Pensiun sebagai pembunuh nomor satu karena penyakit mematikan, Kenzo bereinkarnasi ke dalam novel kultivasi buatannya sendiri. Berbekal 'Sistem Sampah' yang ia modifikasi menjadi senjata maut dan pengetahuan sebagai sang pencipta, Kenzo siap membantai siapa pun yang berani mengusik waktu santainya bersama sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Makan Malam
Aroma harum daging panggang mulai memenuhi udara di sekitar gubuk. Ling Yue, meskipun terus mengomel, ternyata memiliki bakat alami dalam mengolah bahan makanan. Daging harimau Level 1 itu ia bumbui dengan rempah-rempah yang dibeli Kenzo di kota, lalu dipanggang di atas api kecil yang suhunya dijaga dengan sisa-sisa energi Qi miliknya.
Kenzo terbangun dari tidur singkatnya karena aroma yang begitu menggoda. Ia duduk di kursi kayu, menatap meja makan sederhana yang sudah disiapkan.
"Akhirnya kau bangun juga, Tuan Pemalas." sindir Ling Yue sambil meletakkan sepiring besar daging yang sudah dipotong rapi.
Mereka mulai makan dalam keheningan yang nyaman. Saat gigitan pertama menyentuh lidah Kenzo, ia merasakan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Daging monster bukan sekadar makanan; itu adalah gumpalan energi murni.
[Ding!]
[Mengonsumsi Daging Harimau level 1 (Kualitas Sempurna).]
[Energi Qi diserap: Kekuatan Fisik meningkat 15%, Kepadatan Meridian meningkat 20%.]
Meskipun ranahnya tetap berada di Penguasaan Qi Tahap Awal, Kenzo merasa tubuhnya menjadi jauh lebih padat. Otot-ototnya yang ramping kini terasa memiliki daya ledak yang lebih besar. Jika sebelumnya ia mengandalkan senjata, sekarang ia merasa bisa menghancurkan batu besar hanya dengan satu pukulan tangan kosong.
"Luar biasa," gumam Kenzo sambil mengelap bibirnya. "Rasanya seperti seluruh sel di tubuhku diperbarui."
"Tentu saja. Aku menggunakan sedikit energi sistem untuk memurnikan racun dalam dagingnya tadi." jawab Ling Yue bangga sambil menyuapi Lin-er.
Setelah makan malam selesai, bulan purnama naik tinggi, menyinari lembah dengan cahaya perak yang indah. Lin-er yang biasanya sangat aktif setelah makan, kali ini tampak diam. Ia memegang ujung baju Kenzo dan ujung gaun Ling Yue secara bergantian.
"Ayah... Ibu..." panggil Lin-er pelan, suaranya terdengar sangat manja.
Kenzo menunduk menatap anaknya. "Ada apa? Kau masih lapar?"
Lin-er menggeleng cepat. Ia menundukkan kepala, memainkan jari-jarinya. "Malam ini... boleh tidak kalau kita tidur bareng-bareng di dalam?"
Ling Yue tertegun, wajahnya seketika memerah. "M-maksudmu tidur bertiga di satu tempat tidur?"
Lin-er mengangguk dengan mata berbinar-binar penuh harap. "Lin-er takut ada hantu di luar. Kalau ada Ayah dan Ibu di samping Lin-er, Lin-er pasti berani."
Kenzo terdiam sejenak. Sebagai pembunuh bayaran yang terbiasa hidup sendiri dalam kegelapan, konsep tidur bersama keluarga adalah sesuatu yang sangat asing dan sebenarnya agak mengganggu privasinya. Namun, melihat wajah memelas Lin-er, benteng pertahanannya runtuh.
"Terserah kau saja." jawab Kenzo datar, meski dalam hati ia merasa canggung.
"K-Kenzo! Kau setuju begitu saja?!" protes Ling Yue dengan wajah yang semakin merah padam. "Aku ini... aku ini..."
"Kau ini ibunya, kan?" Kenzo memotong kalimat Ling Yue sambil berdiri. "Atau kau ingin mematahkan hati anak ini?"
Ling Yue melihat ke arah Lin-er yang sudah siap menangis jika permintaannya ditolak. Ia menghela napas panjang, menutupi wajahnya yang panas dengan tangan. "Baiklah! Hanya malam ini! Jangan pikir ini karena aku ingin tidur di dekatmu, Tiran!"
Di dalam gubuk, mereka bertiga berbaring di atas tempat tidur besar yang empuk. Lin-er berada di tengah, memeluk lengan Kenzo di sisi kanan dan lengan Ling Yue di sisi kiri.
Keheningan malam terasa sangat berbeda kali ini. Kenzo bisa merasakan hembusan napas tenang Lin-er dan aroma harum dari tubuh Ling Yue yang berada hanya beberapa jengkal darinya. Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, Kenzo merasa bahwa hidup tenang bukan hanya tentang bermalas-malasan, tapi tentang memiliki tempat untuk pulang.
"Ayah... Ibu... jangan pergi ya." gumam Lin-er yang mulai terlelap.
"Tidurlah." bisik Kenzo pelan.
Ling Yue menatap Kenzo dari balik punggung Lin-er. Kemarahannya hilang, digantikan oleh senyum tipis yang tulus. "Selamat malam, Kenzo." bisiknya hampir tak terdengar.
Kenzo tidak menjawab, tapi ia memejamkan mata dengan perasaan paling damai yang pernah ia rasakan.
sebentar😅😅