NovelToon NovelToon
TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

Status: tamat
Genre:CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:105.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_va

Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.

Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.

Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.

Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.



Simak cerita selengkapnya 🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Sekar menyewa dua detektif untuk mengelabui saja. Lebih sering bertemu dengan Pak Ali yang sudah berumur ketimbang Abra.

Pertemuan dengan Pak Ali juga membahas tentang Bianca. Sekar tetap menerima laporan-laporan yang jalan di tempat. Tidak mengapa.

"Untuk sementara kita hentikan penyelidikan, Pak Ali. Nanti aku hubungi lagi...." kata Sekar yang memakai dress floral biru muda sebetis dan memakai kacamata hitam. Siang-siang mereka berada di taman kota. Sengaja, supaya mudah terpantau.

"Maafkan saya, Bu Sekar. Saya sudah berusaha sebaik mungkin. Bianca hanya bertemu dengan teman dan kedua orang tuanya," ucap Pak Ali yang mengenakan topi baret hitam. Jas cokelat tua berbahan tweed yang terbuat dari serat wol, tekstur agak kasar, dan tebal. Sepertinya kurang cocok di cuaca yang cerah.

"Tidak apa-apa, Pak Ali. Saya paham. Terima kasih atas kerjasamanya," ujar Sekar.

Jia mendekat, memberikan paper bag yang berisi uang tunai. Pak Ali tampak terkejut melihat uang tunai yang banyak.

"Anda pernah bercerita ingin segera pensiun dan merawat istri." Sekar tersenyum melihat Pak Ali yang tidak percaya.

"Ini cukup untuk membuka usaha rumahan," ucap Pak Ali.

"Bu Sekar, saya rasa sangat berlebihan."

"Tidak berlebihan karena Pak Ali sangat ramah seperti ayah dan teman." Sekar menghela napas.

"Salam untuk istrinya."

"Tentu saja akan saya sampaikan," kata Pak Ali.

"Sampai jumpa, Pak." Sekar menyalami Pak Ali lalu berjalan pelan. Meninggalkan pinggiran kolam ikan.

"Terima kasih, Bu Sekar!" teriak Pak Ali.

Jia menyamai langkah Sekar. Tidak ada yang bicara. Jia mengedarkan pandangan, mencari-cari keberadaan mata-mata yang mengikuti Sekar.

"Beli bakso bakar dulu, Jia," ucap Sekar.

Sewaktu turun dari mobil, Sekar menerima pesan di ponsel satunya kalau Abra sudah menunggu di dekat penjual bakso bakar.

Jia yang belum paham, agak heran melihat si Nyonya yang ingin beli jajanan rakyat biasa. Karena biasanya lebih suka memasak sendiri.

"Pak, bakso bakar satu, sosis bakar satu." Sekar berkata sopan.

"Silakan ditunggu, Bu. Siapa tahu ingin memesan yang lain." Si penjual memberikan kertas menu dan selebaran iklan rumah.

"Perumahannya dijamin tidak banjir."

"Jia, mungkin ingin tambah lagi?"

"Nggak, Nyonya. Sosis bakar aja. Cukup," jawab Jia yang kemudian memperhatikan di penjual yang memakai topi dan masker wajah. Sepertinya familiar.

"Pak A-

"Jia, bener tidak ingin pesan yang lainnya?" ulang Sekar kedua alisnya terangkat.

"Nggak, Nyonya." Jia menggelengkan kepalanya.

Sekar memegang selebaran yang isinya terdapat amplop putih.

"Saya simpan ya, siapa tahu aku berminat di kemudian hari."

"Silakan, Bu."

Pesanan mereka siap dalam waktu lima belas menit. Sekar menyuruh Jia membayarnya.

Setelah membayar Jia, menyusul Sekar yang berjalan duluan. Sekar memberikan sosis bakar untuk Jia. Mereka berhenti di dekat patung burung. Karena tidak ada tempat duduk, Sekar memutuskan kembali ke mobil.

"Nyonya, maaf tidak baik makan sambil jalan."

"Sesekali nggak apa-apa," tukas Sekar.

Jia pun menggigit sosis bakar pedas. Untuk pertama kalinya bersama majikan jalan sambil makan. Sekar membuang bekas wadah bakso bakar di tempat sampah. Terus melangkah ke arah parkiran mobil.

Jia yang masih mengunyah, berlari mendahului Sekar. Membukakan pintu kendaraan. Lalu, menutup perlahan. Jia pun segera duduk di bangku kemudi.

Sekar melepas kacamata hitamnya. Membuka amplop yang diberikan Abra yang berpura-pura jadi pedagang bakso bakar.

Hasil tes DNA, Bianca bukan putri kandung Firdaus. Di dalam amplop juga ada selembar kertas dan foto gadis kecil yang ulang tahun ke delapan tahun. Wajahnya mirip dengan Bianca. Tapi bukan Bianca melainkan putri kandung Karina dan Firdaus yang kemungkinan telah meninggal dunia.

Abra belum bisa memastikan di mana putri kandung asli Karina dan Firdaus. Bianca yang sekarang hanya menggunakan identitas Bianca yang asli.

"Mungkinkah itu Marniasih?" gumam Sekar yang sekarang menunggu hasil seluk-beluk keluarga Marniasih. Jika benar apa tujuan Bianca palsu menyusup ke dalam rumahnya.

Sekar merasa kecolongan. Tidak pernah berprasangka buruk selama ini.

Ponsel yang berdering membuyarkan fokus Sekar. Dari putra keduanya. Rama mengatakan kalau Radit menelepon dan minta maaf.

"Kapan itu?"

"Dua hari yang lalu, Ma. Apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui? Maksudku, dulu sangat tidak percaya dan sekarang mendadak minta maaf."

"Mungkin kakakmu mulai percaya padamu, Rama. Sepertinya nggak ada alasan lain."

"Semoga saja."

"Gimana kabar Nara?"

"Sehat. Mama nggak tanya kabarku? Aku baru sembuh dari demam loh, Ma."

Sekar tergelak. "Dengar suaramu itu menandakan kamu baik-baik saja. Salam sayang buat mantu Mama."

Ponsel itu turun ke pangkuan. Sekar memandang keluar jendela mobil. Lega rasanya mendengar Radit minta maaf. Sekarang ia memikirkan langkah selanjutnya. Mengungkap siapa sebenarnya Bianca palsu. Kenapa Karina dan Firdaus mendukung. Mungkin suami istri itu punya alasan tersendiri.

...****************...

"Pikirkan lagi, jangan ngawur. Kamu bisa dipecat dari pekerjaan. Nama baikmu serta instansi dan keluargamu akan tercoreng," ucap teman Dewa yang bernama Gani. Saat mengetahui Dewa menghubungi nomor Aini.

"Dulu kamu mencampakkan Nara. Sekarang ingin slengki? Lebih berat karena kalian sah suami istri. Waktu dengan Nara status masih calon istri, dapat dimaklumi karena mungkin belum jodoh...."

Dewa menekan tombol merah. Tidak jadi menelepon Aini.

"Demi wanita muda kamu mau kehilangan pekerjaan?" Sinis Gani.

"Gita pilihanmu, terima saja baik dan buruknya."

"Makin kayak konsultan pernikahan," cibir Dewa.

"Gita cantik dan bekerja, apa lagi yang kamu cari?"

Dewa memandangi putri kecil Gani yang menggelayut manja di lengan. Entah mengapa dengan Gita semua terasa salah. Keras kepala dan tidak mau mengalah.

"Baru nikah udah cere," imbuh Gani.

"Ditertawakan Nara kamu."

Dewa mengusap kepalanya. Membuang napas cepat. Cinta dan nafsu kadang tidak bisa dibedakan.

"Kalau memang udah nggak bisa sejalan, ceraikan saja. Walaupun proses rumit." Gani menepuk punggung Dewa.

"Aku...." Dewa menarik napas dalam-dalam.

"Entahlah, apa bisa bertahan."

"Karena nggak mau masak? Bisa kok dibicarakan dengan baik-baik."

"Sudah. Aku menuruti keinginannya. Kadang, ingin dimasakin istri." Dewa tersenyum getir.

"Seni dalam pernikahan adalah saling memahami. Pelan-pelan saja, siapa tahu Gita bisa berubah," kata Gani.

Dewa mengangguk-anggukkan kepalanya. Agak sedikit tercerahkan. Hanya diri sendiri yang bisa mengendalikan emosi sesaat.

"Aku pulang dulu." Dewa bangkit dari kursi.

"Hati-hati. Fokus." Gani menimpali.

Dewa yang mengendarai motor, memikirkan perkataan Gani. Demi karirnya, harus bersikap hati-hati. Tidak boleh gegabah karena namanya sudah jelek waktu menikahi Gita yang berbadan dua.

Sampai di rumah, istrinya belum pulang. Dewa melihat laptop miliknya di meja makan, yang dua hari lalu dipinjamkan ke Aini. Ada catatan kecil menempel di atas badan laptop, yang bertuliskan ucapan terima kasih. Dewa tersenyum tipis.

Sementara itu, Gita sedang berada di kafe. Tidak sendirian, dia bersama Kemil.

Gita sengaja belok ke kafe, saat melihat Kemil yang memasuki tempat tersebut. Pura-pura sengaja tidak bertemu. Pura-pura ada janji dengan teman.

"Mas Kemil kok malah duduk di sini. Itu temen-temennya ditinggal?"

"Nggak apa-apa. Aku temani sebentar," sahut Kemil.

"Pulang kerja?"

"Iya."

"Nggak dijemput suami?"

"Enggak. Suami kerja," sahut Gita tersenyum. Dari dekat, Kemil sangat tampan. Badannya juga atletis.

Gita berpura-pura melihat ke arah pintu masuk dan sibuk mengecek ponsel. Memasang ekspresi sebal.

"Telat datang temenmu?" tebak Kemil.

"Iya, Mas. Kebiasaan pada ngaret." Gita tersenyum lagi.

"Sorry, aku harus kembali ke meja sebelah," kata Kemil seraya berdiri.

"Iya, nggak apa-apa."

Gita yang hanya memesan kopi, bergegas pergi setelah menghabiskannya. Tiba di rumah dua puluh menit kemudian.

Suaminya terlihat di teras belakang sedang membersihkan sepatu.

"Eh, Mas, sudah pulang?" Gita berbasa-basi.

"Udah dari tadi. Kamu tumben telat pulang?"

"Diajak teman mampir ke kafe. Hanya minum kopi," sahut Gita.

Dewa menegakkan tubuhnya yang agak membungkuk. "Mau pesan makanan apa buat makan malam?"

Gita tidak segera menjawab. Tumben suaminya lempeng. Padahal kemarin-kemarin agak sensitif jika membicarakan tentang makanan. Dewa bawaannya emosi.

"Gita...."

"Apa aja, deh. Mas aja yang pesan, aku mau mandi dulu."

"Aku beli sate ayam ya? Depan perumahan," tanya Dewa.

"Oke." Gita tersenyum kaku. Lantas masuk kamar menyimpan tas dulu dan mengambil pakaian ganti. Dia mendengar suara motor yang dikendarai Dewa.

Gita mengambil ponselnya di meja rias karena ada notifikasi pesan. Dari nomor yang tidak dikenal, ternyata dari Kemil.

Kemil: [Aku mencari-cari tadi. Sepertinya kamu sudah pulang.]

Gita: [Iya, Mas. Aku udah pulang karena teman nggak jadi datang. Kok bisa tahu nomor hapeku?]

Kemil: [Rahasia deh.]

Gita: [Bikin penasaran.]

Kemil: [Kayak kamu, buat aku penasaran.]

Gita senyum-senyum sendiri membaca rayuan buaya darat.

Gita: [Apanya yang buat penasaran?]

Kemil: [Rahasia....]

Gita: [Ih, rahasia lagi.]

Bukannya segera mandi, Gita malah berbalas chat dengan Kemil sampai Dewa pulang dari membeli sate. Gita meletakkan ponsel, berlari ke kamar mandi sebelum Dewa masuk rumah.

...****************...

"Aku akan mencari cara agar kamu pergi dari sini dan tidak pernah kembali," ancam Bianca, yang mencegat Nina di halaman belakang.

"Saya bekerja, tidak mencari ingin masalah, Nyonya," balas Nina.

"Berani menyahut ya kamu?!"

Nina berjalan ke arah kanan, menghindari Bianca yang menghalanginya. Setengah berlari masuk ke dalam rumah.

"Hei, Nina! Aku belum selesai bicara!" pekik Bianca.

Nina tidak menggubris. Demi uang dan pekerjaan, harus kuat menghadapi Bianca.

"Selamat sore menjelang malam, Nin," sapa kepala asisten rumah tangga, namanya Ina. Perempuan yang berusia empat puluh tahunan.

"Selamat malam, Bu Ina," sahut Nina sopan.

"Tolong ini bawa sekalian ke kamar Pak Radit. Beliau tadi minta dibuatkan puding susu." Ina menunjuk nampan kayu di meja pantry.

Nina mengangguk. Karena tadi sempat berdiri di dalam bus, dan memegang pegangan besi di atas Nina mencuci tangan terlebih dahulu.

"Heh, Nina. Kurang ajar ya, kamu!" bentak Bianca yang menyusul ke dapur. Bianca yang emosi, mendorong kasar bahu Nina.

"Bia, kasar sekali kamu!" tegur Restu.

Bianca mendengus jengkel. Membela diri karena diabaikan Nina. Mengatakan Nina berani melawan.

"Nina, sana urus Radit," kata Restu.

"Baik, Pak." Nina meraih gagang nampan, bergegas ke kamar Radit.

"Kamu, Bia. Urus bayimu." Setelah mengatakan hal itu, Restu meminta Ina membuatkan kopi dan berlalu dari dapur.

Bianca mendengus lagi. Makin lama, mertuanya itu makin menjengkelkan saja.

Sedangkan Nina, mengetuk kamar untuk minta izin masuk ke kamar. Terdengar suara sahutan dari Radit.

Nina membuka pintu kamar, melangkah masuk pelan. Melihat Radit yang bersandar di kepala tempat tidur.

"Selamat malam, Pak," sapa Nina.

"Malem," balas Radit singkat.

Nina menaruh nampan di meja, lalu meletakkan ransel di kursi. "Pudingnya mau dimakan sekarang, Pak?"

"Nanti saja." Tangan kanan Radit menunjuk tumpukan buku di meja.

"Itu bisa buat bacaan kamu."

"Terima kasih, Pak."

"Mungkin novel berat, punya adikku," jelas Radit.

"Jangan lupa dikunci pintu kamarnya. Aku ingin istirahat, tidak mau ada gangguan."

Nina tidak bertanya kenapa harus dikunci. Karena itu bukan urusannya. Saat berbalik, Radit sudah berbaring. Nina mematikan lampu utama, kemudian berjalan pelan ke sudut ruangan. Di balik partisi, ada tempat tidur kecil dan lampu meja yang bisa diarahkan sorotnya.

Karena Radit tidur, Nina juga tidur. Seperti halnya menjaga bayi. Karena kadang Radit terbangun tengah malam. Terjaga sampai pagi menjelang.

...****************...

"Kok rumah atas namaku, Mas?" tanya Nara ketika suaminya minta KTP dan menjelaskan untuk apa.

"Karena kamu istriku, Nara," jawab Rama.

"Sebagai hadiah karena mau merawat ku saat aku demam." Rama tertawa melihat Nara yang cemberut karena gurauannya.

"Pokoknya jangan sakit lagi. Cerewetnya minta ampun...." Nara bersungut-sungut.

"Ayo, berangkat. Jaketnya jangan lupa," kata Rama menyambar kunci motor.

Mereka berdua akan ke studio foto. Membuat foto pernikahan yang dinginkan Nara. Karena foto-foto waktu akad, tidak ada yang bagus. Terutama ekspresi Nara yang sedih.

Di studio itu mereka juga akan di make up pengantin adat Jawa. Tadinya Nara ingin yang lebih modern, memakai gaun putih dan Rama mengenakan jas. Tetapi setelah melihat-lihat referensi, dia berubah pikiran.

Nara memakai jaket hitam, dan membawa tasnya. Kedua kakinya berderap cepat keluar rumah kontrakan. Rama sudah menunggu di motor.

Setelah mengunci pintu, Nara naik di boncengan belakang. Memeluk erat pinggang suaminya.

"Gas, Bang."

"Siap, Neng."

Perjalanan sekitar lima belas menit, Nara dan Rama sampai di studio. Mereka berdua diarahkan ke ruangan rias terlebih dahulu.

Ruangan cukup luas, di dinding kanan terpasang cermin-cermin yang ada lampunya. Di sudut ruangan ada tempat ganti baju.

Rama duduk di sofa tunggal, memangku tas dan jaket istrinya yang dirias dulu. Tidak bosan-bosannya melihat wajah istrinya yang terpantul di cermin.

Selama satu jam wajah Nara dirias, dan rambutnya memakai sanggul besar dengan hiasan ronce melati. Nara tersenyum melihat wajahnya di pantulan cermin. Lipstik merah ternyata sangat bagus.

Nara dibimbing ke ruang ganti yang hanya tertutup tirai tebal. Memakai kain batik dan kebaya beludru hitam yang panjangnya hampir menyentuh dengkul. Rama juga sudah memakai pakaian pengantin adat Jawa. Tampan sekali dengan blangkon. Wajahnya juga dirias tipis.

Keduanya pun menjalani pemotretan di dalam ruangan. Di akhir sesi, Nara mulai merasakan pening. Berpikiran mungkin karena sanggul dan cunduk mentul yang terasa agak berat.

Nara memilih duduk di kursi, sedangkan Rama melihat-lihat hasil foto di laptop fotografer. Nara mengambil botol air mineral, meneguk langsung sehingga ada sedikit noda merah tertinggal di botol.

"Huhh, panas .." gumam Nara, padahal ruangan dingin.

"Mbak Nara, aku bantu lepas sanggul dan bersihkan make up," ucap salah satu staf MUA.

Nara melepas sandal selop pengantin yang dibawanya ke ruang make up. Mendadak merasa pusing hebat dan pandangan berputar. Nara mengerjap-ngerjapkan matanya. Tubuhnya oleng ke kanan, jatuh di lantai.

"Eh, Mbak!" jerit si staf.

Rama menoleh ke arah pekikan, melihat istrinya tergeletak di lantai. Rama tidak bisa berlari cepat karena memakai kain jarik.

"Nara...." Rama merengkuh tubuh istrinya.

"Nara ..."

"Mas, pindahkan ke ruang istirahat."

Rama membopong tubuh sang istri mengikuti kru foto ke ruangan kecil yang terdapat tempat tidur.

Seorang staf perempuan membantu melepas pakaian adat itu. Seorang lain melepas sanggul dan semua printilan hiasan. Tubuh Nara yang hanya memakai tank top dan celana pendek diselimuti Rama.

"Sayang," bisik Rama yang tidak bisa berpikir jernih. Hanya bisa duduk dan memegang tangan istrinya.

"Mbak Nara pingsan mungkin karena kelelahan," ucap si staf yang menggosok minyak kayu putih di telapak kaki Nara.

Nara mulai siuman. Kepalanya terasa berdenyut pusing. Samar melihat suaminya yang menangis.

"Nara, aku sangat khawatir."

"Nggak apa-apa, Mas. Aku hanya pusing." Nara menarik napas dalam-dalam. Bersyukur sekali ada staf lain yang membuatkan teh hangat.

Rama membantu istrinya minum teh itu.

"Mulai enakan....?"

"Iya, aku hanya butuh istirahat sebentar. Nggak apa-apa. Beneran nggak apa-apa," kata Nara, tubuhnya yang terasa lemah mulai ada tenaga.

"Nanti pulangnya naik taksi. Ya?" Rama meletakkan gelas teh di meja.

Nara mengangguk saja.

"Aku ganti pakaian dulu dan ambil tas kamu," ucap Rama seraya beranjak dari kursi.

"Iya, aku tunggu."

Rama berjalan cepat ke ruang rias, melepas pakaian pengantin yang kemudian diletakkan di meja. Dia segera berpakaian, mengambil tas, baju Nara, dan jaket. Lantas balik ke ruangan di mana istrinya istirahat.

"Pake baju dulu." Rama membantu istrinya memakai pakaian lengkap.

"Aku janji nggak akan rewel waktu sakit."

"Mas Rama...." Nara tertawa kecil.

"Tadi nangis ya?"

"Enggak. Hanya keluar air mata," sahut Rama duduk di kursi lagi.

"Rewel dan cengeng," ledek Nara.

"Gimana nggak cengeng lihat kamu pingsan." Rama menghela napas. Tadi sangat ketakutan karena tubuh Nara terasa agak dingin.

"Mbak Nara, Mas Rama, sepatunya tertinggal di ruangan make up." Staf perempuan yang sama masuk ke dalam ruangan itu.

Nara membaca name tag yang tergantung.

"Makasih, Mbak Winda.".

"Sama-sama. Berbadan dua ya, Mbak? Makanya kelelahan. Eh, maaf. Sok tahu," ucap Winda.

"Aku nggak hamil kok, Mbak," sahut Nara.

Winda keluar kamar. Rama pun menanyakan tanggal biasanya Nara datang bulan.

"Hari ini, Mas. Tetapi bisa mundur sehari dua hari. Bisa juga maju dari tanggal bulan lalu," jelas Nara.

"Gitu ya." Rama mengusap perut istrinya.

"Ada apa, Mas?"

"Bayangin perutmu yang besar karena hamil. Pasti lucu ya."

*

*

*

*

*

*

Sengaja agak panjang. Karena seharian ini pasti bakal rempong buat kue lebaran 🤣🤣

Kalian team beli atau buat ????

1
A.R
kayak pernah baca deh di aplikasi sebelah,apa author yg sama yhh
Komsiyah Komsiyah
Rama kok berubah ubah namanya jadi Panji
Shiro Oni Weapon Master
baru mampir
Teh Yen
aku udh otw Thor 😁 seru critanya
Teh Yen
trim kasih othor 🙏🤗 sukses.trus ke depannya yah
Teh Yen
yaah udh tamat aj itu anknya Radit blom brojol.thor.cwok.apa.cewek.tuh hehe 😁
Teh Yen
Alhamdulillah Nina udh Hamil.yah
Teh Yen
c Gita mah engg ada kapoknya masa iya satpam apartemen jg d embat yah astagfirullah
Teh Yen
itu pasti.c Gita wah mukanya.hancur.dong eng cantik lagi kena pecahan kaca mobil yah iih ngeri
Teh Yen
sabar yah Nina baru jg nikah berpa.minggu hehe usah aj terus Nina
Teh Yen
lah.mobilnya d curi orang git ,, padahal itu harta terakhir kamu yg paling mewah yah sayang sekali 🥺
Teh Yen
Nina biasa kerja keras skrng jd istri seorang.ceo malah bingung kagak ngapa"in yah Nina 🤭
Teh Yen
haha engg pa pa mas Rama biar membulat bersama kan adil 🤭🤭
Uthie
Baca sedikit cerita nya aja pasti gak kalah bagus dehhh sama yg sekarang sy baca 👍👍👍😘😘😘😘🤩
Uthie: 😘😘😘😘😘😘
total 2 replies
Uthie
Terimakasih atas karyanya yg senang banget bacanya 👍👍👍🤩🤩🤩

Aslii lohhhh.. ini sedari awal mampir langsung maraton dan gak pindah ke lain hati dulu, sampai pada akhir cerita ini 👍👍👍🤩🤩🤩🤩🤩🤗🤗
Tri Wahyuni: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Uthie
Yaaa....udahan 🤩🤩🤩🤩
Uthie
senang nya 👍👍👍
Uthie
nyebelin cowok banci macam si Andre yg adem ayem sama selingkuhan nya dan gak inget sama anak yg dulu dia buat pada mendiang istrinya 😡😡
Uthie
sukkkkaaa BANGETTT 👍👍👍
Uthie
😂😂😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!