Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hancurnya Besi Abadi
BOOMMMM!!!
Ledakan dahsyat merobek jalanan Kota Baja yang dingin. Peti besi raksasa itu hancur berkeping-keping dari dalam. Serpihan logam tebal melesat ke segala arah layaknya hujan peluru tajam.
"Aaaargh!"
Belasan preman yang berdiri terlalu dekat menjerit histeris. Tubuh mereka tertusuk serpihan besi dari sihir bos mereka sendiri. Darah membasahi jalanan berbatu.
"Ini yang kau sebut besi abadi?"
Suara santai itu terdengar dari balik kepulan asap debu yang sangat tebal.
Zian melangkah keluar dengan pelan. Baju hitamnya robek parah di banyak tempat, tapi tubuhnya utuh tanpa goresan. Lengan kanannya yang baru berevolusi memancarkan uap panas berwarna merah gelap, mendidihkan udara malam di sekitarnya.
"Ugh... b-bagaimana mungkin?!"
Kaelen memuntahkan seteguk darah segar. Pria raksasa itu jatuh berlutut dengan satu kaki.
Sihir pamungkasnya hancur paksa. Serangan balik dari putusnya ikatan energi itu merusak organ dalamnya secara langsung. Kaelen memegangi dadanya yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
"Sudah kubilang, tutup telingamu rapat-rapat," ejek Jian sambil tertawa serak dari pinggir jalan.
Pemuda berpedang gila itu menyandarkan tubuhnya ke dinding bata yang retak. Matanya menatap Kaelen dengan sorot mengejek.
"Diam kau, Anjing Liar!" bentak Kaelen dengan mata merah menyala.
Kaelen menatap sekelilingnya. Pasukan elitnya rata dengan tanah. Harga dirinya sebagai penguasa dunia bawah hancur lebur di depan anak buahnya yang tersisa. Dia, Kaelen sang Jagal, dipermalukan oleh pemuda tanpa energi kultivasi.
"Aku belum kalah! Aku adalah Jagal Kota Baja!" raung Kaelen ke arah langit.
Pria raksasa itu menancapkan kedua tangannya ke jalanan berbatu. Urat-urat di lehernya menonjol seperti mau pecah. Matanya berubah warna menjadi perak terang.
"Bangkitlah, Besi Kematian!" teriak Kaelen sekuat tenaga.
Tanah di seluruh jalanan itu bergetar hebat. Gempa lokal terjadi. Senjata-senjata patah milik pasukannya, tiang lampu jalan, teralis besi bangunan, hingga bijih logam dari dalam tanah tiba-tiba melayang ke udara.
"Dia mau mengorbankan inti sihirnya," gumam Bai Chen dengan wajah serius.
Bai Chen membuka kipas peraknya lebar-lebar. Dia segera membuat pelindung angin kecil untuk dirinya dan Jian.
"Orang ini benar-benar mau mati malam ini," tambah Bai Chen pelan.
Ribuan potongan logam tajam itu terbang dan menempel cepat ke tubuh Kaelen. Tubuh sang Jagal membesar dengan kecepatan gila. Besi-besi itu melebur, membentuk lapisan zirah super tebal yang menyatu dengan dagingnya.
Dalam hitungan detik, Kaelen berubah wujud menjadi Golem Besi raksasa setinggi sepuluh meter. Langkah kakinya membuat jalanan aspal retak dan amblas.
"Bos Kaelen marah besar!" teriak salah satu preman yang selamat dari kejauhan.
"Habisi bocah itu, Bos! Injak dia sampai jadi bubur!" timpal preman lainnya penuh harap.
Kaelen menunduk menatap Zian. Mata Golem besinya menyala merah terang di tengah malam.
"Bocah! Mari kita lihat apakah tulangmu bisa menahan beban gunung besi ini!" ancam Kaelen.
Suara Kaelen kini terdengar menggema berat, persis seperti dua lempeng logam raksasa yang saling bergesekan.
"Membesarkan badan cuma membuatmu jadi sasaran empuk," balas Zian santai.
Zian mematahkan lehernya ke kiri dan kanan. Senyum buas perlahan terukir di wajahnya. Dia sama sekali tidak terlihat terintimidasi melihat monster logam raksasa di depannya.
Tulang Asura di tubuhnya justru berderit kegirangan. Zian butuh samsak yang keras untuk menguji ketahanan lengan kanannya.
BUM!
Zian menekuk lututnya dan langsung melesat ke atas. Tanah tempatnya berpijak hancur berantakan membentuk kawah sedalam satu meter. Dia terbang lurus menyongsong dada Golem Besi itu.
"Mati kau!" aum Kaelen.
Kaelen mengayunkan tinju besinya yang sebesar rumah ke arah Zian. Angin kencang menyapu jalanan, membuat sisa atap bangunan di sekitarnya terbang terbawa angin.
Zian tidak menghindar sama sekali. Dia menarik tangan kanannya dan menyambut tinju raksasa itu secara frontal. Tinju kecil melawan kepalan besi raksasa.
TRANG! KRAAAK!
Kepalan tangan kanan Zian menghantam keras buku jari besi Golem tersebut. Ledakan sonik menyapu udara di sekitar mereka hingga bergetar kencang.
"Aaaargh!" jerit Kaelen dari dalam zirah besinya.
Tiga jari besi raksasa milik Golem itu langsung bengkok dan patah. Serpihan logamnya hancur menjadi serbuk karat di udara. Tangan kanan Zian yang sudah sekeras baja abadi sama sekali tidak tergores.
"Besimu terlalu lambat, Jagal," bisik Zian.
Zian menjadikan sisa jari besi yang patah itu sebagai pijakan di udara. Dia berlari kencang menaiki sepanjang lengan raksasa Kaelen, melesat langsung ke arah wajah Golem tersebut.
"Jangan meremehkanku, Iblis!" panik Kaelen.
Kaelen mengayunkan tangan kirinya, mencoba menampar Zian seperti nyamuk yang menempel di lengannya.
Zian hanya mendengus pelan. Sambil terus berlari, dia menampar balik tangan raksasa itu dengan punggung tangan kanannya.
Brak!
Tangan kiri Golem itu terpelanting kuat ke belakang akibat benturan fisik murni Zian. Sendi logam di bahu Kaelen berderit nyaring hampir lepas.
"Turun dari tubuhku!" teriak Kaelen putus asa.
Kaelen membuka mulut Golem besinya lebar-lebar. Inti sihir di dadanya menyala terang. Dia menyemburkan api sihir pelebur logam dengan suhu ribuan derajat langsung ke arah Zian yang sedang berlari di lengannya.
Lautan api merah menyala menelan tubuh Zian di udara.
"Hahaha! Melelehlah jadi abu!" tawa Kaelen meledak melihat Zian tertelan api pamungkasnya.
Tapi tawa itu hanya bertahan dua detik.
"Suhunya pas untuk menghangatkan badan."
Zian menerobos lautan api itu dengan kecepatan kilat. Baju hitamnya hangus terbakar habis di bagian atas, memamerkan otot-otot tubuhnya yang padat. Tapi kulit kanannya yang memancarkan kilau logam sama sekali tidak melepuh. Tulang Asuranya menyerap panas itu sebagai energi murni.
"M-monster macam apa kau ini?!" Kaelen menjerit ketakutan. Akal sehatnya sebagai kultivator runtuh total.
Melihat Zian sudah melompat tepat di depan wajahnya, Kaelen panik. Dia memusatkan seluruh sisa logam di sekitarnya ke bagian dada dan wajah, membentuk perisai besi setebal lima meter.
"Hancur," ucap Zian dingin.
Zian melayangkan tinju kanannya tepat ke arah perisai tebal itu.
BUMMM!
Perisai dada Golem itu retak besar. Serpihan besi beterbangan. Tubuh raksasa Kaelen terdorong mundur hingga menabrak bangunan di belakangnya.
Tapi perisai itu tidak langsung hancur. Kaelen menahan serangan Zian dengan membakar sisa umurnya. Tangan raksasa Golem itu bergerak cepat dari bawah, mencengkeram tubuh Zian di udara dengan sangat erat.
"Kena kau!" raung Kaelen dengan suara bergetar.
Zian terkepung di dalam genggaman jari-jari besi raksasa. Dia tidak meronta. Dia hanya menatap lurus ke arah dada Kaelen yang kini mulai bersinar merah terang tidak wajar.
"Aku akan menguburmu bersamaku, Bocah!" teriak Kaelen gila.
Seluruh tubuh Golem Besi itu mulai memanas. Kaelen berniat meledakkan seluruh sihir logam dan inti nyawanya secara bersamaan dalam jarak sangat dekat.
"Zian! Menyingkir dari sana! Dia mau meledakkan diri!" teriak Bai Chen dari bawah.
Bai Chen tahu betul daya ledak seorang Kaisar Awal yang mengorbankan nyawa. Ledakannya bisa meratakan separuh wilayah Kota Baja ini.
Tapi di dalam cengkeraman raksasa itu, Zian sama sekali tidak berniat mundur. Darahnya justru mendidih liar.
"Mau meledak?" ejek Zian pelan.
Zian menggunakan lengan kanannya untuk memaksa jari-jari besi raksasa itu terbuka perlahan. Suara logam yang dipaksa melengkung terdengar mengerikan.
"Ayo kita lihat siapa yang hancur duluan, Jagal," tantang Zian.
Zian memutar pinggangnya dan menarik tangan kanannya sejauh mungkin ke belakang. Urat Asura di lengannya memancarkan hawa merah menyala yang membakar udara. Ototnya berderit menahan kompresi maut.
Di saat yang bersamaan, dada Kaelen meledakkan energi sihir pamungkasnya. Cahaya merah menyilaukan meledak keluar dari dalam zirah besi sang Jagal.
Tinju sonik Zian meluncur ganas ke depan, menyongsong langsung ledakan sihir mutlak yang siap meratakan kota itu. Benturan dua kekuatan penghancur ini bertemu tepat di udara kosong.
cuma tinju asal ajaaa