Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Relia membuka matanya dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul dua pagi.
"D-dia, datang. A-aku tidak mau," ucap Relia ketakutan.
Bayangan Markus yang selalu datang jam dua pagi terus membayangi Relia.
Jantung Relia berdetak kencang sampai nafasnya tersengal-sengal.
"A-aku akan menutup mulutku, Mas." ucap Relia yang berhalusinasi melihat Markus di depannya.
Relia merobek kain sprei dan langsung menyumpal mulutnya sampai terikat kuat.
Bunyi monitor jantung di samping ranjang mendadak berubah menjadi pekikan nyaring yang tidak teratur.
Tit-tit-tit-tit!
Ariel yang tadi sempat terpejam di sofa langsung terlonjak bangun.
Matanya yang tajam segera menangkap pemandangan yang menghancurkan hatinya.
Relia sedang bergulat dengan sprei yang ia ikat paksa di mulutnya sendiri, matanya melotot ketakutan, dan tubuhnya gemetar hebat dalam posisi meringkuk di pojok ranjang.
"Relia! Tidak! Lepaskan!" Ariel menerjang maju.
"Mmmph! Mmmph!" Relia meronta, kakinya menendang-nendang udara.
Dalam delusinya, ia tidak melihat Ariel. Melati ia melihat bayangan gelap Markus yang sedang merobek pakaiannya.
Trauma itu begitu nyata hingga otaknya memaksa tubuhnya melakukan ritual penyiksaan diri agar "hukuman" dari Markus tidak lebih berat.
Ariel mencoba memegang tangan Relia, namun gadis itu histeris.
Ia mencoba melompat dari ranjang, namun kabel monitor jantung menariknya kembali, membuat tiang infus hampir roboh.
"Relia, ini aku! Ariel! Lihat aku!" Ariel berteriak, mencoba menembus kabut trauma di kepala istrinya.
Ia tidak menggunakan kekerasan. Ariel menjatuhkan dirinya berlutut di lantai di depan Relia, membiarkan dirinya terkena tendangan kaki Relia yang panik.
Ia mengangkat kedua tangannya ke atas untuk menunjukkan bahwa ia tidak membawa ancaman.
"Lihat tanganku, Relia! Kosong! Tidak ada kain, tidak ada ikat pinggang! Aku tidak akan menyakitimu!"
Mendengar suara bariton yang lembut namun tegas itu, gerakan Relia mulai melambat.
Matanya yang dipenuhi air mata mulai fokus pada wajah Ariel.
"Mmmph..."
Isak tangis teredam keluar dari balik kain sprei yang menyumpal mulutnya.
"Biar aku buka, ya? Pelan-pelan..." Ariel bergerak sangat lambat.
Jemarinya yang gemetar karena emosi menyentuh simpul kain di belakang kepala Relia.
Begitu kain itu terlepas, Relia langsung terbatuk-batuk, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya seolah baru saja muncul dari permukaan air setelah hampir tenggelam.
"Hah... hah... Mas... Mas Markus..." Relia meracau, suaranya parau.
"Dia tidak ada di sini. Ini pukul dua pagi, tapi pintu itu terkunci. Aku di sini menjaga pintunya," Ariel menarik Relia ke dalam pelukannya.
Ia membiarkan Relia membasahi kemejanya dengan air mata dan keringat dingin.
Relia mencengkeram kemeja Ariel hingga robek di bagian bahu.
"Tolong, jangan biarkan dia masuk. Aku janji akan diam. Aku tidak akan mengadu pada Mbak Sarah, tolong jangan pukul lagi..."
Ariel memejamkan mata, rahangnya mengeras. Kehancuran mental Relia jauh lebih parah dari yang ia duga.
Pukul dua pagi bukan lagi sekadar waktu bagi Relia, melainkan sebuah pemicu biologis untuk ketakutan.
"Relia, dengarkan suaraku. Hitung bersamaku. Satu... dua... tiga..."
Ariel mulai melakukan teknik pernapasan grounding.
"Rasakan aroma sabun di bajuku. Rasakan hangatnya tanganku. Kamu di sini, bersamaku. Di masa sekarang. Bukan di masa lalu."
Butuh waktu hampir satu jam sampai detak jantung di monitor kembali normal.
Relia akhirnya terkulai lemas di pelukan Ariel, energinya habis terkuras oleh serangan panik yang luar biasa.
"Besok pagi," bisik Ariel di puncak kepala Relia sambil terus mengusap punggungnya yang berbalut perban.
"Kita tidak akan di sini lagi. Aku akan membawamu ke rumahku di perbukitan. Di sana tidak ada jam dinding yang berdetak. Di sana hanya ada suara angin dan aku. Kamu akan belajar bahwa pukul dua pagi bisa menjadi waktu yang indah untuk tidur nyenyak."
Mata Relia kembali memejamkan matanya secara perlahan-lahan.
Dipelukan suaminya, Relia akhirnya kembali tertidur pulas.
Ariel menghela nafas panjang sambil mencium kening istrinya.
"Istirahatlah, sayang." gumam Ariel.
Keesokan harinya sebuah ambulans VVIP tanpa sirine terparkir di pintu belakang rumah sakit.
Ariel menggendong Relia yang diselimuti kain tebal hingga menutupi wajahnya ke dalam mobil.
Empat orang pengawal pribadi bersetelan hitam dengan motor besar sudah bersiap mengawal perjalanan mereka.
"Jalan," perintah Ariel pendek kepada sopirnya.
Saat ambulans itu mulai bergerak meninggalkan area rumah sakit.
Mobil ambulans VVIP itu melaju dengan sangat tenang, meninggalkan kebisingan kota yang selama ini menjadi saksi bisu penderitaan Relia.
Di dalam kabin yang luas dan sejuk, Ariel terus menggenggam tangan istrinya, seolah ingin memastikan bahwa detak nadi Relia tetap stabil.
Relia menoleh ke arah jendela. Matanya yang sembap menatap rintik hujan yang mulai membasahi kaca.
Ada dorongan aneh di dalam hatinya—keinginan untuk merasakan udara luar yang tidak berbau antiseptik atau ketakutan.
"Ariel..." panggilnya sangat pelan. "Boleh aku buka jendelanya sedikit saja?"
Ariel sempat ragu. Ia khawatir angin dingin akan membuat luka di punggung Relia terasa perih, atau lebih buruk lagi, memicu traumanya kembali. Namun, melihat sorot mata Relia yang memohon, ia mengangguk.
"Hanya sedikit, ya? Agar kamu tidak kedinginan," jawab Ariel lembut sembari menekan tombol kendali jendela.
Kaca jendela itu turun perlahan, menyisakan celah selebar telapak tangan.
Seketika, aroma tanah basah dan kesegaran udara pegunungan merangsek masuk ke dalam mobil.
Relia memejamkan matanya, membiarkan angin sepoi-sepoi membelai wajahnya yang lebam.
Ariel membiarkan Relia menikmati momen itu. Ia memperhatikan bagaimana jemari kecil Relia sedikit gemetar saat mencoba menangkap butiran air hujan yang masuk lewat celah jendela.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sudut bibir Relia terangkat sedikit dimana sebuah senyuman yang sangat tipis, hampir tak terlihat, namun bagi Ariel itu adalah kemenangan besar.
"Dinginnya nyata," bisik Relia.
"Dulu, aku hanya bisa merasakan dinginnya lantai kamar. Tapi ini beda."
"Ini adalah udara kebebasan, Relia," sahut Ariel.
"Mulai sekarang, tidak akan ada lagi jendela yang hanya menunjukkan kegelapan. Rumah yang akan kita tuju memiliki taman yang luas. Kamu bisa melihat matahari terbit setiap pagi tanpa rasa takut."
Relia menarik tangannya kembali, lalu menoleh ke arah Ariel.
"Kenapa kamu melakukan semua ini? Aku hanya sisa-sisa kehancuran."
Ariel memperbaiki posisi duduknya, menatap Relia dengan intensitas yang dalam.
"Karena bagi orang lain kamu mungkin melihat kehancuran, tapi bagiku, kamu adalah sebuah keajaiban. Kamu bertahan selama dua tahun di neraka itu tanpa menyerah pada kematian. Kekuatanmu itu yang membuatku ingin menjadi rumah bagimu."
Tiba-tiba, iring-iringan mobil pengawal di depan melambat.
Ariel melihat melalui kaca depan, sebuah mobil hitam tampak terparkir di bahu jalan tol, seolah-olah sedang menunggu sesuatu.
Jantung Ariel berdesir, namun ia tetap tenang. Ia meraih ponselnya dan berbicara melalui interkom kepada kepala pengawalnya.
"Satrio, pastikan jalur bersih. Jangan biarkan ada kendaraan asing mendekati ambulans ini."
"Dimengerti, Pak CEO. Kami sedang melakukan blokade kecil," jawab Satrio di seberang sana.
Relia yang menyadari ketegangan itu langsung menutup jendela mobil dengan cepat.
Tubuhnya kembali kaku. "Apakah itu dia? Apakah Markus mengejar kita?"
Ariel segera menarik Relia ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah gadis itu di dadanya.
"Sshh... jangan lihat. Tidak ada yang bisa menembus pengawalanku. Aku hanya sedang memastikan perjalanan kita lancar."
Mobil hitam itu ternyata milik tim legal Ariel yang sedang memantau situasi di lapangan, memastikan tidak ada mata-mata Markus yang mengikuti. Namun bagi Relia, setiap bayangan kendaraan asing kini adalah ancaman.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, mobil mulai menanjak melewati jalanan berliku yang dikelilingi pohon pinus yang menjulang tinggi.
Sebuah gerbang besi raksasa dengan logo keluarga Arkatama terbuka otomatis.
Di balik gerbang itu berdiri sebuah mansion modern dengan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah lembah yang berkabut.
"Kita sampai, Relia. Ini rumahku, rumah kita," ucap Ariel saat mobil berhenti tepat di depan teras utama.
Ariel turun lebih dulu, kemudian kembali menggendong Relia dengan hati-hati.
Saat ia melangkah masuk ke dalam rumah, barisan pelayan sudah menunduk hormat, namun Ariel memberikan isyarat agar mereka tidak bersuara.
Ia membawa Relia langsung ke kamar utama di lantai atas. Kamar itu sangat luas, dengan ranjang berukuran king size yang menghadap langsung ke arah pegunungan.
Tidak ada jam dinding di sana. Hanya ada suara kicauan burung dari luar.
Ariel membaringkan Relia di atas sprei sutra yang lembut.
"Istirahatlah. Di sini, jam dua pagi hanyalah waktu di mana kabut turun menyelimuti lembah. Tidak akan ada yang berani membuka pintu ini tanpa izin dariku."
Relia mencengkeram ujung baju Ariel sebelum pria itu beranjak.
"Jangan pergi dulu, tolong tetap di sini sampai aku benar-benar tidur."
Ariel duduk di pinggir ranjang, mengusap dahi Relia dengan penuh kasih.
"Aku tidak akan ke mana-mana, Nyonya Arkatama. Tidurlah. Aku akan menjadi penjaga mimpimu."
mudah"an relia selamat