Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.Pewaris
Sinta meletakkan sendoknya dengan suara berdenting. Ia menatap Lora dengan dingin.
“Tidak perlu membuat keributan di pagi hari yang cerah ini, Lora. Jika kamu tidak suka, buatlah sendiri makanan untuk suamimu. Kami hanya menggaji chef dan pelayan yang melayani kami. Lagi pula, di meja makan ini juga tidak menerimamu dan suamimu. Apa kamu tidak lihat? Tidak ada tempat untukmu dan suamimu di sini. Karena kalian berdua memang tidak seharusnya ada di sini.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Apa?…” ucap Lora, mengangkat satu alisnya dan memandang ke arah Sinta dengan senyum tipis yang justru membuat bulu kuduk meremang. “Kakak ipar, apa kamu yakin dengan ucapanmu? Apa perlu aku ingatkan lagi siapa pewaris perusahaan papa tirimu itu?”
Sinta tersenyum sinis. “Lalu kenapa? Lagipula apa yang bisa dilakukan pria cacat seperti suamimu itu? Jangankan mewarisi perusahaan, memimpin perusahaan saja dia tidak mampu. Pada akhirnya yang akan menjadi pewaris perusahaan itu adalah suamiku dan juga adikku.”
Vely yang duduk di sana tersenyum penuh kemenangan. Sorot matanya seolah berkata bahwa Lora tidak akan pernah menang di rumah ini.
“Jangan terlalu sombong, Lora. Hanya karena dia adalah pewaris resmi perusahaan bukan berarti dia bisa melakukan apa pun seperti yang kamu banggakan. Di mata semua orang dia hanyalah anak idiot yang tidak berguna,” ucap Donni menambahi, sambil terus menyantap makanannya tanpa menghiraukan tatapan penuh amarah dari Lora.
Vino menatap Lora ,"Belum terlambat jika kamu minta maaf dan mau bekerja sama dengan kami Lora .Aku pastikan kamu tidak akan mendapatkan perlakuan seperti jika kamu menurut ."Vino tersenyum ke arah Lora seolah memberi solusi dari tekanan yang baru di katakan kakak- kakanya .
Cukup ceraikan pria idiot ini ,maka aku akan menerimamu kembali atau bahkan bisa menjadi istriku ."sambung Vino dengan bangganya .
Lora benar-benar tidak bisa menerima perlakuan itu. Meskipun Devon hanyalah anak angkat dari Martanus, mereka semua juga anak tiri yang tidak memiliki hubungan darah dengannya. Namun lagaknya seperti anak kandung yang berhak atas seluruh harta Martanus—padahal jelas-jelas seluruh harta dan aset telah diserahkan kepada Devon.
Lora mengulum air liurnya lalu dengan hembusan kuat ia meludahkannya tepat di wajah Vino hingga mengenai wajahnya .
Cuhh..
"Aku tidak Sudi menjadi istri ataupun bekerja sama dengan kuman parasit seperti kalian ."ucap Lora dengan wajah mengeras dan tatapan membara .
Sebelum Vino berdiri untuk membalas perbuatannya, Lora Dengan cepat meremas alas meja dengan kuat. Dalam satu hentakan keras, ia menarik alas meja itu.
Semua piring dan makanan yang tersaji di atas meja langsung berhamburan, menumpahkan kuah dan nasi ke pakaian mereka yang duduk di sana. Suara pecahan dan jeritan memenuhi ruangan.
“Apa yang kamu lakukan?!” teriak Sinta, berdiri dengan wajah memerah.
Begitupun dengan Vino yang terbakar kemarahan karna ucapan dan perbuatan Lora .
"LORA,...."teriak Vino dengan tatapan tajam memandangnya .
Namun Lora tak peduli. Ia menghempaskan alas meja itu ke lantai, lalu berbalik menatap Devon yang masih duduk kaku dengan mata membesar.
Lora berjalan mendekat, lalu meraih tangan Devon dengan lembut—kontras dengan amukan barusan.
“Devon, sayang, ayo kita mencari makanan enak di luar. Queen dan King seperti kita tidak pantas makan bersama para parasit dan kuman seperti mereka,” ucap Lora, menggandeng tangan Devon dan mengabaikan pandangan permusuhan dari semua orang yang menatapnya seolah ingin menelannya hidup-hidup.
Wajah Devon yang tadi pucat perlahan berubah cerah.
“Benarkah, Queen? Yeay! Epon suka makanan enak. Epon boleh pesan yang banyak nanti, ya?”
Lora tersenyum lembut, berbeda dari sorot tajamnya tadi.
“Tentu saja. Pesan semua yang kamu mau.”
Dan tanpa menoleh lagi ke belakang, mereka berdua melangkah pergi—meninggalkan meja makan yang kini porak-poranda, serta keluarga yang hanya bisa menatap dengan amarah dan rasa tidak terima.
_______
Restoran bintang lima itu dipenuhi cahaya kristal dan aroma makanan mahal yang menggoda. Lora sengaja memilih tempat prasmanan agar Devon bisa mengambil apa pun yang ia inginkan tanpa batas. Tidak ada lagi nasi basi. Tidak ada lagi perlakuan seperti hewan.
Di belakang mereka, kepala pelayan berjalan tenang membawa map hitam berisi berkas-berkas penting.
Devon tampak begitu bahagia. Ia mengambil steak, udang, pasta, bahkan aneka dessert dengan wajah polosnya yang bersinar. Lora hanya memperhatikannya sesaat, sebelum duduk berhadapan dengannya bersama kepala pelayan.
Setelah piring-piring terisi penuh, kepala pelayan membuka map tersebut dan mulai berbicara dengan suara rendah namun tegas.
“Almarhum pimpinan, Tuan Martanus, melalui wasiat notaris dan akta hibah saham yang telah didaftarkan secara sah, menyerahkan tujuh puluh lima persen saham di Morrix Holdings Corporation kepada Tuan Devon. Pengalihan tersebut telah dicatat dalam RUPS dan dilaporkan secara resmi sesuai hukum perseroan.”
Lora yang sedang meminum air mineral hampir tersedak.
Kepala pelayan melanjutkan dengan tenang.
“Selain saham mayoritas, almarhum juga mewariskan seluruh harta pribadi atas nama beliau kepada Tuan Devon. Termasuk beberapa properti, rekening deposito, investasi luar negeri, serta aset bergerak lainnya. Jika ditotal, nilai kekayaan pribadi yang diwariskan kurang lebih tiga puluh lima triliun rupiah. Nilai tersebut belum termasuk valuasi saham perusahaan.”
Mata Lora sontak menganga.
"Tiga puluh lima triliun… belum termasuk tujuh puluh lima persen saham perusahaan sebesar Morrix Holdings.''
Kepala pelayan kembali melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih formal.
“Harta tersebut telah dipisahkan secara hukum dari bagian warisan almarhum istrinya. Mengenai Tuan Vino dan Nona Sinta, secara yuridis mereka bukan ahli waris kandung dari almarhum pimpinan. Mereka adalah anak-anak yang dibawa oleh almarhum istri dari pernikahan sebelumnya.”
Ia membuka lembar lain.
“Almarhum memang memberikan mereka masing-masing lima persen saham melalui hibah semasa hidup, sehingga total kepemilikan mereka sekitar sepuluh persen. Namun, di luar itu, mereka tidak memiliki hak waris atas harta pribadi almarhum. Semua telah ditetapkan secara sah melalui notaris dan tidak dapat digugat tanpa dasar hukum yang kuat.”
Lora perlahan menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Jadi jika ditelaah, mereka sebenarnya tidak punya hak atas harta dan perusahaan kecuali sepuluh persen saham itu, kan? Dan di mansion itu sebenarnya Devon lebih berkuasa dibanding mereka. Mereka hanya parasit yang bergantung pada harta yang sudah diwariskan pada Devon.”
Kepala pelayan mengangguk hormat.
“Secara hukum dan struktur kepemilikan, benar, Nona.”
Lora menoleh ke arah Devon yang sedang makan dengan tangan, wajahnya belepotan saus, tertawa kecil karena menemukan puding cokelat kesukaannya.
"Dia sekaya itu… tapi keluarga itu hanya memberinya sisa makanan yang sudah basi?"
Hatinya terasa diremas.
“Mereka berani melakukan seperti itu karena Tuan Devon mengalami gangguan ingatan seperti sekarang. Namun dulu, saat pimpinan masih hidup, Tuan Devon sangat disegani. Para anggota keluarga itu bahkan tidak berani mengangkat suara di hadapannya.”
"Dia cukup berkuasa?.”
Kepala pelayan tersenyum tipis.
“Tidak hanya berkuasa, tapi bertahta. Mengingat Tuan Devon diangkat menjadi anaknya delapan tahun yang lalu. Di kantor, beliau dijuluki Raja Eksekusi. Siapa pun yang berani bermain di belakangnya akan disingkirkan secara profesional dan permanen dari lingkaran perusahaan.Mengingat jika Dia adalah tangan kanan pimpinan.”
"Raja Eksekusi."
Jantung Lora berdegup.
Delapan tahun yang lalu… itu bertepatan dengan hari ketika Devon meninggalkannya tanpa penjelasan.
Ia melirik pria di hadapannya yang kini tertawa polos sambil menyuapkan kentang goreng ke mulutnya sendiri.
"Jadi ini alasanmu meninggalkanku dulu? Karena kamu sudah diangkat menjadi anak orang kaya dan memiliki kuasa?"
.
.
.
💐💐💐Bersambung 💐💐💐
Semengerikan itu gelar Devon tapi pas udah kayak gini malah di perlakukan seperti anjing jalanan oleh para penumpang yang berada di rumahnya😤
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤