Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.
Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.
Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.
Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Langit sore itu tampak menggantung rendah dan kelabu, seolah ikut menekan dada Samira yang sejak pagi terasa tak tenang. Ada firasat aneh yang tak bisa ia jelaskan. Sebuah perasaan bahwa waktu tak lagi berpihak padanya. Setiap langkah yang ia ambil hari ini harus sempurna. Tidak boleh ada celah kesalahan.
Samira duduk di kursi penumpang mobil Rayhan, menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Jalanan berlalu, suara klakson dan mesin kendaraan hanya menjadi dengung samar di telinganya.
“Kurasa Arga mulai mengetahui sesuatu,” ucap Samira akhirnya, suaranya rendah namun tegas. “Aku bisa merasakannya, terlebih lagi gelagatnya semalam terasa janggal.”
Rayhan melirik sekilas, lalu kembali fokus pada kemudi. “Kau yakin? Atau ini hanya kecemasanmu saja?”
Samira menggeleng pelan, ia sendiri tidak terlalu yakin. “Entahlah, tapi dari caranya menguji aku. Dokumen itu … dan caranya menatapku semalam. Aku merasa dia sepertinya mencium sesuatu.”
Rayhan terdiam. Ia mengenal Samira cukup lama untuk tahu bahwa intuisi perempuan itu jarang meleset. Jika Samira merasa terancam, maka ancaman itu nyata.
“Kita harus mempercepat langkah,” lanjut Samira. “Jika Arga lebih dulu bergerak, semuanya bisa runtuh. Larissa dan Alya, mereka tidak akan aman.”
Nama Alya membuat Rayhan menghela napas pelan. “Yah, jika kau merasa seperti itu, kita harus segera membuat rencana lain. Rencana lama terlalu lambat. Kita butuh sesuatu yang baru, yang tidak akan Arga duga sama sekali. Tapi resikonya pasti tinggi,” kata Rayhan, setengah berbisik di akhir kalimatnya.
Samira menoleh, menatap Rayhan dengan serius. “Aku siap. Apapun resikonya, kita harus melakukannya. Kita tidak boleh membiarkan Arga menang.”
Mereka tiba di sebuah restoran yang cukup jauh untuk membicarakan rencana mereka sekaligus menemui seseorang yang cukup penting, yang akan terlibat dalam rencana mereka berikutnya.
Samira sama sekali tak tahu bahwa sejak mobilnya keluar dari gerbang rumah, sebuah kendaraan hitam telah mengikuti dari kejauhan. Arga duduk di kursi belakang, wajahnya terlihat tenang dan dingin, namun matanya menyala oleh amarah yang tertahan.
Jadi ini yang kau lakukan, Samira? batinnya.
Ia tersenyum tipis. Senyum khas pemburu yang akhirnya melihat mangsanya lengah.
Sementara Samira sibuk menyusun rencana dengan Rayhan, Arga sudah lebih dulu pulang ke rumah untuk melakukan sesuatu, ia tidak bisa tinggal diam saat tahu bahwa Samira merencanakan sesuatu.
Sesampainya di rumah, Arga langsung melangkah masuk dengan langkah mantap, tak ada keraguan sedikitpun.
Larissa yang sedang berada di dapur ketika Arga muncul di ambang pintu, cukup terkejut dengan kehadiran Arga yang tiba-tiba itu. Wajahnya langsung memucat ketika Arga mencengkram lengannya. Tangannya gemetar, sendok yang dipegangnya bahkan jatuh dan beradu dengan lantai, menghasilkan bunyi nyaring yang memecah keheningan.
“A-Arga … sa-sakit, tolong lepaskan lenganku,” lirih Samira, suaranya tercekat.
Alya kemudian muncul dari balik pintu kamar, matanya membesar melihat ekspresi ibunya. “A-ayah?”
Arga tidak berkata apa-apa. Tatapannya tampak dingin, kosong, seolah Larissa dan Alya hanyalah benda mati di hadapannya. Dalam hitungan detik, semuanya terjadi begitu cepat, hingga Larissa tak sempat bereaksi apapun.
Tali itu melilit pergelangan tangan Larissa dengan kuat, kain penyumpal di mulutnya membuat teriakannya tertahan di tenggorokannya. Alya menangis histeris, tubuh kecilnya gemetar saat Arga mengikatnya dengan kasar.
Larissa terisak, air matanya jatuh tanpa henti. Tatapannya seolah berkata agar Arga berhenti.
Arga menoleh, matanya menyipit. “Kau pikir aku tidak tahu? Tidak ada cara lain lagi. Aku tidak bisa menunggunya lebih lama. Jika kau ingin anakmu selamat, ikuti perintahku!” kata Arga berbisik tepat di telinga Larissa.
Ia menyeret mereka ke gudang belakang, sebuah ruangan yang gelap, lembab, berbau debu dan karat. Ruangan yang tak pernah dimasuki oleh siapapun. Setelah memastikan kedua perempuan itu duduk di sana, ia menutup pintu dengan bunyi keras.
Arga berdiri di depan pintu selama beberapa detik, menarik napas panjang. Dadanya naik turun perlahan, menenangkan diri. Lalu ia meraih ponselnya dan menekan satu nomor.
Samira baru saja berdiri ketika ponselnya bergetar. Nama Arga muncul di layar, dan jantungnya langsung berdegup keras.
“Halo? Ada apa kau meneleponku? Aku belum bisa memutuskannya, beri aku waktu lagi,” kata Samira, berusaha menjaga suara tetap stabil.
“Kau di mana?” tanya Arga, nada suaranya terdengar datar dan tidak seperti biasanya.
Samira mengernyit heran, menoleh pada Rayhan sekilas lalu menjawab santai. “Aku sedang di luar.”
Hening sejenak di seberang sana, lalu Arga berkata pelan, hampir berbisik, “Ada sesuatu yang terjadi di rumah.”
Darah Samira seolah membeku. “Apa maksudmu?”
“Kau sebaiknya pulang. Sekarang.”
Belum sempat Samira bertanya lebih banyak, sambungan panggilan itu terputus sepihak. Samira menatap layar ponselnya dengan dada yang berdebar. Firasat buruk itu kini menjelma menjadi ketakutan yang nyata. Tanpa berpamitan panjang, ia bergegas pergi, mengabaikan teriakan Rayhan yang memintanya berpikir jernih.
“Tunggu, Samira! Kau tidak bisa pergi begitu saja. Bagaimana jika Arga hanya ingin menjebakmu? Kita harus memikirkannya dengan baik,” kata Rayhan yang berhasil menyusul langkah Samira.
Samira mengusap keningnya sendiri, ia begitu panik hingga tak bisa berpikir dengan jernih. Yang ada di kepalanya hanyalah Larissa dan juga Alya.
“Lalu? Kita harus bagaimana sekarang? Sepertinya aku sudah menganggap remeh pria itu, aku salah sudah mengabaikan peringatan dari Larissa,” gumam Samira merasa cemas.
Rayhan mengusap bahunya pelan. “Tenangkan dirimu lebih dulu, aku yakin Arga tidak akan melukai istri dan anaknya, setidaknya sampai tujuannya tercapai. Yang terpenting sekarang adalah melakukan persiapan untuk berjaga-jaga jika Arga bertindak nekat.”
Samira lantas mengangguk dan mulai memikirkan sesuatu. “Aku tahu harus bagaimana. Kau bisa membantuku, kan?”
***
Info, hehe. Sejak awal publish novel ini, aku sudah niatkan untuk tamat cepat. Jadi, mohon maaf kepada para pembaca, jangan berharap terlalu banyak, sama seperi aku yang tidak berharap banyak. Ehhh.
Happy reading ajalah pokoknya, yaaa. Thank u so much much much buat yang sudah baca cerita ini. Love youuuu.