Seorang gadis cantik bernama Anggi yang menjadi korban perceraian orangtuanya karena ayahnya selingkuh dengan sahabat ibunya sendiri. Kejadian itu pun dialami oleh Anggi sendiri.
Anggi memiliki sahabat dari kecil bernama Nia. Bahkan dia sudah dianggap Nia saudara sendiri bukan lagi seperti sahabat. Nia mengkhianati Anggi dan mengambil kekasih Anggi.
Bagaimana kisah selanjutnya yuk baca cerita selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenca04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Anggie yang kini tinggal di apartemen bersama Angga sang kakak karena Anggun harus menemani Angkasa untuk persiapan pernikahannya di Bali.
"Bang boleh gak kalau aku pindah aja ke perusahaan Abang?" tanya Anggie sambil duduk di samping Abangnya.
Angga yang sedang sibuk dengan laptopnya lalu menutupnya dan melihat ke arah sang adik.
"Kenapa? Ada masalah di perusahaan tempat kerja? Abang kan udah bilang dari awal adek mending kerja di perusahaan Abang aja. Adek sih ngeyel milih kerja di perusahaan orang lain aja bilangnya supaya punya pengalaman tapi kalau bikin gak nyaman buat apa," omel Angga.
Memang selama ini ke dua kakaknya terlihat sangat protektif terhadap Anggie apalagi setelah Anggie mengalami trauma tiga kali. Dengan bantuan dari ke dua kakaknya dan sang bunda juga dokter Abi tentunya yang terus memantau perkembangan Anggie sampai Anggie dinyatakan sembuh. akhirnya sekarang Anggie bisa mempunyai rasa percaya diri lagi. Angga dan Angkasa juga selalu meyakinkan Anggie kalau ia bisa lebih dari orang yang sudah menyakitinya. Selain itu Angga juga mengajari Anggie teknik bela diri supaya Anggie bisa menjaga dirinya ketika jauh dari pantauannya.
"Adek ketemu sama Nia tadi di kantor. Adek gak tahu kalau perusahaan tempat adek kerja sekarang itu milik Kak Zian."
Angga sempat terkejut saat mendengar nama Nia. Orang yang sudah membuatnya kembali trauma. Anggie memang selalu cerita tentang segala hal kepada kakaknya dan itu juga yang membuat Anggie bisa mengembalikan dirinya kembali.
"Tapi Nia gak ngapa-ngapain kamu kan dek?" Angga memeriksa tubuh Anggie.
"Enggak kok Bang aman. Dia juga kayak gak ngenalin aku."
"Bagus kalau gitu, tapi tetap harus hati-hati ya. Kalau udah merasa gak nyaman mending resign aja terus pindah ke perusahaan Abang."
"Gak bisa Bang. Aku udah tanda tangan kontrak buat satu tahun kedepan kalau sampai aku melanggar nanti aku kena pinalti dari perusahaan."
"Paling cuma denda uang kan, Abang yang bayar. Yang penting sekarang kenyamanan buat kamu. Emang berapa pinalti yang harus Kamu bayar."
"Bukan uang Bang tapi... Nikah sama kak Zian."
Mungkin Zian bisa dikatakan licik tapi itulah Zian selagi ada kesempatan kenapa tidak dimanfaatkan.
Setelah tahu kalau sekertaris barunya sekarang adalah Anggie, Zian langsung merevisi isi kontrak sebelum ditandatangani Anggie yaitu dengan menggantinya menjadi menikah.
Zian takut kalau Anggie pergi lagi seperti dulu hingga Zian pun mempunyai pemikiran untuk membuat isi kontrak yang baru untuk Anggie.
Anggie sempat menolaknya tapi tak ada pilihan lagi karena kalau pun Anggie menolak tetap saja Anggie harus menikah dengan Zian.
Angga tak habis pikir dengan peraturan macam apa yang membuat pinalti berubah bukan denda dengan uang tapi dengan menikah dengannya.
"Kenapa gak kamu tolak aja waktu mau tanda tangan kontrak."
"Aku juga udah nolak bang tapi aku gak bisa karena aku udah masuk di perusahaannya dan itu sudah termasuk kedalam perjanjian. Tapi udalah bang cuma satu tahun ini aku coba aja dulu sampai setahun."
Angga hanya tersenyum mendengar ujaran dari adiknya.
"Iya udah kalau itu keputusan adek Abang dukung aja. Tapi kalau udah gak kuat kamu bisa bilang Abang," Angga hanya tersenyum sambil mengusap kepala adiknya. "Lanjutkan aja dulu toh cuma satu tahun ini kan. Kalau misalkan ada sesuatu yang membuat adek gak nyaman Abang ada di belakang kamu."
Angga dan Zian memang sudah lama menjalin kerjasama. Sebenarnya Angga sudah menawarkan adiknya untuk kerja di perusahaannya tapi Anggie memilih untuk mencari sendiri tidak mau mengandalkan Abangnya dan ke dua kakaknya membolehkan tapi masih dalam pantauannya.
Angga sebenarnya mendirikan perusahaan dengan bantuan dari abangnya walaupun sebenarnya Angkasa menyuruhnya untuk bekerja di perusahaannya tapi Angga memilih mengembangkan perusahaan miliknya yang ia bangun dari masa kuliah. Dulu Angga memang suka gambar hingga mengambil jurusan design grafis.
Angga yang tadinya hanya sebagai karyawan magang di sebuah perusahaan besar dan sekarang sudah bisa membuat perusahaan sendiri. Itu juga ada campur tangan dari sang Abang yang sudah lebih dulu berkecimpung di dunia bisnis.
Saat Anggie memilih perusahaan DRZ Corp hingga terpilih menjadi sekertaris. Angga sudah tahu kalau itu perusahaan milik keluarga Zian. Tapi Angga memilih diam saja dan terus dalam mengawasi.
Angga juga sudah tahu kalau selama ini Zian mencari tahu tentang keberadaan Anggie tapi Zian tidak berani menanyakannya kepada Angga walaupun mereka sering bertemu untuk urusan bisnis.
Zian memilih berhenti mencari saat tahu kalau Anggie ternyata memiliki trauma dan yang terakhir pemicu traumanya kembali kambuh ada sangkut pautnya dengan dirinya. Zian memilih untuk berhenti mencari tahu supaya Anggie bisa sembuh. Hingga takdir mempertemukan mereka kembali di tempat tak terduga juga.
Hari ini Zian tidak pulang ke rumahnya, ia memilih pulang ke apartemennya karena sudah sangat malam. Tapi saat mau masuk ke dalam lift bersamaan dengan Angga yang mau naik juga.
"Bang Angga," sapa Zian.
"Zian, kamu di sini juga?"
"Iya, saya tinggal di sini. Abang tinggal di sini juga?"
"Iya saya tinggal di sini."
Ting
Suara lift terbuka dan mereka pun kembali keluar bersamaan. Mereka sempat terkejut ketika tempat tinggal mereka bersebelahan.
"Kamu di unit ini juga?" tanya Angga.
"Iya Bang berarti kita memang tetanggaan," ujar Zian sambil tersenyum.
"Tapi kok saya jarang lihat kamu ya?" Angga sambil memicingkan matanya.
"Saya memang jarang tinggal di sini Bang kecuali kalau pulang malam kayak sekarang baru tidur di apartemen."
Angga hanya merespon dengan anggukan saja, "Saya duluan," pamit Angga yang masuk terlebih dulu.
Keesokan paginya Anggie bangun pagi lalu membuat sarapan untuknya dan juga Abangnya. Angga yang sudah siap berangkat kerja langsung duduk di meja makan.
"Sarapan apa hari ini dek?" tanya Angga sambil membuka piring bersiap untuk diisi dengan nasi goreng yang sudah disiapkan adiknya.
"Cuma nasi goreng sama ayam bang, aku belum belanja lagi. Mungkin nanti pulang kerja aku langsung ke belanja."
"Uangnya masih cukup?"
"Tenang aja Bang lebih dari cukup malahan."
"Abang kayak buru-buru banget," Anggie melihat cara makan Angga yang tampak terburu-buru.
"Iya Abang buru-buru ini jam sembilan ada meeting. Jadi Abang duluan ya. Gak apa-apa kan adek pergi sendiri?"
Anggie menggeleng pelan, "Aku naik motor aja bang."
Setelah Abangnya pergi Anggie pun bersiap untuk pergi ke kantor juga. Saat Anggie membuka pintu bertepatan dengan Zian yang akan keluar juga. Tatapan mereka saling bertemu.
"Kamu di sini juga?" tanya Zian.
"Pak Zian," lirih Anggie terkejut.