NovelToon NovelToon
My Hottest Man

My Hottest Man

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Balas Dendam / Playboy / Percintaan Konglomerat / Obsesi / Tamat
Popularitas:261.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Cewen

Takdir, secara kikuk menari di atas lembaran putih. Ujung pena menggurat kisah perjumpaan dua insan yang tak bisa menolak kebetulan.

Adik perempuannya yang sedang hamil menerima tindak kekerasan kemudian sekarat di ranjang rumah sakit, Raymundo Alvaro oleh kemurkaan brutal bersumpah akan jebloskan semua yang terlibat ke dalam penjara. Tidak terkecuali, seorang wanita muda yang pernah secara terang-terangan berikan peringatan padanya juga mengancam adik perempuannya.

Raymundo yakini Bellova Driely adalah nama teratas dalam daftar hitam yang paling bertanggung jawab atas segala hal buruk yang menimpa keluarganya.

Sedangkan, Bellova Driely tak menyangka ia akan terseret kasus yang kemudian menghilangkan nyawa bayi Hellena Alvaro.


Raymundo kemudian putuskan menghukum Bellova Driely dengan caranya sendiri. Ia bebaskan Bellova dari penjara dengan banyak syarat dan sengaja ciptakan kegelapan untuk Bellova. Bellova tak berdaya membalas ketidak-adilan yang menimpa karena sebuah janji yang harus ditepati. Bellova menyimpan rahasia besar yang bisa akhiri kesalah-pahaman tetapi ia telah dituntut sumpah untuk pengorbanan berdarah.

Apa yang terjadi ketika akhirnya masa lalu terkuak dan masa depan kehilangan ketenangan? Akankah cinta yang hadir mampu kalahkan kebencian?!

***

Ditulis oleh Senja Cewen

Ja'o Mora Ne'e Masa Miu (Aku Mencintaimu)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Cewen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31. Sweet but Phsycho

Bellova bekerja tanpa henti selama tiga hari. Hanya berhenti untuk tidur di atas sofa ruang kerja. Viviane akan fitting dua hari lagi.

Paul Damier mengirim pesan bahwa Greg Luigi akan mengunjunginya. Dan Bellova sanggupi. Greg telah hubungi dirinya, berkenalan. Pria sopan dan cerah, dari caranya menyapa Bellova. Mereka janjian bertemu untuk makan malam.

Bukan tanpa alasan, Bellova menerima Greg Luigi. Raymundo Alvaro tak terlihat dalam tiga hari. Bellova telah kehilangan harapan. Tak mengerti mengapa ia tak bisa membunuh rasa. Meskipun, ia telah gunakan seluruh kekuatan dan memakai waktu berharga untuk sibuk bekerja. Semakin ia berusaha menghapus, semakin kuat bayangan Raymundo Alvaro melekat padanya.

Sosok Raymundo Alvaro bisa jadi paradoks misterius bagi Bellova. Tak ada kata mampu jelaskan kepribadian pria teraneh seperti Raymundo Alvaro yang seakan membangun tembok raksasa bentengi dirinya hingga tak bisa semua orang bisa mendaki, kecuali orang-orang tertentu yang diijinkan.

"Mari kita makan malam di luar, Nona, sebelum kami pulang."

Kayla telah selesaikan merangkai bola-bola mutiara pada gaun dan belt.

"Pergilah! Aku punya janji dengan seseorang."

Bereskan ruangan dan melihat tampilan keseluruhan gaun yang akan rampung sisa 30% lagi, Bellova memakai mantel. Viviane akan sangat cantik memakai gaun indah ini dan pria itu akan jadi pria paling beruntung. Bellova telah kesetrum nyeri ratusan kali tiap teringat Raymundo Alvaro. Keluar dari studio dan mengunci studio. Ia berbalik dan terkejut ketika seorang pria berdiri di sana.

"Nona Bellova ...," sapa si pria tersenyum hangat. "Greg Luigi." Ulurkan tangan dan tersenyum ramah padanya.

Bellova terkejut, menatap uluran tangan lalu pada pria yang dijodohkan dengannya. Telah melihat foto Greg, tetap merasa asing.

"Aku berpikir untuk menjemputmu dan kita bisa berjalan kaki pergi restoran sambil berbincang ringan." Greg ragu-ragu, mungkin cemas Bellova salah paham.

"Oh ya ya, Tuan Luigi. Aku Bellova." Mereka bersalaman.

Greg persilahkan Bellova dan menjaganya saat sedang menyeberang.

"Apakah Anda bekerja di Lisbon?" tanya Bellova mulai percakapan canggung di antara mereka. Bellova masukan kedua tangan ke dalam saku mantel.

"Ya. Tempat kerjaku tak jauh dari sini. Aku bekerja di sebuah perusahaan tekstil."

Bellova menghela napas panjang, mereka mulai perkenalan diri. Bukankah memang true rule harusnya begitu? Dimulai dengan introduce yourself sebelum lain-lain. Dirinya dan Raymundo berbagi sesuatu paling rahasia dari mereka tanpa tahu apapun.

"Benarkah? I see, manufaktur tekstil tak pernah redup, tak akan mati gaya dan akan terus bertumbuh."

"Sama seperti pernikahan selalu butuhkan Anda. Orang-orang tak bisa hidup tanpa benang. Kecuali, kita kembali ke penciptaan awal."

"Dunia kita sama." Bellova menimpali, balas tersenyum.

"Ya. Semua produk, diekspor keluar negeri setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi."

"Luar biasa."

Mereka sampai di restoran tiga lantai yang sedikit tersembunyi. Chapito Resto. Masuk ke dalam dan temukan antrean panjang. Itu pertanda, restoran ini hebat.

"Mari kita ke atas. Aku telah memesan meja lebih awal karena tempat ini selalu ramai."

Greg Luigi membuatnya nyaman di kesan pertama, musnahkan canggung, tetapi bukan berarti buat Bellova berhenti memikirkan Raymundo Alvaro. Ia selalu berdenyut antara cinta juga kesal pada pria itu. Terlebih rindu tanpa batas, bahkan dengan tidak tahu malu menginjak harga diri serta martabatnya, terus mengarah pada Raymundo Alvaro. Sungguh menyebalkan.

Mereka menaiki tangga spiral yang sempit menuju lantai yang lebih privasi. Greg menggiringnya dari belakang.

Fantastis.

Gaya restoran shabby chic, desain interior sederhana tetapi sangat cantik. Sarat akan romantisme. Pemandangan Lisbon di malam hari dan jembatan 25 de Abril di atas sungai Tagus, tidak seperkasa jembatan Vasco da Gama tetapi sangat indah saat semua lampunya menyala.

Mereka memilih tempat paling sudut, di mana bisa menikmati makanan juga pemandangan. Sepasang kekasih mengisi meja lain di lantai itu.

"Pernah kemari?" tanya Greg sambil sodorkan menu.

"Tidak. Kami punya dapur di studio dan swalayan menjual bahan segar tak jauh dari sana. Jadi, kami jarang pergi ke restoran."

"Itu bagus."

"Aku juga membawa Bacalhau dari rumah."

Bacalhau adalah ikan kod yang telah dikeringkan, jadi seperti ikan asin.

"Keluarga kita pelaut sejati, ikan Kod melimpah di Samudera Atlantik. Dan aku yakin Flores punya banyak."

"Ya, kamu benar."

Bellova memeriksa menu sedikit mengerut.

"Jangan heran, menu di sini sedikit, Bellova."

"Ini pertanda makanan, made by order."

"Ya, tanpa keraguan sedikitpun," sambung Greg sepakat. "Mau pesan apa?" tanya Greg penuh perhatian.

"Apa saja, Tuan."

Mereka akhirnya memesan dua minuman, cheese board, roasted beef, dua menu main dishes dan dua hidangan penutup.

"Pekerjaanmu pasti sangat menyenangkan, Bellova."

Menunggu makanan datang, Greg secara keseluruhan, ingin tampil fleksibel dan belajar mengenai dirinya. Bellova hargai itu. Sedangkan Raymundo Alvaro pelajari dirinya dalam satu malam ketika mereka bercinta dan putuskan bahwa Bellova buka tipenya.

Oh sial, lupakan pria itu!

"Ya, kami menangani salah satu hari paling bersejarah seseorang. Kesalahan sepele akan hancurkan bisnis."

"Aku tak bisa bilang luar biasa, tetapi harus akui hanya orang-orang tekun, telaten dan penuh imajinasi yang bisa ada di bidang ini."

Meskipun terlalu dini menilai, Greg menaruh rasa hormat dan kagum padanya. Tidak cepat terbuai, hanya saja, mengapa Raymundo Alvaro tak bisa miliki sedikit saja kehangatan macam Greg Luigi.

Bellova, enough! Bagaimana kamu bisa berjalan ke depan kalau kepalamu masih memutar ke belakang?

"Aku tak bisa menolak pendapat Anda. Tetapi, Anda akan dapati bahwa kerjaan ini butuh kreativitas, dorongan penuh untuk menekan masalah juga adaptasi tinggi pada kemauan klien."

"Aku tak akan sanggup."

Makanan mereka datang.

"Cheese board di sini adalah yang terenak menurut aku. Silahkan dicoba."

Mereka baru saja akan makan ketika Belova menangkap siluet Viviane masuki ruangan. Bellova menahan napas, ia mulai tak waras. Di Lisbon, restoran ada banyak. Tidak mungkin Viviane kemari dan bersama ....

Bellova nyaris kesedak keju. Ia bahkan menggigit lidahnya tanpa sengaja.

"Auhh ...."

"Bellova? Ada apa?" tanya Greg prihatin.

"Oh, tak masalah."

Raymundo Alvaro, tersenyum tipis padanya. Bukan ..., itu adalah seringai jahat. Raymundo tidak tampak terkejut seakan tahu persis, ia ada di restoran ini. Pria itu menggiring Viviane pergi ke arah mereka tanpa alihkan matanya dari Bellova hingga Bellova butuh kedipan berulang kali.

Termangu sekian detik sebelum kembali ke makanannya.

"Kita punya banyak makanan segar dan kamu menyeret aku makan di sini, Tuan Alvaro?" keluh Viviane tampak tidak senang.

Mengambil bangku tak jauh dari mereka, pasangan itu duduk di sana, jelas-jelas mengawasinya.

Apa maumu? Bellova menjerit dalam hati. Sulit jatuh cinta, tidak terobsesi, tetapi terus menghantuinya. Seriusan, Raymundo Alvaro tak biarkan ia bahagia?

Apa maunya? Ya Tuhan. Apa maunya?

"Kamu bisa pergi ke klub setelah ini," janji Raymundo pada Viviane. "Aku tak akan beritahu Nyonya Gracia."

"Benarkah?" Viviane berbinar-binar. "Aku tak ingin diikuti."

"Tentu saja."

"Aku harap aku tahu apa yang akan kita lakukan di sini? Bukan seleraku sama sekali."

"Terbiasalah. Dua orang asing perlu suasana romantis untuk saling mengenal. Bukankah begitu?"

"Baiklah. Aku akan pura-pura menerima. Lagipula Anda butuh sedikit banyak guncangan kesenangan. Pria terlalu serius membosankan."

"Kamu bisa menikahi badut, Nona."

Bellova kehilangan selera makan meskipun keju benar-benar lezat untuk dinikmati dan makanan laut yang tersaji begitu memikat.

"Apa kamu tak suka?" tanya Greg melihat raut gusar Bellova.

Menggeleng. "Tidak, Tuan. Mari kita makan."

Apakah ia bisa makan sedang wajah kaku Raymundo Alvaro terus menatap padanya tanpa kedip hingga Bellova resah. Bellova kebingungan bahkan hanya untuk mengunyah makanan.

Merasa tertekan, Bellova mengangkat wajah, balas menantang. Raymundo Alvaro tanpa ekspresi, hanya menyimak.

"Anda ingin makan apa, Tuan Alvaro?" Viviane bertanya.

"Apa saja."

"Octopus Carpacio, mau?"

"Ya."

Bellova sedikit kaget ketika Greg menaruh kepingan ikan di piringnya.

"Makanlah!"

"Terima kasih."

Makan tapi tak bisa nikmati makanan, Bellova rasakan makanan masih utuh berlarian dalam saluran pencernaannya. Berkat Raymundo Alvaro.

"Mau crème Brûlée?"

"Chocolate and peanut delight saja, Tuan." Bellova menarik napas panjang. "Aku perlu ke toilet." Bellova akhirnya menyerah.

"Apa makanan ini mengganggumu?"

"Tidak, Tuan. Aku pergi sebentar saja."

Bellova melangkah cepat mencari toilet. Masuk ke dalam dan sangat kesal hingga ingin hancurkan sesuatu.

Menunggu sambil mencuci tangan, berharap pria itu datang dan mereka bicara. Bellova ingin tahu apa maunya. Apa yang harus ia lakukan agar Raymundo Alvaro tak mengganggunya? Demi Tuhan, pria itu akan menikahi Viviane. Apa maunya?

Bellova menunggu, tak ada tanda-tanda. Menit kelima ketika telinga menangkap bunyi derak pecah belah dan suara ribut-ribut. Bellova keluar dari toilet kembali ke ruangan dan melongo sempurna. Viviane pegangi lengan Raymundo Alvaro yang pancarkan aura banteng siap menanduk.

"Ya Tuhan, selamatkan kami, apa yang terjadi?" pekik Bellova berlari cepat. Temukan Greg Luigi darah hidung, pegangi hidung yang mungkin habis ditanduk.

"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Bellova kalang kabut, mengambil tisu dan bersihkan wajah Greg. "Apa yang terjadi?" Vas bunga pecah dan bunga tercerai berai di lantai.

Greg hanya diam, memandang lewati Bellova pada Raymundo Alvaro. Pandangan yang hanya bisa di mengerti para pria.

"Apa Tuan ini mengganggu Anda, Tuan?" tanya Bellova murka pada Raymundo Alvaro yang seakan ingin mengunyah Greg Luigi hidup-hidup.

"Nona Bellova. Maafkan kami," ujar Viviane pegangi lengan Raymundo Alvaro separuh menyeret agar segera pergi dari sana. Namun, pria itu Raymundo Alvaro, sepertinya tak akan puas sampai jiwa predatornya keluar dan memangsa semua orang.

"Hei hei, beritahu aku, apa masalah Anda, Tuan?" Bellova naik pitam pegangi lengan Raymundo saat Viviane menarik Raymundo pergi.

"Bellova, kami akan pergi!" Viviane memelas ketika manajer restoran datang.

"Tidak. Beritahu aku, apa masalahmu!" tegur Bellova dingin. Darahnya lekas mendidih. "Mengapa pukuli orang sesuka hati? Apa salahnya, Tuan?"

Raymundo Alvaro berdecak menatap Bellova, wajah pria itu berubah sinis.

"Ceroboh!"

Pegangi tangan Bellova dan hempaskan. Bersihkan jasnya, mendorong Viviane pergi dari sana. Berpapasan dengan manajer hotel, meminta manager hotel ikut dengannya.

Bellova ingin mengumpat, tetapi Greg pegangi tangan Bellova.

"Bellova, ini salahku juga. Aku menyinggung Tuan itu. Kamu mengenalnya?"

"Tidak," sahut Bellova menyangkal. Tak ingin mengenal pria sekasar Raymundo Alvaro.

"Wanita yang bersamanya mengenalmu, Bellova," kata Greg Luigi.

"Viviane customerku. Mereka akan menikah seminggu lagi."

Bellova mengganti tisu kembali bersihkan darah dari tangan Greg. Makanan penutup masih di atas meja dan dua gelas minuman masih utuh. Namun, Bellova benar-benar tak lapar lagi.

"Kita perlu ke dokter." Bellova makan hati dan gemas sendiri.

"Tak apa."

"Ada apa sebenarnya?" tanya Bellova.

"Bukan masalah besar. Maaf, makan malamnya terganggu."

"Mari kita ke dokter."

"Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Aku akan antar kamu pulang."

Bellova meraih gelas minuman, meneguk setengah gelas anggur untuk redakan amarah.

"Bellova?!"

"Aku butuh anggur, atau aku akan hangus."

Mereka pergi dari restoran, berjalan di jalanan menjelang malam. Ramai tetapi teratur. Bellova masih tak habis pikir mengapa, Raymundo Alvaro menanduk Greg Luigi.

Pria seperti itu yang kamu rindukan, Bellova? Bengis, jahat dan temperamental? Tingkah tak terpuji Tuan Alvaro membuat logika Bellova berjalan. Untuk pertama kali menang atasi hati merana. Ia merasa sedikit pening.

"Sampai jumpa, Bellova! Senang mengenalmu." Greg tersenyum di antara wajah kesakitan. Tampak ingin Bellova menahannya untuk tinggal.

"Aku tak bisa mengundangmu masuk. Maafkan aku!"

"Tak mengapa."

"Tolong mampirlah ke dokter."

"Jangan cemaskan aku, sampai jumpa Bellova."

Mengangguk.

Bellova membuka pintu studio, segera masuk ke dalam dan pergi ke lantai atas ke ruang tidurnya. Masuk dalam kegelapan, lemparkan tas dan duduk di ranjang.

"Pria brengsek itu, apa maunya dariku? Bukankah ia tinggalkan aku dan menikahi wanita lain? Perlakukan aku seperti ampas? Apa aku mendorongnya untuk nikahi Viviane? Oh brengsek. Apa maunya?" Bellova menggerutu dan memaki.

Sialan, karena ia tiba-tiba inginkan Raymundo Alvaro.

Kepala berdenyut dan tubuhnya perlahan panas. Ia agak bergairah ketika membuka mantel. Apa yang terjadi? Lepaskan atasan, bayangan pria itu melintas ketika menariknya keluar dari sweater. Apakah karena kegelapan membuatnya deja vú pada sebuah malam?

Menarik jeans kasar dan lemparkan dengan kesal. Sesuatu merayap naik saat tangannya tanpa sengaja menyentuh pahanya, memancing. Kepalanya berputar-putar dan saraf kelewat sensitif.

"Oh, ada apa denganku?"

Pergi ke ranjang. Terlentang menghadap loteng, sedikit menggeliat, merasa semaput oleh sesuatu. Menahan tangan di ranjang karena ia ingin menyentuh dirinya sendiri, tak pahami karena Bellova belum pernah begitu sebelumnya.

"Apa yang aku minum tadi?" Suaranya berubah aneh. Hanya anggur, tetapi mengapa ia seakan meneguk minuman pembangkit gairah?

Tiba-tiba merasa seakan diawasi. Kuduk Bellova merinding. Tangannya cukup dekat untuk menjangkau lampu tidur.

Click. Menyala.

Bellova menjerit histeris, nyaris pingsan ketika cahaya lampu perlihatkan seseorang bersandar di dinding dekat lemari pakaiannya. Apakah Greg ikuti dirinya? Bellova baru ingat ia lupa mengunci pintu studio.

Tidak, pria ini telah ada di kamarnya sebelum ia datang. Bellova melompat panik dan ketakutan dari ranjang menuju saklar. Mencapai tombol lampu tetapi tangannya ditarik keras. Pinggangnya dilingkari kuat dari belakang. Gerakan begitu cepat, tubuhnya telah tengkurap di atas ranjang. Seseorang menindihnya.

"Help me!"

Bellova meronta sekuat tenaga. Ya Tuhan, ia akan diperko*** seseorang. Tak bisa berbalik karena tubuhnya terpenjara.

"Help me!" jeritnya lagi, tetapi kepalanya ditekan kuat ke ranjang. Bellova hentikan meronta atau ia akan mati kehabisan napas. Posisinya hilangkan kekuatan atau tubuh di atasnya terlalu berat untuk dilawan.

"Kamu nikmati kencanmu, Bellova?" bisik bibir di kuping.

Bellova menjadi sangat frustasi kenali suara itu. Bagaimana pria ini bisa masuk ke dalam studio sedang ia mengunci pintu masuk?

Amarah bergantian emosi lain penuhi dadanya. Ia bernapas naik turun mencium bedcover. Semakin pening, lekas terbakar gairah oleh sentuhan pada kedua tangannya. Sisa kesadaran menjaga pikirannya agar tetap waras, tak berlangsung lama.

Bellova mencoba menghalau hasrat aneh, tak berhasil. Napas hangat si pria benar-benar bangkitkan gelora.

"Apa maumu Tuan Raymundo Alvaro? Menikahlah dan hiduplah dengan bahagia. Jangan ganggu aku! Jangan menyiksaku!" Bellova bicara tersengal-sengal.

"Begitukah?"

Raymundo Alvaro bertanya di belakang lembaran kupingnya. Turun ke lehernya sedikit menggelitik. Tenggelam di belikat. Pergi ke tengkuk, mengecup dan menyesap perlahan seperti yang pria itu lakukan terakhir kali hingga Bellova tanpa sadar telah mengerang.

"Kamu menyukainya?"

"Hen ... ti ... kan!" Bellova berusaha bangkit. Namun, kedua tangannya digenggam di atas ranjang.

"Kamu akan rindukan ini."

Punggung disentuh oleh bibir dingin juga basah dan bekas cap bibir menempel di balik tengkuk segera buat Bellova merinding. Kaitan br*** terlepas. Raymundo Alvaro gunakan lidah bermain di tulang belakang dan di kedua belikatnya. Bellova meremas penutup ranjang. Menggigit bibir kuat sebab ia akan kembali mengerang. Tak sanggup membendung hasrat. Bibir si pria berjalan pulang menyusuri pundak, kembali ke kupingnya. Bermain di sana. Berbisik, mematikan.

"Bellova Driely Damier, kamu milikku. Hanya aku!"

***

Ini judulnya My Hottest Man jadi agak-agak gimana ya? Dan pria ini juga sedikit Psiko. Dari semua karakter pria, mungkin pria ini yang paling tidak tampan tapi paling 🔥.

Tinggalkan Vote juga komentar.

1
choirotun nisa
pait kaya antibiotik 🤣
choirotun nisa
kayaknya suka ngemilin es batu kali ya😄
choirotun nisa
Wes embuh lah ray.. karepmu 🤣🤣🤣
choirotun nisa
wkwkwkw.. kata2 kak ceine selalu bikin senyum2 lucu..
choirotun nisa
uuhhhh anda memang hot tuan raymundo 🤭
choirotun nisa
queenaass plis stop yaa.. nanti mr owl cemburu butong 😄
✨Susanti✨
hai-hai Thor
aku datang lagi
Elly Adisusetyo
puluhan kali baca cerpen ini..gak.bosan2nya,aq msh blm menemukan novel yg bagusnya sprti krya novel2..mksh kak senja
Ros Yusmiasih
meskipun agak sulit mencerna alur ceeitanya ,tapi ini novel yg bagus ....terimakah authir ....smkn sukses ....Gbu
Ros Yusmiasih
mati aja alfaro .......
Ros Yusmiasih
ini baru seru ceritanya
Rossida Sity
ini rencana BM unk ray bulan madu
Rossida Sity
ini Pat bm
Rossida Sity
mulai jahat LG rey
Rossida Sity
kasian belova ini semua Krn oskan,ya slh belova jg sih, tp oskan yg LBH slh
Rossida Sity
seru bgt AQ JD begadang dr kemaren bcx
Rossida Sity
susu 🐮🐮
Rossida Sity
kocak🤣🤣
Rossida Sity
bingung
bunga cinta
mantaap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!