langsung buru-buru turun, tak ingin aku jika William kembali yang membukakan pintu untukku.
Aku membuka sabuk pengaman, lalu segera membuka pintu mobil.
"Duk! Auuww...!" Pintu mobil yang kubuka menabrak sesuatu. Dan terdengar teriakan William mengaduh kesakitan.
Aku keluar dari dalam mobil dan segera tahu apa yang terjadi. Ternyata William sudah ada di sisi pintu mobilku, sepertinya dia berniat untuk membukakan pintu mobil untukku.
"Ternyata tenagamu cukup kuat Aisyah." Ucap William sambil tersenyum meringis. Ia mengusap-usap lengan kanannya dengan tangan kirinya.
"Oh, apakah aku mengenaimu?? Maaf. Maafkan aku. Aku tidak tahu jika ternyata kau..."
"Its okay!" William memotong kalimatku.
"Hmm... Maafkan aku Will, dan terimakasih sudah mengantarkanku pulang."
"Ya... Sama-sama. Aku hanya menjalankan tugasku dari Bibi Nadira."
"Sebaiknya aku masuk sekarang." Aku menganggukkan kepala kepada William, dan berbalik untuk masuk ke dalam asrama.
"Aisyah... Wait just a moment." Ucap William cepet sebelum aku sempat melangkahkan kaki.
Aku kembali membalikkan badan, menatap William.
William berlari ke belakang mobilnya. Tiga puluh detik kemudian, ia kembali dan berjalan menghampiriku. Lengan kirinya memeluk satu buket bunga yang cukup besar.
Aku mengerenyitkan alis, heran.
Kenapa William membawa buket bunga? Dia mau memberikannya untuk siapa?
"Emmm... Kita berdua sudah saling mengenal satu sama lain. Tapi sebenarnya kita belum pernah benar-benar saling memperkenalkan diri masing-masing..." William menghentikan kalimatnya sejenak.
"Kenalkan, aku William." William memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan denganku.
Aku menatap tangan William yang menggantung di udara.
Haruskan aku menerima uluran tangannya??
"Emmm...." Aku pura-pura mengusap kedua lenganku, dengan bersedekap seperti orang kedinginan. Jujur saja, entah mengapa rasanya tiba-tiba aku jadi salah tingkah.
"Oh ya ya ya... I understand." William menarik tangan kanannya kembali.
"Kalau begitu, ini terimalah." William memberikan buket bunga mawarnya kepadaku dengan kedua tangannya.
"Untukku??"
"Ya, tentu saja untukmu Aisyah. Anggap saja ini sebagai hadiah perkenalan kita."
Aku menerima buket bunga itu dari tangan William. Mawar merah. Bunga yang sangat special untukku. Aroma wanginya yang eksotic tak bisa ku tahan. Ku peluk buket bunga mawar itu dengan kedua lenganku, lalu ku dekatkan wajahku. Ku cium, dan ku hirup wanginya sambil memejamkan mata.
I love it. Love. Love. Love.
Aku membuka mata dan tersenyum ke arah William.
"Aku Aisyah. Namaku adalah Aisyah. Terimakasih hadiahnya. Aku menyukainya Will."
William tersenyum. "Sekarang, naiklah ke kamarmu. Di luar terlalu dingin. Kau bisa sakit."
Aku menganggukkan kepala, berbalik, dan melangkah masuk ke dalam asrama.
***
Setelah Aisyah masuk ke dalam asrama, William pun masuk ke dalam mobilnya.
Aisyah... Semakin lama menatapnya, semakin aku merasa terpikat pesonanya. Dia begitu indah. Seindah mawar merah.
William memacu mobilnya dengan perasaan bahagia.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
❤️Rohana Kadirman❤️
maaf Thor baru balik dukung karya 🙏🙏