Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembersihan Kota Baja
"Menyingkir, Zian!" teriak Bai Chen panik. Kipas peraknya terbuka lebar.
Utusan Fraksi Langit itu mencoba memaksakan sisa energi anginnya untuk membuat perisai. Tapi hujan pilar besi tingkat Kaisar Awal itu terlalu cepat dan mematikan. Bai Chen tahu sihirnya tidak akan sempat menahan serangan itu.
"Simpan saja tenagamu," potong Zian santai.
Zian melangkah maju. Dia berdiri tepat di bawah lubang langit-langit yang runtuh. Pemuda berbaju compang-camping itu mendongak menatap ratusan pilar besi yang meluncur turun.
"Biar kuuji sekeras apa mainan baruku ini," gumam Zian pelan.
Zian menarik lengan kanannya jauh ke belakang. Otot-otot barunya yang baru saja melewati penempaan neraka mengembang sempurna. Kulit lengannya memancarkan kilau halus seperti baja padat.
Tanpa kuda-kuda rumit, Zian langsung meninju udara kosong ke arah atas.
"Hancur!" aum Zian membelah udara.
BUMMMM!!!
Ledakan sonik yang luar biasa gila meledak dari kepalan tangannya. Tekanan angin padat melesat ke atas layaknya palu raksasa yang tidak terlihat.
TRANG! KRAAAAK!
Ratusan pilar besi pusaka itu bertabrakan langsung dengan gelombang sonik Zian. Tidak ada satu pun pilar yang berhasil menyentuh tanah. Semuanya hancur berkeping-keping menjadi serbuk karat di udara, tertiup balik ke jalanan atas tempat serangan itu berasal.
Bai Chen menurunkan kipasnya perlahan. Dia menelan ludah melihat hujan besi itu berubah menjadi debu hanya dengan satu pukulan kosong.
"Ayo naik. Udaranya terlalu pengap di bawah sini," ajak Zian santai.
Zian menekuk lututnya dan melompat tinggi melewati lubang di langit-langit tersebut. Bai Chen segera menyusul dari belakang sambil menyeret tubuh Jian.
Sesampainya di jalanan atas, angin malam Kota Baja langsung menerpa wajah Zian.
Jalanan berbatu itu diterangi oleh puluhan obor menyala. Ratusan petarung bayaran dan preman bertubuh kekar sudah mengepung area tersebut. Mereka semua memegang senjata pusaka yang memancarkan aura membunuh.
Di tengah kerumunan itu, berdiri seorang pria berbadan sangat besar. Tingginya hampir tiga meter. Seluruh tubuhnya dibalut zirah besi tebal yang berduri. Pria itu menatap Zian dengan mata menyala penuh amarah.
Dia adalah Kaelen sang Jagal, penguasa asli dunia bawah Kota Baja.
"Ternyata cuma bocah pengemis cacat," dengus Kaelen meremehkan. Suaranya berat dan kasar. "Aku kira ada kultivator tingkat Kaisar yang berani mengacau di wilayahku."
Zian memutar lehernya ke kiri dan kanan hingga berbunyi gemeretak nyaring. Dia menatap Kaelen dari atas ke bawah.
"Kau yang melempar besi rongsokan tadi ke bawah?" tanya Zian dingin.
"Benar! Aku Kaelen sang Jagal!" bentak pria raksasa itu. "Kau membunuh Xyros dan menghancurkan arenaku. Kau harus membayar semuanya dengan nyawamu malam ini!"
Zian hanya tersenyum tipis. "Arena itu sekarang milikku. Dan kau terlalu berisik di wilayahku."
Mendengar jawaban sombong itu, ratusan anak buah Kaelen seketika tertawa terbahak-bahak. Mereka memandang Zian layaknya orang gila yang sudah bosan hidup.
"Bocah tanpa aura mau jadi penguasa? Hahaha!"
"Dia pasti sudah gila karena kepalanya terbentur batu!"
"Potong lidahnya dan jadikan pakan anjing!"
Kaelen mengangkat tangan kanannya. Tawa pasukannya langsung berhenti.
"Cincang dia jadi daging giling," perintah Kaelen kejam. "Biarkan dua temannya hidup untuk diinterogasi."
Lebih dari lima puluh preman elit tingkat Jenderal langsung merangsek maju dari segala arah. Mereka mengayunkan pedang, kapak, dan tombak yang bersinar terang oleh sihir elemen. Target mereka hanya satu: tubuh Zian.
Zian sama sekali tidak mundur. Niat membunuhnya mendidih dengan sangat liar.
"Samsak bergerak yang bagus," bisik Zian.
BUM!
Zian menghentakkan kakinya ke tanah berbatu. Tubuhnya melesat maju bagai bayangan iblis. Dia menerobos langsung ke tengah kerumunan puluhan senjata tajam itu.
Seorang preman menebaskan pedang besarnya tepat ke leher Zian.
Zian tidak menghindar. Dia mengangkat lengan kanannya untuk menangkis.
TRANG!
Pedang pusaka itu patah menjadi dua bagian saat membentur kulit lengan Zian. Preman itu melongo tidak percaya. Sebelum dia sempat berkedip, Zian menampar wajahnya dengan punggung tangan kanan.
Brak!
Kepala preman itu berputar dengan sudut yang mengerikan. Tubuhnya terlempar ganas menabrak sepuluh temannya di belakang hingga mereka semua tumbang memuntahkan darah.
Zian terus bergerak seperti mesin panen maut. Setiap pukulan, tendangan, dan sikuan yang dia lepaskan selalu menghasilkan bunyi tulang retak dan jeritan histeris. Senjata pusaka apa pun yang mengenai tubuhnya langsung patah tanpa sisa.
"Lengan kananku rasanya ringan sekali," tawa Zian puas di tengah hujan darah.
Tulang Asuranya yang baru berevolusi benar-benar melampaui ekspektasinya. Kepadatan tulangnya membuat setiap hantamannya memiliki bobot setara gunung.
Dalam waktu kurang dari dua menit, jalanan berbatu itu sudah dipenuhi oleh puluhan tubuh preman yang mengerang kesakitan dengan tulang hancur. Separuh dari pasukan elit Kaelen rata dengan tanah tanpa Zian perlu mengeluarkan setetes keringat pun.
Kaelen membelalakkan matanya lebar-lebar. Rahangnya menegang keras.
"Tenaga fisik murni? Kau bukan kultivator sihir?!" teriak Kaelen tidak percaya.
"Sihir itu cuma mainan untuk orang pengecut yang tidak berani mengotori tangannya," jawab Zian sambil mengibaskan darah dari tangan kanannya.
Zian menatap lurus ke arah Kaelen. "Sekarang giliranmu, Jagal. Ayo tunjukkan mainanmu padaku."
Amarah Kaelen meledak hingga ke ubun-ubun. Aura tingkat Kaisar Awal menyembur keluar dari tubuhnya, menciptakan badai angin yang sangat kencang di jalanan itu. Sisa anak buahnya yang ketakutan langsung merangkak mundur menjauh.
"Sombong sekali kau, Tikus Tanah!" raung Kaelen. "Akan kutunjukkan apa itu kekuatan mutlak!"
Kaelen menempelkan kedua telapak tangannya ke tanah berbatu. Sihir manipulasi logamnya bekerja dengan sangat gila.
Logam-logam dari senjata pasukannya yang patah, tiang lampu, hingga bijih besi di dalam tanah langsung tertarik dan berkumpul ke arah Kaelen. Logam-logam itu melebur dan membentuk sebuah pedang raksasa sepanjang lima meter di tangan pria itu.
"Tebasan Besi Pembelah Gunung!" teriak Kaelen sambil melompat ke udara.
Dia mengayunkan pedang raksasa itu dengan seluruh tenaga tingkat Kaisarnya langsung ke arah kepala Zian. Tekanan udaranya membuat rumah-rumah kosong di pinggir jalan retak berantakan.
Bai Chen kembali menahan napas. "Itu sihir pemusnah! Mundur, Zian!"
Tapi Zian justru tertawa liar. Dia menyukai tantangan langsung seperti ini.
Zian membusungkan dadanya. Dia mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat, lalu menyambut tebasan pedang raksasa itu dengan tinju lurus ke atas.
Benturan keras adu kekuatan kembali terjadi.
BOOM!!!
Gelombang kejut dari benturan itu menyapu seluruh jalanan. Debu mengepul tinggi. Tanah di sekitar kaki Zian amblas sedalam setengah meter.
Mata Kaelen hampir melompat keluar. Dia merasa pedang besarnya baru saja menebas dinding abadi yang tidak bisa ditembus. Tangannya bergetar hebat menahan daya tolak dari tinju Zian.
"Ternyata besimu sangat rapuh," ejek Zian dingin dari bawah tebasan pedang.
KRAK!
Bunyi retakan terdengar dari mata pedang raksasa Kaelen. Retakan itu memanjang dengan cepat ke arah gagangnya. Sedetik kemudian, pedang kebanggaan sang Jagal itu meledak berkeping-keping menjadi hujan serpihan besi.
Kaelen kehilangan keseimbangan di udara dan jatuh berdebum ke tanah. Dia terbatuk hebat, menatap tangannya yang berdarah karena ledakan senjatanya sendiri.
"M-mustahil..." gumam Kaelen pucat. "Tubuh manusia tidak mungkin sekeras itu!"
Zian melangkah santai keluar dari kawah tanah. Dia menepuk pundaknya yang sedikit berdebu.
"Sudah kubilang, mainanmu tidak mempan," ucap Zian. "Ada trik lain? Atau lehermu sudah siap kupatahkan?"
Kaelen menggigit bibirnya sampai berdarah. Dia tahu dia tidak bisa mengalahkan monster ini dalam pertarungan jarak dekat. Dia harus menggunakan sihir pamungkasnya untuk menjebak pemuda gila ini.
"Mati kau, Iblis! Formasi Peti Mati Besi Abadi!" aum Kaelen sekuat tenaga.
Kaelen membanting kedua tangannya ke tanah. Lingkaran sihir raksasa menyala merah di bawah kaki Zian.
Dalam sekejap mata, dinding-dinding besi tebal melesat keluar dari dalam tanah, membentuk sebuah kubus raksasa yang langsung menelan seluruh tubuh Zian. Kubus besi itu tertutup rapat tanpa celah sedikit pun.
Kaelen tidak berhenti di situ. Dia terus mengalirkan energinya, menambah ketebalan kubus besi itu berlapis-lapis hingga ukurannya sebesar rumah. Rantai-rantai logam raksasa melilit peti mati itu dengan sangat erat.
Jalanan mendadak hening.
Kaelen berdiri terengah-engah. Keringat sebesar biji jagung mengucur dari dahinya. Dia tersenyum buas menatap peti besi raksasa di depannya.
"Hahaha! Berhasil!" tawa Kaelen meledak penuh kemenangan.
Dia menatap Bai Chen dan Jian yang masih berdiri di pinggir jalan.
"Teman kalian sudah tamat!" ancam Kaelen sombong. "Peti mati itu terbuat dari baja sihir tingkat tinggi. Di dalamnya tidak ada udara, dan rantai itu akan terus menyusut sampai tubuhnya remuk menjadi pasta daging!"
Bai Chen menutup kipasnya. Dia tidak terlihat panik sama sekali. Dia justru menghela napas panjang dan menatap Kaelen dengan tatapan kasihan.
"Kau benar-benar tidak tahu siapa yang baru saja kau kurung, Kaelen," ucap Bai Chen pelan.
Jian yang berdiri bersandar pada pedangnya juga ikut tertawa serak. "Telingamu sebaiknya ditutup, Babi Gemuk."
Kaelen mengerutkan kening. Tiba-tiba, senyum kemenangannya luntur.
Peti besi raksasa di depannya mulai bergetar pelan. Terdengar bunyi detak jantung yang sangat keras dari dalam peti tersebut. Bunyinya seperti palu dewa yang sedang dipukulkan ke gendang telinga.
Dug... Dug... Dug...
Kaelen mundur selangkah dengan wajah tegang. "T-tidak mungkin. Baja itu menyerap semua tenaga fisik!"
Sebuah suara tenang dan sangat dingin terdengar menembus ketebalan baja tersebut, menggema langsung di kepala Kaelen.
"Kau sebut rongsokan tipis ini sebagai peti mati abadi?"
Zian sedang meregangkan ototnya di dalam sana.
Tiba-tiba, permukaan kubus besi raksasa itu menonjol keluar dari dalam membentuk cetakan kepalan tangan. Satu tonjolan. Dua tonjolan. Tiga tonjolan.
KRAAAK!
Retakan panjang mulai merayap liar menutupi seluruh permukaan peti besi pamungkas milik Kaelen sang Jagal, memancarkan hawa panas berwarna merah darah yang siap meledak menghancurkan segalanya.
cuma tinju asal ajaaa