Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Undangan
Dari jarak yang tak begitu jauh dengan Davin dan Alvian berada, Pak Lurah Aris memperhatikan interaksi mereka.
"Pantas saja Dahlia begitu tergila-gila padanya. Dia memang sosok pemuda yang menawan," gumamnya dalam hati.
Pria paruh baya itu tersenyum tipis, seakan merencanakan sesuatu. "Sepertinya tidak ada salahnya jika aku mencoba menjodohkannya dengan Dahlia. Aku yakin, dia bukan dokter biasa, tapi ada sesuatu yang tersembunyi. Jika tidak, mana mungkin dia sangat percaya diri, bahkan sekelas Bapak Bupati saja begitu respek padanya."
"Lagipula jika dokter itu berjodoh dengan Dahlia bukankah mereka akan menjadi pasangan yang serasi? Yang satu dokter, satunya bidan," batinnya, dengan pandangan menerawang.
"Dengan begitu derajat keluargaku semakin terangkat," tambahnya penuh perhitungan. Senyum licik tersungging di bibirnya.
Dan senyum Pak Aris makin lebar, kala benaknya terus sibuk berkhayal dengan pikirannya sendiri. Padahal rencananya itu apakah bisa terwujud atau tidak , karena Davin tak menyukai wanita agresif. Dia tipe pria yang suka mengejar dan tidak suka dikejar, mengingat pengalaman sebelumnya dengan Renata.
Di sisi lain, Davin kini tampak terlibat obrolan serius dengan Pak Bupati juga Pak Camat beserta jajarannya, entah apa yang mereka bicarakan. Namun, yang menarik, Davin sama sekali tak meninggalkan Alvian sedikitpun. Bocah lelaki itu duduk tenang di sampingnya. Bahkan tangan kiri Davin, tetap memegang pegangan dorongan kursi roda agar Alvian tak pergi darinya. (Hmmm...segitu sayangnya dia sama calon adik iparnya ya, pemirsa...)
Setelah makan siang bersama, rombongan Pak Bupati dan Pak Camat meninggalkan tempat tersebut. Namun, ketika Davin mendorong kursi roda Alvian hendak meninggalkan tempat itu juga, Pak Lurah Aris datang dengan senyum yang terkesan dibuat-buat. Sebagai seorang dokter yang tentu saja pernah mengenyam ilmu psikologi, tentunya dia tahu mana senyum yang tulus dan hanya berpura-pura. Apalagi setelah kasus Renata, dirinya seolah semakin waspada terhadap orang-orang yang mendekatinya dengan maksud tertentu. Dan dia bisa membaca itu dari raut wajah Pak Lurah Aris.
"Selamat siang, Dokter Davin," sapanya dengan gaya sok berwibawa. "Bisa kita bicara berdua sebentar?"
"Selamat siang, Pak. Maaf, ada apa ya, Anda ingin berbicara dengan saya?" tanya Davin sambil mengangkat sebelah alisnya.
Pak Lurah Aris tampak ragu, dia melirik ke arah Alvian seolah merasa keberatan dengan keberadaan bocah lelaki itu. Davin pun menyadari akan hal itu.
"Silakan, jika ada yang ingin Anda sampaikan. Saya akan mendengarkannya. Tapi maaf, saya tidak bisa meninggalkannya, karena dia adalah tanggungjawab saya," jawab tegas Davin.
"Si*al! Kenapa dia begitu melindungi anak ini, sih? Sebenarnya ada hubungan apa mereka?" tanya Pak Lurah Aris dalam hati.
"Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Hanya Dahlia yang boleh menjadi pendamping Dokter Davin, bukan gadis miskin itu. Aku tidak akan rela!" gumamnya penuh tekad.
Akhirnya dengan terpaksa pria paruh baya itu pun membuka suara. "Begini, Dok. Saya mengundang Anda nanti malam untuk makan malam di rumah saya. Apa Anda bersedia?"
Sejenak kening Davin berkerut, netranya menatap Pak Lurah Aris serius. "Tapi saya tidak janji, Pak. Sebab, saya sudah ada janji dengan seseorang sebelumnya," tolaknya secara halus.
"Tolonglah, Dok. Hari ini adalah ulangtahun putri kami Dahlia. Dia ingin mengundang Dokter Davin untuk berkenan hadir di hari istimewanya tersebut," mohon Pak Lurah sedikit memaksa.
"Maaf, Pak Lurah. Saya bukan orang yang bisa seenaknya mengingkari janji yang sudah saya buat sebelumnya dengan seseorang. Permisi."
Davin lantas mendorong kursi roda Alvian, tetapi kemudian langkah kakinya terhenti kala mendengar ucapan Pak Lurah Aris. Tangannya bahkan mencengkeram pegangan kursi roda dengan sangat erat.
"Apakah janji Anda dengan gadis miskin itu lebih penting dari menghadiri undangan seorang lurah di desa ini, Dok?" tanya Pak Lurah Aris, nada bicaranya sedikit menantang.
Davin menolehkan wajahnya menatap dingin ke arah Pak Lurah Aris. Dia lantas tersenyum miring. " Undangan Anda bukan atas nama lurah, melainkan sebagai seorang ayah yang memaksa seseorang demi kebahagiaan anaknya," ujarnya dengan tenang, tetapi sarat makna.
"Apa itu salah? Jika seorang ayah ingin kebahagiaan untuk anaknya?" Pak Lurah Aris, mencoba membela diri.
"Lalu, apa salah jika saya juga menolak undangan Anda?" ujar Davin. Netranya tak lepas menatap Pak Lurah Aris.
"Perlu saya tekankan, bahwa saya tidak suka dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak saya sukai. Bahkan orangtua saya saja tidak pernah memaksakan kehendaknya pada saya, lantas kenapa Anda seolah memaksa saya untuk hadir memenuhi undangan Anda?" lanjutnya, nada suaranya terdengar sedikit kesal.
"Saya berhak menolak jika saya merasa tidak nyaman." Davin menutup pembicaraan dengan nada tegas.
Lalu dia mendorong kursi roda Alvian meninggalkan tempat itu. Menyisakan Pak Lurah Aris yang menatapnya dengan pandangan tak terbaca.
"Aahh...kurang ajar!" umpatnya dengan suara tertahan. "Ternyata dia pemuda yang sangat sombong!"
.
"Apa Kak Davin akan tetap datang ke rumah Pak Lurah?" tanya Alvian tiba-tiba, setelah dari tadi hanya diam menyimak pembicaraan dua orang dewasa tersebut.
"Ya nggak, dong," jawab Davin tegas. "Memangnya Vian mau kakak datang ke sana?"
Alvian menggeleng ribut. Rambutnya yang lurus jatuh, bergoyang ke kiri dan ke kanan. "Nggak, Kak!" jawabnya cepat.
Davin tersenyum, sebuah ide melintas di benaknya. Dia lantas berjongkok di sisi kursi roda menyamakan tingginya dengan Alvian.
"Nah, Vian tahu sendiri, kan? Yang suka sama kakak itu banyak, jadi tugas Vian adalah bagaimana caranya membujuk Kak Mel agar menerima kakak menjadi suaminya, kalau perlu," ujar Davin, menatap Alvian penuh harap.
"Vian nggak mau kan, kalau kakak nikahnya sama wanita lain?" tanyanya, nada suaranya sedikit memelas.
"Nggak, Kak. Vian maunya cuma Kak Davin yang menjadi suami Kak Mel!" jawab Alvian dengan mantap, netra kecilnya berbinar penuh keyakinan.
"Anak baik!" Davin berdiri, tangannya mengusap lembut kepala Alvian, lalu melanjutkan perjalanan.
.
Malam harinya, di rumah Melodi, kakak beradik itu sedang menikmati makan malam dengan menu sederhana. Tumis kangkung, tempe goreng dan telur dadar. Namun, sangat nikmat jika kita menikmatinya dengan rasa syukur. Begitu pun dengan mereka berdua tampak sangat lahap.
"Bagaimana tadi acara peresmiannya, lancar nggak?" tanya Melodi tiba-tiba.
Alvian langsung berhenti mengunyah. Seketika bocah lelaki itu teringat kata-kata Davin.
"Lancar, Kak," jawabnya, kemudian buru-buru mengunyah makanannya kembali.
"Kakak tahu, nggak...?" Ucapan Alvian terpotong
"Ya, nggak tahulah. Kan, kakak nggak lihat," potong Melodi cepat sambil tersenyum jahil.
"Iiih... Kak Mel, Vian serius tahu! Ini tentang Kak Davin!" seru Alvian.
Melodi langsung bungkam dan mendengarkan dengan serius. "Terus?" tanyanya.
"Tadi Kak Davin hampir ribut sama Pak Lurah. Soalnya Pak Lurah kayak maksa gitu, meminta Kak Davin datang ke rumahnya. Katanya sih, Kak Davin diundang untuk datang ke ulangtahunnya Bu Bidan." Alvian bercerita dengan semangat.
"Lalu...?" tanya Melodi lagi, merasa penasaran.
"Nggak tahu, deh. Tapi Kak Davin bilang sama Vian, 'Vian nggak mau kan, kalau Kak Davin nikahnya sama wanita lain?' begitu, Kak," lanjut Alvian, menirukan gaya Davin berbicara.
Melodi terdiam mencoba mencerna kata-kata adiknya. Ia menghela napas dalam. "Apakah ini saatnya aku harus mengambil keputusan?"
.
Mohon pengertiannya untuk tidak menumpuk bab ya, gaes. Usahakan membaca sampai bab update.
tidak akan tinggal diam mengenai hal ini.
tak bukan taj mom typo nih
Gagal rencanamu Renata dan semoga Davin melaporkan hal ini ke manajemen rumah sakit, biar Renata kena sanksi dan berharap dikeluarkan