NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:931
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Duel yang Sudah Ditentukan (2)

Zhao Heng bergerak lagi.

Kali ini tanpa peringatan.

Tubuhnya melesat ke depan, langkahnya ringan namun penuh tekanan. Xu Tian melihatnya, namun penglihatannya terasa terlambat setengah detik. Ia mengangkat tangan, mencoba membentuk pertahanan seadanya.

Benturan datang.

Udara di paru-parunya terhempas keluar. Rasa sakit meledak di dadanya ketika telapak Zhao Heng menghantam lurus ke bahu dan dada. Tubuh Xu Tian terlempar ke belakang, kakinya terseret di lantai batu sebelum akhirnya ia jatuh berlutut dengan bunyi keras.

Beberapa murid berseru pelan.

Zhao Heng berhenti dua langkah darinya. Tidak tergesa. Tidak mengejar jatuhnya lawan. Ia hanya menunggu.

Xu Tian terbatuk. Rasa pahit memenuhi mulutnya. Ia menelan ludah dengan susah payah, merasakan perih di tenggorokan. Dadanya terasa seperti dihantam palu besar, setiap tarikan napas menusuk dari dalam.

Ia memaksa dirinya berdiri.

Kakinya goyah. Lengan kirinya bergetar tanpa ia perintahkan. Pandangannya sedikit kabur, namun ia tetap menatap ke depan.

Zhao Heng mengangguk kecil, seolah mengakui usaha itu. “Bagus,” katanya. “Kau masih bisa berdiri.”

Kata-kata itu tidak terdengar seperti pujian.

Xu Tian melangkah maju lagi. Gerakannya kaku. Ia mencoba mengingat urutan dasar, posisi kaki, aliran tenaga yang pernah diajarkan secara singkat bertahun-tahun lalu. Namun tubuhnya tidak merespons seperti yang ia harapkan. Segalanya terasa terlambat.

Zhao Heng menyambutnya dengan satu langkah menyamping.

Pukulan berikutnya datang dari sudut yang tidak ia jaga.

Rasa sakit menyambar di perut. Xu Tian terlipat ke depan, napasnya tercekik di tenggorokan. Ia terseret beberapa langkah sebelum jatuh lagi, kali ini telungkup. Batu dingin menekan pipinya. Ia merasakan getaran di lengan dan kaki, seperti tubuhnya mulai kehilangan kendali.

Tawa kecil terdengar dari pinggir arena.

“Beda level.”

“Ini benar-benar duel?”

Xu Tian mengepalkan jari-jarinya di lantai. Ia mendorong tubuhnya, mencoba bangkit. Lengannya gemetar hebat, namun ia tetap memaksa.

Zhao Heng tidak bergerak mendekat. Ia membiarkan Xu Tian bangun sendiri, seperti seseorang yang menunggu mangsa berdiri kembali hanya untuk dijatuhkan lagi.

Ketika Xu Tian akhirnya berdiri, napasnya sudah tidak beraturan. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Pandangannya bergetar, dunia terasa sedikit berputar.

“Cukup,” kata seorang murid senior di pinggir arena, nada suaranya santai. “Kalau sudah sejauh ini, harusnya tahu diri.”

Pengawas tidak bereaksi.

Zhao Heng menoleh sebentar ke arah suara itu, lalu kembali menatap Xu Tian. “Kau dengar?” katanya pelan. “Masih ada kesempatan.”

Xu Tian tidak menjawab.

Bukan karena ia berani.

Melainkan karena mulutnya terasa terlalu berat untuk dibuka.

Zhao Heng melangkah maju lagi.

Serangannya kali ini lebih cepat. Lebih tegas. Tidak ada jeda. Xu Tian mencoba menangkis, namun lengannya langsung terpental. Pukulan berikutnya menghantam sisi wajahnya. Pandangannya meledak putih sejenak.

Ia terhuyung.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu sebuah tendangan menyapu kakinya.

Xu Tian jatuh keras ke punggung. Udara kembali terhempas keluar dari paru-parunya. Suara benturan tubuh dengan lantai terdengar jelas di arena yang kini semakin sunyi.

Ia terbaring, menatap langit biru yang terlalu terang.

Bentuk awan bergerak perlahan, tidak peduli dengan apa yang terjadi di bawahnya.

Zhao Heng berdiri di atasnya, bayangannya menutup sebagian cahaya. “Bangun,” katanya.

Xu Tian menggerakkan jari-jarinya. Ada rasa kesemutan di seluruh tubuhnya. Ia memiringkan badan, mencoba bangkit, namun rasa sakit di punggungnya membuatnya terhenti.

Ia memaksa lagi.

Tubuhnya bergetar ketika ia akhirnya duduk, lalu berdiri dengan susah payah. Lututnya terasa lemah. Kepalanya berdenyut.

Beberapa tetes darah jatuh ke lantai batu.

Ia menyentuh sudut bibirnya, jari-jarinya kembali merah.

Zhao Heng memperhatikannya dengan ekspresi datar. “Kau keras kepala,” katanya. “Tapi itu tidak mengubah apa pun.”

Ia bergerak.

Kali ini, Xu Tian bahkan tidak sempat bereaksi.

Pukulan menghantam langsung ke dada. Ia mendengar bunyi retakan samar—entah dari pakaiannya, entah dari dalam tubuhnya sendiri. Rasa sakit yang datang kali ini membuatnya hampir pingsan. Dunia berputar liar, warna-warna melebur menjadi satu.

Ia terlempar ke samping, tubuhnya menghantam tanah dengan keras. Kepalanya membentur batu, membuat pandangannya gelap sesaat.

Suara arena menghilang.

Ia hanya mendengar detak jantungnya sendiri, berat dan kacau.

Ketika kesadarannya kembali sedikit, ia merasakan darah mengalir dari pelipisnya, hangat dan lengket. Napasnya tersengal, setiap tarikan seperti menggores paru-parunya dari dalam.

Zhao Heng mendekat.

Langkahnya tenang.

Ia berhenti tepat di depan Xu Tian yang tergeletak miring. “Ini sudah cukup lama,” katanya. “Kau sudah menunjukkan segalanya.”

Ia mengangkat kaki.

Xu Tian melihatnya. Ia ingin bergerak, ingin menghindar, namun tubuhnya tidak merespons. Otot-ototnya menolak perintahnya sendiri.

Kaki itu turun.

Hantaman di perut membuat tubuh Xu Tian melengkung. Ia memuntahkan darah, rasa pahit dan panas memenuhi mulutnya. Dunia di sekitarnya seakan menyusut, hanya menyisakan rasa sakit yang berdenyut tanpa henti.

Beberapa murid terdiam.

Namun tidak ada yang melangkah maju.

Pengawas tetap berdiri di tempatnya, wajahnya kaku. Tangannya tidak terangkat untuk menghentikan apa pun.

Zhao Heng menarik kakinya kembali. Ia menatap Xu Tian yang kini tergeletak tak berdaya. “Masih bisa berdiri?” tanyanya.

Xu Tian tidak menjawab.

Bukan karena menantang.

Melainkan karena ia bahkan tidak yakin apakah ia masih mampu berbicara.

Zhao Heng menghela napas pelan, seolah kecewa. “Sayang sekali.”

Ia mengumpulkan tenaga.

Satu serangan terakhir.

Pukulan itu menghantam dari samping, penuh, tanpa ragu. Tubuh Xu Tian terangkat sedikit dari lantai sebelum terlempar jauh. Ia jatuh keras beberapa meter dari posisi awalnya, berguling sekali, lalu berhenti dengan tubuh terlentang.

Bunyi benturan itu menggema.

Arena sunyi.

Xu Tian tidak bergerak.

Darah menyebar di bawah kepalanya, membasahi batu putih menjadi merah gelap. Dadanya naik turun dengan susah payah, setiap napas terdengar seperti usaha terakhir.

Zhao Heng berdiri tegak, menurunkan tangannya. Ekspresinya tenang. Tidak ada kepuasan berlebihan. Tidak ada amarah. Seolah hasil ini memang sudah semestinya.

Pengawas melangkah maju beberapa langkah. Ia menatap Xu Tian, lalu Zhao Heng. “Duel selesai,” katanya. “Pemenang: Zhao Heng.”

Tidak ada sorak-sorai.

Hanya bisikan pelan.

Beberapa murid memalingkan wajah. Beberapa menatap dengan mata dingin. Beberapa terlihat puas.

Xu Tian terbaring, matanya setengah terbuka. Langit biru kembali masuk ke pandangannya, terpotong oleh wajah-wajah yang berdiri melingkar. Tidak ada satu pun yang ia kenal benar-benar mendekat.

Tidak ada tangan yang terulur.

Tidak ada suara yang memanggil namanya.

Hanya dingin dari batu di bawah punggungnya, dan rasa sakit yang perlahan menelan segalanya.

Arena tetap terang.

Dan Xu Tian tergeletak di tengahnya, sendirian, bersimbah darah, tanpa siapa pun yang bergerak untuk menolong dirinya yang malang.

1
Arceusssxara
ah mataku sakit maaf karena satu paragraf nya panjang amat kalimatnya. 😩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!