not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,
cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska
ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Melihat Al dan Rezky yang nyaris terlibat adu fisik, Ayana menarik napas dalam-dalam. Rasa takut yang sedari tadi melumpuhkannya mendadak luruh, digantikan oleh naluri seorang ibu yang ingin melindungi dunianya.
Ayana melangkah maju, melewati Al, dan berdiri tepat di hadapan Rezky. Ia berdiri tegak, menatap langsung ke mata pria yang baru saja menghirup udara bebas itu tanpa sedikit pun keraguan.
"Cukup, Rezky! Berhenti berteriak di rumah ini!" suara Ayana bergetar, bukan karena takut, tapi karena ketegasan yang luar biasa.
Rezky tertegun, langkahnya terhenti. Ia tidak menyangka Ayana yang dulu rapuh kini bisa menatapnya setajam itu.
"Kamu bilang kamu datang untuk mengambil hakmu? Hak sebagai apa, Rezky?" tanya Ayana pedas. "Selama kamu di penjara, siapa yang memeluk Reva saat dia mimpi buruk? Siapa yang mengobati lukanya? Bukan kamu. Al yang melakukannya. Al yang menjadi ayah saat kamu tidak ada."
Ayana menunjuk ke arah Reva yang sedang mendekap erat Alana Aurora Azalea. "Lihat mereka. Alana adalah anak perempuan berharga yang lahir untuk menyatukan kami. Dia bersinar seperti fajar yang menghapus kegelapan masa lalu kita, dan dia tumbuh seindah bunga karena kasih sayang yang ada di rumah ini. Kamu ingin merusak itu semua hanya karena ego?"
Rezky mencoba menyela, namun Ayana memotongnya dengan telak. "Kalau kamu benar-benar sayang Reva, kamu tidak akan menyeretnya pergi dengan amarah seperti ini. Kamu hanya akan membuatnya trauma.
Pulanglah, Rezky. Selesaikan urusan hukummu, perbaiki dirimu sendiri sebelum kamu berani menyebut dirimu seorang ayah."
Suasana mendadak hening. Keberanian Ayana membuat Rezky kehilangan kata-kata.
Di sudut ruangan, cahaya matahari sore menyinari Alana yang masih memeluk kaki kakaknya, seolah keberadaan bayi itu memang benar-benar menjadi titik balik yang menenangkan badai di rumah mereka.
Suasana di teras semakin panas. Rezky yang baru menghirup udara bebas tampak kehilangan kendali diri. Ia tidak peduli pada siapa pun yang menghalanginya, matanya hanya tertuju pada Reva.
"Minggir, Al! Ayana! Aku datang untuk mengambil Reva!" teriak Rezky beringas.
Mendengar keributan itu, Mama Al dan Papa Al berlari keluar dari dalam rumah. Wajah mereka memucat saat melihat sosok yang sangat mereka kenal berdiri di sana dengan amarah yang meluap.
"Rezky?! Kamu... kamu sudah keluar?" suara Mama Al bergetar, teringat masa lalu kelam saat Rezky masih menjadi menantunya. Ia segera berdiri di samping Ayana, mencoba melindungi cucu-cucunya.
Papa Al melangkah maju dengan wibawa, berdiri tegap di samping Al. "Rezky, sadarlah! Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu baru saja bebas, jangan buat masalah lagi yang bisa menjebloskanmu kembali ke penjara!"
Namun, Rezky tidak mendengarkan. Ia mencoba merangsek maju untuk menarik tangan Reva. Di saat kritis itu, Reva yang ketakutan mencoba mundur, dan di belakangnya berdiri Alana . Meski masih kecil, Alana berdiri tegak dengan tangan mungilnya memegang baju kakaknya, seolah menjadi tiang penyangga bagi Reva.
Alana menatap Rezky dengan mata bulatnya yang polos namun jernih. Ia tidak ada sangkut pautnya dengan darah Rezky, namun keberadaannya di belakang Reva seolah menjadi penegasan bahwa kakaknya tidak sendirian.
"Jangan... jangan ganggu Kakak!" suara kecil Alana terdengar meski gemetar.
Rezky tertegun sejenak melihat pemandangan itu. Reva yang menangis dan Alana yang menjaganya dari belakang. Pemandangan itu sangat kontras dengan amarahnya yang meledak-ledak.
"Rezky, lihatlah!" teriak Ayana dengan air mata mengalir. "Lihat betapa takutnya Reva padamu! Dan lihat Alana, dia bahkan mencoba melindungi kakaknya dari ayah kandungnya sendiri karena kamu datang dengan cara seperti ini!"
Mendengar ucapan ayana, Reva yang sedari tadi gemetar tiba-tiba mengeratkan pelukannya pada pundak kecil Alana. Ia mendongak, menatap Rezky dengan mata sembap yang dipenuhi rasa takut, bukan rindu.
"Om... tolong pergi," bisik Reva lirih.
Kata 'Om' itu menghantam dada Rezky lebih keras daripada pukulan fisik mana pun.
Sebutan itu adalah penegasan telak bahwa di hati Reva, Rezky bukan lagi seorang ayah, melainkan ancaman. Rezky mundur satu langkah, wajahnya pucat pasi seolah seluruh tenaganya baru saja disedot habis oleh kenyataan.
"Reva... ini Papa," suara Rezky memelan, serak dan penuh keputusasaan.
"Papa tidak akan membuatku menangis," sahut Reva dengan suara yang mulai menguat, tangannya menunjuk ke arah Al yang masih berdiri sigap di depan mereka.
"Papa Al yang menjagaku. Kamu... kamu hanya orang yang membuat mama menangis."
Ayana melangkah satu inci lebih dekat, suaranya kini setenang air namun sedingin es. "Dengar itu, Rezky? Anak yang kamu klaim sebagai 'hakmu' bahkan tidak lagi mengenalimu sebagai ayahnya. Kamu datang membawa badai ke rumah yang sudah tenang, dan lihat hasilnya? Kamu hanya berhasil membuat mereka semakin membencimu."
Rezky menatap tangannya sendiri yang gemetar. Ia melihat Alana, bayi mungil yang sama sekali tidak mengenalnya, namun berdiri begitu berani melindungi kakaknya. Di sana, di teras rumah itu, Rezky tersadar bahwa ia telah kalah. Bukan kalah oleh kekuatan fisik Al, melainkan kalah oleh kasih sayang tulus yang telah membangun benteng di antara ia dan keluarganya yang dulu.
"Pergilah sebelum sisa harga dirimu hilang sepenuhnya," tutup Papa Al dengan nada final yang tidak bisa dibantah.
...****************...
Kata 'Om' itu terus terngiang di telinga Rezky, bergaung di kepalanya seperti lonceng kematian bagi egonya. Ia menatap Reva, lalu beralih ke tangan mungil Alana yang masih mencengkeram baju reva.
Rezky membuka mulutnya, ingin membela diri, ingin berteriak bahwa ia punya hak biologis. Namun, suara itu tertahan di tenggorokan. Ia melihat ketakutan yang murni di mata Reva
Perlahan, ketegangan di bahu Rezky luruh. Tangannya yang tadi mengepal kini jatuh lemas di sisi tubuhnya. Ia mundur satu langkah, lalu selangkah lagi, hingga kakinya menginjak rumput halaman yang basah oleh embun sore.
"Reva..." bisiknya, namun kali ini tanpa amarah. Hanya ada kepasrahan yang perih.
Reva tidak menjawab. Ia justru menyembunyikan wajahnya di belakang ayana, mencari perlindungan pada wanita yang selama ini benar-benar ada untuknya. Pemandangan itu mengunci kenyataan pahit bagi Rezky: tempatnya di hati anak itu sudah digantikan sepenuhnya.
Tanpa sepatah kata pun lagi, Rezky berbalik. Ia berjalan gontai menuju gerbang, bahunya merosot, langkahnya tak lagi beringas seperti saat ia datang.
Suasana teras mendadak senyap, hanya menyisakan suara napas Ayana yang masih memburu dan isak tangis rendah Reva yang perlahan mereda. Di tengah keheningan itu, Alana melepaskan cengkeramannya pada baju kakaknya, mendongak menatap Al dan Ayana dengan mata bulatnya yang jernih, seolah memastikan bahwa badai benar-benar telah berlalu.
Cahaya matahari sore yang kian meredup membungkus mereka dalam kehangatan yang melankolis, menandai akhir dari teror masa lalu yang baru saja mencoba merobek kedamaian mereka.