NovelToon NovelToon
Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Komedi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lil Miyu

Ding! [Sistem Fate Breaker Aktif: Mengubah skenario dunia!]
​Dibuang dan difitnah sebagai putri sampah? Itu bukan gaya Aruna. Masuk ke tubuh Auristela Vanya von Vance, ia justru asyik mengacaukan alur game VR ini dengan sistem yang hobi error di saat kritis.
​Tapi, kenapa Ksatria Agung Asher de Volland yang sedingin es malah terobsesi melindunginya?
​Ding! [Kedekatan dengan Asher: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh tapi menarik."]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Sinyal yang Terputus

​"MREOOOWWW!!! Hiss! Grrr!"

​Suara geraman itu menggema tajam, memantul di dinding ruang sempit di ujung pipa pembuangan. Asher tersentak, rasa pusing di kepalanya langsung hilang. Dengan reflek langsung bangkit dan mencabut pedang Solis-Aeterna dari sarungnya.

​Mata Asher menyisir setiap sudut kegelapan lorong dengan waspada. Ia mencari bayangan, suara langkah kaki, atau apa pun yang mungkin memicu geraman dari si Oyen. Kucing orange itu berdiri tegak di samping kepala Aruna, bulunya berdiri tegak, mendesis galak ke arah kegelapan seolah sedang menghalau ancaman tak kasat mata.

​Namun, lorong itu sunyi. Tidak ada tanda-tanda musuh yang mengejar.

​Setelah memastikan situasi aman, Asher menurunkan pedangnya dan menoleh ke arah Verdy yang sudah merangkak di sisi Aruna. Verdy terlihat panik; tangannya menggoyang-goyangkan bahu sahabatnya itu, lalu beralih menepuk-nepuk pipi Aruna yang tertutup masker hitam dengan gerakan pelan dan cemas.

​"Auristela? Hei! Bangun! Kita sudah sampai di ujung pipa!" seru Verdy. Suaranya mulai bergetar karena tidak mendapat respons sedikit pun. "Auristela?! Bangun... jangan bercanda di tempat sampah seperti ini, ayo bangun!!"

​Asher ikut berlutut di sisi lain. "Putri! Putri Auristela, bangun!"

​Aruna tetap diam membatu. Tubuhnya kaku dan matanya terpejam rapat di balik kacamata renang. Melihat kondisi itu, Asher langsung mengambil keputusan cepat. Ia menyarungkan kembali pedangnya.

​"Tidak ada waktu lagi, Verdy! Kita harus bergerak sekarang!" tegas Asher. Ia langsung menyusupkan lengannya di bawah punggung dan lutut Aruna, lalu mengangkat gadis itu dalam satu gerakan ke dalam gendongannya.

​"Asher, dengarkan aku!" Verdy menunjuk ke arah lorong yang bercabang di depan mereka. "Ikuti aliran air di sisi kiri itu. Itu jalan tercepat menuju perbatasan hutan primordial Aethelgard. Hanya tabib mereka yang bisa menolong kondisi Auristela sekarang!"

​Asher mengernyit, menyadari Verdy tidak bersiap untuk ikut. "Lalu kamu?"

​"Aku tidak bisa membiarkan Luna sendirian di desa Nebula!" ujar Verdy, matanya melirik ke arah jalan mereka datang tadi dengan penuh kecemasan. "Aku harus kembali mencari Luna sebelum menyusul kalian. Aku tidak akan bisa tenang kalau belum memastikan keadaannya!"

​Asher menatap Verdy sejenak, lalu mengangguk paham. "Baik. Jaga dirimu, Verdy. Aku bersumpah akan menjaga Putri Auristela!"

​"Janji, Asher! Sampai jumpa di desa Primordial!" balas Verdy sebelum akhirnya berbalik dan lari secepat kilat kembali ke kegelapan pipa.

​Asher tidak menoleh lagi. Dengan tubuh Aruna di dekapan eratnya dan si Oyen yang berlari siaga di sampingnya,

Asher memacu langkahnya secepat mungkin, menerjang genangan air dan tumpukan puing di lantai pipa. Ia mendekap tubuh Aruna dengan erat dalam pelukannya, memastikan kepala gadis itu bersandar aman di pundaknya. Meskipun tangannya terkunci untuk menopang tubuh Aruna, indra ksatria agungnya tetap bekerja seratus persen.

​Matanya terus menelusuri kegelapan di depan dan belakang. Setiap kali si Oyen berhenti dan mendesis rendah di depan sebagai scout, ia langsung merapat ke dinding pipa yang paling gelap, menahan napas, dan bersiap menggunakan tendangannya jika ada musuh yang tiba-tiba menyerang dari jarak dekat.

​Napas Aruna yang halus terasa di lehernya, namun tubuh gadis itu semakin lama semakin kaku dan dingin. Jantungnya berdenyut kencang muncul rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: takut kehilangan seseorang yang berharga.

​"Oyen, jangan berhenti!" desis Asher pelan saat melihat kucing itu ragu di sebuah persimpangan.

"Meow." Si Oyen melesat ke arah celah keluar yang tersembunyi di balik jalinan akar raksasa. Asher mengikuti dengan satu lompatan gesit, mendarat dengan lutut sedikit menekuk di atas tanah hutan yang empuk untuk meminimalisir guncangan pada tubuh Aruna.

​Udara segar Hutan Primordial Aethelgard langsung menyapu wajahnya. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sedetik.

​Sring! Sring!

​Dua anak panah berdesing di udara, menancap tepat di depan Asher. Ia berhenti mendadak, otot lengannya menegang untuk memastikan Aruna tidak jatuh dari dekapannya. Si Oyen langsung berdiri siaga di depan kaki Asher, bulunya berdiri tegak dengan geraman rendah yang sangat mengancam.

​"Manusia, kau sudah terlalu jauh melangkah ke dalam hutan Primordial Aethelgard!" sebuah suara yang sangat dikenal Asher bergema dari balik kabut.

​Sesosok pria dengan rambut hijau daun muncul, busur panjangnya masih terentang sempurna ke arah dada Asher.

​"Schwartz! Turunkan busur s!alanmu itu!" bentak Asher tanpa basa-basi. Suaranya rendah tapi penuh tekanan. Ia tidak bisa mencabut pedangnya, namun tatapan matanya yang biru tajam jauh lebih mengintimidasi daripada senjata apa pun.

​Schwartz tersentak. Ia segera mengenali suara dingin sang Ksatria Agung. Dengan gerakan cepat, ia menurunkan busurnya dan memberi kode pada pasukan Elf lainnya untuk tidak menyerang.

​"Asher? Sial, wajahmu terlihat kacau sekali!" Schwartz melangkah mendekat dengan cepat, tapi langkahnya langsung tertahan begitu melihat siapa yang sedang digendong Asher. "Putri Auristela? Apa yang terjadi? Kenapa...?"

​"Aku tidak tahu! Dia tiba-tiba pingsan!" Asher melangkah maju, memaksa Schwartz untuk segera memberi jalan. Ia tidak punya waktu untuk berbasa-basi sementara tubuh di dalam pelukannya terasa semakin dingin. "Cepat!! Bawa aku ke tabibmu. Sekarang, Schwartz!!"

​Melihat kepanikan yang jarang terlihat di wajah kaku Asher, Schwartz langsung sadar situasi ini gawat. "Ikuti aku! Jalannya agak curam, jaga keseimbanganmu!"

​Oyen mendengus ketus ke arah Schwartz, tapi tetap berlari paling depan mengikuti langkah sang pemimpin Elf yang kini memandu mereka menembus labirin akar raksasa menuju pusat desa. Asher terus mendekap Aruna erat-erat, berjanji dalam hati tidak akan melepaskannya apapun yang terjadi.

Semakin dalam mereka memasuki jantung Aethelgard, pepohonan di sekitar mereka mulai berpendar hijau redup. Akar-akar yang tadinya diam, perlahan bergeser memberikan jalan bagi mereka, seolah hutan itu sendiri mengenali ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis di pelukan Asher.

​"Kau merasakannya, Asher?" Schwartz bertanya tanpa menoleh. "Hutan ini... ia bereaksi padanya. Energi di sekitar kita bergejolak."

​Asher tidak menjawab. Giginya terkatup rapat, matanya hanya terfokus pada jalan di depan dan sesekali pada wajah pucat Aruna. Setiap kali ia merasakan suhu tubuh gadis itu menurun, ia mendekapnya lebih erat, berusaha membagi kehangatan tubuhnya sendiri.

​Si Oyen, yang berlari di samping mereka, tiba-tiba berhenti di depan sebuah jembatan gantung yang terbuat dari jalinan tanaman rambat hidup. Di bawahnya mengalir sungai perak yang airnya berkilau jernih. Oyen mengeluarkan suara mengeong yang gelisah, matanya tertuju pada sebuah pohon raksasa di seberang sungai yang puncaknya menembus awan—itu adalah Yggdrasil, pusat kehidupan desa Elf.

​"Kita hampir sampai!" seru Schwartz.

​Begitu mereka menyeberangi jembatan, beberapa prajurit Elf lainnya muncul dari balik pepohonan dengan wajah penuh selidik. Namun, melihat Schwartz yang memimpin, mereka segera memberikan hormat. Kehadiran manusia seperti Asher di tempat suci ini biasanya akan memicu pertumpahan d!rah, namun kondisi darurat sang Putri membungkam semua protokol hukum hutan.

​"Panggil Tetua Elara! Katakan padanya tubuh suci sedang dalam keadaan hibernasi paksa!" perintah Schwartz pada salah satu bawahannya.

​Asher menaiki tangga-tangga kayu yang memutar di batang pohon raksasa itu dengan langkah-langkah besar. Otot kakinya menegang, namun ia tidak merasakan lelah sama sekali. Pikirannya tersita oleh rasa takut yang luar biasa. Jika tabib Elf pun tidak bisa membangunkannya, ia tidak tahu harus mencari bantuan ke mana lagi di dunia ini.

​"Letakkan dia di atas altar, Asher," instruksi Schwartz

1
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
kapan segel kekuatan Auri terbuka nya ini?
ayo Aresh, musnahkan ikan² bau amis itu semuanya
Miyu: nanti ada waktunya... 🤭
total 1 replies
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
musuh yang lain belum koid, udah muncul pulak ikan² ini
Miyu: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Miyu
🤣🤣🤣🤣🤣
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
seketika diriku bingung /Slight/
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
gak habis pikir sama si sistem error tapi unik ini 😂
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
koyo cabe buat ngilangin racun 🤣🤣
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
gak ada habis habis nya itu para pembunuh durjana
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
peninggalan dewa gak tuh 🤣
Miyu: sssttt 🤭
total 1 replies
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
perasaan gak ada henti-hentinya pembunuh yang menyerang sang putri
echa purin
👍🏻
studibivalvia
asher ini tipe tsundere kah? haha lucu banget
Miyu: sedikit... 🤭
total 1 replies
studibivalvia
siap banget dah 😭
studibivalvia
lucu banget jirr 🤣 kucingnya lapar pengen minta makan tapi sombong mukanya 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!