Update Minggu dan Rabu
Karya ini adalah misi kepenulisan dari NOVELTOON yang di adaptasi komik dengan Judul serupa, "Menantu Laki-Laki Pertama."
Qinli adalah seorang pemuda yang menikah dengan salah satu putri keluarga berada. Ia menjadi menantu tunawicara di keluarga Chu. Sayangnya selama menjadi tunawicara ia tidak bekerja dan hanya mengandalkan nafkah dari istrinya Chu Qingyin.
Sampai ahirnya karena usaha yang sangat keras selama sepuluh tahun, ia berhasil menyempurnakan ilmu tenaga dalamnya.
Mulai sejak itu ia memulai kehidupan yang baru! Mengobati penyakit aneh, dan menguji barang berharga.
Meskipun banyak wanita cantik, tetapi hanya istrinyalah yang selalu menempati urutan pertama dihati Qinli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 31
...⚜⚜⚜...
...Shangjing, Keluarga Jiang...
Di rumah itu sudah banyak orang yang berdatangan di sana. Banyak orang-orang penting yang berkumpul disana. Dekorasi rumah utama terlihat sangat mewah dan meriah kali ini.
Tentu saja karena akan ada acara besar yang akan digelar di rumah itu, maka seluruh bangunan sudah dihias sedemikian rupa. Tuan Muda Jiang juga sudah datang bersama ayahnya dan Qinli.
Sebelum masuk, Ayah Jiangjun memastikan kalau anaknya membawa hadiah yang sudah dipersiapkan.
"Jun, kau membawa hadiah kita 'kan?" ucap ayahnya sambil menoleh.
"Tenang saja, Ayah! Aku bawa kok," ucap Jiangjun meyakinkan ayahnya.
Jiangjun kemudian menunjukkan kotak hadiah yang ia bawa kepada ayahnya, agar ayahnya tidak terlalu khawatir. Lalu ia pun menoleh pada Qinli yang saat itu berjalan di belakangnya.
"Qin, nanti setelah kita masuk, kita langsung bertindak di saat ada kesempatan."
"Oke."
Di depan sana nampak terlihat ada salah satu bagian dari Keluarga Jiang yang bertugas untuk menyambut tamu, dia adalah Jiang Ziyang.
Terlihat dia juga bercakap dengan salah satu tamu.
"Anda bisa hadir saja sudah menjadi kehormatan bagi kami, masih saja repot-repot memberikan hadiah yang begitu berharga," ucapnya basa basi.
"Ayo, silakan masuk!"
Setelah menyambut tamu tersebut, ekor matanya menangkap kedatangan Jiangjun. Lalu ia pun mencoba menghalanginya agar tidak bisa masuk ke dalam rumah Tuan.
Setelah menyambut beberapa tamu, Jiang Ziyang menghampiri Tuan Muda Jiang yang mau mengisi daftar kehadiran di depan petugas.
"Tunggu!" teriaknya dari arah belakang.
Tuan Muda Jiang menoleh, "Jiang Ziyang, kau mau berbuat apa lagi?"
"Ck, bahkan aku sendiri tidak puas dengan hadiah yang kalian berikan setiap tahunnya, dan kalian masih ingin memberikan hadiah untuk Tuan?"
"Jiang Ziyang," ucap Jiangjun geram.
Benar saja, baru saja datang, ia sudah menjelekan Jiangjun dan ayahnya.
"Jangan kira memberikan beberapa hadiah sampah ini jadi bisa kembali ke rumah Tuan, bawa kembali sampahmu ini dan segera pergi, jangan mempermalukan dirimu sendiri di sini!" gertaknya sambil mengejek.
(Jiang Ziyang adalah putra tertua Kepala Keluarga Jiang, sehingga ia pun mempunyai kekuasaan di sana)
Sedangkan para tamu undangan yang berdiri di belakang mereka mulai berbisik-bisik.
"Bukankah itu anak dan ayah dari Keluarga Jiang yang di usir dari rumah Tuan belasan tahun yang lalu?" ucap salah seorang lelaki.
"Tapi setidaknya mereka tetap Keluarga Jiang, menurut logika mereka punya hak menghadiri pesta ulang tahun," sahut yang lainnya.
Qinli tak tinggal diam, ia lalu menunjukan hadiah yang dibawa Keluarga Jiang ke hadapan Jiang Ziyang.
"Bro, lebih baik kau lihat dulu barang apa yang akan diberikan oleh Jiangjun."
"Apa yang perlu dilihat! Tuan tidak kekurangan hadiah apa pun," ucap Jiang Ziyang sombong.
Sedangkan para tamu melirik hadiah yang ditunjukkan Qinli.
"Hm, giok ini ...." ucap salah seorang tamu yang mengerti giok.
"Apa mungkin ...." ia pun mulai berpikir.
Sementara itu, tamu lain tercengang akan hadiah yang dibawa oleh Qinli. Mereka sudah paham, jika hadiah yang ia bawa adalah giok terbaik. Para tamu mulai mendekati Qinli.
"Wah! Ini adalah giok darah Linglong tujuh warna yang sangat indah!" ucap tamu-tamu yang kagum dan melihatnya.
"Tuan Muda Jiang, karena mereka tidak mau, maka juallah giok darah ini padaku."
"Tidak disangka bisa melihat barang langka di sini, Keluarga Jiang benar-benar telah bekerja keras."
Sementara itu, Tuan Muda Ziyang tertegun.
"Giok darah Linglong? Bukankah itu barang legendaris yang jika dipakai akan berumur panjang," batinnya.
Jiang Ziyang sampai melongo ketika mengetahui Jiangjun membawa barang berharga untuk hadiah. Ia pun memikirkan sebuah cara agar tidak terlalu malu dengan perkataannya tadi.
"Tolong semuanya tenang. Semuanya! Aku tadi hanya bercanda," ucap Tuan Muda Ziyang kemudian.
Ia pun berjalan mendekati Qinli.
"Giok darah itu, bagaimanapun juga adalah niat baik kalian, jadi kami terpaksa menerimanya."
"Kalau begitu, apa kami sudah boleh masuk?" tanya Jiangjun.
"Tinggalkan giok darahnya di sini, kalian boleh masuk!"
Lalu mereka kemudian benar-benar diperbolehkan masuk.
"Keluarga Jiang Shangjing ini, mulutnya berkata tidak mau tapi sangat jujur dalam bertindak," ucap Jiangjun sambil berjalan.
Tetapi Ayah Jiangjun tidak suka akan perkataan putranya itu, ia pun memukul tubuh Jiangjun dari belakang.
"Pelankan suaramu, bagaimana kalau orang lain mendengarnya?" gertak ayah.
"Qin, kau cari tempat duduk dulu, kami akan pergi menyapa Kepala Keluarga," ucap Ayah Jiangjun.
"Baik, kalau begitu, aku tunggu kalian di sini," ucap Qinli.
"Hubungan Keluarga Jiang di Shangjing benar-benar rumit dan membingungkan, mereka semua adalah orang-orang besar dari kalangan militer, pemerintahan dan bisnis, keluarga yang mengendalikan garis kehidupan di seluruh negeri," batin Qinli.
"Sepertinya tidak mudah bagi Jiangjun dan keluarganya untuk bisa kembali lagi ke rumah Tuan."
Tiba-tiba dari arah kejauhan Tuan Muda Xu menyapa Qinli, ia pun sudah melambaikan tangannya ke arah Qinli.
"Kak Qin, ternyata kau di sini, aku sudah lama mencarimu."
"Kak Qin, aku di sini!" ucapnya sambil melambai.
"Xu Yiran, dia juga datang?" batin Qinli.
Beberapa saat kemudian Tuan Muda Xu mulai mendekatinya. Qinli yang tadi duduk kini mulai berdiri.
"Kenapa kau juga datang?" tanya Qinli heran.
"Ehem! Keluargaku dan keluarga Jiang juga punya hubungan kerjasama, jadi keluargaku mengutusku dan kakak besar kemari untuk mengucapkan selamat ulang tahun."
"Kebetulan bertemu denganmu. Ayo! aku akan membawamu bertemu dengan kakak laki-laki dan kakak perempuanku," ajak Tuan Muda Xu.
Tuan Muda Xu lalu mengajak Qinli untuk menemui mereka. Kebetulan mereka tidak jauh dari tempat Qinli berada.
"Kakak-kakak, dia adalah Kak Qin, orang yang pernah aku ceritakan pada kalian."
Xu Shiyu, nona kedua Keluarga Xu lalu menyapanya, "Kau adalah Dokter Qin yang telah menyelamatkan adikku?"
"Iya, aku Qinli. Senang bertemu dengan Nona Xu."
"Dan ini adalah Kakak tertuaku, Xuqiang."
Qinli menatap Xuqiang dengan tatapan aneh.
Ia menoleh, "Ada apa Dokter Qin? apakah ada sesuatu di wajahku?"
"Ah, maafkan aku yang tidak sopan, ini hanya kebiasaan kerja."
"Oh, kebiasaan kerja? Apa mungkin Dokter Qin merasa aku punya penyakit?" tanya kakak laki-laki Tuan Muda Xu.
"Jika aku tidak salah tebak, kakak besar Xu seharusnya baru saja kembali dari menyelesaikan misi, 'kan?"
"Tebakanmu benar, lanjutkan."
"Meskipun kau terlihat enerjik, tapi dikarenakan akumulasi cedera sepanjang tahun menyebabkan panas dalam tubuh yang berlebihan, menimbulkan penyakit kronis."
"Jadi, kau tidak boleh melakukan tugas yang berbahaya karena kondisi fisikmu ini."
Ekspresi yang sama ditujukan oleh Tuan Muda Xu dan kakak perempuannya.
"Kakak, kau sakit?" ucap mereka hampir bersamaan.
"Dan jika tubuhmu tidak segera diobati, ada kemungkinan sakit seumur hidup," ucap Qinli menegaskan.
.
.
...🌹Bersambung🌹...