Dinikahi secara paksa oleh pria yang tidak dikenal nya. Membuat Valencia membenci pria yang sudah berstatus menjadi suaminya itu.
Sikap baik yang selalu di tunjukan oleh suaminya (Devano). Sama sekali tidak membuat hatinya luluh. Namun, berkat semua nasehat yang di berikan orangtua serta saudara dan juga orang-orang terdekatnya. Membuat ia bisa membuka hati dan menumbuhkan perasaan untuk suaminya itu.
Tapi, bagaimana jadinya?! Jika di saat ia sudah benar-benar membuka hati dan mencintai suaminya, ia malah mendapati dan mengetahui rahasia besar yang di sembunyikan suami dan juga mertuanya.
Devano, pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Ternyata menderita penyakit kanker otak stadium lanjut.
Bersamaan dengan itu, ia juga mendapati bahwa dirinya tengah mengandung benih suaminya. Bahagia dan juga sedih bercampur menjadi satu didalam hatinya! Beberapa bulan kemudian, Devano menghembuskan napas terakhirnya yang membuat perasaan Valencia begitu hancur, dunianya terasa runtuh!
Bagaimana kisahnya? Akankah ia mampu menata hidupnya tanpa sosok Devano yang telah mampu mencuri hatinya dan juga menghancurkan hidupnya dalam waktu sejekap itu?!
“Jodoh PENGGANTI Untuk Nona Muda”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGANDUNG
Revano melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menembus jalanan kota. Ia begitu panik setelah mendengar istrinya pingsan.
"Ya Tuhan.. Semoga tidak terjadi hal buruk pada Valencia," guman Revano. Mata pria itu terus fokus pada jalanan yang ada di depannya.
Tak lama kemudian, mobil itu berhenti di depan kediaman istrinya. Dengan begitu tergesa-gesa dan panik, Revano memasuki rumah itu.
"Sayang.. Valencia.." panggil Pria itu.
"Mbak Valen udah kami pindahkan ke kamar itu, Tuan!" tunjuk Tina pada kamar yang ada di lantai bawah. Ia dan Mbok Jumi sengaja membawa Valencia ke kamar itu, karena kamar itulah yang letak nya paling dekat.
Buru-buru Revano masuk ke dalam kamar itu dan menghampiri istrinya.
"Sayang, bangun. Kamu kenapa?" Panik Revano.
"Jelek, ayo bantu aku membawa Valencia ke rumah sakit," kata Revano pada Tina.
"Minta tolong, tapi masih aja di bilang jelek," gerutu Tina sembari menyiapkan pakaian ganti Valencia.
Bagaimana tidak? Wanita itu masih memakai gaun tidurnya semalam. Yang artinya selepas Revano berangkat ke kantor, wanita itu tidak membersihkan dirinya.
"Cepet sedikit! Lamban betul!" gerutu Revano pada Tina.
"Sabar dong Tuan, ini juga udah cepet loh!" Tina buru-buru mengikuti langkah Revano yang keluar dengan menggendong tubuh Valencia. Wanita kecil dan berkulit hitam manis dengan rambut kriting nya itu segera membukakan pintu mobil untuk Tuan nya.
Setelah selesai menempatkan posisi istrinya dengan benar, Revano pun meminta Tina untuk menjaga istrinya.
"Jagain ya, tahan. Jangan sampai istriku lecet sedikitpun," kata Revano pada Tina. Tina hanya bisa mencebikan bibirnya pada Revano yang begitu cerewet.
Revano pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Tak lama kemudian, mobil itu tiba di rumah sakit. Buru-buru Revano menggendong istrinya itu ala bridal-style memasuki rumah sakit.
"Dokter, tolong istri saya," pinta Revano pada seorang dokter wanita. Revano pun menidurkan istrinya itu ke atas brankar rumah sakit.
Baru saja dokter hendak memeriksa keadaan Valencia, wanita itu tiba-tiba saja mengejapkan matanya perlahan.
"Mas, Valen dimana?" tanya nya pada Revano yang berada di sampingnya.
"Kita di rumah sakit, tadi Tina telpon mas. Katanya kamu pingsan," jelas Revano kepada istrinya itu. "Makanya mas buru-buru pulang dan bawa kamu kesini."
"Valen gak sakit kok, mas," ucap Valencia dengan lirih.
"Meskipun gak sakit, kamu harus periksa dulu. Sekalian udah sampe sini," kata Revano. Valencia pun mengangguk pelan.
Dokter wanita itu tersenyum dan segera memeriksa keadaan Valencia. "Mbak nya kapan terakhir datang bulan?" tanya Dokter itu setelah memeriksa denyut nadi dan juga perut Valencia.
"Datang bulan?" Valencia mencoba mengingat. "Hehee.. Lupa."
"Menurut analisa saya, mbak sedang mengandung dan usia kandungannya susah memasuki usia 7 minggu." jelas dokter itu. "Tapi, untuk memastikan lebih jelasnya kalian bisa temui dokter kandungan yang ada di ruangan Melati." tambah dokter itu.
"Mas, Valen hamil?" Valencia menatap suaminya yang senyum-senyum di sampingnya. Tampaknya, pria itu begitu girang.
"Ayo kita ke ruangan dokter kandungan sekarang, yank," ajak Revano dengan tidak sabaran. Pria itu kembali menggendong istrinya di hadapan dokter.
"Terimakasih, dokter," kata Revano sembari membawa istrinya itu keluar dari ruangan dokter wanita itu.
Dengan langkah yang lebar dan seakan tak ada beban. Revano segera pergi menuju ruangan dokter kandungan.
"Selamat siang, dokter," kata Revano sembari memasuki ruangan dokter kandungan tanpa menurunkan istrinya.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter itu.
"Emm.. Saya di rekomendasi kan dokter siapa tadi namanya," kata Revano dengan bingung. "Kata dokter yang ada di bagian bawah sana pokoknya, tadi saya memeriksakan kesehatan istrinya. Tapi kata dokter itu, istri saya tidak sakit melainkan sedang mengandung dan kami di pinta untuk menemui anda." jelas Revano.
"Oh, Dokter Mira maksudnya?" Dokter kandungan itu tersenyum.
"Ya, mungkin dia," kata Revano.
"Mas, turunin. Valen malu," ucap Valencia dengan lirih.
"Turunkan istrinya, mas. Biar saya periksa," kata Dokter kandungan itu. Sebut saja namanya Dokter Anita.
"Oh, oke!" Revano pun menurunkan dan merebahkan istrinya itu ke atas ranjang pasien dengan perlahan.
Dokter Anita pun segera memeriksa Valencia. Setelah memastikan Valencia benar-benar mengandung. Barulah Dokter Anita menjelaskan semuanya kepada Revano.
Selama penjelasan itu, Revano hanya menyimak. Terkadang pria itu tersenyum, terkadang dahinya berkerut dan kadang ia geleng-geleng kepala bahkan mengangguk.
"Jadi, Mas harus memaklumi perubahan yang terjadi pada Mbak Valen. Karena mood ibu hamil itu suka berubah-ubah." jelas Dokter Anita.
Revano pun mengangguk paham. "Ayo, yank. Kita pulang sekarang," ajak Revano.
Dokter Anita hanya dapat geleng-geleng kepala melihat tingkah Revano. "Dokter, terimakasih ya. Saya boleh bawa istri saya pulang kan?" tanya Revano kepada Dokter Anita.
"Oh, boleh mas. Silahkan!"
Maka, Revano segera mengambil resep vitamin yang diberikan Dokter Anita padanya dan menggendong istrinya keluar dari ruangan Dokter Anita dan meninggalkan rumah sakit itu.
atau ternyata beda penulis?
Sukses bwt kk