Kondisi keluarga yang berantakan, membawa Freya menjadi sosok anak yang berandal.
Freya kerap menghabiskan waktunya di club dan menjerumuskan dirinya kedalam obat-obatan terlarang.
Sean Bagaskara hadir di saat Freya nyaris dilecehkan.
Setelah pertemuan itu, takdir seolah terus mengikat keduanya hingga perasaan cinta tumbuh dihati mereka.
Sayangnya, disaat cinta itu kian menggebu, Freya harus mengetahui kenyataan pahit bahwa Sean adalah seorang gigolo, lebih tepatnya Gigolo ibu tirinya sendiri.
Selanjutnya, apa yang akan dilakukan Freya?
Simak ceritanya hanya disini guys!!!!
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN SUBSCRIBE YA!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Rasa Kalian Saling Mengenal.
Sean pun tak kalah kagetnya, wajahnya bahkan langsung menegang saat melihat wanita yang pernah menjadi partner ranjangnya itu ada di rumah Freya. Ia mencoba membaca situasi yang ia hadapi saat ini, benar-benar sangat mengejutkan dan membuat jantungnya berdetak sangat kencang.
"Sayang, kemarilah. Dia temannya Freya, ayo kenalan," ujar Morgan memanggil istrinya untuk ikut bergabung.
Andriana tersentak, ia segera memutus kontak matanya dengan Sean, sang gigolo favorit yang belakangan ini ia cari itu. Ia heran kenapa Sean ada disana.
"Temannya Freya Mas?" tanya Andriana memperjelas.
"Iya, dia bilang seperti itu. Tapi kau tahu, anak muda jaman sekarang, bilangnya teman tapi jika dibelakang akan beda cerita," ujar Morgan tertawa kecil.
Lagi-lagi Freya mengerutkan dahinya tidak mengerti, benar-benar merasa jika ada yang tidak beres dari sikap Ayahnya itu. Dan ia sendiri bukannya tidak tahu jika sejak tadi Andriana dan Sean saling bertatapan mata.
"Apa kau sudah mengenalnya?" tanya Freya secara tiba-tiba, ia melirik Sean yang langsung menegakkan tubuhnya tegang.
"Mengenal siapa?" Morgan bertanya bingung.
"Istri Ayah itu, apa dia sudah mengenal temanku? Aku lihat, dia seperti mengenalnya," ujar Freya langsung saja to the point.
"Benarkah? Kau sudah mengenal Sean?" tanya Morgan kepada istrinya.
Andriana sedikit gelagapan, tapi ia sebisa mungkin menguasai dirinya. Ia melirik Sean yang sama tegangnya, jika Morgan dan Freya tahu tentang hubungan mereka, posisi mereka bisa berada dalam bahaya.
"Ha? Mana mungkin Mas, kita baru pertama kali ini bertemu. Freya ada-ada saja," jawab Andriana setelah cukup lama.
Sean bernafas begitu lega, ia tidak sanggup jika membayangkan Freya akan tahu hubungannya dengan Ibunya. Wanita itu pasti akan sangat membencinya. Lagipula Sean cukup syok saat tahu Ibu Freya masih begitu muda.
"Oh, aku pikir kalian saling mengenal. Aku lihat tadi kau terkejut melihat Sean disini," kata Freya seperti biasa, cuek dan datar saja.
"Tidak, aku hanya kaget karena merasa wajahnya sangat familiar. Oh ya, namanya Sean ya tadi? Perkenalkan, aku Andriana, ibu tirinya Freya," ujar Andriana tersenyum kikuk, ia mengulurkan tangannya kepada Sean untuk sekedar basa-basi.
Sean mengulum bibirnya, ia menyambut uluran tangan itu dengan sangat canggung. Tapi sialnya Andriana justru mengelus punggung tangannya membuat ia buru-buru melepaskan jabat tangan itu.
"Sean," ucap Sean singkat padat dan jelas.
"Oh iya, aku buatkan minum dulu ya Mas. Tamunya pasti udah dari tadi 'kan?" ujar Andriana, jelas berbasa-basi, ia hanya ingin lebih lama melihat wajah tampan Sean yang selalu menjadi fantasi liarnya ketika bercinta dengan suaminya.
"Tidak, tidak perlu. Saya akan segera pulang saya, Om ... Tante, ini juga sudah sangat malam," kata Sean lagi, ia harus buru-buru pergi sebelum semuanya curiga.
"Kenapa terburu-buru? Setidaknya minum dulu," ujar Morgan sedikit heran dengan sikap Sean ini.
"Aku harus bekerja Om," kata Sean memilih jawaban yang paling masuk akal.
"Oh kerjanya malam ya?" tanya Morgan.
"Iya benar." Sean mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke depan, ayo," ujar Freya bangkit terlebih dulu, ia menarik tangan Sean agar secepatnya pergi.
Freya bahkan tidak mengizinkan Sean untuk berpamitan kepada Ayahnya dan juga Andriana. Ia benar-benar merasa tidak enak, apalagi setelah melihat tatapan Andriana pada Sean.
"Freya, kenapa kau melarangku berpamitan? Ini sangat tidak sopan," tutur Sean ketika mereka berdua sampai di halaman rumah Freya.
"Biarkan saja, kenapa kau begitu ingin berpamitan? Apa benar kalau kau ada something dengan wanita itu?" sergah Freya menatap Sean begitu tajam.
"Maksudmu Ibu tirimu?" tanya Sean memperjelas.
"Siapa lagi? Jangan bilang kalau kau itu salah satu mantannya?" tuduh Freya menyipitkan matanya curiga.
Sean terdiam sesaat, Freya benar-benar orang yang sangat peka. Hanya dari gestur saja Freya sudah bisa menebak. Tapi hal itu sedikit membuat hati Sean begitu senang, karena Freya seperti menunjukkan kecemburuannya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu Nona? Apa ... kau cemburu?" Sean menanggapi dengan santai, ia juga menarik pinggang Freya agar mereka menempel sangat dekat.
"Eh? Cemburu apa? Aku hanya penasaran," ketus Freya mengelak tuduhan implisit itu.
"Benarkah? Lalu kenapa kau harus bertanya? Bukankah itu urusan pribadiku?" ujar Sean dengan sengaja.
Freya mengernyitkan dahinya, wajahnya tampak begitu kesal saat Sean mengatakan hal itu. Dengan kasar ia langsung mendorong dadanya hingga pelukan mereka terlepas.
"Ya, itu memang urusan pribadimu, dan aku tidak akan ikut campur, toh aku bukan siapa-siapa bagimu 'kan?" kata Freya tersenyum kecut, bo doh sekali dirinya yang merasa bisa memiliki Sean.
Hubungan mereka juga sangat tidak jelas, hanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Sean bisa mendapatkan kepuasan dengan ganti ia yang bisa mendapatkan uang untuk membeli obatnya.
Sean masih tersenyum tipis, ia kembali menarik pinggang Freya dan memeluknya.
"Apaan sih, lepasin deh. Buruan pulang sana," ketus Freya berontak dari pelukan Sean.
"Aku tahu kau cemburu 'kan? Sudah akui saja," kata Sean melemparkan tatapan menggoda.
"Enggak! Sudah aku bilang kita bukan siapa-siapa," sergah Freya masih terus saja berontak.
"Apa jika kita cemburu harus menjadi siapa-siapa dulu? Bukankah kau bilang aku pacarmu?" ujar Sean bukannya melepaskan Freya, justru terus memeluknya erat.
"Cih, kau yang bilang itu hanya bercanda," kata Freya masih dengan nada ketusnya.
"Sekarang aku serius," ucap Sean menatap lurus mata Freya.
"Ha? Kau bilang apa?" Freya tentu kaget dan malah terbengong-bengong.
"Kau tidak tuli 'kan? Aku serius dengan kata-kataku waktu itu," kata Sean mengulanginya lagi.
"Ish, jangan berbicara omong kosong Sean. Lebih baik kau pulang saja, kau bilang akan bekerja 'kan?" Freya mengalihkan pandangannya, tidak ingin tertipu dengan kata-kata manis Sean.
"Jadi, kau tidak mau jadi pacarku?" Sean sendiri tetap bertahan dan mengejar mata Freya.
"Memangnya kenapa kita harus berpacaran? Apa kau menyukaiku?" tanya Freya menantang.
"Ya," sahut Sean jujur saja, ia memang menyukai Freya, entah hatinya sudah mencintai atau belum, tapi jika suka, ia memang suka.
"Secepat itu? Apa yang kau sukai dariku?" Freya kembali bertanya, ia tentu kaget dengan jawaban yang dilontarkan Sean.
"Yang aku sukai darimu ..." Sean menggantung ucapannya, ia tiba-tiba bergerak maju mengikis jarak antara keduanya.
"A-apa?" Entahlah, Freya mendadak garap saat bertatapan begitu dekat dengan Sean.
"Yang aku sukai darimu, adalah payu dara mu," kata Sean memegang da da Freya yang kini mulai sedikit membesar seraya terkekeh-kekeh geli.
"Apa?" Mata Freya membulat sempurna dan ia reflek langsung mundur. "Ba ji ngan kau! Oh shitt," umpat Freya mendorong Sean begitu kasar.
"Hahaha, aku hanya bercanda Nona. Jangan terlalu mudah marah, kau sangat jelek tau." Sean masih tertawa kecil, ia juga mengacak-acak rambut Freya dengan gemas.
"Bodo amat! Kau benar-benar keterlaluan, jadi selama ini kau hanya menyukai .. argh! Kau memang sialan, mati saja kau!" Freya memukuli dada Sean dengan begitu kesal, bisa-bisanya Sean mengatakan jika menyukai payu daranya.
"Hahaha, tidak-tidak. Aku hanya bercanda Nona pemarah, aku menyukaimu ya karena suka, sudah itu saja. Aku pulang ya, jangan memimpikan aku malam ini. See you ..." Sean terus saja tertawa dan kembali mengacak-acak rambut Freya membuat wanita itu semakin kesal. Dan ia dengan sengaja mencium bibir Freya sekilas sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah Freya.
"Ish Sean ..." Freya berdecak dengan wajah yang memerah, antara salah tingkah dan senang menjadi satu. Ia memegang bibirnya yang baru saja dicium oleh Sean.
"Dia benar-benar menyebalkan," ketus Freya tertawa seraya menggelengkan kepalanya. Ia memegang dadanya sendiri yang berdegup sangat keras. Sepertinya berada di dekat Sean akan membuat Freya punya penyakit jantung nantinya.
Tanpa Freya sadari, sejak tadi Andriana menyaksikan adegan romantis mereka dengan tangan yang mengepal begitu kuat. Wanita itu tampak tidak rela jika Gigolo favoritnya menjalin hubungan dengan anak tirinya sendiri.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak rela jika Sean bersama anak nakal itu," batin Andriana benar-benar sangat kesal, ia merasa harus bertindak agar Sean dan Freya tidak bisa bersatu.
Happy Reading.
TBC.
kaya dirinya paling benar aja...
anak zaen