"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."
Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).
Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.
Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Bayang-Bayang Tanpa Wajah
Langit dalam mimpi itu berwarna abu-abu pekat, tanpa matahari, tanpa bintang. Udara terasa dingin menusuk tulang, membawa aroma bunga kamboja yang menyengat dan membingungkan.
Hannah berdiri di tengah sebuah ruangan pesta yang megah. Lampu kristal bergantungan di langit-langit, musik orkestra mengalun lembut. Orang-orang berlalu-lalang dengan pakaian formal, gelas-gelas berdenting, tawa renyah terdengar di sana-sini. Namun anehnya, tak ada satu pun dari mereka yang melihat Hannah. Ia seolah transparan. Tak kasat mata.
Di ujung ruangan, di bawah sorot lampu utama, berdiri sosok yang sangat Hannah kenal.
Muhammad Akbar.
Suaminya itu tampak sangat gagah dengan setelan jas hitam tuxedo yang pas di tubuh tegapnya. Ia tersenyum bukan senyum sopan yang biasa ia berikan pada Hannah, melainkan tawa lepas yang penuh kebahagiaan.
Namun, tawa itu bukan untuk Hannah.
Di samping Akbar, berdiri seorang wanita.
Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna merah marun yang elegan, membalut tubuhnya yang tinggi semampai dan proporsional. Ia terlihat dewasa, matang, dan... sempurna. Tangannya melingkar mesra di lengan Akbar, dan Akbar menggenggam tangan itu dengan erat, seolah takut kehilangan.
"Mas Akbar!" panggil Hannah. Ia berusaha berteriak, tapi suaranya tak keluar. Tenggorokannya tercekat.
Hannah berlari mendekat. Ia ingin memisahkan mereka. Ia ingin berteriak bahwa ia adalah istri sah Akbar. Namun semakin Hannah berlari, jarak di antara mereka terasa semakin jauh.
Saat Hannah akhirnya berhasil mendekat dalam jarak beberapa meter, wanita itu menoleh ke arahnya.
Jantung Hannah berhenti berdetak.
Wanita itu tidak memiliki wajah.
Bagian wajahnya kabur, seperti lukisan yang disiram air. Tidak ada mata, tidak ada hidung, tidak ada mulut. Hanya kekosongan yang mengerikan. Namun, Hannah bisa merasakan bahwa wanita tanpa wajah itu sedang menatapnya dengan tatapan meremehkan.
"Dia lebih mengerti aku, Hannah," suara Akbar terdengar bergema, dingin dan asing. "Duniamu terlalu kecil untukku."
Wanita tanpa wajah itu kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Akbar, dan Akbar mencium puncak kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang persis seperti yang biasa ia lakukan pada Hannah.
"TIDAK!"
Hannah tersentak bangun.
Napasnya memburu hebat, seolah ia baru saja berlari maraton. Keringat dingin membasahi dahi dan punggungnya, membuat baju tidurnya terasa lengket dan tidak nyaman.
Hannah meraba sekeliling dengan panik. Gelap. Hening. Hanya suara dengung AC dan detak jam dinding yang terdengar. Ia berada di kamarnya sendiri. Di atas kasur dusty pink-nya.
Jam di nakas menunjukkan pukul 03.15 dini hari.
Hannah memeluk lututnya, mendekap tubuhnya yang gemetar. Air mata meluncur deras tanpa bisa ditahan. Itu hanya mimpi. Logikanya tahu itu hanya bunga tidur. Tapi rasanya... rasanya begitu nyata. Rasa sakit di dadanya saat melihat Akbar tersenyum pada wanita lain terasa begitu fisik, seolah ada belati yang baru saja ditarik dari jantungnya.
Bayangan wanita tanpa wajah itu terus menari-nari di pelupuk matanya. Wanita yang anggun, dewasa, dan setara dengan Akbar. Sesuatu yang Hannah rasa tidak dimilikinya.
Hannah tidak bisa tidur lagi malam itu. Ia menghabiskan sisa malam dengan duduk di atas sajadah, menangis dalam sujud, namun rasa sesak itu tak kunjung hilang.
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa berbeda.
Biasanya, jam enam pagi adalah waktu paling hangat bagi mereka. Hannah akan bercerita tentang rencana kuliahnya, dan Akbar akan mendengarkan sambil menikmati kopi. Tapi pagi ini, keheningan yang menyesakkan menguasai ruangan.
Hannah meletakkan piring berisi nasi uduk dan telur dadar di depan Akbar dengan gerakan mekanis. Tanpa suara. Tanpa senyum. Matanya sembab, dan ia terus menunduk menghindari tatapan suaminya.
"Terima kasih, Dek," ucap Akbar ceria, belum menyadari perubahan cuaca di wajah istrinya. "Wah, nasi uduk. Tumben sempat masak nasi uduk?"
Hannah hanya mengangguk singkat, lalu duduk di kursinya sendiri. Ia mengaduk-aduk bubur ayam miliknya tanpa selera.
Akbar mulai makan. Setelah beberapa suapan, ia baru menyadari bahwa istrinya sama sekali tidak bersuara. Ia meletakkan sendoknya.
"Dek? Kamu kenapa?" tanya Akbar lembut. "Kok diam saja dari tadi? Sakit gigi?"
Hannah menggeleng pelan, matanya tetap terpaku pada mangkuk bubur. "Enggak, Mas."
"Terus kenapa? Matamu bengkak begitu. Kamu nangis semalam?" Akbar mulai khawatir. Ia menggeser kursinya mendekat, hendak menyentuh dahi Hannah untuk mengecek suhu tubuh.
Namun, saat tangan Akbar terulur, Hannah refleks memundurkan kepalanya. Menghindar.
Tangan Akbar menggantung di udara.
Ekspresi Akbar berubah. Ada rasa kaget dan sedikit terluka melihat penolakan itu. Hannah tidak pernah menolak sentuhannya sebelumnya.
"Hannah?" panggil Akbar, suaranya sedikit lebih tegas. "Ada apa? Mas ada salah? Kalau Mas ada salah, ngomong. Jangan diam begini."
Hannah meremas sendok di tangannya. Ia ingin cerita. Ia ingin bilang, "Mas, aku mimpi Mas punya istri lain. Mas bilang aku kekanak-kanakan."
Tapi kalimat itu tertahan di tenggorokan. Terdengar sangat konyol dan childish. Bagaimana mungkin ia marah pada suaminya karena sebuah mimpi? Akbar pasti akan tertawa, atau lebih parah lagi, Akbar akan menganggapnya istri yang drama dan tidak dewasa tepat seperti ketakutannya dalam mimpi itu.
Rasa insecure itu membungkam mulutnya. Hannah merasa jika ia menceritakannya, ia justru akan memperlihatkan kelemahannya.
"Nggak ada apa-apa, Mas," jawab Hannah datar, akhirnya mengangkat wajah menatap Akbar sekilas. Tatapan matanya kosong, tidak ada binar ceria seperti biasa. "Hannah cuma kurang tidur. Tadi malam kebangun terus susah tidur lagi."
Akbar menatap istrinya lekat-lekat, mencari kebohongan. Ia tahu Hannah tidak sedang jujur.
"Kamu yakin cuma kurang tidur?" selidik Akbar.
"Iya. Mas habisin sarapannya, nanti telat ke kantor," Hannah mengalihkan pembicaraan, lalu berdiri membawa mangkuknya yang masih penuh ke wastafel, memunggungi Akbar.
Akbar menghela napas panjang. Ia tidak ingin memaksa. Mungkin Hannah memang sedang bad mood atau datang bulan, pikirnya mencoba positif.
"Ya sudah. Mas berangkat ya. Kamu hari ini kuliah jam berapa?"
"Jam delapan."
Akbar menghabiskan sarapannya dengan cepat, rasa nasi uduk yang enak itu tiba-tiba terasa hambar di lidahnya.
Saat berpamitan di teras, ritual pagi mereka terasa hampa. Hannah mencium tangan Akbar dengan cepat, nyaris tanpa rasa. Dan saat Akbar hendak mencium keningnya, Hannah sedikit memalingkan wajah sehingga bibir Akbar hanya menyentuh ujung jilbabnya.
"Assalamualaikum," ucap Hannah dingin.
"Wa’alaikumsalam," jawab Akbar lirih, menatap istrinya dengan bingung.
Mobil Akbar melaju meninggalkan pekarangan rumah, tapi pikiran Akbar tertinggal di teras.
Sepeninggal Akbar, Hannah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Ia bersandar di daun pintu, tubuhnya meluruh ke lantai. Tangisnya pecah lagi.
Bayangan mimpi itu kembali datang. Wanita tanpa wajah dengan gaun merah marun. Sosok yang merepresentasikan ketakutan terbesar Hannah: bahwa suatu hari nanti, Akbar akan menyadari bahwa menikahi gadis ingusan berusia 20 tahun adalah sebuah kesalahan. Bahwa Akbar membutuhkan wanita yang setara.
Dan mimpi itu terasa seperti sebuah firasat buruk yang menggerogoti kewarasannya.
Hannah memutuskan untuk menghukum dirinya sendiri dengan kebisuan. Ia takut jika ia bicara, ia akan menuduh Akbar yang tidak-tidak. Jadi, ia memilih memendam racun itu sendirian, membiarkan tembok es perlahan tumbuh lagi di antara dirinya dan sang suami, tepat saat mereka baru saja mulai dekat.
Hari itu, Hannah berangkat kuliah dengan hati yang mendung, membawa beban mimpi yang terasa lebih berat dari tumpukan buku diktat di tasnya.