NovelToon NovelToon
CINTA Di BALIK 9 M

CINTA Di BALIK 9 M

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkyra

Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.

Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:

kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 15

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan rumah dengan suara mesin yang masih menyisakan panas perjalanan panjang. Yurie yang sejak tadi duduk gelisah di ruang tengah langsung berdiri begitu pintu mobil terbuka. Kaiden turun tanpa jeda, jasnya masih rapi, tapi wajahnya menyimpan ketegangan yang tidak ia tutupi.

Ia melangkah cepat masuk ke dalam rumah.

“Mana?” tanyanya singkat.

Yurie mengerti maksudnya tanpa perlu penjelasan. Ia menunjuk meja kecil di dekat sofa. Liontin itu masih tergeletak di sana, dibungkus kain tipis yang tadi ia ambil dengan tangan gemetar. Kaiden mendekat, menunduk, lalu mengamati benda itu tanpa menyentuhnya.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

“Ini memang milik ibumu,” katanya akhirnya.

Yurie menelan ludah. “Aku yakin.”

Kaiden mengangguk pelan. “Aku juga.”

Ia berdiri tegak, lalu menatap Yurie lebih lama dari biasanya. “Mulai sekarang, kau tidak sendirian. Apa pun yang terjadi, jangan menyimpannya sendiri.”

Kalimat itu sederhana, tapi Yurie merasakan sesuatu mengendur di dadanya. Seperti simpul yang selama ini terlalu kencang akhirnya diberi ruang bernapas.

Kaiden memanggil seseorang lewat ponselnya. Tidak lama kemudian, dua pria datang membawa peralatan kecil—sarung tangan, kantong plastik, dan kamera saku. Mereka bekerja cepat dan senyap, mengambil liontin itu dengan hati-hati.

“Ada sidik jari,” kata salah satu dari mereka. “Dan kemungkinan bekas sentuhan baru.”

Yurie menggigit bibirnya. “Mereka benar-benar baru saja mengirimnya.”

Kaiden mengangguk. “Dan itu artinya… mereka ingin kau tahu bahwa mereka dekat.”

Setelah para pria itu pergi, rumah kembali sunyi. Yurie duduk di sofa, memeluk bantal tanpa sadar. Kaiden duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat kehadirannya terasa nyata.

“Kau takut?” tanyanya.

Yurie mengangguk jujur. “Tapi lebih dari itu… aku lelah. Selama ini aku hidup seperti bayangan. Ketika akhirnya merasa aman, masa lalu datang lagi.”

Kaiden terdiam sejenak. “Kadang, masa lalu memang tidak datang untuk menyakiti. Tapi untuk diselesaikan.”

Yurie tersenyum tipis. “Kau selalu terdengar yakin.”

“Bukan yakin,” koreksi Kaiden. “Terbiasa.”

Ia menoleh ke arahnya. “Keluarga besar sering menyimpan rahasia. Dan rahasia jarang mati dengan tenang.”

Malam merambat perlahan, tapi tidak terasa menekan. Yurie membantu menyiapkan makan malam, sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan tanpa rasa takut dimarahi. Kaiden tidak banyak bicara, hanya sesekali mengomentari masakan atau menanyakan hal-hal ringan.

“Kau terbiasa melakukan ini,” katanya sambil

memperhatikan Yurie memotong sayuran.

“Terpaksa terbiasa,” jawab Yurie, lalu tertawa kecil. “Di rumah dulu, aku lebih sering di dapur daripada di kamar.”

Kaiden tidak tertawa. Tatapannya justru mengeras. “Mereka memanfaatkanmu.”

Yurie mengangkat bahu. “Aku masih hidup. Itu sudah cukup bagiku waktu itu.”

Kaiden berhenti bergerak. “Tidak. Itu tidak cukup.”

Nada suaranya membuat Yurie terdiam. Ada sesuatu di sana—bukan amarah yang meledak, tapi kemarahan yang dikendalikan dengan susah payah.

Setelah makan malam, mereka duduk di ruang kerja Kaiden. Di meja besar itu, beberapa berkas sudah tersusun rapi. Foto-foto lama, catatan perjalanan, dan laporan yang tampak belum lengkap.

“Aku ingin kau melihat ini,” kata Kaiden.

Ia menunjukkan satu foto. Yurie mengenali tempat itu seketika—halaman belakang rumah Nazeeran. Foto itu diambil dari sudut jauh, menampilkan seorang wanita dengan gaun sederhana. Rambutnya panjang, wajahnya samar, tapi Yurie tahu siapa itu.

“Ibuku,” katanya lirih.

Kaiden mengangguk. “Foto ini diambil tiga hari sebelum kematiannya.”

Yurie merasakan dadanya sesak. “Dari mana kau mendapatkannya?”

“Seseorang mengirimkannya ke email anonim beberapa bulan lalu. Awalnya aku tidak mengerti hubungannya denganku. Tapi setelah kau datang… semuanya terasa lebih masuk akal.”

“Jadi mereka sudah mengamatiku sejak lama?” tanya Yurie.

“Lebih lama dari yang kita kira.”

Yurie memejamkan mata sejenak. Ia teringat Agnesa. Cara wanita itu selalu tampak tenang, bahkan ketika Shella sakit. Cara senyumnya tidak pernah sampai ke mata.

“Ada satu nama yang terus muncul,” lanjut

Kaiden. “Dalam kasus kakakku. Dalam hilangnya Elif. Dan sekarang… dalam cerita ibumu.”

Yurie membuka mata. “Siapa?”

“Nazeeran.”

Nama itu jatuh di antara mereka seperti benda berat. Yurie tertawa kecil, tanpa humor. “Tidak mengejutkan.”

Kaiden menatapnya penuh arti. “Aku butuh waktumu, Yurie. Ceritakan semua yang kau ingat. Bahkan hal-hal kecil.”

Yurie menarik napas panjang. “Tidak semuanya indah.”

“Aku tidak mencarinya,” jawab Kaiden. “Aku mencari kebenaran.”

Malam semakin larut ketika Yurie mulai bercerita. Tentang obat yang diberikan Agnesa. Tentang tatapan ayahnya yang berpaling. Tentang hari-hari tanpa sekolah, tanpa suara yang membelanya.

Kaiden mendengarkan tanpa menyela. Tangannya mengepal di atas meja, tapi ia tidak berkata apa-apa.

Ketika Yurie selesai, suaranya hampir habis.

“Aku tidak tahu apakah semua ini cukup,” katanya. “Aku tidak punya bukti.”

Kaiden berdiri, lalu berjalan mendekat. Ia berhenti tepat di hadapannya. “Kau adalah bukti,” katanya pelan. “Dan kadang, itu lebih kuat dari apa pun.”

Yurie menatapnya, matanya berkaca-kaca. “Kenapa kau begitu peduli?”

Kaiden terdiam sejenak. “Karena aku tahu rasanya kehilangan tanpa jawaban.”

Ia mengulurkan tangannya. Tidak memaksa. Hanya menunggu. Setelah ragu sesaat, Yurie menggenggamnya. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Yurie merasa… dilindungi.

Beberapa hari berikutnya berjalan dengan ritme baru. Ada orang-orang Kaiden yang keluar-masuk rumah. Ada panggilan telepon yang dihentikan begitu Yurie masuk ruangan. Ada peta dan jadwal yang tidak dijelaskan detailnya. Yurie tidak bertanya. Ia memilih percaya.

Suatu sore, Kaiden mengajaknya keluar. Bukan ke tempat ramai, tapi ke sebuah taman kecil di pinggir kota. Mereka duduk di bangku kayu, ditemani angin lembut dan suara daun.

“Kau tidak harus selalu berada di rumah,” kata Kaiden. “Dunia tidak seburuk yang mereka buat terlihat.”

Yurie tersenyum kecil. “Aku lupa rasanya berjalan tanpa takut.”

Kaiden menatapnya. “Pelan-pelan saja.”

Mereka duduk lama tanpa banyak bicara. Yurie menyandarkan punggungnya, menatap langit yang perlahan berubah warna. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa masa depannya tidak sepenuhnya gelap.

Namun, ketenangan itu kembali retak ketika ponsel Kaiden bergetar. Ia membaca pesan itu, wajahnya mengeras.

“Ada apa?” tanya Yurie.

“Petunjuk baru,” jawab Kaiden. “Tentang Elif.”

Jantung Yurie berdegup kencang. “Dia…?”

“Masih hidup,” kata Kaiden pelan. “Dan kemungkinan… tidak sejauh yang kita kira.”

Yurie terdiam. Dalam hatinya, ia tahu—semakin dekat mereka pada kebenaran, semakin besar bahaya yang menunggu.

Kaiden berdiri. “Kita pulang.”

Saat mereka berjalan kembali ke mobil, Yurie menoleh sebentar ke taman itu. Ia tidak tahu berapa lama ketenangan akan bertahan. Tapi setidaknya sekarang, ia tidak berjalan sendirian.

Dan untuk pertama kalinya, itu cukup untuk membuatnya berani melangkah ke depan.

1
mus lizar
tokoh utamanya kasian banget, kalau aku jadi dia udh ku cabik cabik ibu tiri yang sok ngatur itu
mus lizar
sangat fantastis, bahasanya dan kata katanya jelas dan bisa dibayangkan apa yang terjadi/Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!