NovelToon NovelToon
Aku Menyerah!

Aku Menyerah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / CEO / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:50.4k
Nilai: 5
Nama Author: Brilliante Brillia

Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.

Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.

Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Bisa Dibantah

Saat Ayra dan Zavian turun untuk mencicipi makanan di pesta pertunangan Stella malam itu, Stella dengan sigap memanggil Kyla dan Mirna, dua sepupunya.

"Ada apa, Stel?" tanya Kyla heran melihat wajah Stella yang tampak serius.

"Ky, tolong ya. Tolong kamu awasi Mbak Marissa."

"Memangnya ada apa?"

"Pokoknya awasi setiap gerak-geriknya, terutama kalau kamu melihat sesuatu yang mencurigakan. Dan kamu, Mir, tolong awasi seorang perempuan bernama Ayra yang datang bersama Mas Zavian," perintah Stella.

Mirna mengerutkan keningnya. Ia tampak ingin bertanya, tetapi Stella lebih dulu menyela.

"Tolong jangan banyak tanya dulu. Lakukan saja permintaanku. Aku benar-benar minta tolong."

Akhirnya tanpa bicara lagi mereka menuruti perintah Stella.

Ketika Ayra pergi ke toilet, Mirna diam-diam mengikutinya dari belakang. Tak lama kemudian, Mirna melihat seorang pria berpakaian rapi masuk ke toilet yang sama. Perasaannya langsung tak enak. Merasa ada yang tidak beres, Mirna segera menghubungi Stella.

Detik itu juga, tanpa membuat keributan, Stella dan Bryan langsung menuju ke toilet perempuan dan mendobrak pintunya dengan paksa.

"Untung kamu sigap, sayang. Apa kamu memang sudah punya firasat hal seperti itu akan terjadi?" tanya Bryan saat mereka kini sedang makan siang di salah satu kafe langganan.

Stella menghela napas panjang. Tatapannya sendu saat menatap calon suaminya, lalu ia mengangguk pelan.

"Waktu Mas Zavian datang bersama seorang perempuan, aku langsung khawatir. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada wanita itu. Makanya aku minta Mirna mengawasi Ayra dan Kyla mengawasi Kak Marissa."

"Kak Marissa?" Bryan mengernyit. "Apa hubungannya?"

Bryan meraih cangkir kopi hitamnya yang sudah mulai dingin. Tatapannya tertuju penuh pada Stella, jelas menunggu penjelasan.

"Sebenarnya, aku tahu kalau Kak Marissa sangat terobsesi pada Mas Zavian."

"Uhuk!"

Bryan tersedak minumannya sendiri.

"Kok bisa?" tanyanya melotot, sulit percaya.

"Aku tahu Kak Marissa sudah jatuh cinta pada Mas Zavian jauh sebelum dia menikah dengan Kak Meutia. Tapi cintanya bertepuk sebelah tangan," ucap Stella lirih dengan wajah muram.

"Dan setelah Kak Meutia meninggal karena kecelakaan, perasaan itu berubah jadi obsesi."

"Maksudnya?" Bryan masih tampak bingung.

"Beberapa bulan setelah Kak Meutia meninggal, Tante Eugenia dan Om Willy sempat berusaha menjodohkan Mas Zavian dengan anak kolega Om Willy, namanya Eliza. Dia perempuan yang lembut dan baik. Awalnya, setahuku Eliza tidak menolak. Tapi beberapa minggu kemudian, dia bukan cuma menolak, tapi juga memutuskan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Setelah itu, tidak ada lagi kelanjutan hubungan mereka."

Bryan terdiam, mencerna penjelasan Stella.

"Lalu apa hubungannya dengan Marissa?"

"Aku pernah memergoki Kak Marissa bicara dengan seseorang. Dia menyebut nama Eliza sambil tertawa," jawab Stella pelan.

Ia berhenti sejenak, menyeka sudut matanya yang mulai basah dengan ujung jari.

"Karena penasaran, aku menyelidikinya. Dan ternyata Kak Marissa membayar orang untuk mengintimidasi Eliza supaya menjauh dari Mas Zavian."

Bryan terbelalak. "Apa Mas Zavian dan orang tuanya tahu apa yang Marissa lakukan?"

Stella menggeleng.

"Nggak ada yang tahu selain aku. Mami dan Papi juga nggak tahu. Eliza pun nggak tahu kalau orang yang menerornya itu kakakku sendiri."

Bryan meraih kedua tangan Stella yang saling meremas di atas meja. Telapak tangan itu terasa dingin dan sedikit berkeringat. Wajah Bryan tampak penuh kekhawatiran.

"Aku takut obsesi Kak Marissa bikin dia nekat dan menghalalkan segala cara demi mendapatkan Mas Zavian." Ucap Stella lirih, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

"Jangan khawatir, srkarang kamu tidak sendiri. Ada aku yang akan selalu membantumu."

Bryan meremas jemari Stella. Sorot matanya lembut menatap wajah sang tunangan. Membuat beban di hati Stella kini terasa lebih ringan.

***

Sementara itu di kantornya, perasaan Zavian kian tidak tenang. Kejadian menghilangnya Ayra semalam, dan tiba-tiba sudah berada di rumah, masih menyisakan tanda tanya besar di benaknya. Alasan yang diberikan Ayra sama sekali tidak menyentuh nalarnya. Tetap saja ada yang janggal menurutnya.

Lelaki berparas menawan itu melirik Patek Philippe yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya.

"Hampir jam makan siang. Sebaiknya aku ke kampus Ayra, siapa tahu mata kuliahnya sudah selesai."

Zavian segera beranjak. Ia meraih ponsel dan jas yang tersampir di sandaran kursi, lalu melangkah keluar dari ruangan. Sambil berjalan penuh percaya diri, ia menelepon sopirnya agar menyiapkan mobil.

Saat menyusuri lorong, dari kejauhan Liztha menatap lelaki itu penuh hasrat. Ingin rasanya ia menghampiri dan berjalan di samping Zavian, menggandeng lengannya yang kokoh, serta membuat karyawan lain merasa iri sekaligus kagum padanya. Namun, khayalannya terhenti saat menyadari bahwa Zavian sudah berkali-kali menolaknya. Liztha hanya bisa menatap sang bos hingga memasuki lift dan hilang dari pandangan.

Setibanya di basemen, Zavian memutuskan untuk tidak menggunakan jasa sopir. Ia memilih pergi mengendarai mobilnya sendiri.

***

Baru saja jam mata kuliah terakhir selesai, tiba-tiba ponsel Ayra di dalam tas bergetar. Ia segera meraihnya. Kening wanita itu berkerut saat melihat nama si penelepon di layar.

"Marissa? Ada apa dia menelepon?" gumamnya. Sejenak ia membiarkan ponsel itu tetap bergetar. Ada rasa sungkan untuk menjawab panggilan itu, terlebih ia merasa tidak nyaman jika harus berinteraksi dengan Marissa. Namun, jika panggilan itu tidak dijawab, ia juga merasa tidak enak hati. Akhirnya dengan terpaksa, Ayra menggeser ikon telepon warna hijau ke atas.

"Halo..." sapanya.

"Ayra, kamu lagi ada di mana? Bisa kita ketemuan sambil makan siang?"

"Saya di kampus, Mbak. Kebetulan saya juga sudah mau pulang."

"Oke, tunggu sebentar. Saya on the way ke sana. Tunggu, jangan ke mana-mana dulu!" ucap Marissa tegas, lalu menutup sambungan telepon secara sepihak.

Ayra mendesah pelan. Ia ingin menolak, tapi terlambat. Dengan terpaksa, ia pun menunggu di lobi kampus. Beberapa menit kemudian, seseorang datang menghampirinya yang tengah duduk sambil memainkan ponsel, mengamati media sosialnya.

"Ayra..."

Kepala wanita itu mendongak. Bukan Marissa yang datang, melainkan Zavian.

"Mas Zavian? Kok ada di sini?" tanyanya heran bercampur kaget.

"Ayo kita makan siang sambil mengobrol. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan tentang semalam!" ajak lelaki itu. Tangannya menarik tangan Ayra, membantunya berdiri.

"Saya tidak bisa, Mas. Saya sudah ada janji lebih dulu dengan..."

"Dengan siapa? Batalkan saja. Ini sangat penting," potong Zavian tanpa memberi celah.

Ayra hanya bisa pasrah saat Zavian membimbingnya menuju area parkir.

Dengan agak terseok, dia mengikuti langkah lebar lelaki itu sementara perasaannya tetap berkecamuk. Ia bingung bagaimana harus menjelaskan pembatalan janji ini pada Marissa, sedangkan Zavian tampak tidak ingin dibantah.

"Mas, tapi saya benar-benar tidak enak, loh. Saya sudah janji duluan sama dia."

Ayra mencoba protes di detik-detik terakhir.

"Aku yang akan bicara sama dia nanti, kalau fia marah dan merasa keberatan." Balas Zavian tegas sambil membukakan pintu mobil untuk Ayra.

"Masuklah."

Ayra mendongakkan wajahnya menatap pria itu. Tapi sekali lagi, Zavian tak bisa dibantah. Ayra pun pasrah dan masuk ke dalam mobil Zavian sambil berdoa semoga Matissa tidak marah dan tidak merasa dipermainkan olehnya.

Namun, tanpa mereka sadari, sebuah mobil sedan berwarna gelap berhenti tidak jauh dari tempat mobil Zavian diparkir.

Marissa duduk di balik kemudi, memperhatikan setiap gerak-gerik Ayra dan Zavian dari balik kaca jendela yang tertutup rapat. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Tatapannya hanya mengikuti mobil Zavian sampai kendaraan itu melaju dan menghilang di belokan jalan.

Marissa tidak bereaksi. Ia hanya memutar kemudi dan melajukan mobilnya kembali, membaur dengan arus lalu lintas dengan tenang.

1
Ma Em
Thor jgn sampai Marissa mengganggu ketentraman rumah tangga Zavian dgn Ayra yg baru saja dimulai , jauhkan godaan atau kejahatan orang2 yg iri pada kebahagiaan Ayra .
Dini Yulianti
ooo ternyata hanya anak pungut to
Yul Kin
lanjut kak
Anonymous
ENTAH KENAPA SAYA INGIN MEMBUNUH ORANG INI SI LITZHA
Ummi Rafie
jangan² Monalisa yg maksa masuk di pernikahan ayra
Dini Yulianti
akhirnya sah jg
Cookies
lanjut thor
Dini Yulianti
musuh terberat ayra hanya si sasa marisa, psyco dia, kalo semacam elly sama lizta mah hanya kelas teri
Ramlah Ibrahim
kna sambungan nya kenpa tiba2 kerlur cerita lain
Ma Em
Bu Elly sok soan mau manas2 in Zavian agar TDK jadi menikah dgn Ayra kalau Zavian tdk dengar Rayyan ngancam mau keluar dari perusahaan Zavian lah emang kalian siapa samapi Zavian mau mendengar omongan Rayyan dasar orang tdk tau malu , semoga Ayra bahagia bersama Zavian .
Yul Kin
pecat Rayyan dan lita kak, gedeg aku sama mereka, klg mak Lampir jg
Ma Em
Elly ,Anika dan Serly sombong didepan nyonya Euginia , Elly kamu itu tdk ada apapa nya kalau dibandingkan dgn nyonya Euginia dasar norak pake perhiasan kayak toko emas berjalan , Elly ,Ayra itu bkn jadi pengasuh tapi calon istri orang kaya .
Dini Yulianti
nah gitu ay jangan egois, zavian jadi leluasa lindungin kamu, kuliah masih bisa jalan meski udh nikah, zavian beda sama rayyan
Anonymous
Pantau terus si marissa van.. Gunakan semua aksea yg dikau punya
Anonymous
Please zavian.. Jgn butek2 banget... Gunakan kekuasaan keluarga loe..
Ma Em
Demi keamanan dan perlindungan penuh dari Zavian Ayra tentu hrs mau cepat menikah dgn Zavian jgn ditunda lagi karena Marissa sangat berbahaya .
Ma Em
Zavian seorang pengusaha yg berkuasa masa kalah oleh kelicikan Marissa .
Anonymous
AWOKAWOK dibutuhkan Spy seperti Loid
Ma Em
Rayyan sekarang Ayra berada diatas mu dan sebentar lagi akan menjadi istri bosmu , jgn sampai kamu cari masalah dgn Ayra kalau Elzian tau kamu pasti dipecat Rayyan .
Retno Harningsih
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!