Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyembelih Kambing
"Hei! Mau ke mana kau?"
Gio memanggil Kaf yang ingin keluar kelas.
"Kantin."
"Kita diberi tugas oleh guru."
"Kali ini apa?"
"Menyalin rangkuman."
"Aku akan melihat milik Gip."
"Ini harus dikumpulkan hari ini."
Kaf menyerah, dan berbalik ke bangkunya.
"Pie, hari ini giliran kau yang menulis di papan tulis." ucap Gio sang ketua kelas.
"Astaga." Gumam Pie baru saja mengingat gilirannya.
Ia beranjak berdiri dan menuju papan tulis. Bagi yang bertugas menulis di papan tulis memiliki nilai tersendiri tanpa harus ikut mengumpulkan catatannya.
Jam istirahat ke dua...
"Bu, besok saya izin tidak masuk sekolah."
Pie menghampiri wali kelasnya di ruang guru.
"Kenapa, Pie?"
"Saya ingin periksa mata, Bu."
"Periksa mata? Ada apa dengan matamu?"
"Buram, Bu. Saya tidak jelas melihat dari jarak beberapa meter."
"Kau akan berangkat dengan siapa?"
"Ayah saya, Bu."
Wali kelas manggut-manggut mengerti, lalu beliau mengambil sebuah buku dan menyerahkannya pada Pie.
"Bawa ini, dan serahkan di loket pendaftaran."
Wali kelas seakan mengerti dengan raut bingung Pie.
"Ini supaya kau dikenal seorang pelajar."
"Baik, Bu. Terima kasih."
"Ya, hati-hati di jalan ya."
"Iya, Bu."
Pie keluar dari ruang guru, ia berpapasan dengan Prett yang bersama dengan Prit.
"Apa itu?" Prett mengernyitkan keningnya saat menghentikan langkah Pie.
"Buku untuk berobat."
Prett yang diam membuat Pie segera berlalu.
"Apa dia sakit?" Bisik Prett kepada Pritt
Pritt menggeleng pelan tanda dia tak tahu apapun.
Bel pulang berbunyi, semua siswa serempak keluar berhamburan untuk pulang meninggalkan sekolah.
"Ca! Tunggu.."
Caca yang hendak menuju gerbang menoleh ke arah Pie yang setengah berlari ke arahnya.
"Ada apa Pie?"
"Kau akan langsung pulang?"
"Eum... Ada apa?"
"Bagaimana jika kita beli jajanan dahulu sebelum pulang?"
Caca mendengar makanan langsung sumringah
"Wah! Ide bagus. Ayo!" Caca menggandeng riang tangan Pie menuju mamang-mamang yang berjualan di luar pagar sekolah.
Mereka membeli jajanan berbagai macam untuk mereka santap sebelum pulang, banyak murid yang melakukan hal sama seperti Pie dan Caca.
Kim keluar gerbang bersama gengnya, tatapannya tak sengaja mengarah pada Pie yang asik memakan jajanan, namun di sekitarnya ada Fang yang juga ikut membeli jajanan.
"PIE!"
Pie menoleh ketika namanya dipanggil.
"Kim? Kau baru saja keluar?"
"Ya, aku tadi mengobrol dengan guru olahraga."
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Caca menatap heran Kim yang kini memakai kaos dengan celana sekolah. Ezti yang sedari tadi sibuk menggoreng jajanan di wajan menatap Kim.
"Apa yang kau lihat? Apa kami terlihat sedang menyembelih kambing?" Pie tersenyum kaku ketika mendengar Ezti menjawab ucapan Kim.
Kim hanya tertawa hambar.
"Kau tidak pulang?"
"Sebentar lagi pulang."
"Apa kita tidak perlu pulang? Sebentar lagi waktu latihan karate." Fang ikut bersuara.
"Kau pikir karate bisa menggunakan rok? Ada-ada saja kau." Lagi-lagi Ezti yang menyahut. Caca yang sibuk mengunyah tak sempat menyuarakan pendapatnya.
"Kita tetap harus pulang dan mengenakan seragam." Pie menjawab sembari menyuapkan jajanan lagi ke dalam mulutnya.
"Kim, besok aku tak masuk."
"Ada apa?"
"Aku akan ke dokter, periksa mata."
"Dengan siapa kau berangkatnya? Boleh kutemani?"
"Hei, aku tahu kau bucin pada Pie, tapi rasanya aneh jika pergi ke dokter bersama pacar. Bisa-bisa kalian dicap anak nakal." Ezti yang selesai menggoreng memasukkan jajanan ke dalam plastik dan menuangkan saus ke dalamnya.
"Benar. Aku bersama ayahku, Kim."
"Baiklah, kabari aku besok. Aku pulang duluan."
Pie mengangguk. Ia menatap Kim pergi bersama gengnya.
"Fang, kau hari ini latihan?"
"Tentu. Kau tidak?"
"Agak malas."
"Kau memang tak niat untuk ikut ekskul."
"Benar. Aku hanya mengikuti Pie."
Pie, Ezti, Fang berjalan bersama karena arah mereka satu tujuan. Sedangkan Caca searah dengan Kim.
"Pie, kenapa punyamu pakai saus kacang?"
"Aku ingin mencoba rasanya."
"Lalu, bagaimana?"
Pie tersenyum kecil.
"Aku tak suka, Ez."
"Kalau begitu, ingin aku yang menghabiskannya?"
"Kenapa kau tak bilang ingin milik Pie?" Fang menatap heran Ezti yang menyeringai kecil.
"Hehe, Pie memahamiku."
Ezti menerima jajanan milik Pie dan melahapnya. Pie membuka botol minum dan meneguk airnya sampai habis.
"Astaga, hari ini panas sekali."
"Pie, jangan berbicara seperti itu."
"Kenapa?" Ezti menyahut.
"Biasanya, akan turun hujan."
"Itu lebih baik, kan? Dari pada panas seperti ini. Kulitku terasa terbakar."
"Oh, tidak. Jangan. Aku akan malas pergi jika hujan." Pie menjawab sembari meletakkan tasnya ke atas kepala.
"Kau sudah berangkat?"
"Ya, sedang mengantre."
"Kau bersama Ayahmu?"
"Ya."
"Hari ini aku sedang ingin makan bersamamu."
"Haha, sayang sekali, Kim."
"Besok kau akan sekolah, 'kan?"
"Ya, Besok kita ada tes untuk ujian."
"Benar. Aku belum menyiapkannya."
"Sudah dulu, aku akan masuk. Bye."
"Bye, Sayang."
Pie memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu masuk ke ruangan dokter bersama sang Ayah.
Tidak membutuhkan waktu lama, Pie selesai memeriksakan matanya. Dokter memberikan catatan tentang ukuran kacamata yang akan dipesan oleh Pie dengan resep obat tetes yang harus ditebus di apotek.
"Pie! Kemarin kau jadi periksa mata?"
Caca menghampiri Pie yang baru datang.
"Ya."
"Lalu, hasilnya bagaimana?"
"Aku minus, Ca. Dan harus memakai kacamata."
"OMG, lalu mana kacamatamu? Aku ingin lihat."
"Belum selesai. Masih dipesan."
"Oh. Okay."
Mereka menuju kantin, Pie akan menemani Caca sarapan sebelum bel masuk.
"Kau sudah memutuskan akan melanjutkan ke mana?" Kim kala itu sedang duduk di koridor bersama Pie yang baru datang.
"Ya. Sudah sejak aku SD."
"Wow. Kau sudah menyiapkannya jauh hari."
"Jauh tahun." Pie menyeringai mengoreksi Kim.
"Ya, itu."
"Kau bagaimana?"
"Aku akan ke SMK Kabupaten." Ada rasa sedih ketika dirinya akan berjauhan dengan Kim.
"Tenang saja. Kita masih bisa bertemu. Aku akan ke sekolahmu dan menjemput lalu kita pulang bersama."
"Apa tidak terlalu jauh? Itu membuatmu putar arah."
Jarak SMA incaran Pie dengan SMK tujuan Kim sangat bertolak belakang, seperti di barat dan timur.
"Tidak. Demi bertemu pacarku." Pie menggeleng tak percaya. Itu hal konyol yang ia dengar.
"Sudahlah, kau tenang saja. Pasti nanti ada kemudahan untuk hubungan kita."
Pie hanya mengangguk pelan.
Hari ujian nasional tinggal seminggu lagi, Pie giat belajar begitu juga para siswa kelas tiga lainnya.
"Kau sedang apa?"
Pie mengirim pesan ke pada Kim karena bosan berkutat dengan buku.
Beberapa menit tak ada balasan dari Kim membuat Pie melanjutkan belajarnya.
"Maaf , aku baru selesai mandi."
Beberapa jam kemudian pesan Pie mendapat balasan dari Kim.
Namun, kala itu Pie baru saja tertidur usai belajar.