Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
Lalu datanglah Mori.
Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Insiden penolakan di panggung pensi kemarin seharusnya menjadi akhir dari segalanya, atau setidaknya membuat Lian malu dan menjauh. Tapi bagi seorang Lian, kata "tidak" hanyalah tantangan yang tertunda. Bukannya mundur, dia justru semakin gencar menunjukkan keberadaannya di hidup Mori dengan cara yang paling menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Pagi itu, Mori berjalan menyusuri koridor dengan tenang. Dia merasa sudah memberikan pernyataan yang cukup jelas kemarin. Namun, saat dia berjalan, dia merasa ada yang aneh. Beberapa siswa yang berpapasan dengannya menatap ke arah punggungnya sambil tertawa kecil, dan sesekali terdengar suara siulan nakal dari arah kejauhan.
Fuit-fuiiiitttt!
Mori menoleh ke belakang, tapi dia hanya melihat kerumunan siswa yang berjalan seperti biasa. Ia mengerutkan kening, bingung. Kenapa orang-orang pada aneh hari ini? batinnya.
Begitu sampai di kelas, suasana jauh lebih heboh. Jessica, Nadya, dan Alissa langsung berdiri di depan pintu dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan—antara ingin tertawa tapi juga kasihan.
"Mor, lo beneran udah tukar status ya?" goda Jessica sambil menunjuk-nunjuk punggung Mori.
"Maksudnya?" Mori melepaskan tas ranselnya dari pundak.
Begitu tas itu berada di depan matanya, Mori hampir saja menjatuhkannya karena kaget. Di bagian belakang tasnya, menempel selembar kertas putih besar dengan tulisan menggunakan spidol permanen berwarna merah menyala yang sangat tebal:
"MILIK LIAN. JANGAN DISENTUH, JANGAN DILIRIK. YANG BERANI DEKETIN, URUSAN SAMA GUE."
Mori membeku. Darahnya mendidih seketika. "LIAAANNNNN!!!" teriaknya yang bergema di seluruh ruangan kelas.
"Gila sih, itu Lian niat banget nempelnya. Tadi pas lo jalan di koridor, semua orang liat, Mor. Pantesan pada siulin lo," Nadya tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya.
"Gue baru sadar sekarang kenapa Jojo tadi ketawa-ketawa di parkiran. Pasti mereka berdua yang ngerencanain ini!" seru Alissa.
Tanpa mempedulikan godaan sahabatnya, Mori menyambar tasnya dan berjalan menghentak ke arah bangku belakang, tempat Lian sedang asyik bermain ponsel sambil menyandarkan kakinya di atas meja—visual Gabriel Guevara yang sangat menyebalkan.
BRAK!
Mori membanting tasnya tepat di depan wajah Lian. "Maksud lo apa-apaan nempel ginian di tas gue?!"
Lian menurunkan ponselnya perlahan. Dia menatap Mori dengan wajah tanpa dosa, lalu senyum miringnya yang legendaris muncul. "Oh, udah baca ya? Bagus deh. Biar satu sekolah tau kalau lo itu area terlarang."
"Gue bukan barang, Lian! Lo nggak berhak nempelin label 'milik' atau apapun itu di barang-barang gue!" suara Mori meninggi, menarik perhatian seisi kelas. "Gue udah bilang 'nggak' kemarin di panggung! Lo nggak ngerti bahasa manusia ya?!"
Lian berdiri, membuat Mori harus mendongak karena perbedaan tinggi mereka yang cukup jauh. Lian melangkah maju satu langkah, memangkas jarak. "Gue denger kok. Tapi gue nggak setuju. Jadi, selama gue belum setuju buat berhenti, lo tetep target utama gue."
"Lo bener-bener red flag gila, Lian! Lo egois!" maki Mori, wajahnya memerah karena emosi yang campur aduk.
"Egois buat dapetin apa yang gue mau itu wajar, Mor," balas Lian santai, tangannya terulur ingin menyentuh kepala Mori, tapi Mori langsung menepisnya dengan kasar.
Di tengah ketegangan itu, pintu kelas terbuka. Vano masuk membawa beberapa tumpuk formulir pendaftaran lomba debat. Kehadiran sang Ketua OSIS "Green Flag" itu langsung mengubah atmosfer ruangan.
"Pagi, Mori. Aku mau antar formulir yang kamu minta kemarin," ucap Vano dengan suara lembut yang menenangkan. Dia berjalan mendekati meja Mori, seolah tidak melihat keberadaan Lian yang sedang berdiri di sana dengan aura permusuhan.
Mori langsung mengubah ekspresinya menjadi jauh lebih ramah. "Eh, Kak Vano. Iya, makasih ya. Maaf jadi ngerepotin Kakak ke kelas sini."
"Nggak apa-apa. Sekalian aku mau tanya, nanti istirahat ada waktu? Kita bahas poin-poin argumennya di perpustakaan?" tawar Vano sambil memberikan senyuman manis.
Rahang Lian mengeras. Matanya berkilat tajam melihat kedekatan mereka. Lian tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia langsung berdiri di antara Vano dan Mori, memutus kontak mata mereka.
"Dia nggak bisa. Istirahat ini dia harus nemenin gue ke kantin buat 'rebranding' status dia," cetus Lian dengan nada bicara yang sangat sinis.
Vano menaikkan sebelah alisnya, tetap tenang. "Lian, ini urusan akademik. Dan setahu aku, Mori punya hak buat milih mau pergi sama siapa."
"Hak dia udah gue ambil alih mulai pagi ini," balas Lian, tangannya mengepal di samping tubuh. Visualnya benar-benar menunjukkan sisi posesif yang meledak.
Mori yang merasa situasi ini semakin memalukan, langsung menarik lengan Vano. "Kak Vano, kita bahas sekarang aja di luar. Di sini berisik, banyak polusi udara."
Mori melirik Lian dengan tatapan benci sebelum menarik Vano keluar kelas. Lian hanya bisa mematung di tempatnya, menatap punggung Mori yang pergi bersama Vano dengan perasaan cemburu yang membakar dada.
"Li, sabar Li... jangan ditonjok temboknya," bisik Jojo yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Gue bakal pastiin Vano tau posisi dia dimana," desis Lian pelan. "Dan Mori... dia belum tau aja seberapa nekat gue kalau lagi cemburu."
Di luar kelas, Mori mencoba menenangkan jantungnya. Bukan karena Vano, tapi karena amarahnya pada Lian. Dia tidak sadar bahwa di balik kemarahannya, tindakan-tindakan gila Lian mulai perlahan-lahan meninggalkan jejak di pikirannya, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa benci.