Diana harus menerima kenyataan pahit, kalau suami yang dia nikahi selama dua tahun ini sebenarnya telah menyembunyikan banyak rahasia darinya.
Di depan Diana, Rafli bersikap seolah dia suami yang baik dan setia. Tapi di belakang Rafli itu tukang selingkuh dan suka berjudi.
Hingga suatu ketika, Rafli kalah judi dan menjadikan Diana sebagai pelunas hutangnya. Diana di serahkan pada seorang pengusaha yang bersedia membayar hutang judinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Novi mencoba untuk menghilangkan semua tanda yang di tinggalkan oleh pria yang tidak dia kenal di tubuhnya. Novi menggosok tubuhnya dengab sangat kuat di dalam kamar mandi. Dia benar-benar ingin menghilangkan bau pria yang menyentuh seluruh tubuhnya itu.
Novi menangis sejadi-jadinya sambil melakukan itu. Tapi setelah tubuhnya memerah karena dia terus menggosok untuk menghilangkan aroma dan tanda dari pria yang telah menodaiinya. Tanda itu tidak mau hilang, aromanya juga tak mau hilang. Novi merasa meskipun sudah satu jam dia mandi dan mengguyur tubuhnya. Tubuhnya tetap saja masih terasa kotor. Dia bahkan jijik saat melihat wajahnya di cermin yang ada di kamar mandi hotel.
Setelah satu jam lebih mandi, Novi pun memunguti satu persatu pakaian yang berserakan di bawah tempat tidur di hotel itu. Novi benar-benar tidak bisa mengingat apapun. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada keluarganya nanti.
Setelah berpakaian, Novi menghidupkan ponselnya. Semua barang di tas nya tidak hilang, ponselnya ada. Dompetnya utuh, bahkan jumlah yang tunai di dalam dompetnya tidak berkurang. Novi malah semakin khawatir, karena mungkin orang itu sengaja melakukan tindakan kejam itu pada Novi hanya untuk kepuasaan semata.
Novi semakin panik, ketika menghidupkan ponselnya dan melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari kakaknya, Diana. Tapi Novi mematikan ponselnya lagi. Dia lupa kalau di ponselnya ada GPS. Novi akan sangat bingung menjelaskan pada kakaknya dan keluarganya jika mereka menemukan Novi di hotel.
Novi buru-buru pergi dari hotel itu, setelah dia berada di sebuah taman yang berada di belakang hotel dia baru menghidupkan ponselnya lagi. Novi pun akhirnya menghubungi Diana.
"Ya Tuhan, Novi... kamu dimana? kenapa tidak pulang? apa terjadi sesuatu padamu, Novi apa kamu baik-baik saja?" tanya Diana bertubi-tubi.
Novi ingin menangis saat Diana bertanya banyak padanya seperti itu, dan menunjukkan kalau Diana sangat perduli pada Novi.
"Maaf kak, ponselnya aku matikan. Aku menginap di rumah temanku, teman dari Suriname, kebetulan dia juga sedang liburan di tempat ini. Di rumah saudaranya, karena banyak cerita, aku sampai lupa mengabarkan pada kakak. Aku minta maaf ya kak!" kata Novi yang lantas menutup mulutnya karena dia hampir menangis.
"Tidak apa-apa, asal kamu baik-baik saja. Ya sudah mau di jemput tidak? sekarang kamu berada di mana?" tanya Diana.
"Tidak usah kak, aku akan pulang setelah sarapan. Sekali lagi aku minta maaf ya kak!" kata Novi.
"Baiklah, kalau begitu. Hati-hati di jalan ya!"
"Iya kak!"
Novi lantas meletakkan ponselnya ke dalam tas. Air matanya kembali mengalir mengingat apa yang sudah terjadi padanya. Dan bagaimana dia menjelaskan kepada keluarganya. Novi sangat takut.
Masalahnya dia yang sudah berbohong pada kedua orang tuanya dan Diana, kalau dia akan pergi ke supermarket. Padahal kenyataannya dia pergi ke klub malam. Meski hanya minum jus, entah bagaimana dia bisa mabuk dan tak sadarkan diri.
Dan sekarang, dia sudah menjadi wanita yang tidak suci lagi. Novi benar-benar bingung harus menceritakan masalah ini pada Diana dan keluarganya atau tidak. Dia takut kalau dia mengatakan yang sebenarnya, keluarganya akan marah dan sangat malu pada perbuatannya. Siapa yang bisa di salahkan, tidak ada yang menyuruhnya untuk pergi ke klub malam bukan.
Setelah menenangkan dirinya beberapa saat di taman itu. Novi memesan sebuah taksi on-line lalu pulang. Novi di sambut oleh Diana dengan pelukan.
"Syukurlah kamu pulang, ayah dan ibu sangat khawatir. Kamu temui mereka dulu ya!" kata Diana.
Novi memang mengangguk patuh. Tapi Novi langsung mengunci dirinya di kamar. Dia mengatakan pada pelayan, kalau dia ingin tidur. Semalam dia membantu temannya yang sedang mengadakan sebuah acara. Jadi dia tidak tidur. Dia minta agar jangan ada yang mengganggunya.
Murni yang datang mencari Novi pun mengetuk pintu kamarnya, tapi tidak di sahuti oleh Novi. Hingga seorang pelayan datang dan memberitahu pada Murni, persis seperti yang Novi katakan padanya.
Murni lantas melihat ke arah pintu kamar Novi. Ada ekspresi cemas di wajah wanita paruh baya itu, tapi dia berusaha untuk percaya pada anaknya seperti yang sudah sudah.
Beberapa Minggu berlalu. Semua sudah hampir kembali seperti semula. Sampai suatu saat, ketika Diana sedang memasak di dapur. Novi yang baru pulang bekerja bersama Reni lantas mual-mual dan langsung berlari ke kamar mandi.
"Masak apa kak? aromanya sampai pintu gerbang loh!" kata Reni.
"Benarkah?" tanya Diana yang sebenarnya hanya tidak sengaja lupa kalau apinya terlalu besar saat dia akan menumis bumbu. Hingga meskipun sudah menyalakan kitchen hood saja aroma bumbu yang menyengat terlanjur menyebar.
"Iya kak, kak Novi sampai mual-mual!" kata Reni lagi.
Diana pun langsung menunjukkan wajah bingung.
"Mual?" tanya Diana dan di angguki dengan cepat oleh Rani.
Diana mulai heran, bisanya kalau mencium aroma masakan menyengat. Orang akan batuk-batuk, atau malah bersin. Apa mungkin bisa mual. Seperti itulah yang ada di pikiran Diana.
Diana lantas bertanya pada Reni.
"Kamu gak mual?" tanya Diana.
"Aku masih aman kak, aku cuma bersin tadi. Tapi kayaknya kak Novi memang lagi gak sehat. Di restoran saja, dia tadi beberapa kali mual mencium bau masakan di dapur. Dia juga minum teh hangat terus, katanya kepalanya pusing!" cerita Reni pada Diana.
Diana lantas terkejut,
"Sudah minum obat belum? atau sudah ke dokter?" tanya Diana.
"Belum, kata kak Novi dia hanya butuh istirahat, tadi pagi katanya rusak sempat sarapan!" jelas Reni lagi.
Mendengar alasan yang di ceritakan oleh Reni. Diana yang tadinya ingin menjenguk Novi lantas membuatkan teh hangat dulu untuk adiknya itu.
Diana mengetuk kamar Novi sambil membawa secangkir teh manis hangat.
Tok tok tok
"Novi, ini kakak. Boleh kakak masuk?" tanya Diana dari luar.
"Iya kak!" sahut Novi.
Diana lantas masuk ke dalam kamar Novi.
"Kata Reni kamu gak enak badan ya? ini kakak buatkan teh. Mau kakak antar berobat tidak?" tanya Diana.
"Tidak usah kak, aku tadi pagi tidak sempat sarapan. Karena lupa aku yang membawa kunci bagian dapur. Setelah makan malam dan istirahat aku pasti akan membaik kak!" kata Novi.
"Baiklah kalau begitu, kakak tunggu kamu di meja makan ya!" kata Diana yang langsung di angguki oleh Novi.
Setelah Andre dan Dani duduk di meja makan, Diana menyiapkan makanan untuk suami dan anaknya itu.
Tapi saat Novi akan duduk, dia tiba-tiba saja mual lagi. Daripada merusak selera makan yang lain. Novi pun memilih pamit dan akan istirahat saja di kamarnya.
"Sayang, itu Novi kenapa?" tanya Andre.
"Lagi gak enak badan mas!" kata Diana.
"Setelah makan malam, kamu hubungi dokter Bella ya sayang. Kasihan Novi!" kata Andre yang memang selalu perduli pada keluarga Diana dan sudah menganggap mereka keluarga Andre sendiri.
"Iya mas!" jawab Diana yang juga mulai cemas dengan keadaan Novi.
***
Bersambung...
terimakasih author
👍👍👍👍