NovelToon NovelToon
Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Razif Tanjung

Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!

Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.

Namur, takdir berkata lain.

saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.

" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "

Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Konsultasi "Boba"

Ruko Nusantara Glow pagi itu tampak lebih tenang dari biasanya, setidaknya sampai suara motor roda tiga yang suaranya seperti mesin giling batu itu parkir di depan pintu kaca.

Bara turun dari The Black Chariot dengan gaya yang sangat tidak estetik. Dia memakai kaos oblong warna putih yang sudah menguning di bagian leher, celana pendek kolor motif batik, dan tentu saja—sandal Swallow legendarisnya yang kali ini dia pakai dengan posisi kanan di kiri, kiri di kanan. Akibatnya, jalannya agak sedikit mengangkang seperti kepiting yang sedang mabuk darat.

Di bahunya, Sersan Jago nangkring dengan pongah, bulu ekornya yang panjang menjuntai kebawah.

Baru saja Bara hendak membuka pintu, sebuah mobil mewah berhenti tepat di belakang gerobaknya. Inspektur Rani keluar dengan seragam yang sangat rapi. Wajahnya cantik, tapi matanya menatap Bara seolah ingin menembakkan peluru karet tepat di dahi pemuda itu.

"Bara! Berhenti kamu!" teriak Rani.

Bara menoleh, menyipitkan mata di balik kacamata hitam patahnya. "Wah, Nona Papan Tulis. Selamat Datang di tempat ku, ternyata pengaruh mu bukan kaleng-kaleng ya, sehingga bisa menemukanku hanya dalam waktu sehari"

Rani mendekat, wajahnya memerah. Dia melirik ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang yang mendengar. "Soal... soal minyak yang kamu kasih kemarin... bagaimana cara pakainya?"

"Oh, Minyak Bulus Alkimia 3.0?" Bara menyeringai lebar, kemudian melangkah maju, memperpendek jarak dengan Rani. Suaranya merendah, terdengar sangat serius tapi penuh kelicikan.

"Dengar ya, Inspektur Manja. Struktur jaringan di area itu sudah mengeras karena mengingat umur anda, dengan mengoleskannya saja tidak akan mengubah apapun, Untuk mengaktifkan hormon pertumbuhan sekundernya, minyak itu butuh Integrasi Termal Kinetik."

"Apa itu?" tanya Rani bingung.

"Bahasa manusianya: Pijatan Manual," jawab Bara santai.

"Dan ada satu syarat mutlak. Karena ramuan ini saya yang racik melalui proses alkimia, maka saya sendiri yang harus memijatnya. Kalau orang lain atau Anda sendiri yang mijit, energinya akan buyar dan dada Anda akan tetap se-efisien papan tulis selamanya, karena hanya saya yang tau titik mana saja yang harus di tekan untuk mengoptimalkannya." Tipu muslihat bara bekerja maksimal, yakali kesempatan di lewatin.

Wajah Rani meledak jadi merah padam. "APA?! Kamu mau... kamu mau melecehkan saya?!"

"Eh, jangan salah sangka ya nona! Ini murni prosedur medis tingkat tinggi!" Bara mengangkat tangannya dengan tulus (tapi matanya melirik nakal).

"Biaya jasanya juga mahal. Satu sesi 50 juta. Anda pikir memegang aset itu mudah, tangan saya ternodai oleh noda-noda dosa, dada anda yang rata."

Rani mengangkat tangannya, siap menampar Bara, tapi kemudian dia melihat ke bawah—ke arah dada seragamnya yang rata. Dia menghela napas panjang, tampak bimbang antara harga diri dan impian memiliki "boba".

"Pikirkan saja dulu, Nona Papan Tulis," kata Bara sambil melenggang masuk ke ruko. "Toko saya selalu buka untuk konsultasi aset."

Di dalam ruko, Alisa sedang sibuk melayani seorang pria paruh baya yang berpenampilan sangat elegan. Pria itu memakai jas dokter berwarna putih bersih dengan bordiran nama di dada: Prof. Dr. dr. Handoko, terlalu panjang untuk dituliskan, Dia adalah kepala rumah sakit paling elit di kota ini.

"Nona Alisa, saya benar-benar butuh Akar Kuning Hutan Larangan dan Jamur Lingzhi Merah yang sudah dikeringkan secara alami," ucap Handoko dengan suara yang tenang namun penuh kecemasan.

"Kami memilikinya, Prof. Tapi stoknya sangat terbatas karena proses pemetikannya yang berbahaya," jawab Alisa dengan nada profesional.

Bara masuk ke balik meja kasir, meletakkan kunci motornya, lalu mengendus-endus udara di sekitar tas jinjing Prof. Handoko.

"Bau Sepsis... dicampur residu Glukosa tinggi... dan ada aroma busuk dari empedu," gumam Bara secara tiba-tiba.

Prof. Handoko tertegun. Dia menoleh ke arah Bara yang penampilannya lebih mirip gelandangan baru bangun tidur daripada seorang ahli farmasi. "Maaf, Anda siapa?"

"Ini Bara, pemilik toko ini, Prof," Alisa segera memperkenalkan, sambil memberikan tatapan tajam pada Bara agar dia membetulkan posisi sandalnya yang terbalik.

Bara mengabaikan Alisa. Dia mengambil resep di atas meja, itu adalah milik Handoko. Matanya bergerak cepat membaca tulisan tangan khas dokter itu.

"Anda mau pakai Akar Kuning dan Lingzhi untuk pasien dengan diagnosa Sirosis Hati Stadium Akhir disertai Gagal Ginjal?" tanya Bara sambil mengangkat alis.

Prof. Handoko terkejut. "Bagaimana Anda bisa tahu?"

"Dari kombinasi herbal yang Anda minta," Bara melemparkan resep itu kembali ke meja. "Kalau Anda memberikan ramuan ini pada pasien tersebut, Anda tidak sedang menyembuhkannya, Anda sedang mempercepat jadwal pemakamannya."

Wajah Handoko menegang. "Jaga bicara Anda, Anak Muda! Saya sudah melakukan riset mendalam. Akar Kuning sangat bagus untuk regenerasi sel hati!"

"Memang bagus!" potong Bara. "Tapi Anda lupa satu hal. Akar Kuning meningkatkan filtrasi darah secara drastis. Jika ginjal pasien sudah tidak berfungsi, aliran racun yang dilepaskan dari hati akan menumpuk di ginjal dan membuatnya meledak—secara harfiah. Pasien akan mati dalam waktu dekat karena syok anafilaktik."

Hening sejenak. Handoko terdiam. Sebagai dokter terbaik, dia mulai menghitung ulang logika medisnya. Dia menyadari ada celah dalam teorinya yang baru saja ditunjukkan oleh seorang pemuda ber-sandal Swallow.

"Pasien saya... dia adalah orang paling berpengaruh di kota ini," bisik Handoko. "Sudah sebulan tidak ada kemajuan. Tubuhnya semakin membengkak dan dia sering berhalusinasi. Jika saya gagal... karier saya mungkin berakhir."

Bara menatap Handoko. Dia melihat ketulusan di mata dokter tua itu, bukan kesombongan.

"Dugaan saya, pasien Anda bukan cuma Sirosis. Dia mengalami Penyumbatan Jalur Empedu oleh Parasit Purba yang mungkin dia dapat saat makan makanan mentah di hutan atau daerah tropis," analisis Bara. "Bahan herbal Anda salah total karena Anda hanya mengobati gejalanya, bukan parasitnya."

"Bisakah Anda membuktikannya?" tanya Prof. Handoko penuh harap.

"Bawa saya ke sana," kata Bara. "Saya harus melihat warna matanya dan mencium aroma keringatnya. Tapi jangan harap saya mau ganti baju atau pakai sepatu. Ini adalah seragam tempur saya."

Sebuah mobil mewah Mercedes-Benz berhenti di lobi utama rumah sakit. Prof. Handoko turun, diikuti oleh seorang pemuda dekil.

Seluruh perawat dan sekuriti di lobi terpaku.

"Prof, maaf... itu... siapa yang Anda bawa?" tanya kepala sekuriti dengan bingung.

"Dia konsultan ahli saya. Jangan ada yang menghalangi!" perintah Handoko dengan tegas.

Mereka sampai di kamar VVIP nomor 001. Di dalam, beberapa dokter spesialis sedang berdiskusi dengan wajah suram. Di tempat tidur, seorang pria tua bertubuh tambun (seorang mantan pejabat tinggi) terbaring lemah dengan perut yang membusung besar dan kulit yang sangat kuning.

"Handoko! Akhirnya kamu datang! Siapa orang gila yang kamu bawa ini?!" Ucap salah satu dokter spesialis senior yang sombong.

Bara tidak menjawab. Dia langsung berjalan ke arah pasien. Dia membuka kelopak mata si pasien, lalu menekan titik di bawah tulang rusuk kanan pria itu.

Aaaargh! Si pasien mengerang pelan meski dalam keadaan setengah sadar.

Bara mendekatkan hidungnya ke mulut si pasien, menghirup napasnya, lalu mengangguk-angguk.

"Betul kan," kata Bara sambil menoleh ke Prof. Handoko. "Lihat resep yang kalian buat Kalian memberikan Diuretik dosis tinggi dicampur Kortikosteroid. Hebat sekali. Kalian sedang berusaha mengeringkan tubuhnya saat hatinya sedang terbakar."

"Heh, Gembel! Kamu tahu apa soal kedokteran?!" bentak dokter sombong tadi.

Bara mengambil sebuah botol kecil dari sakunya, berisi cairan berwarna hitam pekat yang baunya seperti karet terbakar.

"Ini adalah Sari Akar Tuba yang sudah saya netralkan racunnya dengan Asam Jeruk Nipis Hutan," kata Bara. "Hanya ini yang bisa membuat parasit di empedunya pingsan dan keluar lewat pembuangan alami."

Bara menatap Prof. Handoko. "Prof, resep Anda yang tadi... kalau saya tambahkan Bubuk Cangkang Udang Mutan dari tambak saya, dia akan menetralkan efek keras Akar Kuning terhadap ginjal. Tapi tanpa itu... pasien ini akan mati malam ini."

Prof. Handoko menatap rekan-rekannya, lalu menatap Bara. Dia mengambil sebuah keputusan nekat.

"Lakukan, Bara. Saya yang bertanggung jawab," ucap Prof. Handoko.

Bara tersenyum miring. Dia mulai meracik obat di atas meja rumah sakit yang mewah itu. Dia mencampurkan bubuk-bubuk aneh ke dalam gelas, mengaduknya dengan gagang sendok yang dia lap ke kaos kuningnya terlebih dahulu.

"Tunggu, Bara!" Prof. Handoko mencegah saat Bara mau meminumkan ramuan itu.

"Kenapa, Prof?"

"Kenapa sandalmu terbalik?" tanya Prof. Handoko yang sejak tadi menahan diri untuk tidak bertanya.

Bara melihat ke bawah. "Oh, ini. Ini adalah teknik penyeimbang beban, Prof. Biar ginjal saya nggak gampang capek saat jalan jauh. Ilmu alkimia kaki, Anda nggak akan paham."

Bara meminumkan ramuan itu pada sang pejabat. Seluruh ruangan menahan napas.

Lima menit berlalu seperti hembusan napas tertiup angin....

Perut si pejabat yang tadinya keras seperti batu, perlahan mulai mengeluarkan suara gemuruh yang sangat keras.

BRRRUUUUTTTT!

Sebuah kentut yang sangat panjang dan sangat bau memenuhi ruangan VVIP. Bau itu begitu dahsyat sampai dokter spesialis yang sombong tadi hampir pingsan di tempat.

Bara menutup hidungnya dengan sapu tangan yang telah di oleskan ramuan untuk menetralisir bau "Nah, itu dia. Gas metana dari parasit yang mulai pecah. Siapkan pispot, sebentar lagi dia akan mengeluarkan 'harta karun' yang bikin kalian muntah darah."

Prof. Handoko melihat monitor. Detak jantung pasien mulai stabil. Tekanan darah yang tadinya rendah, perlahan naik ke angka normal.

"Keajaiban..." gumam Prof. Handoko.

"Bukan keajaiban, Prof. Ini cuma biologi yang kalian lupakan karena terlalu fokus kesesuatu yang telah ada sebelumnya, tanpa memastikan terlebih dahulu penyakit kecil yang terabaikan" kata Bara sambil memungut sisa bubuknya.

Saat para dokter sibuk mengurus pasien, Bara berjalan keluar ruangan. Inspektur Rani ternyata sudah menunggu di depan pintu kamar, dia mengikuti dari tadi karena penasaran.

"Gimana? Berhasil?" tanya Rani ketus.

Bara menatap Rani, lalu matanya turun ke dada Rani lagi. "Berhasil. Pasien selamat, dan saya baru saja sadar... kalau biaya pijat boba tadi sepertinya harus saya naikkan jadi 100 juta. Karena tangan saya ini baru saja menyelamatkan nyawa pejabat, nilainya sudah naik setara tangan emas."

"BARAAAAA!" teriakan Rani pelan hanya mereka dua yang dengar.

Bara tertawa terbahak-bahak, lari menuju lift meninggalkan para dokter elit yang masih bengong dengan bau kentut pejabat yang astaga baunya.

1
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Razif Tanjung: terimakasih udah mampir kak🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus Thor semangat semangat semangat
Gege
pikir ada adegan kultivasi ganda kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu lima some...kan tenaganya berlimpah ruah birahinya naik..mirip epek afrodiak..🤣🤭
Razif Tanjung: jangan tar ke banned🤣🤣🤣
total 1 replies
Gege
naaaah kaaan ada adegan nanti remas remas...pastikan scene remas meremas 2k kata sendiri thoorr...🤣🤣
Razif Tanjung: eittt pelanggaran 🤣🤣
total 1 replies
Gege
kereeen updatenya...apik dan epic... kalo bisa lima kenapa tiga Thor...banyakin hareemnyaah...
Gege
apakah akan ada scene kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu dalam 10k kata thorr?🤣
Razif Tanjung: oh jelas tidak🤭
total 1 replies
Gege
mantaabbb...gassss 10k kata per update thorrr...
Gege
wasyeeek... moga ada alur yang nemuin wanita kena kanker payudara sembuhnya harus dipijat dengan olesan ramua ajaibnya Bara...yoook bikin thorr alurnya
Razif Tanjung: wah kebetulan sekali🤣🤣🤣, tinggal nunggu update ya kak
total 1 replies
Gege
karya yang warbyasaah
Gege
gilaa karya yang warbyasaah...para reader NT wajib sih ini mampir...rugi kalo engga...gasss thorrr
Gege
udah sampe bab 6 ceritanya amajing bangeed...warbyasaah...gass sekali up 10k kata...🤣
Razif Tanjung: wah terima kasih udah mampir saya terharu loh
total 1 replies
Slow ego
gua ikut mampir like👍.
Slow ego
namanya unik🤔
Razif Tanjung: terimakasih banyak kak, apakah ada yang harus saya perbaiki kedepannya, dari sudut pandang kakak yang baca deh
total 3 replies
anggita
mampir like👍, iklan👆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!