Memiliki pacar kaya merupakan impianku. Mengejar cinta pria kaya, walaupun hanya Om-om gemuk. Ada alasan tersendiri mengapa aku melakukannya, hanya untuk merebut perhatian ayahku dari tiga saudaraku yang berhasil memiliki kekasih direktur, dokter dan pilot.
*
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipiku, terasa kebas."Dasar pelakor!" teriak seorang wanita paruh baya. Aku yang salah karena menyangka suaminya seorang duda, pria tua gemuk yang menipuku.
Hingga pertolongan itu datang. Tetangga kostku yang paling miskin dan pelit. Seorang pemuda dengan celana pendek dan kaos kutangnya.
"Pelakor?Dia bukan pelakor, kami sudah lama menikah,"dustanya. Pemuda yang hanya tersenyum merangkul bahuku.
"Aku minta makan"
"Aku pinjam uang"
"Boleh pinjam komputer?Aku lupa beli pulsa listrik!"
Benar-benar makhluk pengiritan sejati. Hingga pada malam gelap dia berkata.
"Aku meminta anak darimu,"
Satu yang tidak aku ketahui manusia pengiritan ini, adalah konglomerat irit, posesif yang akan menjeratku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trap
Hujan turun perlahan, seorang wanita menatap ke arah jendela yang basah oleh embun, mengelus perutnya sendiri. Usia kandungannya baru memasuki minggu ke 6.
Duduk meminum teh di villa pribadi yang dibelikan tunangannya.
Prang!
"No... nona," seorang pelayan menunduk ketakutan.
"Ada semut, kamu menganggap semut adalah tambahan protein? Kelihatannya kamu suka memakan makanan mentah. Ambil daging ayam di kulkas makan mentah-mentah di hadapanku." Ucapan darinya geram.
"No...nona saya tidak bisa..." kata-kata sang pelayan dipotong.
"Makan atau kamu aku pecat. Ingat gajimu disini dua kali lipat daripada pelayan di tempat lain." Wanita cantik yang tetap tersenyum tenang.
Sang pelayan menangis, dirinya memerlukan pekerjaan ini. Pekerjaan dengan gaji melebihi rata-rata. Berjalan menuju lemari es, mengambil daging ayam mentah.
Wanita yang kembali ke tempat Nadila berada."Nona, saya tidak bisa..."
Kata-kata dari sang pelayan disela."Makan!" geramnya.
Tangan sang pelayan gemetar, memasukkan daging mentah ke mulutnya, menahan rasa mual nya.
"Nona?" ucapnya kesulitan menelan.
"Makan," perintahnya.
Hingga pada suapan ke tiga sang pelayan muntah. Tidak kuat rasanya tubuhnya gemetar dengan wajah yang pucat.
"Muntah? Bersihkan setelah itu minta uang pesangonmu pada kepala pelayan." Perintah dari Nadila berjalan menuju lantai satu.
Sang pelayan hanya dapat menangis, menatap sisa muntahannya yang berceceran di lantai. Inilah majikannya, dirinya dulu adalah pelayan di kediaman utama, namun dipindahkan oleh Imanuel untuk melayani Nadila. Hanya dapat menurut, mengemasi barang-barangnya setelah menerima uang pesangon.
*
Wanita cantik, terlihat anggun itu mulai menuruni tangga. Ayahnya, Jovi terlihat disana menunggu kedatangannya. Wanita cantik yang memeluk ayahnya erat kemudian duduk di sampingnya.
"Bagaimana kandunganmu?" tanya Jovi pada putrinya.
"Dokter bilang keadaannya baik-baik saja. Ayah, apa boleh tujuanku berubah?" tanya Nadila.
"Berubah?" Jovi mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Imanuel, dia memang tampan dan mempunyai kedudukan di perusahaan. Tapi tetap saja cepat atau lambat Pramana akan menarik Raka kembali ke perusahaan, menjadikannya pewaris tunggal. Sedangkan anak dalam kandunganku, serta aku hanya akan menjadi orang terasing. Rumah itu akan memiliki nyonya muda begitu Raka menikah." Nadila menghela napas kasar, terlihat berfikir sejenak.
"Bukannya itu rencana kita? Menyingkirkan Raka, begitu kamu menikah dengan Imanuel? Pramana akan menjadikanmu nyonya muda dan calon cucu ayah menjadi pewarisnya." Jovi tersenyum, pada putrinya.
"Ayah tau jumlah kekayaan yang dimiliki Raka, ditambah dengan aset pribadi milik Patra?" tanya Nadila pada ayahnya.
"Siapa peduli, yang penting apa yang dimiliki Pramana." Jawaban yang terdengar begitu tenang.
"Aku mencari informasi, totalnya mencapai 75% dari apa yang Pramana miliki. Total aset milik Patra dan Raka 3/4 dibandingkan dengan yang dimiliki total seluruh keluarga mereka. Begitu Raka mati, maka semuanya akan lenyap." Ucap Nadila menatap pantulan wajahnya di meja kaca di hadapannya.
"Kamu ingin menikah dengan Raka? Yang ada di kandunganmu itu anak Imanuel. Semua orang di keluarga itu tau. Tidak ada jalan kembali, lagipula Imanuel cukup baik padamu," tegas sang ayah.
"Keluarga Pramana terlalu menjunjung tinggi etika. Tante Adinda (ibu Raka) sudah mengatakan pada semua orang yang ada di rumah utama, bahwa Barbara akan menjadi menantunya. Bagaimana jika Barbara berselingkuh dengan Imanuel, lalu mati di hotel bersama?" tanya Nadila pada ayahnya.
Jovi yang tadinya ingin meminum teh yang dibuatkan pelayan kembali meletakkan cangkirnya, menatap lekat ke arah putrinya.
"Tidak ada yang bertanggung jawab atas kehamilanku karena Imanuel yang berselingkuh dengan Barbara mati bersama. Keluarga Pramana akan menerima banyak kritik dan hujatan, karena kelakuan Imanuel. Jalan satu-satunya menghentikan semua hujatan adalah membuat Raka bertanggung jawab atas perbuatan almarhum saudara sepupunya, menikahiku menggantikan Imanuel yang mati saat berselingkuh dengan Barbara." Jelas Nadila, sudah memikirkan segalanya matang-matang.
"Berselingkuh? Kamu punya otak atau tidak? Imanuel hanya setia dan mengejarmu seperti anak anj*ng penurut. Tidak mungkin akan berselingkuh dengan Barbara yang mengincar Raka." Ucap Jovi menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
"Memang tidak mungkin, karena itu bunuh mereka. Jika di kamar hotel tidak aman karena ada CCTV, bunuh mereka di dalam mobil. Buka pakaian mereka, seolah-olah mereka berbuat tidak senonoh." Tegas Nadila mengepalkan tangannya.
"Nadila, Imanuel begitu menyayangimu. Kenapa harus---" Kata-kata sang ayah disela.
"Ayah lupa kenapa ibuku mati? Dia dibunuh oleh si br*ngsek! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Kepalanya di benturkan menggunakan payung, tongkat baseball, dan batu, si br*ngsek yang menjadikan ibuku sebagai istri kedua karena ibu hanya orang desa!" Nadila tersenyum, air matanya mengalir, benar-benar terlihat tidak wajar, sesekali wanita hamil itu tertawa lirih.
Jovi merupakan ayah kandungnya, ibu dan ayahnya bercerai ketika dirinya menginjak usia 8 tahun. Gadis kecil yang lebih memilih tinggal dengan ibunya. Sang ibu yang menikah lagi dengan seorang pria beristri, namun diperlakukan bagaikan pelayan oleh mertua dan sang istri pertama.
Pada akhirnya ibunya mati di tangan ayah tirinya. Gadis kecil yang menyimpulkan, jika wanita harus memiliki status tertinggi agar dapat hidup. Semakin rendah statusnya maka akan semakin diinjak. Ayah tirinya masuk penjara saat itu, dibebaskan beberapa bulan lalu, kemudian mati karena kecelakaan tabrak lari. Siapa pelakunya? Ini semua perbuatan Nadila.
Masih teringat jelas dibenaknya kala ibunya dan dirinya yang hanya berstatus anak bawaan dipukuli menggunakan payung. Bahkan menggunakan pemukul bola baseball oleh ayah tirinya, hanya karena meminta uang untuk membayar keperluan sekolah.
Sang ibu melindunginya hingga meregang nyawa. Perasaan yang tidak dapat hilang, bahkan hingga kembali pada asuhan ayah kandungnya, Jovi.
"Apa tujuanmu selanjutnya?" tanya Jovi pada putrinya.
"Memiliki status tertinggi di rumah itu. Membuat Raka bertanggung jawab untuk prilaku memalukan Imanuel. Menggantikannya menikah denganku. Ayah cari cara untuk mendapatkan informasi tentang Barbara. Kita tinggal mencari celah agar perselingkuhan dan kematian mereka dianggap alami." Jawaban dari Nadila.
Pintu villa tiba-tiba terbuka seorang pria tua memasuki area ruang tamu.
"Kakek!" ucap Nadila berlari kecil, menuntun Pramana untuk masuk.
"Ini oleh-oleh untukmu. Jaga cicitku yang ada di kandunganmu, dengan baik. Seharusnya Imanuel langsung menikahimu, kenapa harus ditunda. Jika lebih banyak orang yang tahu maka akan mempengaruhi reputasi kalian." Pramana tersenyum memberikan sebuah paperbag.
Nadila membalas senyumannya, berjalan ke belakang Pramana yang duduk di sofa."Aku hanya ingin Imanuel lebih konsentrasi pada perusahaan. Dengar-dengar sebentar lagi akan ada proyek besar, pernikahan hanya ditunda satu bulan saja. Tidak akan ada masalah," ucapnya, memijit punggung Pramana.
Hingga seorang pelayan tiba-tiba datang, membawa kue kering.
Prang!
Toples kaca yang berisikan kue kering pecah, pecahan kaca yang melukai kaki Nadila. Sang pelayan benar-benar gemetaran saat ini."Maaf nona!"
"Tidak apa-apa, kamu mungkin terlalu lelah, lebih baik istirahat sekarang. Lanjutkan pekerjaanmu nanti saja." Nadila tersenyum ramah pada sang pelayan. Kemudian berjalan mengambil kotak P3K mengobati lukanya sendiri.
Pramana tersenyum menghela napas kasar."Kamu terlalu baik. Cucuku Imanuel beruntung memiliki calon istri sepertimu."
"Aku masih banyak kekurangan, kakek jangan terlalu memujiku. Omong-ngomong mumpung kakek disini, bagaimana kalau kita berfoto, kemudian upload di sosial media agar Imanuel yang berada di kantor iri." Ucap Nadila terkekeh, kemudian meletakkan handphonenya pada tongsis, berfoto dan tersenyum bersama Pramana dan Jovi.