Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEDIKIT CURIGA
“Loh, sayang… kamu nungguin Mas pulang?” Tanya Farid setelah menutup pintu rumah dengan pelan.
Maira yang sejak tadi memainkan ponselnya tak menyadari jika suaminya kini sudah pulang. Ia mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis.
Maira memang duduk di ruang tamu sejak satu jam lalu. Bukan untuk menunggu Farid sebenarnya, melainkan menanti ibunya untuk menanyakan langsung ke mana semua persediaan bulanan rumah mereka menghilang.
Namun hingga pukul sepuluh malam lewat, baik Bu Susi maupun Pak Bowo—keduanya tak juga muncul. Dan pesan yang ia kirimkan sejak sore pun tak kunjung dibalas.
“Ah… i-iya, Mas...” Jawabnya akhirnya, mengalihkan pandangan.
Untuk saat ini Maira tak ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia tahu suaminya itu sudah cukup lelah, Maira hanya tak ingin jika menambah beban pikiran Farid mengingat sebelumnya ia dan suaminya juga pernah bertengkar karena barang-barang yang hilang di rumah.
Farid berjalan mendekat, menatapnya dengan lembut. “Kamu udah makan, Sayang?”
Maira mengangguk pelan. “Udah, Mas. Kamu gimana?”
“Udah juga. Tadi makan bareng tim yang lembur di kantor sebelum pulang.” Ujar Farid sambil membuka jas kantornya.
Maira langsung berdiri dan menyambut jas itu, menerimanya dari tangan sang suami dengan refleks. Kemudian ia pun mengekori Farid dari belakang, membawakan jasnya ke gantungan baju di dalam kamar.
‘Besok saja,’ Pikir Maira akhirnya setelah merasa percuma saja jika menunggu Ibunya itu untuk pulang.
“Oh ya, Sayang… gimana hasil pemeriksaan kamu ke dokter tadi?”
Tubuh Maira mendadak kaku. Jemarinya mencengkeram kain jas yang baru saja hendak ia gantung. Jantungnya berdetak lebih cepat, dan tenggorokannya terasa mengering.
Ia belum siap. Belum siap mengatakan apa yang terjadi padanya dan juga alasan mereka belum memiliki anak selama lima tahun ini… adalah karena dirinya.
Senyum tipis namun gugup segera ia paksakan muncul. Ia menoleh setengah, menatap Farid dari kejauhan.
“Dokter bilang aku perlu jaga pola makan, istirahat cukup… jangan terlalu kecapean.” Jawabnya pelan.
Itu bukan kebohongan. Memang itu yang disampaikan dokter. Hanya saja… Maira belum mengatakan seluruhnya.
Sementara Farid yang mendengar hal itu berdiri dan berjalan pelan ke Maira, lalu menyentuh lembut bahu istrinya.
“Mungkin ya… kita belum dikasih kepercayaan sampai sekarang itu karena kamu juga terlalu capek, Sayang. Di restoran kamu kerja terus, belum sempat tenang.” Ujarnya lirih, namun penuh kasih.
Maira tersenyum kecil, meski hatinya teriris. Ia tahu Farid tak pernah menyalahkan, tak pernah menuntut. Tapi justru itulah yang membuatnya takut, takut jika suatu hari Farid tahu dan kecewa.
____
“Gimana, Bu?” Tanya Pak Bowo pelan, berdiri tak jauh dari istrinya yang sejak tadi memantau rumah Maira dari kejauhan.
Sudah hampir dua jam mereka duduk di bangku panjang warung kecil di ujung jalan, hanya untuk satu tujuan—memantau kapan lampu rumah Maira padam.
Sejak membaca isi pesan dari Maira sore tadi, Bu Susi memang tak punya keberanian untuk kembali pulang. Isi lemari yang nyaris kosong dan bahan makanan yang hampir tak bersisa membuatnya sedikit takut dengan Maira yang mungkin saja nanti akan marah padanya.
Tapi kalau tidak kembali ke rumah itu, lalu harus ke mana? Menginap di rumah Dini? Tidak mungkin. Rumah itu kecil dan hanya ada dua kamar disana.
“Udah padam, Pak.” Ucap Bu Susi akhirnya, setelah menatap rumah yang kini tampak gelap, kecuali cahaya temaram dari lantai atas.
“Ya udah, Ibu balik sana.” Ujar Pak Bowo cepat, mengisyaratkan bahwa momen inilah saatnya mereka kembali masuk ke rumah.
Namun Bu Susi menoleh, mendelik dengan tak suka. “Bapak mau ke mana?”
“Ini, Bu. Mau abisin kopi dulu.” Sahut Pak Bowo sambil mengangkat gelas plastik berisi kopi hitam yang tinggal setengah.
“Sendirian duduk di sini?” Tanya Bu Susi, suaranya mulai meninggi dengan nada sedikit curiga.
Tatapan Bu Susi menyapu cepat ke arah dalam warung. Di balik etalase kaca yang dipenuhi gorengan dan camilan ringan, tampak seorang wanita yang memang dikenal sudah lama menjanda itu sering membuka warung hingga larut malam.
Wanita itu nyaris seumuran dengan Bu Susi namun berpakaian ketat dan mencolok, rambutnya lurus mengkilap karena catokan, serta dandanan tipis yang justru semakin menonjolkan aura menggoda.
Pak Bowo yang sadar akan arah pandang istrinya, hanya mendecak pelan. “Ya ampun, Bu… jangan mikir yang aneh-aneh. Bapak di sini cuma ngopi. Lagian juga hampir tiap malam Bapak nyantai dengan Bapak-bapak lain di sini." Sahutnya santai sambil menyesap sisa kopi yang mulai dingin.
Bu Susi diam, tapi dalam hatinya mulai membatin.
Ia tahu betul bagaimana kebiasaan suaminya sejak mereka pindah ke rumah Maira. Hampir setiap malam, Pak Bowo selalu keluar malam dengan alasan nongkrong di warung dan mengobrol dengan pria-pria seumurannya.
Tapi bukan soal itu yang menjadi masalah. Masalahnya adalah… beberapa waktu lalu, saat Bu Susi sedang berbelanja di warung itu juga, ia sempat mendengar selentingan tak sedap dari ibu-ibu sekitar. Bahkan ada yang dengan terang-terangan mewanti-wanti dirinya agar lebih waspada.
“Pak Bowo itu terlalu sering dan terlalu betah di warung si janda ini. Hati-hati, Bu… perempuan kayak gitu bisa mancing siapa aja.” Bisik salah satu Ibu-ibu padanya waktu itu.
Bu Susi sempat mengabaikannya. Tapi malam ini, melihat langsung suaminya duduk santai sambil menyesap kopi, dan si janda yang berdiri di belakang etalase dengan pakaian ketat dan senyum ramahnya—rasa was-was itu kembali muncul.
Tak lama, dua pria paruh baya datang menghampiri. Keduanya tampak akrab dan langsung duduk di bangku yang tersedia tak jauh dari Pak Bowo.
“Nah ini, Bu. Ini tuh temen-temen nongkrong Bapak di sini.” Ucap Pak Bowo cepat, seolah membaca kecurigaan di mata istrinya.
Mau tak mau, Bu Susi pun akhirnya percaya. Ia mengangguk, meski masih dengan nada ketus saat menjawab.
“Yaudah, kalau gitu Ibu balik dulu. Tapi Bapak jangan kelamaan pulangnya!” Tegurnya.
“Iya, iya…” Sahut Pak Bowo tak terlalu peduli, tangannya kembali meraih gelas kopinya yang mulai mendingin.
Begitu sosok istrinya sudah tak terlihat di kejauhan, Pak Bowo kembali duduk santai. Tepat saat itu, suara lembut menggoda menyapa dari balik etalase.
“Kenapa itu, Pak? Istrinya cemburu, ya? Takut saya godain Bapak di sini?” Ujar si penjaga warung—janda beranak satu, dengan suara dibuat semanis mungkin.
Pak Bowo terkekeh pendek. “Ah, nggak kok dek.” Ujarnya dengan senyum centil khas pria puber kedua.
Lelucon itu ditanggapi tawa kecil dari dua pria yang baru datang tadi. Salah satu dari mereka bahkan menimpali dengan senyum mengejek.
“Wah hati-hati, Pak… jangan sampai ketahuan yang sebenarnya.” Celetuk salah seorang pria seolah tahu benar kebiasaan Pak Bowo setiap malam.
Pak Bowo mendelik, wajahnya langsung berubah masam. “Udah, jangan ikut campur urusan saya. Urusin aja istri sampean masing-masing yang kerjaannya cuma ngegosip!” Sentaknya, kali ini nadanya terdengar tajam.
Suasana mendadak terasa agak canggung. Kedua pria itu saling melirik satu sama lain, sebelum akhirnya memilih diam dan kembali fokus pada kopi masing-masing.
Si penjaga warung hanya tersenyum simpul, namun matanya sekilas melirik ke arah Pak Bowo—tatapan genit yang samar tapi cukup jelas untuk dibaca.
Pak Bowo menyandarkan tubuhnya di kursi, menyesap kopinya sekali lagi. Meski mencoba bersikap tenang, egonya baru saja terusik. Dan dalam hatinya, ia merasa tak boleh terlalu ceroboh untuk kedepannya.