Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.
Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.
Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 | DENVER DAN MIDNIGHT
Terik mengungkung kota, jalanan tersendat oleh kecelakaan di persimpangan depan sehingga sambil menggerutu, Summer menurunkan suhu di dalam mobilnya—mobil lama Kian yang disumbangkan padanya. Ia menghela napas, deru mesin masih bersahutan sementara deretan mobil merangkak, beberapa petugas polisi sibuk mengatur lalu lintas di depan garis polisi yang melingkari sedan rangsek sehabis menabrak tiang listrik.
Seraya menekan pedal gas dengan gerakan ringan terkendali, Summer melirik jam hitam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul dua siang, masih ada sekitar dua jam sebelum ia pergi ke restoran untuk persiapan buka. Senyum miring terbit di bibir Summer ketika ia mengingat pesan dari Denver yang sampai tepat saat ia keluar dari pelatihan kulinernya: Aku hampir membusuk di sini.
Summer menyugar rambut panjangnya, mendongak untuk memandang langit biru tanpa saput awan. Ada seberkas kelegaan yang masih mengalir, sisa merenung semalaman setelah Kian membantingnya ke tempat tidur sambil mencibir. Ia bertekad tidak akan goyah lagi, sepenuhnya melupakan moralitas bodoh yang tidak lagi relevan jika proyeksi kehancuran hidupnya kembali mengemuka. Dendam kesumat harus dituntaskan, ranjang pesakitannya harus ditebus. Akan Summer pastikan Denver dan Allura membayarnya dengan harga yang pantas.
Dan meskipun merasa buruk karena melibatkan Archilles yang tidak bersalah, Summer memilih untuk terus maju, merangsek batas yang seharusnya tidak ia lewati. Lagi pula, pria itu lumayan berengsek, jadi hitung-hitung Summer adalah kepanjangan tangan Tuhan untuk menghukumnya—setidaknya pemikiran ini cukup menghiburnya.
Setelah dua puluh menit yang melelahkan, mobil Summer merapat di parkiran luas yang terpisah dari bangunan menjulang dengan arsitektur neoklasik bertiang dorik. Simbol kuda hitam yang diikuti nama “Pegasus Equestrian” tertera besar-besar, menempel di tengah atas bangunan.
Denver sudah menunggu di beranda, berbalut pakaian berkuda dan topi hitam. Summer keluar dari mobil, dress floralnya beriak ditiup angin ketika ia menghampiri Denver.
“Wah, kau terlihat tampan, Denver.” Summer tersenyum semringah.
Balasan Denver persis seperti yang Summer perkirakan: mendengus.
“Kukira aku akan membangun tenda dan menyalakan api unggun di sini,” sindir Denver sembari meliriknya sekilas. “Cepat masuk dan selesaikan urusanmu, aku harus segera pergi.”
Denver berjalan mendahului. Seorang resepsionis dan beberapa petugas di sana tersenyum ramah pada Denver, yang kemudian dibalas anggukan singkat pria itu. Summer tidak akan bisa masuk tanpanya karena bukan anggota. Tempat ini adalah sarang para konglomerat dan orang-orang kaya, menggunakan dalih berkuda untuk memamerkan derajat mereka pada orang-orang. Di tempat ini, harga diri dijunjung melebihi batas langit, orang-orang berlomba-lomba membuktikan diri siapa yang paling hebat dan terhormat.
Meskipun membuat Summer sedikit jengkel sekarang, tapi Denver tidak termasuk golongan kebanyakan, ia benar-benar menggemari berkuda, sudah berlatih di sini sejak duduk di sekolah dasar.
“Aku akan mengambil kudaku. Allura ada di tempat itu, kau bisa langsung ke sana.” Denver menunjuk pintu tertutup di sebelah kanan.
Summer mengangguk. Selagi Denver berjalan menjauh, Summer mengamati lorong, menjamu kenangan yang muncul dengan cukup ramah. Dulu ia sering menemani Denver ke sini, melewati hari yang menyenangkan dengan menonton Denver berlatih.
Seiring helaan napas yang terdengar cukup nyaring di lorong yang sepi, Summer memutuskan untuk berhenti bernostalgia. Ia mendorong pelan pintu ganda di sebelah kirinya, dan arena berkuda segera menyambutnya.
Tempat itu berupa lapangan yang luas, memanjang dengan lampu yang menggantung berderet pada atap. Di samping kiri lapangan, terdapat tribun menjulang layaknya tribun di koloseum, sehingga pemandangan orang-orang yang sedang berlatih di bawah sana terlihat jelas. Summer duduk pada salah satu kursi, bersyukur atas area tribun yang temaram.
“Tarik tali pengekangnya! Tarik sekarang, Nyonya!”
Seruan dari seorang instruktur menjadi komando perubahan suasana. Tatapan semua orang langsung tertuju pada Allura yang menjerit karena kudanya berlari kencang tak terkendali, meliuk ke kanan-kiri berusaha mengenyahkan penunggangnya dari atas pelana.
“Dia tidak mau berhenti!” Allura semakin menjerit ngeri, sementara Instruktur berusaha mengejar.
Keadaan semakin menegangkan, wajah Allura sudah pias dan tubuhnya gemetaran. Instruktur pun kepayahan untuk mengejar. Saat kepanikan melanda semakin hebat, kuda Allura tiba-tiba meringik kencang dan mengangkat kedua kaki depannya.
“Eh—akh!” Allura yang tidak siap dengan kudanya yang berhenti mendadak ini langsung kehilangan keseimbangan, terjerembab jatuh sembari memekik.
Seorang instruktur segera mengamankan kuda, sementara yang lain menghampiri Allura.
“Anda tidak apa-apa, Nyonya?” Instruktur berusia pertengahan tiga puluhan itu terlihat khawatir, membantu Allura bangkit berdiri.
“Pertunjukan yang menarik.” Summer bergumam, menyeringai.
Bukan, bukan kecelakaan Allura yang menarik perhatiannya, melainkan para wanita di tengah lapangan yang sedang berdiri sambil memegangi tali kekang kuda masing-masing.
Dari penampilannya saja Summer bisa menyimpulkan: mereka istri para konglomerat. Berada dalam satu arena yang sama membuat Summer tahu jika Allura sudah tergabung dalam kelompok itu. Namun, para wanita itu sama sekali tidak menunjukkan simpati atas kemalangan yang menimpa Allura. Alih-alih menolong atau berbasa-basi menanyakan kondisi Allura, mereka malah terlihat berusaha menahan tawa.
“Posisi Anda di pelana tidak seimbang, Nyonya Allura. Anda juga terlalu menekan pijakan hingga membuat Copper tidak nyaman. Dalam keadaan tertekan seperti itu, suara kecil saja sudah mampu menyulut keterkejutan dan membuatnya hilang kendali. Apalagi bonding Anda dan Copper belum kuat.” Salah satu wanita tiga puluhan akhir menyeletuk tenang saat Allura dipapah mendekat oleh Instruktur.
“Ah, rupanya begitu. Terima kasih sudah memberi tahu saya, Nyonya Evelyn.” Allura memaksakan seulas senyum.
“Tapi tidak apa, Anda juga baru belajar selama tiga minggu. Yah, meskipun katanya refleks dasar lebih mudah dibentuk ketika masih usia kanak-kanak. Makanya putri saya sudah saya daftarkan ke klub berkuda sejak usia tujuh—ah, maaf, saya tidak bermaksud membuat Anda mengingat masa lalu.” Raut wajah Evelyn memang berkerut menyesal, namun siapa pun akan melihat ada sekelumit cemoohan yang terkandung dalam gurat-gurat yang kentara dibuat berlebihan. “Maksud saya, soal keterlambatan belajar ini tidak usah terlalu dipikirkan, Nyonya Allura, terutama karena Anda orang yang tekun. Bukankah dulu Anda juga berhasil lulus ujian kesetaraan dengan nilai yang mengesankan sebelum masuk SMA—astaga, hari ini mulut saya kenapa sebenarnya!”
Sementara Evelyn menepuk-nepuk mulutnya dengan ekspresi jengkel yang tidak tulus, perkataannya disambut kuluman senyum mengejek dari para wanita lain. Beberapa dari mereka pura-pura mengusap hidung dan berdeham untuk menahan semburan tawa. Kilat merendahkan tercantum dalam mata mereka, melesatkan cacian tanpa perlu melisankannya: Kaum jelata akan tetap terlihat murahan meskipun memakai pakaian bagus dan dikelilingi orang-orang terhormat, labu tidak akan menjadi semangka meskipun diberi garis.
Semburat merah dengan cepat menjalar di pipi Allura, bibirnya terkatup. Sulit rasanya mempertahankan kendali ketika hinaan diguyurkan bertubi, tangan Allura mengepal si sisi tubuh. Mereka sengaja mengungkit-ungkit latar belakang Allura sebagai bocah kumal dari panti asuhan miskin sebelum diangkat anak oleh keluarga Sanders saat usianya menginjak lima belas tahun. Para wanita itu akan mengambil segala celah untuk menjatuhkan Allura, berusaha mengingatkan tentang posisinya yang hina, posisi yang tidak akan pernah bisa setara dengan mereka.
Derap kemarahan mengentak-entak dalam diri Allura, namun kemudian ia menarik napas panjang dan berusaha menelan amarahnya—seperti yang selalu ia lakukan selama ini. Sebagai gantinya, bibirnya mengembang dengan luwes, menampilkan seulas senyum cantik.
“Nyonya Evelyn benar, saya sudah cukup terlambat berlatih berkuda sehingga butuh waktu lama untuk beradaptasi. Beruntungnya, saya memiliki teman-teman dan suami yang suportif, saya jadi semakin bertekad untuk tidak menyerah,” kata Allura sambil memandang hangat delapan wanita di depannya. “Kalau sedang tidak sibuk, saya akan meminta Archilles untuk mengajari saya supaya saya tidak merepotkan kalian lagi—ah, apa kalian tahu berkuda juga bisa mengeratkan hubungan suami istri? Mungkin kapan-kapan kita bisa mencoba kencan ganda di sini, Nyonya Sharon.”
Begitu Allura menoleh dan tersenyum ramah ke arah wanita bertubuh ramping dengan rambut diikat tinggi, senyum wanita itu langsung tersumpal. Geletar kemurkaan terpancar di sepasang mata abu-abunya. Oh, tentu saja Allura sebenarnya menikmati ekspresi geram Sharon, kendati tahu ia telah membuat posisinya semakin riskan diterima dalam kelompok setelah menyentuh lebam yang seharusnya tidak ia usik.
Keretakan pernikahan Sharon dan suaminya sudah menjadi rahasia umum. Perselingkuhan. Isu perceraian sudah merebak, namun Allura memilih berlagak bodoh untuk sesaat, disetir oleh residu kemarahan yang rupanya masih tertinggal di sudut hatinya—sesuatu yang jarang terjadi mengingat pengendalian dirinya yang baik.
“Tentu saja, Nyonya Allura,” kata Sharon dengan nada yang ditekan, berikut senyum kaku yang nyaris menyerupai senyum membunuh. “Mari cocokkan jadwal kita nanti.”
“Pasti akan menyenangkan,” timpal Allura. “Kalau begitu saya permisi dulu, sepertinya lutut saya terluka.”
Tertatih, Allura meninggalkan arena berkuda dengan dibantu oleh salah satu instruktur. Setelah tubuhnya tertelan pintu, caci maki dari Sharon berderai bersama cercaan para wanita lain yang mencoba menenangkannya.
Summer menonton pertunjukan penutup sambil bersedekap, helaan napas penuh ironinya lekas melebur bersama desau angin yang berirama lembut.
“Kau berusaha terlalu keras untuk menjadi bagian dari mereka. Dasar bodoh. Menyedihkan sekali.”
...****...
Ada sesuatu yang tetap tampak mengesankan dalam diri Denver meskipun sekarang Summer sudah sepenuhnya melupakan perasaannya, berbalik mengutuk pria itu. Sejak pindah ke arena berkuda lain dengan lintasan yang terlihat lebih profesional, di mana beberapa rintangan ditempatkan sedemikian rupa untuk dilewati kuda, Summer hanya memusatkan tatapannya pada Denver.
Pria itu sedang serius menunggang sekaligus mengendalikan kuda bersurai hitamnya melompati beberapa rintangan yang melintang setinggi sekitar tujuh puluh lima senti.
Midnight. Itu nama kuda Denver. Summer sudah mengenal Midnight sejak masih menjalin hubungan dengan pria itu. Ketika sedang berkuda seperti ini, Denver terlihat seperti burung yang bebas dengan sayap yang berkibar menawan dan cantik. Tiap kali tangannya terangkat untuk menarik tali kekang, lantas Midnight akan melompati rintangan kayu dengan begitu elok, momen “terbang” selama sepersekian detik itu selalu terlihat luar biasa.
Bisa dibilang, Denver dan Midnight adalah kombinasi yang memikat.
“Boleh aku menyentuhnya sebentar?” tanya Summer. Ia memutuskan turun dari tribun setelah Denver selesai berkuda.
Pria itu menoleh, menghentikan gerakan mengusap kepala Midnight di pinggir arena, lantas mengangguk pelan.
Summer tersenyum cerah, berjalan mendekat. Perlahan ia mengusap kepala Midnight, merasakan surai dan bulunya yang lembut. Kuda itu selalu tampak tenang, kelopak matanya yang sering merunduk ketika ada manusia di dekatnya langsung memberikan kesan ia kuda yang penurut.
“Kerja bagus, Midnight. Kau selalu bombastis,” kata Summer, membelai rahang Midnight dengan gerakan lembut.
Midnight menoleh, lalu tanpa Summer duga, kuda itu mendekatkan kepala hingga menyentuh lengan atasnya, seolah masih mengenali Summer.
“Oh, kau ingat aku? Manis sekali!” Summer memeluk leher Midnight, tertawa kegirangan.
Dan Denver … ia akhirnya memiliki kesempatan untuk menatap Summer dengan lebih baik. Denver baru menyadari jika wajah yang dulu terlihat kekanakan itu kini terlihat lebih dewasa. Garis rahangnya semakin terlihat kentara, tulang pipi yang lebih tegas, alis yang melengkung lebih rapi, dan … iris cokelat keemasan yang tidak lagi berpendar ringkih, ada semacam relap keteguhan tak tersentuh yang muncul dari kemurkaannya pada dunia.
Versi Summer di hadapannya sekarang terlihat jauh lebih hidup, lebih berona, seolah menanggalkan sisi dirinya yang payah dan kelabu adalah satu-satunya jalan menuju kedamaian.
Geriap merambat cepat di kulit Denver saat ia menyadari apa yang sedang ia lakukan. Buru-buru ia membuang muka dengan kengerian yang berkerubung di matanya, tubuhnya menjadi kaku, tertambat oleh pemikiran bahwa ia baru saja nyaris terpikat oleh iblis yang tengah menodongkan pisau tepat di depan jantungnya.
...****...